Archive for the ‘Pemikiran’ Category

Selera Musik

Posted: 1 Agustus 2016 in Pemikiran
Tag:, ,

Salah satu keunikan dari sebuah lagu adalah kita bisa suka banget dengan lagunya tanpa harus menggemari penyanyinya. Jadi misalnya kita bisa bebas suka sama lagu-lagu Kangen Band, tapi nggak sampai ngefans sama Kangen Bandnya. Kita bisa nyimpen lagu-lagunya Kangen Band di komputer, trus foldernya dikasih nama “Kerjaan”.

Atau juga sebaliknya, kita bisa suka banget sama penyanyi tapi bisa saja ada salah satu lagunya yang kita nggak terlalu suka, atau malah nggak suka banget.

Sampai saat ini saya masih berpendapat bahwa yang namanya kegemaran akan musik adalah selera. Dan selera itu hak dari masing-masing orang. Makanya kalo ada orang yang suka dengan jenis musik yang saya nggak paham gimana dia bisa suka dengan jenis musik tersebut, saya akan memaklumi hal itu sebagai hak personal.

Saya pribadi adalah orang yang termasuk suka pada jenis musik apapun, asal lagunya enak didengar. Soalnya pernah dulu suatu ketika saya membagikan lagu yang sedang saya dengar, kebetulan waktu itu lagu Korea. Eh, kemudian ada yang ngatain cemen. Yang saya nggak paham adalah di mana letak kecemenan lagu Korea dibanding lagu-lagu lain, yang mungkin juga dari negara lain. Soalnya beberapa hari kemudian, orang yang ngatain saya cemen tadi membagikan lagu yang dia dengarkan, dan lagu itu lagu Jepang.

Ya karena seperti yang saya katakan tadi, saya suka jenis musik apapun asal lagunya enak didengar. Cukup enak didengar dulu, baru ngomongin soal lirik lagu atau bahasanya.

Dulu waktu masih musimnya dengerin musik pake kaset, saya lebih suka beli kaset kompilasi. Alasannya adalah dengan membeli satu kaset saja, saya bisa mendapatkan lebih banyak lagu dari beberapa penyanyi. Koleksi lagu di rumah jadi lebih bervariasi dibandingkan jika saya membeli album dari salah satu penyanyi saja.

Tapi nggak jarang juga saya beli album penyanyi, hanya kebanyakan dari penyanyi cowok. Atau kalo nggak album band-band Indonesia atau grup vokal. Meskipun nggak banyak kaset yang saya beli waktu itu, karena ada juga yang saya dapat dari barter dengan kolektor lain.

Soal kaset, salah satu penyesalan terbesar saya adalah hal yang terjadi dengan kaset album Piala Dunia 1998. Ceritanya kaset ini adalah kaset pertama yang saya beli. Beberapa hari setelah beli kaset ini, saya memutar kaset ini menggunakan tape mobil yang ada di rumah kakek saya. Dan entah kenapa, besoknya kaset ini tidak bisa lagi berputar secara normal pada saat diputar di tape saya.

Saat coba saya bongkar, nampaklah kerusakan pita di mana-mana. Pita kasetnya berbentuk seolah selembar plastik bungkus es lilin yang melar karena ditarik di kedua ujungnya. Iya, pita kasetnya sudah tidak lagi berbentuk seperti sedia kala, karena ukurannya menjadi lebih panjang dan melar. Sehingga pada saat diputar, lagunya jadi terdengar lebih lambat, karena putaran pita kaset terhambat.

Kembali ke masalah selera bermusik, saya yakin setiap orang yang menyukai musik punya selera masing-masing. Ada yang idealis dengan bertahan pada kegemaran suatu genre musik tertentu, ada juga mungkin yang seperti saya, lintas genre. Dan kembali pada dasarnya bahwa yang namanya selera adalah hak personal masing-masing orang yang kita tidak bisa memaksakan pada orang lain, kecuali orang itu pasrah.

Film Kartun

Posted: 21 Juli 2016 in Pemikiran
Tag:, ,

Tadi malem mau tidur, eh malah ketiduran duluan. Untungnya tengah malam kebangun. Ya udah, akhirnya saya tidur. Tapi nggak bisa tidur itu emang menyiksa ya. Saya pernah ngalamin, pas waktu itu mau tidur, saya minum kopi dulu.

Insomnia itu tar bisa bikin bangun tidurnya jadi nggak enak. Itu juga kalo bisa tidur. Itu juga kalo tidur bisa bangun. Kebanyakan insomnia itu jadi bisa menular. Yang awalnya sulit tidur, menular jadi sulit bangun tidur. Katanya insomnia itu juga karena banyak masalah. Kan harusnya banyak masalah itu kita bersyukur, bisa dibagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Gara-gara insomnia, saya pernah jadi bisa nonton siaran bola Liga Champions. Pas nonton komentatornya ngobrol, akhirnya saya ketiduran. Begitu bangun, acara tivi udah ganti, Spongebob Squarepants. Saya kan jadi bingung, sejak kapan Spongebob ikut Liga Champions.

Akhirnya saya punya tips, kalo pas insomnia dan pengen tidur, tontonlah komentator bola ngobrol. Jangan lupa siapin kopinya.

Ngomong-ngomong, film kartun yang sering dibully itu Doraemon, soalnya katanya Nobita itu nggak naik-naik kelas. Coba bayangkan, kalo Nobita naik kelas. Dan hanya butuh waktu 10 episode, buat naik kelas. Pasti 10 tahun lagi, nggak ada film Doraemon. Soalnya Nobita udah mati. Kecuali kalo Nobita bisa dihidupkan, dengan bantuan tujuh bola naga. Mungkin episodenya bisa diperpanjang.

Beberapa waktu lalu sedang heboh pelarangan film kartun. Saya akan bilang, itu udah terlambat! Film Tom & Jerry misalnya, udah ada sejak tahun 1940. Kenapa baru diprotes sekarang? Kemaren-kemaren ke mana aja? Tom & Jerry itu lebih tua dari umur kita semua. Tega kita, membunuh karakter mereka? Nggak sopan banget, sama orang tua! Padahal film kartun itu film yang efisien, soalnya pemainnya kagak bakalan salah dialog, sama salah adegan.

Film kartun Hollywood itu keren-keren, yang ngisi suara juga aktor-aktris ternama. Brad Pitt, Will Smith, sampe Jennifer Lopez, pernah ngisi suara di film kartun. Masalahnya adalah, sampe Indonesia, filmnya didubbing. Dan suara aktor-aktris Hollywood itu, nggak ada gunanya. Diganti, sama suaranya Ony Syahrial.

Tapi di atas apapun, demi apa menghapus film kartun di Indonesia, selama sinetron masih hidup? Bahkan kalopun sinetronnya dimatiin, para penggemarnya bakal ngehidupin lagi, pake bantuan tujuh bola naga.

Ada ilmuwan yang bilang, kalo sejarahnya manusia berasal dari kera. Selama bertahun-tahun, mengalami perubahan yang disebut evolusi. Masalahnya adalah, setelah ribuan tahun manusia pertama muncul di bumi, kenapa wujud manusia nggak berubah-ubah lagi? Siapa tau, setelah berevolusi, ada manusia yang jadi robot.

Dan parahnya, sampe sekarang kera juga masih ada. Apakah ini golongan kera yang nggak move on? Ada sih, manusia yang berubah. Berubah jadi siluman, mulai dari siluman harimau, siluman kera, sama siluman buaya darat.

Kata orang, sejarah bisa berulang. Ini sejarah aja sampe remedial. Jangan-jangan dia pas ujian, kenaikan tingkat dari kera menjadi manusia, dia gagal. Akhirnya setelah remedial, bukannya jadi manusia, eh malah jadi siluman.

Sejarah mencatat penemuan-penemuan penting dalam peradaban hidup manusia. Manusia menemukan tenaga listrik, telepon, mobil, internet, sampe teori evolusi. Listrik misalnya, ditemukan oleh Michael Faraday. Setelah ditemukan, beliau bingung, bayar listriknya di mana. Kan PLN belum ada. Atau telepon, yang ditemukan Alexander Graham Bell. Setelah ditemukan, beliau bingung, mau nelepon siapa. Kan di dunia baru dia yang punya telepon.

Tapi gini, apa yang terjadi, kalo sampe sekarang yang namanya listrik, telepon, atau internet belum ditemukan? Kita masih hidup dalam kegelapan, dan nggak bisa menghubungi sodara kita, yang lagi remedial sejarah.

Dan sementara pikiran kita masih menganggap nenek moyang kita adalah kera, sedangkan kera sendiri, nggak mau mengakui perbuatannya. Kan dia sekarang jadi siluman.

Di sekolah, pelajaran yang paling saya sukai adalah Matematika. Sayang, perasaan saya bertepuk sebelah tangan. Saya PDKT sama Matematika sejak kelas 1 sampe kelas 12. Nggak kena-kena! Akhirnya saya tau, kalo Matematika udah dijodohin. Saya taunya dari orangtuanya, Aljabar dan Berhitung. Kalo nggak salah dia dijodohin sama Fisika.

Selain Matematika, ada 2 pelajaran lagi yang saya sukai. Pertama, pelajaran kosong. Sejak kelas 1 sampe kelas 12, saya belum pernah ketemu gurunya.

Yang kedua adalah pelajaran Olahraga. Saya suka, soalnya nggak pernah ada PR. Pelajaran yang nggak ada PR itu juga penting, biar kalo kita olahraga lebih fokus, nggak mikirin PR. Juga biar PDKT sama Matematika lebih lancar. Lebih nggak fokus lagi kalo gurunya killer. Pas konsentrasi di kelas, baca buku pelajaran, eh ternyata gurunya Jack The Ripper. Apalagi dia ngajar pelajaran kosong.

Dulu ada pelajaran yang namanya Ilmu Bumi. Diganti namanya jadi Geografi, sejak negara api menyerang. Biar nggak ada yang tau, kalo para pengendali bumi masih hidup. Mungkin ada juga yang namanya Ilmu Air sama Ilmu Udara. Akhirnya digabung, jadi Fisika, calon suaminya Matematika.

Cicak

Posted: 15 Juli 2016 in Pemikiran
Tag:, ,

Suatu ketika pas mau menjemur baju di jemuran belakang rumah, nemuin ada kotoran teronggok di tengah kawat jemuran. Dari bentuk, bau, dan rasanya, sepertinya ini kotoran cicak. Kan jadi merasa aneh ya, karena secara normalnya, kawat jemuran bukanlah jalan lewat cicak pada umumnya.

Tapi tentu saja hal ini mungkin saja terjadi. Bisa jadi si cicak ini penyuka tantangan. Dia suka hal-hal yang ekstrim, seperti berjalan di kawat jemuran. Atau dia pengen memecahkan rekor dunia gitu, nggak tau juga. Pas lagi jalan di tengah kawat, tau-tau perutnya mules dan nggak tahan pengen buang air. Lagian di tengah situ nggak ada toilet umum, dan akhirnya dia boker di situ.

Atau memang si cicak ini emang sehari-hari dia lewatnya di kawat jemuran ini. Karena dia di atas genteng, dan mau ke tembok di seberangnya, daripada turun dulu ke bawah terus nyebrang, kejauhan, akhirnya dia melatih dirinya sendiri lewat di kawat jemuran untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kan kalo udah kaya gini jadinya aku yang repot. Pas mau ngejemur baju, ada kotoran, jadi harus bersih-bersih kawat jemuran dulu. Memeriksa ke seluruh bagian kawat jemuran, apakah ada kotoran lain di kawat tersebut. Memeriksa kawat jemuran yang satunya lagi, apakah si cicak ini juga buang kotoran di situ. Kalo udah bersih semua, baru baju-bajunya dijemur, biar nggak dilewatin cicak lagi.

Tapi berhubungan dengan cicak, ada mitos bangke yang bahwa katanya kalo ada orang kejatuhan cicak, maka dia akan kena sial. Entah dari mana dan atas dasar apa mitos ini sampai muncul di muka bumi ini. Udah jelas-jelas yang jatuh cicaknya, kan berarti yang sial cicaknya. Manusia itu kalo kejatuhan cicak nggak bakal ada satupun anggota tubuhnya yang terluka atau berubah bentuknya, kecuali kalo cicaknya pas nempel di buah kelapa.

Atau teori ini bisa jadi benar, kalo ternyata cicak yang jatuh tadi, baru saja kejatuhan cicak.

Terakhir, kalo ada pembaca yang udah membaca tulisan ini sampai di titik ini, pasti merasa kalo tulisan ini nggak ada maknanya dan nggak bisa diamalkan di kehidupan sehari-hari. Padahal itu benar! Tulisan ini cuma luapan ide yang berasal dari cicak aja sih.

Sulapan

Posted: 13 Juli 2016 in Menulis, Pemikiran
Tag:, ,

Sebagai penulis blog amatir yang berusaha untuk mengangkat hal-hal yang tidak penting menjadi kurang perlu untuk dibahas, saya berusaha membahas hal-hal sepele yang terjadi di lingkungan sekitar saya untuk saya jadikan bahan tulisan. Hal ini nggak lepas juga dari kekosongan ide untuk membahas hal-hal yang sudah sempurna, sehingga nggak perlu lagi dibahas.

Kali ini saya pengen ngebahas tentang earphone, atau dikenal juga sebagai headset. Pasti di jaman sekarang ini benda ini dikenal luas kan, terutama bagi para penyuka musik atau pengguna smartphone. Lantas kenapa benda ini perlu saya bahas? Nggak ada perlunya sih sebenernya, tapi pernah nggak kepikiran kalo earphone ini bisa sulap?

Dasar pemikiran saya ini adalah lebih karena kabelnya. Kalo kita tidak lagi menggunakan earphone, kemudian kita gulung kabelnya dengan rapi, terus dimasukkan kantong atau tas, apa yang terjadi pada saat kita ambil kembali? Kebanyakan kabelnya bakal kusut. Padahal tadi dimasukkan rapi, dikeluarkan kusut. Sulap banget!

Sering terjadi kesalahan penyebutan earphone atau headphone ini. Earphone sering disebut juga headphone, padahal meskipun fungsinya sama, bentuk kedua benda ini beda. Headphone lebih besar, dengan fungsi ganda, yaitu pertama sebagai alat untuk mendengarkan musik secara personal, dan yang kedua bisa berfungsi sebagai bando rambut. Sedangkan earphone lebih simpel dengan tinggal mengaitkan kedua ujung stereonya ke lubang telinga.

Satu lagi, penyebutan headset yang sering salah disebut jadi handset. Pernah ngikutin grup jual beli di Facebook? Seringkali ada orang jual telepon genggam dengan menyebut ‘minus handset’. Mungkin kita bisa paham, bahwa orang tersebut jual telepon genggam dengan tidak menyertakan earphone dalam paket penjualannya, atau mungkin karena earphonenya rusak. Tapi handset bukan headset! Secara bahasa, orang yang jual telepon genggam yang minus handsetnya nggak disertakan, berarti dia jual telepon genggam tanpa unit telepon genggamnya. Bisa jadi cuma jual dosnya, atau buku manualnya, atau earphonenya saja.

Pembahasan nggak penting ini akan saya akhiri dengan nasihat, gunakan earphone seperlunya dan jangan berlebihan. Jangan sampai penggunaan earphone jadi mengganggu kehidupan sosial kita dengan lingkungan sekitar. Jangan pernah menggunakan earphone di lubang hidung. Dan yang terpenting, jangan pernah menggunakan earphone saat kita sedang menggunakan earphone.

Isi Staples

Posted: 29 Desember 2015 in Pemikiran
Tag:, ,

Suatu sore, saat pulang kerja dan berada di ruas jalan yang cukup padat, di depanku kebetulan adalah sebuah mobil boks yang memasarkan produk tertentu. Dan kali ini produk yang dipasarkan (atau lebih tepatnya yang menempel di boks) adalah isi staples.

Produknya sih biasa aja ya, isi staples gitu loh! Yang bikin mikir itu taglinenya. Ya karena agak lama di belakangnya, jadi kepikiran soal isi staples ini. Sebut saja merknya “MERK INI” (bukan nama sebenarnya). Sebenernya aku sebut gitu karena aku juga lupa merknya apa, soalnya nggak begitu terkenal. Taglinenya adalah kurang lebih begini: Membuat Anda Berhasil dan Beruntung. Lupa juga sih bener gitu apa nggak, mungkin yang tau tar bisa memberi koreksi.

Masalahnya gini, ini kan isi staples ya. Emang sih kita nggak bisa ngeremehin barang kaya gini, tapi sepenting itukah pengaruh isi staples terhadap kehidupan masa depan kita? Aku sendiri ya, kalo udah yang namanya isi staples nempel di dalam staples, nggak peduli merk apa dia, yang penting staplesnya berfungsi baik dan bentuknya bagus.

Kan nggak mungkin juga ya suatu ketika kita melamar pekerjaan menjadi manajer misalnya, terus dalam wawancara kerja ada pertanyaan “Kalau boleh tahu, Anda menggunakan isi staples merk apa?” “Owh, saya menggunakan isi staples MERK ITU, Pak.” “Kami mohon maaf Saudara, kami hanya menerima calon karyawan yang menggunakan isi staples dengan MERK INI, karena membuat berhasil dan beruntung!”.

Ini mungkin juga berlaku juga dengan yang namanya pulpen. Meskipun pada dasarnya emang ada pulpen yang enak dipakai dan ada yang nggak, tapi hasil goresan pulpen di kertas bisa jadi sama. Kan nggak bakal keluar pertanyaan “Kalau boleh tahu, Anda menggunakan pulpen merk apa?” “Owh, saya menggunakan pulpen MERK ITU, Pak.” “Kami mohon maaf Saudara, kami hanya menerima calon karyawan yang menggunakan pulpen dengan MERK INI, karena membuat berhasil dan beruntung!”.

Tapi pada akhirnya aku menyadari, bahwa bikin tagline iklan kaya gitu nggak semudah orang ketabrak angkot terus dia misuh. Aku ngerasain sendiri gimana dulu pas kemah pramuka, bikin yel-yel yang gampang diapalin dan enak didengar itu sulit banget, padahal itu cuma yel-yel yang abis kemah mungkin udah nggak kepakai lagi. Tagline iklan ini bakal bisa melekat di produk yang diiklankan, bahkan meskipun produknya udah nggak ada.

Hanya saja emang agak ngeganggu sih dengan tagline yang dibesar-besarkan jauh lebih besar dibanding fungsi produk itu sendiri. Bisa jadi kita bakal nemuin ada yang jual sapu dengan tagline ‘Membersihkan Rumah Secepat Kedipan Mata Anda’, tapi gimanapun itu sapu, kalo nggak dipake ya nggak bakalan bersih rumahnya.

Sebagai salah satu daerah yang populer di Indonesia, selain Konoha, Surabaya adalah kota yang unik. Dari namanya aja udah keliatan unik, Surabaya. Padahal kota-kota di sekitarnya namanya Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, atau Malang. Ini malah namanya Surabaya.

Dari lokasi, Surabaya juga istimewa. Surabaya adalah satu-satu kota, yang terletak di Surabaya. Bandingkan dengan Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, atau Malang. Cukup unik kan?

Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Surabaya. Nggak istimewa banget sih, soalnya emang sering. Apalagi bulan sebelumnya juga udah ke Surabaya buat ikutan workshop. Kalo kepergianku yang kali ini tujuannya adalah mau beli beberapa kebutuhan peralatan komputer dan aksesorisnya. Ini pertama kalinya, soalnya biasanya aku beli di sekitaran daerah Kediri aja.

Tujuan utamaku adalah Hitech Mall. Masalahnya adalah, toko di bagian Hitech Mall mana yang akan aku tuju. Berbekal kengawuran dan sedikit improvisasi, akhirnya aku nemuin salah satu toko yang cukup nyaman. Toko ini punya online shop juga, sehingga padu padan perangkat komputer satu dengan yang lainnya bisa lancar. Bisa menyesuaikan dengan anggaran juga. Dan karena kebetulan daftar belanja yang aku bikin ternyata beberapa bagiannya udah nggak keluar produksi lagi, nyari gantinya juga nggak susah.

Dan sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, jalanan Surabaya pasti nggak jauh dari yang namanya kepadatan kendaraan. Itulah yang aku alami waktu itu, terutama pas perjalanan pulang. Perjalanan pulang ini dimulai sekitar jam lima, saat kepadatan mungkin berada pada titik awal, di mana para pekerja pulang dari tempat kerjanya, sedangkan di jalanan masih banyak kendaraan lain yang sebelumnya udah berada di jalanan.

Sambil melewati kemacetan di sebuah persimpangan jalan, pas lampu merah nyala, kami semobil membicarakan tentang kehidupan di kota besar seperti Surabaya ini, yang cukup berbeda dengan kota asal kami, Kediri. Di Kediri macet juga sih, tapi nggak begitu parah. Dan kalo ada orang Kediri udah ngeluh kalo pas macet, mungkin dia nggak cocok hidup di kota besar.

Yang kami obrolin seputar gimana keseharian rutinitas penduduk kota besar kaya gini, yang harus pergi pagi-pagi biar lancar di perjalanan, dan pulangnya hari udah gelap masih di jalan. Nyampe rumah mungkin baru malam, istirahat bentar, pagi-paginya besoknya udah berangkat lagi.

Sambil ngobrol aku perhatikan di luar kendaraan kami, jalanan yang dipenuhi kendaraan, kebanyakan yang keliatan sepeda motor. Aku jadi membayangkan mungkin dengan kemacetan semacam ini setiap hari, akan ada orang-orang yang selalu bertemu di lampu merah yang sama. Kemudian mereka kenalan, di lampu merah itu juga. Besoknya ketemu lagi, di tempat yang sama tadi. Orang biasanya ketemu dan kenalan di kafe, mall, atau lapangan, ini ketemunya di lampu merah.

Tapi di luar itu semua, yang namanya tinggal di sebuah daerah itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, selaras dengan semua pasti ada resikonya. Mau tinggal di mana pun, atau kerja di kota apa aja, akan ada sesuatu yang jadi pertimbangan kita. Malah kadang juga jadi saling memandang orang lain hidupnya lebih enak daripada kita. Atau malah bisa jadi kita bersyukur, tempat tinggal kita nggak seperti tempat yang lain. Sebenernya kembali pada masing-masing kitanya aja sih gimana ngejalaninnya.

Perjalananku ke Surabaya hari itu, berakhir saat aku nyampe kembali di Kediri. Kalo belum di Kediri, berarti aku belum nyampe.

Cerita film yang menurutku bikin kesan nggak banget di akhir cerita adalah film yang kisah akhirnya jagoannya kalah, tapi dia nggak mati. Pernah nonton nggak film yang model kaya gini? Seenggaknya ada dua film yang pernah aku tonton, dan akhirnya kaya gitu.

Yang pertama adalah Legionnaire, yang pemeran utamanya adalah Jean Claude van Damme. Ceritanya dia jadi anggota prajurit bayaran, dan di akhir cerita pasukannya kalah, kalo nggak salah semua anggota pasukannya mati, kecuali dia seorang. PHP banget!

Yang kedua adalah The Last Samurai, aktornya Tom Cruise. Waktu itu ada perang antara para samurai dan tentara kekaisaran. Dan pasukan samurai ternyata kalah. Semua prajuritnya terbunuh, kecuali satu orang. Bisa ditebak kan, satu orang ini udah pasti bukan Jean Claude van Damme, tapi Tom Cruise.

Ini kalo yang tinggal satu orang itu Steven Seagal, mungkin ceritanya bakal lain. Kita bisa liat di film-filmnya, berapapun jumlah musuhnya, si Steven Seagal ini pasti menang. Ceritanya emang jadi membosankan, tapi seenggaknya akhirannya beda sama dua film di atas.

Maksudnya itu gini, kenapa gitu ceritanya harus menyisakan satu orang. Ini kan perang, dan harusnya kalo perang, ya udah habisin sekalian pasukannya. Kalopun nggak habis, seenggaknya nyisain sepuluh orang gitu. Ini tinggal satu, nanggung banget. Apalagi yang tersisa itu aktor utamanya.

Mungkin film yang cerita akhirnya musuhnya yang menang itu bikin nyesek ya, tapi itu masih lebih baik dan lebih jelas, ketimbang musuhnya yang menang tapi nyisain satu orang. Soalnya fungsi satu orang ini jadi nggak jelas sesudah perang itu, dia tar jadi pahlawan atau tawanan.

Lain lagi kalo satu orang ini ternyata melarikan diri dari medan perang karena semua temannya udah mati. Kan bisa aja musuhnya udah nggak ngerasa ada yang tersisa, atau penontonnya nggak merasa ada teori konspirasi yang menaungi film ini. Iya kan, karena gara-gara sisa satu orang, orang ini bisa dituduh bersekongkol sama musuhnya.

Tapi di luar sebab-sebab yang nggak penting tadi, itulah yang aku rasakan setelah nonton Legionnaire. Dulu aku nonton pertama kali bareng teman-teman sekolahku, di sebuah persewaan VCD, yang untuk nonton itu kami harus nunggu satu setengah jam karena bilik nontonnya masih penuh. Begitu nonton, abis itu kita rasanya ‘Yah, gitu doang…’, kecewa banget. Coba kalo kedua film tadi digabung, yang tersisa bukan satu orang, tapi dua orang, van Damme sama Tom Cruise. Mereka masih hidup, jadi bisa minta bantuan Steven Seagal gitu.

Sebagai orang yang sering berada di jalanan, dengan mengendarai motor, aku sering menemui hal-hal yang mungkin aneh, unik, atau malah ngeselin. Salah satu yang ngeselin adalah kalo ketemu ibu-ibu di jalan, mengendarai motor, dia nggak kencang, tapi juga nggak pelan. Kecepatannya konstan banget. Yang bikin kesel itu, dia jalannya nggak di tepi jalan, tapi agak nengah gitu.

Mau nyalip lewat kiri, dari depan kendaraan rame banget. Mau nyalip dari kanan, takutnya tau-tau dia jalan minggir. Dan kalo model kaya gini, mau nyalain klakson juga kadang nggak mempan. Bisa kalah sama omelannya.

Pernah ya dulu aku naik sepeda, di pertigaan tiba-tiba dari kanan ada ibu-ibu, naik sepeda juga. Tanpa tengok-tengok, nggak ngasih tanda, tau-tau dia motong jalur bersepedaku. Kadang di sini mau negor juga segan ya. Khawatirnya pas negor ‘Bu, kasih tanda dulu dong!’, eh tiba-tiba dia bilang ‘Uh, dasar cowok, nggak peka…’.

Kan bikin kesel ya, tar bisa-bisa malah terjadi obrolan nggak penting. Bisa aja tau-tau aku ngejawab ‘Emang saya salah apa Bu?’, si ibu ngejawab ‘Pikir aja sendiri!’. Kan kalo udah gini malah bikin bingung, kalo aku bilang ‘Saya nggak tau Bu.’ Si ibu akhirnya bilang ‘Emang ya, semua cowok sama saja!’

Yang bikin heran di jalanan lagi adalah nemuin orang naik motor, pake jaket tapi dibalik. Ini maksudnya gimana gitu. Aku kira gambar jaket yang bagian belakangnya lebih bagus daripada bagian depannya, pas diliat ternyata bagian belakangnya nggak ada gambarnya, polos gitu.

Padahal para perancang jaket itu udah merancang jaket sedemikian rupa, yang bisa nyaman dan aman buat dipakai. Tapi seolah-olah orang-orang ini menganggap para desainer ini salah, sehingga perlu direvisi lagi. Apalagi orang-orang yang nggak hanya pake kebalik, bagian belakangnya dipake di bagian depan. Yang ekstrim bagian lehernya dipake di bawah.

Ada lagi keunikannya adalah orang yang megang setir menghadap atas. Normalnya orang megang setir kan tangannya menghadap ke bawah, muntir gas juga lebih nyaman. Ini ada orang yang berkebalikan.

Dan yang paling unik dari semua yang aku sebut di atas, tentu aja ketemu ibu-ibu yang naik motor, dengan kecepatan konstan, jalan di tengah, pake jaket terbalik, dan tangannya menghadap ke atas.

Blokir

Posted: 4 April 2015 in Pemikiran
Tag:, ,

Akhir-akhir ini lagi marak berita tentang pemblokiran situs-situs tertentu oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, dengan rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, sebut saja BNPT. Karena situs-situs ini dinilai menyebarkan nilai-nilai radikalisme.

Dan banyak tanggapan bernada protes tentang aksi pemblokiran ini. Aku jadi berpikir-pikir, jangan-jangan suatu ketika blogku ini diblokir juga, karena menyebarkan nilai-nilai radikalisme. Iya, radikalisme dalam berpikir ngaco.

Pernah sih suatu ketika kena blokir, pas ada orang hajatan gitu. Jalan ditutup, mau lewat nggak bisa, harus putar balik. Ini kan jadi menghambat jalur transportasi ya. Masa orang punya hajat harus gitu-gitu amat sih?

Aksi blokir sering aku lakuin buat kontak Facebook. Ada akun yang suka bikin status misuh-misuh, blok. Akun yang suka bikin status ngeluh, blok. Sampe ada akun yang suka bikin status, aku blok juga. Pokoknya kalo ada kontak yang senengnya kirim hal-hal yang nggak mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa gitu, aku blok aja, biar nggak memberatkan pikiran.

Di telepon seluler itu juga ada fasilitas ngeblok nomor, yang kalo nomornya diblok mereka jadi nggak bisa telepon kita, atau SMSnya nggak masuk ke kotak masuk pesan. Aku sering juga pake fasilitas itu. Tapi sayangnya, fasilitas ini nggak bisa ngeblok SMS dari operator. Tiap hari ada aja SMS masuk dari operator. Udah disempat-sempatin buka telepon seluler buat ngecek pesan, karena bunyi ada pesan masuk, eh ternyata malah SMS dari operator.

Harusnya BNPT itu juga menggolongkan hal seperti ini sebagai aksi teror juga. Niatnya operator sih sebenernya promo fitur atau produknya, tapi kan bagi pengguna hal seperti ini seakan-akan bisa jadi teror. Kalo aja di dalam dunia teror itu berlaku juga sistem delik aduan, lama-lama para operator ini bisa diblokir sama Kementerian Komunikasi dan Informasi, gara-gara bikin teror promo SMS. Dan karena operator kita diblokir, kita jadi nggak bisa pake jasa operator. Tar telepon seluler punya kita jadi berfungsi buat alarm sama buat liat jam aja deh.