Posts Tagged ‘Komputer’

Bikin Layout Buku

Posted: 27 November 2013 in Komputer
Tag:, ,

Mungkin suatu ketika kita dapat tugas bikin sebuah booklet, atau di kantor bikin pedoman yang berbentuk buku. Dengan tugas ini, apa yang akan kita lakukan? Mengorderkan tugas ke pengetikan? Atau ke percetakan? Satu hal yang perlu diperhatikan adalah sebuah tugas kalo kita berikan untuk dikerjakan ke orang lain hasilnya bisa jadi tidak seperti yang kita harapkan, itu pertama. Yang kedua adalah dengan orang lain yang mengerjakan tugas yang agak rumit dari kita, maka secara tidak langsung kita bikin orang tersebut lebih pintar dan lebih kreatif dari kita. Dan yang terakhir, akibatnya adalah kita tetap berada dalam zona di mana kita nggak bisa ngerjain tugas-tugas seperti itu nantinya, sehingga kita tetap menggantungkan pekerjaan ke orang tadi.

Kalo mau belajar dikit, sebenernya tugas bikin booklet atau buku ini bisa kita kerjakan sendiri, kan udah ada program pengolah kata semacam Microsoft Office atau OpenOffice. Kita tinggal bikin setting-setting aja, udah bisa bikin buku. Kali ini akan aku peragakan gimana cara buat kerangkanya, dalam hal ini aku pake Microsoft Office Word 2007.

Yang pertama adalah menentukan kertas yang akan dipakai. Biasanya yang sering dipakai adalah kertas kuarto, A4, atau folio. Dari Page Setup bisa diliat berbagai ukurannya. Kalo pake kertas kuarto yang berukuran 21,59 × 27,94 cm, pilih kertas bernama Letter. Kalo pake kertas A4 yang berukuran 21 × 29,7 cm, pilih kertas bernama A4. Kalo pake kertas folio yang ukurannya 21,59 × 33 cm, pilih jenis kertas Letter, tapi ganti ukuran Height yang sebelumnya 27,94 menjadi 33. Idealnya sebenarnya bikin booklet itu pake kertas folio, soalnya lebih panjang dan nantinya tata letak halamannya pas.

Secara umumnya bikin booklet di MS Word itu ada dua cara. Yang pertama adalah bikin dokumen seperti biasa aja, tar pas mau mencetak dibuat Page Layoutnya jadi Booklet. Cara ini sebenarnya lebih praktis, tapi kurang berseni. Ingat, yang praktis itu sering bikin nggak kreatif! Cara yang kedua adalah bikin dokumennya langsung dalam layout bukunya. Cara ini yang akan aku tulis di sini.

Karena kita akan bikin dokumen dalam bentuk yang nggak biasa, bergantung pada ukuran kertasnya seperti di atas tadi, setelah menentukan jenis kertas yang akan dipakai maka langkah berikutnya adalah bikin setting agar dokumen yang tampil udah jadi bentuk semi booklet. Sebagai contoh dalam tulisan ini aku pakai kertas folio. Orientasi kertas dibuat mode Landscape. Kemudian semua margin diatur, sebagai contoh aku buat margin atas, bawah, dan kanan dibuat 1 cm. Margin kiri dari dokumen juga akan dibuat 1 cm, tapi di sini margin kiri tidak diisi dengan angka 1. Dihitung dulu dengan memperhatikan panjang kertas, yaitu 33 cm, dibagi 2, jadi 16,5 cm. Kemudian 16,5 ini ditambah margin kiri yang diinginkan tadi, yaitu 1. Jadi margin kiri di Page Setup ini diisi dengan angka 17,5 cm. Lalu untuk bagian Multiple Pages dipilih Mirror Margins. Setelah itu selesai dan klik OK.

Sekarang kita lihat bentuk dokumen yang ada di layar. Hasil dari setting yang dibuat di Page Setup tadi terlihat di sini. Bagian dokumen akan berada di bagian kanan layar, sedang bagian kirinya kosong. Nanti kalo dokumen udah memasuki halaman berikutnya, yaitu halaman 2, dokumen akan berganti ke bagian kiri, sedang sebaliknya bagian kanannya kosong. Itu adalah hasil dari setting Mirror Margins tadi, di mana nantinya untuk halaman ganjil dokumen ada di posisi yang sesuai dengan page setup awal, sedangkan sebaliknya untuk halaman genap akan berada di posisi yang sebaliknya.

Sampai di sini sementara settingnya selesai. Kita udah bisa ngetik dan menyesuaikan sesuai dengan tugas yang kita punya tadi. Kalo udah selesai semua proses pengetikannya dan mau mencetak, perhatikan baik-baik karena proses pencetakan itu nggak begitu aja. Lihat dulu berapa jumlah halaman keseluruhan dari dokumen kita ini, kemudian bagi 4, maka hasilnya adalah jumlah lembar kertas yang dibutuhkan. Kita bagi 4 karena dalam 1 lembar kertas nantinya masing-masing akan ada 4 halaman. Kalo misalnya nggak habis dibagi 4, misalnya jumlah halamannya 26, berarti kelebihan hasil pembagiannya adalah tambahan 1 lembar kertas lagi, berarti akan butuh 7 lembar kertas.

Untuk mencetaknya, pertama pada area Page Range, isi pada bagian Pages. Jika jumlah halaman tadi 26, maka bagi dua, jadi isi Pages dengan angka 1 – 14. Ini berarti hanya halaman 1 sampai dengan 14 saja yang akan dicetak. Kemudian pada bagian print, ganti All Page in Range menjadi Odd Page. Ini berarti halaman ganjil aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai semua kertas cetakan pada bagian ini, kemudian tanpa mengubah tatanan kertas langsung balik dengan posisi vertikal dan masukkan lagi ke printer. Cetak lagi dengan cara yang sama dengan atas, hanya saja yang Odd Page tadi diganti dengan Even Page. Ini berarti halaman genap aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Proses berikutnya adalah mencetak halaman sisanya, yaitu halaman 15 sampai dengan halaman 26. Jadi isi Pages dengan angka 15 – 26. Ganti lagi bagian Print yang All Page in Range menjadi Odd page. Kertas yang udah keluar sebelumnya dari printer tadi, tanpa mengubah tatanan kertas masukkan lagi ke printer tanpa dibalik. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai kembalikan tatanan kertas yang udah keluar tadi ke printer dalam keadaan dibalik. Cetak lagi halaman 15 sampai dengan 26 dengan mengganti All Page in Range menjadi Even Page. Setelah selesai, semua cetakan udah bisa dilipat dan dibentuk buku, sesuai dengan urutan halamannya.

Yang perlu diperhatikan sekali lagi di sini adalah jumlah halaman dan kesesuaian nomor halaman pada cetakan. Misalkan halaman 1 yang ganjil, berada di sisi kanan, halaman baliknya yang berada di sisi kiri pasti adalah halaman genap. Di samping halaman genap ini, di sebelah kanan, pasti halaman ganjil dan baliknya yang sebelah kiri adalah halaman genap. Banyak masalah yang timbul karena halaman total tidak habis dibagi dengan 4. Untuk lebih yakinnya bisa dibikin simulasi dulu pake kertas lain. Bentuk lembaran kertas menjadi tatanan bentuk buku dan beri masing-masing halaman dengan nomor halamannya. Dengan simulasi ini maka mencetak bisa lebih mudah.

Kalo paparanku di atas kurang jelas dimengerti karena bahasanya berbelit-belit, anda bisa mencari referensi lain atau bikin eksperimen sendiri. Karena dengan eksperimen sendiri siapa tau anda bisa menemukan cara yang lebih mudah dari caraku tadi. Dan yang pasti anda akan lebih kreatif dalam mengerjakan tugas dan penggunaan programnya.

komputer serverAntivirus
Sering banget dapat pertanyaan gini, ‘Apa sih antivirus yang paling bagus?’ Emang bener kalo antivirus itu ada beberapa tingkatan berdasarkan kinerja, pemakaian ruang harddisk, ataupun cakupan pemindaian, tapi dengan pertanyaan di atas aku hanya bisa menjawab ‘Tidak ada antivirus yang bagus kecuali yang diupdate’. Tanpa update, antivirus itu bagaikan program usang yang hanya bisa menjangkau virus-virus lama. Padahal setiap saat bisa bermunculan virus-virus baru, yang diperlukan database virus yang lebih baru dan lengkap pula untuk dipasang dalam program antivirus, agar antivirus tersebut berjalan sempurna. Tanpa update, antivirus itu bagaikan program yang hanya memperberat laju jalannya sebuah komputer.
Pernah tanpa sengaja ngedengerin dua orang bapak-bapak yang lagi ngomongin tentang antivirus. Kata bapak yang satunya, sambil menyebut sebuah merk antivirus lokal, antivirus tersebut gak cukup kuat buat membasmi virus. Pakai aja antivirus yang satunya dengan merk internasional. Kalo aku sih kembali pada sebuah jargon, antivirus lokal itu sangat ampuh untuk virus lokal. Sedangkan untuk virus internasional, pakailah antivirus internasional pula. Dan sepertinya virus yang lagi diomongin bapak-bapak tadi emang virus internasional, yang tidak terlihat dalam pemindaian antivirus lokal.
Jadi, belum tentu antivirus lokal itu jelek dan gak mutu, gak bisa menghilangkan virus. Liat dulu jenis virusnya, baru komentar. Dan satu lagi, jangan lupa untuk selalu mengupdate antivirusnya.

Memori
‘Memori komputermu itu berapa Giga?’
‘2 GB.’
Si penanya tersebut sebenarnya mau tanya berapa kapasitas penyimpanan komputer, tapi dia tidak menyebut media penyimpanan komputer dengan harddisk, melainkan memori, Dia menjadikan memori eksternal HP sebagai standar kapasitas memori. Padahal komputer tidak pakai memori tersebut sebagai media penyimpanan utama.
Yang disebut memori di komputer adalah suatu benda yang lebih dikenal sebagai RAM (Random Access Memory), sebuah media penyimpanan sementara di mana segala proses komputer dan sistemnya ditempatkan sebelum kemudian disimpan secara lebih permanen di harddisk. Sedangkan media penyimpanan utama sebuah komputer lebih disematkan kepada harddisk, dan tidak perlu dibandingkan berapa kapasitas karddisk dengan memori eksternal dari HP.

Proses Macet
Sering banget liat para pengguna komputer kesal karena proses komputer agak lama. Kemudian beberapa di antaranya mengetuk-ngetuk (atau lebih tepatnya menggebrak-gebrak) monitor. Padahal apa salah monitor?
Istilahnya monitor itu hanyalah alat penayang saja, pengantar hasil proses dari CPU (Central Processing Unit). Sedangkan pemrosesnya ya tentu saja CPU itu sendiri. Kalo kemudian yang digebrak-gebrak monitornya, bisa jadi tindakan ini digolongkan sebagai malpraktek, tindakan di tempat yang tidak semestinya.

Menyalahkan Program
Sebuah saran: jika tidak percaya pada kinerja sebuah program komputer, maka jangan pernah memakai komputer! Pernah gak suatu ketika bekerja dalam sebuah perhitungan rumit menggunakan program spreadsheet, kemudian hasilnya gak sesuai, dan kemudian lagi programnya yang disalahkan? Sebaiknya kita yang harus ngaca dulu, teliti satu per satu proses yang dimasukkan, barangkali ada yang salah. Dan jika ternyata ada yang salah, segera perbaiki, dan kemudian program akan dengan senang hati menunjukkan hasil yang sesuai.
Kebanyakan kesalahan dari sebuah proses komputerisasi berasal dari penggunanya. Komputer hanyalah mengerjakan apa yang diinputkan melalui media input berupa keyboard, mouse, scanner, ataupun media yang lain. Kecil kemungkinan program komputer membelot dengan memproses data yang salah, sebuah data yang tidak melewati proses input tersebut. Namun sayangnya, tidak banyak pengguna komputer yang menyadari bahwa input mereka adalah salah.

Casing Jelek = Performa Jelek
Belum tentu casing CPU yang jelek menghasilkan kinerja yang jelek. Bisa jadi di balik casing yang jelek, usang, dan butut tersebut, tersimpan super CPU yang bekerja sangat cemerlang. Tentu saja, kinerja komputer tidak bergantung pada jenis casingnya, tapi bagaimana jenis pemrosesnya.
Sayangnya kebanyakan orang masih sering ilfeel saat melihat casing CPU yang jelek. Di antaranya kemudian berbalik dan mencari CPU dengan casing yang terlihat lebih bagus. Yang lainnya, masih mau menggunakannya, tapi saat menemui masalah kecil saja, bisa jadi mereka langsung minta komputer yang lebih baru. Padahal bisa jadi, di dalam casing jelek itu tersimpan teknologi komputer yang terbaru.

Ukuran Kertas
Sering sekali dijumpai pengguna komputer menggunakan ukuran kertas legal untuk dokumen kertas folio. Padahal ukuran kertas Legal dengan Folio berselisih sekitar 2 cm. Dengan selisih sebesar itu, pasti banyak perbedaan, terutama bila dokumen yang disetting untuk kertas Folio dipasang dengan setting kertas Legal. Masalahnya akan muncul pada saat dokumen tersebut dicetak.
Kebanyakan dari pengguna umumnya malah tidak mensetting kertasnya sama sekali. Mereka lebih berprinsip: buka program, ketik, cetak. Padahal umumnya sebuah program mengetik yang standar tanpa ada pengaturan default lebih lanjut, default pengaturannya ada di kertas A4, dengan margin hampir sama: 2,54 cm atau 1 inci. Jika dokumennya memang untuk dicetak di kertas A4, pengaturan awal tersebut tidak akan terlihat. Tapi akan terlihat saat dicetak dengan kertas lainnya.

Itulah beberapa kesalahan tapi kebiasaan yang sering terjadi dengan kehidupan berkomputer di masyarakat awam. Tentulah bukan mereka yang salah, apalagi jika mereka tidak dan belum mengerti (terutama jika mereka benar-benar tidak dan belum mengerti). Ya mungkin tidak banyak informasi yang bisa didapatkan tentang bagaimana hakekat berkomputer yang baik dan benar, atau mungkin sedikit sekali sumber yang bisa ditanyai bagaimana dengan masalah-masalah tersebut. Yang pasti hal tersebut bisa menjadi pembelajaran, bukan hanya bagi yang belum tau, tapi juga yang sudah tau, bahwa tidak semua orang mempunyai pengetahuan dan pengertian seperti mereka yang sudah tahu.

Simbol

Posted: 8 Januari 2012 in Komputer
Tag:,

Simbol Microsoft WordMasih sering mendapati beberapa pekerjaan ketikan dengan menggunakan simbol-simbol, sedangkan pengerjaannya masih menggunakan format ala kadarnya. Mungkin bisa jadi pengetiknya tidak tahu atau membuat formatnya terlalu rumit, sehingga apa yang bisa dipake untuk membuatnya maka itulah yang dipake.

Beberapa simbol itu di antaranya adalah simbol-simbol matematika dan juga beberapa simbol yang menggantikan istilah-istilah tertentu, misalnya ‘kurang lebih’, ‘derajat’, dsb. Yang sering dipakai dari simbol-simbol matematika adalah ‘kurang/lebih dari sama dengan’, ‘kali’, dsb. Semua simbol-simbol ini sebenarnya sudah ada dalam fasilitas aplikasi pengolah teks seperti MS Office Word yang sering dipakai, tapi rupanya bagi pengguna umumnya masih jarang dipakai dalam pengerjaan pengetikannya.

Di antara simbol-simbol ini, kemudian aku temukan ada beberapa simbol yang bisa dibuat dengan tombol-tombol shortcut langsung dari keyboard, sehingga mempermudah dan mempercepat pekerjaan, terutama jika di tengah-tengah teks ditemui simbol-simbol tersebut. Misalnya ‘kurang lebih’ yang disimbolisasi dengan ‘±’, bisa didapatkan dengan menekan tombol ‘Alt’ (tekan terus) sambil menekan tombol numerik ‘0177’ (‘Alt’ dilepas setelah empat digit angka ditekan). Kemudian ‘derajat’ yang disimbolisasikan dengan ‘°’, bisa didapat dari ‘Ctrl’ + ‘Shift’ + ‘2’, lepas, kemudian tekan spasi. Atau bisa juga dengan ‘Alt’ + ‘0186’. Satu lagi yang sering dipakai adalah ‘kali’ dengan simbol ‘×’, didapatkan dari tombol ‘Alt’ + ‘0215’.

Di antara pemakaian simbol-simbol tersebut, ada beberapa simbol yang sering ditemui kesalahan dalam pembuatannya. Misalnya dari simbol ‘≤’ atau ‘≥’, pengguna umum akan menggunakan simbol ‘<’ atau ‘>’ yang digarisbawah. Simbol ‘±’ juga demikian, hanya berupa simbol ‘+’ yang digarisbawah. Simbol ‘°’ memakai huruf ‘o’ yang di’superscript’ sehingga naik ke atas. Dan satu lagi, ‘×’ yang menggunakan huruf ‘x’. Padahal, hal ini akan lebih menyulitkan pengguna saat kemudian formatnya diganti, atau jenis fontnya diganti, atau sebab-sebab lain yang mengakibatkan font berubah. Sementara jika menggunakan simbol-simbol aslinya, kemungkinan besar tidak akan ada perubahan bentuk dari bentuk aslinya.

Hal-hal seperti ini mungkin lebih banyak ditemukan pada pengguna yang suka mengotak-atik aplikasi, pengguna yang kurang puas dengan proses rumit sehingga mencari dan menjelajahi aplikasi untuk memudahkan pekerjaan, atau pada pengguna yang suka menemukan hal-hal baru dari sebuah aplikasi. Semuanya sudah disediakan sebagai fasilitas aplikasi, tapi belum dipakai secara optimal oleh penggunanya. Hal-hal yang baru, berasal dari pengalaman pribadi, yang bisa dibagi bersama dengan pengguna yang lain, sehingga kesulitan-kesulitan yang timbul kemudian bisa diminimalisir dan dihilangkan. Karena sebaiknya sebuah dokumen bisa digunakan untuk segala format penulisan, tanpa perlu banyak perubahan formatnya.

Windows Apa Office?

Posted: 3 Desember 2011 in Komputer
Tag:,

‘Kalo dibuka pake Windows 2007 udah bisa kan Mas?’

Sejenak aku terpikir, kemudian baru tahu maksudnya adalah Office 2007, bukan Windows 2007. Itu adalah sepenggal pertanyaan seorang temanku yang kemarin OSnya aku perbaiki karena rusak dan banyak virusnya. Dan sekaligus mewakili bahwa ternyata masih banyak teman yang menyebut Office dengan sebutan Windows. Padahal beda banget, meskipun sama-sama produknya Microsoft tapi tentu saja fungsi dan kegunaannya sangat berbeda.

Microsoft Office 2007 adalah versi Office pertama dengan ekstensi default yang berbeda. Misalnya jika biasanya menyimpan dari Microsoft Word 2003 memakai ekstensi .doc, maka di versi 2007 ini memakai ekstensi .docx. Dan versi ini jika memakai ekstensi defaultnya tidak akan bisa dibuka dengan Office versi sebelumnya, bahkan jika ekstensinya diganti secara manual. Jika ingin bisa dibuka dengan Office versi lain maka dokumen harus di-save as dulu dan diganti format ekstensi filenya dengan versi yang lama. Kecuali jika dibuka dengan Open Office, tidak perlu diganti lagi karena kebanyakan Open Office bisa membuka segala dokumen dengan berbagai format yang terdukung.

Sebenarnya file default penyimpanannya bisa diganti dengan format biasa dengan versi sebelumnya. Hanya saja terkadang pengguna tidak bisa menggantinya, atau teknisi pemasang programnya terlalu malas untuk mengatur lebih lanjut lagi, sehingga para penggunanya pasrah saja dengan keadaan seperti itu. Cara penggantiannya ada di Option di setiap programnya. Misalnya di Microsoft Word 2007 ada di ‘Word Option’, ‘Save’, kemudian ganti input ‘Save files in this format’ yang terdefault dengan ‘Word Document (*.docx)’ dengan ‘Word 97 – 2003 Document (*.doc)’, dan masalah penyimpanan selanjutnya pun terselesaikan. Tanpa perlu memakai ‘Save as’ file udah bisa dipakai untuk Microsoft Word versi 1997 sampai 2003.

Memang sayangnya langkah ini tidak diajarkan dalam pendidikan formal maupun modul pada umumnya, sehingga bagi yang terpatok pada aplikasi tekstual tidak akan bisa menemukan cara-cara seperti ini. Cara ini bisa didapatkan dengan latihan, pengalaman dan keberanian dalam mengambil resiko kesalahan, dan lagi-lagi, tidak akan bisa dilaksanakan bagi yang tercetak untuk melaksanakan aplikasi secara tekstual. Tapi yang jelas, aku belum pernah dengar Windows yang versi 2007.

Deep Freeze

Posted: 9 November 2011 in Komputer
Tag:,

Bagi yang sering ngenet di warnet berbasis Windows, mungkin seringkali melihat logo bulat dengan gambar kepala beruang kutub di system tray, di bagian kanan bawah layar. Itu adalah logo yang menandakan bahwa komputer ini telah diinstal program Deep Freeze untuk mengunci partisi hardisknya. Program ini akan melindungi partisi dari perubahan yang terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja.

Prinsip kerja Deep Freeze hampir sama dengan System Restore Windows ataupun Keylogger. Kalo Keylogger merekam semua pergerakan tombol keyboard, sedangkan System Restore akan merekam perubahan sistem Windows, maka Deep Freeze mencatat segala perubahan bukan saja pada sistem Windowsnya, tapi semua aktifitas termasuk penyimpanan dan penghapusan file dalam partisinya. Catatan perubahan itu akan direstore kembali saat komputer dishutdown, jadi saat komputer dinyalakan kembali perubahan yang tadinya terjadi sudah dikembalikan dengan program ini. Tidak ada perubahan dalam file, bahkan file yang ditambahkan ke dalam partisi pun hilang karena perlindungan Deep Freeze.

Makanya program ini dibutuhkan di warnet atau rental komputer berbasis Windows, selain untuk melindungi dari tangan-tangan jahil juga bisa melindungi dari virus yang menyerang sistemnya. Karena secara otomatis virus yang masuk akan tertolak kembali saat komputer dimatikan dan dihidupkan kembali. Proses penginstalannya pun sederhana, di awal proses partisi yang akan dikunci dipilih dulu, bisa semua atau satu-satu aja. Setelah itu tinggal menunggu prosesnya, yang jika sudah selesai maka komputer akan restart sendiri. Saat hidup kembali, program akan mengkonfirmasi apakah user ingin memberikan password untuk penguncinya. Jika ingin memberi password, pastikan yang mudah diingat.

Jadi jika ingin memproses file partisi yang sudah diproteksi, maka kunci harus dibuka dulu. Logo beruang kutub tadi diklik dua kali sambil mencet tombol shift sampai keluar kotak dialog yang mengharuskan user mengisikan passwordnya. Setelah itu baru muncul pilihan bootnya. Untuk membuka proteksinya maka dipilihlah Boot Thawed, sebaliknya untuk memberi proteksi dipilih Boot Freeze. Setelah selesai maka komputer harus direstart untuk memproses permintaan. Baru setelah itu proses file bisa dilaksanakan.

Tentunya masih saja ada kekurangan dengan sistem keamanan seperti ini. Beberapa pengalamanku menunjukkan ternyata partisi masih bisa diterobos virus. Terutama jika virusnya menyerang program Deep Freezenya sendiri, maka program akan rusak dan tidak bisa dibuka kuncinya, harus instal ulang atau repair Windowsnya. Atau kalo saat penginstalannya sistem Windows udah kena virus, maka Deep Freeze ikutan rusak dan proteksi akan berlangsung selamanya sampai Windows diinstal kembali.

Perlakuan programnya pun emang agak ribet karena memang prosedur pengamanannya seperti itu. Menginstal program baru harus membuka dulu kuncinya, restart, instal program, mengunci kembali, kemudian restart kembali. Tapi di balik kelemahannya ini, proteksi yang diberikan emang cukup terlihat bagus.

Biasanya sebelum menginstal Deep Freeze, aku selalu memastikan seluruh setting sistem dan program sudah berjalan sempurna, tidak ada virus di dalamnya, program antivirus terupdate juga udah terpasang, dan yang terpenting menentukan titik penyimpanan file setelah diberlakukannya Deep Freeze. Jika semua udah berjalan dan memenuhi persyaratan, maka Deep Freeze bisa diinstal (tentunya installernya juga jangan yang bervirus, karena jika kena virus program juga akan rusak dan merusak sistem). Dengan perlakuan yang normal terhadap sistemnya, Windows akan aman dan bertahan lebih lama dari file corrupt dan virus.

Menariknya, ada program lain untuk membuka freezenya, salah satunya adalah Undeep Freeze. Program ini untuk membuka kunci freeze tanpa mengisikan passwordnya. Prosesnya setelah menjalankan program ini akan sama dengan saat Deep Freeze normal membuka kunci atau menutup kembali, kecuali tanpa memberikan password. Malah juga bisa mengganti password asalnya dengan password baru, yang ini bermanfaat buat yang lupa passwordnya, selain itu juga bermanfaat untuk ngejahilin komputer yang difreeze.

Meletakkan file aplikasi dalam folder terbuka adalah sebuah kesalahan. Suatu saat kalo harddisk terkena virus Sality, maka file tadi akan terkena paling awal. Dan kalo file tersebut dieksekusi, maka dengan gemilang virus akan menyebar ke file-file aplikasi yang lain. Aplikasi dasar sistem operasi dengan program-programnya akan terinfeksi, kalo discan pake antivirus akan tidak bisa dibersihkan (hanya bisa dihapus), dan akhirnya sistem operasi harus diinstal ulang.

Kebanyakan virus ini selain menyebar dengan cara di atas, juga menyebar lewat perantaraan media penyimpanan seperti flashdisk. Bisa juga dari transfer file lewat jaringan. Malah ada juga yang menyebar dengan melalui printer yang diakses lewat jaringan (satu printer untuk beberapa komputer). Dan tidak ada cara yang lebih ampuh lagi selain format ulang harddisknya.

Tidak ada antivirus yang paling bagus. Yang bagus adalah antivirus yang diupdate secara rutin. Dan untuk mencegah virus seperti Sality tadi, berbagai macam antivirus udah bisa mendeteksi dan menghapus file yang terkena infeksinya. Pencegahan yang lain adalah tidak menyimpan file aplikasi yang terinfeksi, dan salah satunya juga tidak menyimpan file aplikasi di folder terbuka. Bahkan kalo file aplikasinya udah masuk CD tapi ternyata membawa infeksi, maka infeksi tadi terus terbawa dan keluar saat file itu disimpan di harddisk.

File aplikasi berekstensi *.exe adalah sarang utamanya. Untuk mencegahnya terinfeksi biasanya aku masukkan file tadi ke dalam folder terkompresi, bisa pake *.zip, *.rar, *.7z, ato kompresi yang lain. Ato kalo nggak gitu aku masukkan file ke dalam file image. Membuat file image yang paling mudah lewat Nero Burning Tool. Seperti membuat CD biasa, tapi drive tujuan diganti dengan Image Recorder, tidak mengarah ke drivenya. Kemudian simpan dengan nama (seperti nyimpen file biasa) dan proses dimulai.

Yang lebih lengkap biasanya aku pake Alcohol 120%. Dari CD filenya tidak perlu disimpan dalam harddisk, tapi langsung dikopi ke dalam file image. Dengan Alcohol ini pilihan format filenya lebih banyak dibandingkan dengan yang pake Nero tadi. Kelemahannya file image ini akan memakan kapasitas harddisk (karena ukurannya sama kaya CD aslinya), sehingga dengan harddisk berukuran kecil akan menjadi masalah dalam kapasitas kosongnya.

Untuk membuka file-file image tadi menggunakan virtual drive. Alcohol udah langsung membawa fasilitas ini. Ada program yang lain seperti Daemon Tools, PowerISO, WinISO, ato yang lain. Sedangkan Nero, yang aku tau di versi Nero 5 yang ada fasilitas virtual drivenya.

Dengan membuka lewat folder kompresi ato dari file image, file aplikasi lebih aman, kecuali kalo emang filenya dari awal udah kena virus berarti mengkandangkan dan memelihara virus tuh.

Database

Posted: 16 September 2011 in Komputer
Tag:,

Suatu malam, seorang ibu mendatangiku dengan membawa sesuatu yang cukup sulit untuk dilaksanakan. Sebuah program dengan database yang belum aku kuasai dan belum pernah aku kerjakan, dan beliau minta isi database tadi dicetak. Maka, malam itu aku gagal melaksanakan tugas, walaupun aku udah berusaha mencoba. Ibu tadi bilang akan kembali keesokan harinya buat mencoba lagi. Maka, aku nggak pengen gagal buat kedua kalinya, dan untungnya ada temanku yang bisa. Tapi sayangnya hasil cetakannya nggak bisa diseting untuk kertas tertentu, seting paten!

Dalam kehidupanku sehari-hari, menjalankan program dengan database sudah jadi kebiasaan setiap saat. Di kantor, ada berbagai macam program yang memakai database tersebut, setidaknya ada 3 macam. Yang pertama adalah program akuntansi, berbasis Visual FoxPro yang sudah dikompilasi. Yang kedua, program billing system berbasis Microsoft Access. Kemudian juga program absen Biofinger memakai scan sidik jari, entah apa basisnya yang jelas sudah terkompilasi. Ditambah ditemani dengan program SQL Server.

Untuk program yang sudah terkompilasi settingnya paten, jadi user tidak bisa mengutak-atik seenaknya saja. Meskipun begitu, entri databasenya masih bisa diexport untuk dikerjakan di program lain, seperti Microsoft Word atau Microsoft Excel. Sedangkan kalo yang berbasis Microsoft Access masih bisa dimodifikasi dengan mudahnya, dan tentunya dengan mudah pula diexport.

Padahal, dalam program yang dibawa ibu tadi, hasil entri yang akan dicetak tidak ada menu yang menunjukkan bahwa tampilan tersebut bisa dicetak dengan pilihan, diexport, atau diatur kertasnya. Benar-benar paten!

Mungkin yang jadi kebingungan awam adalah dalam program berdatabase, data entri yang dimasukkan ke program bisa meliputi banyak aspek, yang kadang tidak ada hubungannya dengan hasilnya nanti. Tapi kemudian yang keluar hanyalah semacam ringkasan dari data yang dimasukkan. Makanya ibu tadi juga bingung, dia memasukkan banyak data ke banyak form, tapi yang keluar cuma sedikit. Beliau juga mempertanyakan tentang data-data yang diisinya, dan sempat menyimpulkan kalo data yang diisinya terbuang percuma kalo yang keluar cuma sedikit. Padahal data-data yang tidak muncul itu juga mendukung data yang muncul, yang bisa jadi tidak akan terbuang percuma.

Sebagai tambahan kasus, beliau orang pertama yang mencetak data tersebut sehingga tidak ada bahan perbandingan tentang benar tidaknya hasil cetakan tersebut.

Salah satu contoh yang bisa aku jelaskan adalah memasukkan data pasien baru. Dalam form tersebut ada row untuk mengisikan pekerjaan, golongan darah, dan lain sebagainya, yang sebenarnya data-data tersebut tidak berguna saat dimasukkan untuk didaftar sebagai antrian pasien, tapi data-data tersebut berguna sebagai informasi dari pasien tersebut, yang mungkin suatu saat diperlukan.

Tentunya dalam mengentri data dalam database diperlukan ketelitian dan ketelatenan. Hari ini misalnya, aku memasukkan jadwal seluruh karyawan untuk satu bulan ke dalam software absen sidik jari. Setiap orang, setiap hari dalam satu bulan berbeda-beda jadwalnya satu sama lainnya, entri tersebut tidak bisa diisi sekaligus dalam satu perintah dan tidak bisa dikopi. Begitu juga dulu saat awal penggunaan billing system untuk sistem data rumah sakit, aku harus memasukkan satu per satu data pasien lama yang jumlahnya sudah mencapai belasan ribu orang, dan harus mencari data pasien yang dobel registernya untuk orang yang sama.

Akhirnya ibu tadi bersedia menerima hasil cetakan yang sudah aku kerjakan, dengan sedikit penjelasanku agar beliau mau mengerti. Untungnya beliaunya pengertian, aku hanya menyarankan jika ada teman beliau yang sudah mencetak hasil kerjanya bisa jadi bahan perbandingan, sehingga tidak salah sebelum dikumpulkan.

Posting Aslinya di Blog Sendiri

Teringat pada sebuah komentar Bro Khusni, ngeblog itu susah, ga pernah OL bareng, aku ga bisa menulis. Ya, tentulah seperti itu, karena situs weblog adalah sebuah tempat yang istilahnya buat ngeblog.

Weblog sendiri kan istilahnya merupakan wujud mini dari website, jadi pemilih akun, atau bisa disebut administrator juga, ga harus selalu online. Weblog, atau blog, memang fungsinya seperti website, menampilkan informasi, menulis artikel, upload foto, posting video, dsb.

Nah, kalo kebutuhannya seperti Bro Khusni tadi, ya ikut saja itus komunitas. Dari fungsinya aja udah beda, situs komunitas emang buat berkomunikasi tanpa harus membuat artikel, ada fasilitas chattingnya, atau aplikasi apapun yang disuka. Tentunya keduanya punya fungsi yang beda, sehingga tujuan masuk ke web pun juga berbeda.

Kalo untuk situs komunitas, kita harus punya akun dulu dan harus log in untuk masuk, cari teman, atau melihat profil orang lain. Tapi kalo di blog, dengan bebas kita bisa masuk, melihat-lihat, baca, download, dsb. di blognya orang tanpa kita harus log in ke situs providernya. Jadi lebih bebaslah, pastinya tanpa mengotak-atik blog tersebut.

Dan tentunya kalo si administrator ga segera menjawab komen-komen yang masuk di postingnya, jangan terus memaksa dan marah-marah, karena bisa saja si admin ga sempat log in, dan tentunya tidak semua komen bisa dibalas oleh admin.

Jadi, tentukan dulu tujuan apa yang pengen didapatkan dari sebuah fasilitas itu. Setelah itu cari fasilitas yang punya fungsi mewujudkan tujuan itu. Dari awal aku juga udah tau fungsi blog, jadi saat kemudian pengen berkreasi lebih lagi, aku tau tujuannya dan alur kerjanya. Dan pastinya, aku ga salah sasaran karena memanfaatkan fungsi yang benar.

Tulisan Versi Aslinya