Posts Tagged ‘lalu lintas’

helmMeskipun kita naik motor dengan jarak yang dekat, bukan berarti aspal jalanan itu menjadi terasa empuk bagi kepala kita. Malah kalo dipikir itu hal yang paling konyol dalam bermotor adalah jatuh di dekat rumah, dan tingkatan kekonyolannya yang paling tinggi adalah jatuh tepat di depan rumah. Nggak liat jarak, nggak liat waktu, yang namanya jalanan, apalagi yang aspalan, itu hampir bisa dipastikan keras banget. Belum lagi kalo ditambah malunya karena jatuh. Iya kalo masih cuma lecet-lecet dikit atau luka gimana gitu, kalo terus kepala pecah, udah nggak sempat ngerasain malu dan nyeselnya lagi deh.

Fenomena umumnya emang gitu kan. Kalo naik motor, jarak dekat aja, bahkan ke tempat yang dari depan rumah udah keliatan, males banget pake helm. Padahal kalo tempat tujuannya keliatan dari rumah ngapain juga pake motor, jalan kaki aja kenapa. Lagian diliat dari rumah matahari itu juga keliatan, tapi nggak ada juga motor yang bisa dipake ke sana.

Meremehkan, pelanggaran berawal dari meremehkan. Sebuah kesalahan kecil yang menjadi besar, saat remeh itu benar-benar dianggap remeh. Helm itu apaan sih, bikin berat kepala aja, lagian bisa ngerusak model rambut keren a la Edy Brokoli. Tapi tentu aja helm itu bukan hanya syarat buat lewat di depan polisi, tapi berguna banget buat ngelindungin sebuah benda yang biasanya kita pake buat mikir. Kecuali kalo yang dipake buat mikir itu udah nggak penting lagi dan juga dianggap remeh, ya silakan aja sih nggak usah pake helm.

Ironi seperti ini yang nggak terlalu dipahami oleh masyarakat awam, apalagi kebanyakan masyarakat Indonesia, yang juga berpikir bahwa semua tempat di muka bumi ini adalah tempat sampah. Polisi seolah bisa ditaklukkan dengan memakai helm aja, padahal aspal nggak bisa gitu. Dulu para ksatria berkuda di jaman kerajaan juga nggak pake helm pas naik kuda, ya nggak apa-apa sih, mereka pasti juga mikir toh waktu itu juga nggak ada polisi patroli lalu lintas. Tapi dari dulu, pas jalanan masih berbatu dan bertanah, tetep aja yang namanya jalanan itu bukan tempat yang nyaman buat ngejatuhin kepala.

Meremehkan, bisa jadi dari hal-hal yang remeh temeh itu terjadi hal-hal yang besar dan hebat, termasuk pecahnya kepala itu tadi. Mau sekeren apapun potongan rambutnya, sesimetris apapun bentuk kepalanya, atau secakep apapun wajahnya, tetap aja nggak keliatan bagus kalo pecah kepala. Kalopun pake helm juga nggak menjamin kalo kepala nggak pecah kalo terlindas truk, seenggaknya kan meminimalisir efek, apalagi kalo siapa tau musuhnya bukan truk. Dan lagi, kita harusnya bisa berpikir bahwa menjaga keselamatan diri sendiri itu lebih penting daripada lebih memperhatikan menjaga penampilan saat naik motor.

Iklan

becakBecak (dari bahasa Hokkien: be chia “kereta kuda”) adalah suatu moda transportasi beroda tiga yang umum ditemukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia. Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seorang pengemudi. Di Indonesia ada dua jenis becak yang lazim digunakan:

  • Becak dengan pengemudi di belakang. Jenis ini biasanya ada di Jawa.
  • Becak dengan pengemudi di samping. Jenis ini biasanya ditemukan di Sumatra.

Untuk becak jenis ini dapat dibagi lagi ke dalam dua sub-jenis, yaitu:

  • Becak kayuh – Becak yang menggunakan sepeda sebagai kemudi.
  • Becak bermotor/becak mesin – Becak yang menggunakan sepeda motor sebagai penggerak.

Becak merupakan alat angkutan yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara (kecuali becak bermotor tentunya). Selain itu, becak tidak menyebabkan kebisingan dan juga dapat dijadikan sebagai obyek wisata bagi turis-turis mancanegara. Meskipun begitu, kehadiran becak di perkotaan dapat mengganggu lalu lintas karena kecepatannya yang lamban dibandingkan dengan mobil maupun sepeda motor. Selain itu, ada yang menganggap bahwa becak tidak nyaman dilihat, mungkin karena bentuknya yang kurang modern. Satu-satunya kota di Indonesia yang secara resmi melarang keberadaan becak adalah Jakarta. Becak dilarang di Jakarta sekitar akhir dasawarsa 1980-an. Alasan resminya antara lain kala itu ialah bahwa becak adalah “eksploitasi manusia atas manusia”. Penggantinya adalah, ojek, bajaj dan Kancil. Selain di Indonesia, becak juga masih dapat ditemukan di negara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Kuba. Di Singapura, becak kini hanyalah sebuah alat transportasi wisata saja.

Untuk meningkatkan kemampuan becak dan mendorong penggunaan kendaraan tidak bermotor di beberapa negara maju dikembangkan becak yang menggunaan gigi percepatan/transmisi seperti yang digunakan dalam sepeda modern sehingga bisa melewati tanjakan dengan lebih mudah, desain dibuat aerodinamis serta pengemudinya berada di depan ruang penumpang.

Tahukah bahwa becak ternyata berasal dari Jepang? Kemunculan kendaraan beroda tiga yang ditarik dengan tenaga manusia itu pertama kalinya hanya kebetulan. Tahun 1869, seorang pria Amerika yang menjabat pembantu di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jepang berjalan-jalan menikmati pemandangan Kota Yokohama. Suatu saat dia berpikir bagaimana cara istrinya yang kakinya cacat bisa ikut berjalan-jalan? Tentu diperlukan sebuah kendaraan. Kendaraan itu, pikirnya, tidak usah ditarik kuda karena hanya untuk satu penumpang saja. Kemudian ia mulai menggambar kereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas. Orang-orang Jepang yang melihat kendaraan pribadi ditarik manusia itu menamakannya jinrikisha. Penarik jinrikisha biasanya diberi upah tiap minggu. Lama-lama, jinrikisha menarik perhatian masyarakat Jepang, khususnya para bangsawan.

Pada tahun 1800-an jinrikisha akhirnya sampai ke telinga masyarakat di China. Hingga dalam waktu singkat, jinrikisha dikenal sebagai kendaraan pribadi kaum bangsawan dan kendaraan umum. Kendaraan ini diberi nama rickshaw. Sementara penghelanya disebut hiki. Tapi, lama-lama para pemerhati kemanusiaan di China iba melihat para hiki yang kerja bagaikan kuda itu. Mulai 1870 rickshaw dilarang beroperasi di seluruh jalan-jalan negeri China. Sedangkan inrikisha di Jepang sebelumnya sudah lama dilarang. Diilhami jinrikisha dan rickshaw, tiba-tiba saja sekitar tahun 1941 untuk pertama kalinya di kota-kota besar di Indonesia muncul becak. Berbeda dengan jinrikisha dan rickshaw yang beroda dua dengan ban mati, becak sudah lebih modern. Rodanya tiga dan menggunakan ban angin, mengemudikannya dikayuh dengan dua kaki.

sumber

Kotaku kini berdenyut 24 jam. Tancapan para pemain pasar kapitalisme seolah memupuk tumbuhnya konsumerisme di kotaku yang kecil ini. Kota kecilku, kini seakan terasa lebih kecil dan sempit. Mulai nampak kebiasaan baru di jalanan, titik-titik kemacetan dalam padatnya lalu lintas, mengikuti bertambahnya pusat-pusat keramaian di kotaku.

Kotaku mulai tumbuh berkembang. Pembangunan pesat yang seolah menjadi lambang modernisasi terlihat di mana-mana, di kotaku, sebuah kota kecil di tengah-tengah area propinsi. Ikon-ikon modernitas merambah tidak hanya di kalangan atas dan menengah, kalangan menengah ke bawah pun turut terseret dan terlibat di dalamnya. Positif, negatif, dua sisi berlawanan yang nampak, mengait satu dan lainnya. Kotaku seolah berbenah, menuju masyarakat metropolis.

Alhamdulillah, kotaku berdenyut 24 jam. Di balik kehidupan ekonomi di siang hari, masih terlihat beberapa rombongan jamaah di tengah malam, berjalan menuju ke pusat kota. Rombongan ibu-ibu bermukena berjalan menyusuri pusat kota, bukan untuk berbelanja, tetapi menuju ke salah satu tempat religi favorit. Sebuah masjid yang konon menjadi saksi bisu pemekaran dan penyebaran agama Islam di kotaku, masjid kuno yang sampai sekarang masih berdiri dan ramai dikunjungi banyak orang. Bukan hanya dari dalam kotaku sendiri, tapi juga dari daerah sekitar kotaku. Sebuah masjid yang tepat berada di pusat kota, di balik kehidupan perekonomian dan hiruk pikuk keduniawian.

Kotaku tetap aman dan tentram, bersemi dan bersinar terang. Modernisasi tidak akan menghapus sisi keagamaan dari kotaku ini. Positif, negatif, dua sisi berlawanan yang nampak, mengait satu dan lainnya.