Arsip untuk Agustus, 2011

Pelangi

Posted: 26 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:,

Kadangkala, hujan memberikan manusia bonus tambahan pemandangan indah yang luar biasa. Itu adalah pelangi. Pelangi akan muncul jelas jika langit setelah hujan cerah tanpa awan yang bisa menutupinya. Kombinasi 7 warnanya terlihat berbentuk parabolik jika dilihat dari bumi.

Nah, orang Jawa menyebut pelangi dengan 2 jenisnya, yaitu Tejo dan Kluwung. Tejo adalah pelangi yang muncul di pagi hari, terletak di sebelah barat, dan hal ini sangat jarang dijumpai. Karena itulah, dalam kepercayaan Jawa, munculnya Tejo melambangkan keberuntungan bagi yang melihatnya, seperti munculnya pulung dengan lambang sebaliknya. Yah, orang Jawa jaman dulu emang kreatif membuat kepercayaan.

Kalo Kluwung, muncul di sore hari, ada di sebelah timur. Pelangi yang ini sering sekali kita dapati kemunculannya.

Sebab terbentuknya pelangi pasti bagi mereka yang pernah makan bangku sekolahan (gragas banget!) udah pada tahu. Bonus hujan ini, juga seperti keajaiban alam yang lain, seringkali mengilhami suatu karya seni, entah itu buku, film, lagu, atau lukisan.

La yang patut kita renungi adalah bagaimana pelangi itu tidak terbentuk secara kebetulan. Ada kekuatan besar yang menciptakannya. Kekuatan itu sudah tercantum dalam lagu Pelangi, dialah Allah.

Sayangnya, kadang kita terlena dengan perenungan ilmiah dan meninggalkan perenungan spiritual.

Repost dari blog sendiri

Pergi ke bank adalah perjalanan yang bisa hampir setiap hari kerja bisa aku lakukan, walaupun itu juga bukan hobiku. Kadang sehari bisa 5 bank yang aku jelajahi isinya, mulai pagi sampai siang. Maka bisa dihapal bagaimana ciri-ciri dari masing-masing bank.

Secara umum, bank sangat mengasyikkan kalau nggak antri. Tapi kalo antri, bisa bikin sebel. Selama ini, menurutku ada 3 bank yang ngantrinya bikin capek. Salah satu bank mengantri dengan duduk, sering aku tertidur sambil duduk menanti antrian. Dua yang lain, udah nggak sempat tidur, ngantuk aja nggak sempat, karena ngantrinya dengan berdiri.

Nah, perjalanan ke bank adalah perjalanan yang cukup melelahkan, kadang menguras tenaga, stamina, waktu, uang, dll. Dari kantor, bank terdekat berjarak 7 km. Dulu, untuk mengusir rasa bosan di perjalanan, aku bawa MP3 player dan distel pas di perjalanan. Karena ribet, maka MP3nya udah nggak pernah aku bawa lagi.

Cara lain yang bisa mengatasi kebosanan adalah mengganti rute perjalanan. Kadang lewat jalan satunya, kadang yang lain. Atau berangkat lewat jalan satunya, trus pulangnya lewat jalan lain, asal jalannya enak aja.

Keuntungannya, jadi tau jalan-jalan mana yang bisa dilewati, menuju ke arah mana jalan itu, dan bisa jadi jalan alternatif dengan berbagai tujuan. Selain itu, bisa tau warung mana aja sih yang enak (dan murah), jadinya kalo suatu saat pengen banget makan bisa mampir bentar sampai makanannya habis (enak nih!). Dan pastinya, jadi tau bank mana sih yang tellernya cakep-cakep, sehingga pantas untuk didahulukan.

Kiriman Aslinya

Lagi memperhatikan dua tipe pekerja nih, tipe profesi dan tipe pendidik. Mungkin banyak juga yang menemukan dua tipe ini di lingkungan kerjanya, mungkin juga tipe-tipe lain, tapi yang dua ini lagi pengen aku bahas.

Tipe profesi, bekerja lebih dengan menggunakan keahlian profesinya, bisa karena ilmu yang didapat secara teoritis, akademis, atau pengalamanis (biar belakang sama ada -is nya  ). Tipe ini bekerja dengan gaya yang berbeda dengan yang lain (mungkin semua juga gitu), karena bekerja berdasarkan pengalaman, beridealis, punya prinsip, dan tidak selalu berpegang pada aturan baku, namun tetap bekerja sesuai jalurnya.

Yang tipe pendidik, bekerja lebih dengan teoritis, dan kelebihannya adalah mampu memberi contoh dan mendidik untuk yang lain, tipe yang cocok banget buat temannya pekerja junior.

Dua tipe ini aku temui juga di tempat kerjaku. Tipe profesi bekerja cukup cepat dan punya gaya, sedangkan tipe pendidik ya seperti yang aku bahas di atas. Pekerja dengan tipe profesi saat sebagai pendidik, dia kadang akan mengalami kesulitan saat mengajari orang lain, karena dia punya cara sendiri yang kadang tidak bisa diuraikan, sehingga membingungkan orang yang diajari. Sedangkan tipe pendidik, lebih sabar, dan karena berdasar pada ‘textbook’, dia dengan mudah menjelaskan ke orang lain, yang diajari juga bisa lebih mudah menerima, karena kata-katanya kadang hampir sama dengan buku tapi plus penjelasan matang. Kali tipe profesi, dia tidak akan menjelaskan tanpa ada pertanyaan, tapi kalo tipe pendidik, tanpa ditanya pun dia akan menjelaskan apapun.

Nah, kalo aku pikir aku punya tipe pendidik, meskipun aku lebih suka mengerjakan dengan tipe profesi. Karena kadang dalam penyampaian sesuatu, aku melakukannya dengan tipe profesi, cepat, tepat sasaran, dan nggak jelas.

Soal itu aku pernah punya pengalaman. Dulu, saat ada karyawan baru, dia mendekati aku terus (jadi risih nih), diliatih terus cara kerjaku. Aku yang merasa nggak ditanyain ya cuek aja sambil terus kerja. Setelah kerjaan selesai, aku agak menjauh sambil memperhatikan, ternyata dia belajar sendiri sambil bingung. Dan kemudian dia mengaku, kalo belajar dari aku dia nggak bisa karena aku terlalu cepat. Yah, namanya juga tipe profesi, harus cepat, tepat sasaran, dan nggak jelas (yang ini jelas nggak jelas), menggunakan pengalaman lebih daripada ilmu akademis buat ngerjakan tugas.

Wallohu a’lam.

Posting Aslinya

Kelompok Sufi

Posted: 23 Agustus 2011 in Pengalaman
Tag:, ,

Dulu saat masih sekolah, kebanyakan teman di kelasku adalah sufi (suka film), jadinya kami sering ada acara nonton bareng di mana aja, kapan saja (asal bukan pas pelajaran). Pertama kali liat film itu di persewaan. Ada sebuah persewaan VCD, yang lengkap menyewakan player, tivi dan bilik buat nontonnya. Wah, seru banget tuh tempat, jaman segitu udah sangat keren.

Kalo nggak salah kami berenam saat itu. Dan film yang kami pilih adalah Legionnaire, waktu itu masih baru-barunya, dibintangi oleh Jean Claude van Damme. Dan ternyata, kami agak kecewa dengan endingnya. Ending film ini hampir sama dengan The Last Samurai-nya Tom Cruise, di mana si jagoan ikut dalam sebuah perang besar, dan pasukan si jagoan habis mati semua, kecuali si jagoan (yah, nggak logistik banget ceritanya).

Meski demikian, kami nggak kapok mencoba film-film yang kami sendiri belum tau ceritanya. Kunjungan berikutnya kami nonton The Truman Show oleh Jim Carrey. Pas nonton yang kedua ini, kami rela nunggu 2 jam buat antri tempat, karena pas itu biliknya penuh. Tapi kali ini nontonnya puas dengan ceritanya (meski nggak logistik juga, tapi lumrah karena filmnya komedi).

Nah, saat aku punya VCD player sendiri (pas jaman itu udah top banget!), jadilah nonton bareng dialihkan ke rumah dan kelompok sufinya jadi banyak anggotanya. Bahkan, teman yang rumahnya jauhpun ikut juga, ngoyo bersepeda ribuan kilo (ga juga sih, hiperbola!). Dan kalo di rumah emang lebih puas karena bisa nonton dengan berbagai ekspresi dan gaya.

Kalo sekarang ini, kebetulan beberapa teman-teman di kantor juga kebanyakan para sufi, jadi bisa tukar informasi dan film tentunya. Koleksi film jadi memenuhi hardisk dengan mudah, dan sayang kalo dibuang. Tapi, kemudahannya bisa dirasakan, kapanpun aku pengen nonton film-film itu aku bisa. Dan pastinya koleksi film bisa didapat dengan mudah dari sumbangan teman-teman yang lain.

Postingan Aslinya

Teringat pada sebuah komentar Bro Khusni, ngeblog itu susah, ga pernah OL bareng, aku ga bisa menulis. Ya, tentulah seperti itu, karena situs weblog adalah sebuah tempat yang istilahnya buat ngeblog.

Weblog sendiri kan istilahnya merupakan wujud mini dari website, jadi pemilih akun, atau bisa disebut administrator juga, ga harus selalu online. Weblog, atau blog, memang fungsinya seperti website, menampilkan informasi, menulis artikel, upload foto, posting video, dsb.

Nah, kalo kebutuhannya seperti Bro Khusni tadi, ya ikut saja itus komunitas. Dari fungsinya aja udah beda, situs komunitas emang buat berkomunikasi tanpa harus membuat artikel, ada fasilitas chattingnya, atau aplikasi apapun yang disuka. Tentunya keduanya punya fungsi yang beda, sehingga tujuan masuk ke web pun juga berbeda.

Kalo untuk situs komunitas, kita harus punya akun dulu dan harus log in untuk masuk, cari teman, atau melihat profil orang lain. Tapi kalo di blog, dengan bebas kita bisa masuk, melihat-lihat, baca, download, dsb. di blognya orang tanpa kita harus log in ke situs providernya. Jadi lebih bebaslah, pastinya tanpa mengotak-atik blog tersebut.

Dan tentunya kalo si administrator ga segera menjawab komen-komen yang masuk di postingnya, jangan terus memaksa dan marah-marah, karena bisa saja si admin ga sempat log in, dan tentunya tidak semua komen bisa dibalas oleh admin.

Jadi, tentukan dulu tujuan apa yang pengen didapatkan dari sebuah fasilitas itu. Setelah itu cari fasilitas yang punya fungsi mewujudkan tujuan itu. Dari awal aku juga udah tau fungsi blog, jadi saat kemudian pengen berkreasi lebih lagi, aku tau tujuannya dan alur kerjanya. Dan pastinya, aku ga salah sasaran karena memanfaatkan fungsi yang benar.

Tulisan Versi Aslinya

Duratmoko Sinatriyo

Posted: 21 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:

Tiba-tiba saja aku teringat akan sebuah buku yang berhasil aku pinjam dari temanku, judulnya Duratmoko Sinatriyo, sebuah buku full pakai bahasa Jawa halus, kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia kurang lebih artinya Pencuri yang Bersifat Satria.

Secara detail aku lupa bagaimana ceritanya, tapi secara inti dan pelajaran buku itu aku masih ingat. Secara ringkas aku ceritakan, begini ceritanya:

Suatu hari seorang pencuri mendatangi sebuah rumah kaya yang berada jauh dari rumahnya. Namun ketika menjalankan aksinya dia dipergoki oleh seorang penjaga yang cukup sakti. Akibatnya keduanya terlibat dalam pertarungan sengit. Dalam satu kesempatan, penjaga hampir bisa menikam pencuri itu dengan senjatanya. Namun pencuri itu dalam sikap membelakangi sang penjaga dan memeluk sebatang pohon. Sang penjaga enggan menikam dari belakang, sehingga dia meminta si pencuri untuk berbalik menghadapnya. Namun sang pencuri enggan, dan dia mengajukan syarat untuk menunda pertarungan itu sekitar tiga minggu, agar ia bisa menemui keluarganya untuk terakhir kalinya sebagai perpisahan. Sang penjaga setuju dan mereka sepakat bertemu lagi di tempat yang sama dalam sikap yang sama pula. Akhirnya kedua berpisah dan si pencuri itu kembali ke kampungnya untuk menemui keluarganya. Pada waktu yang telah ditentukan keduanya kembali bertemu dan kembali mereka berada pada posisi yang sama seperti sebelumnya. Si pencuri memeluk pohon dan penjaga itu akan menikam dari punggungnya. Karena si pencuri tidak mau berbalik, maka sang penjaga membuat lubang di pohon itu sehingga tembus ke arah dada si pencuri. Namun akhirnya sang penjaga mengurungkan niatnya karena sikap si pencuri yang sangat menepati janji, padahal dia tahu bahwa dia akan dibunuh oleh sang penjaga yang tangguh itu. Dan akhirnya mereka jadi sahabat sampai mereka berpisah kembali untuk melanjutkan hidup mereka.

Dari kisah ini sebenarnya kurang tepat kalo hanya si pencuri yang dikatakan bersikap satria, namun sang penjaga juga menampakkan sikap satrianya. Pencuri bersikap satria saat kembali ke medan pertarungan dan menghadapi “eksekusi” dari penjaga, meski tahu kesempatan kaburnya sangat tipis. Sang penjaga, dia tidak mau menikam pencuri itu dari belakang, karena sikap tersebut sangat tidak terhormat baginya.

Saling menghormati antara sang penjaga dan si pencuri berakhir dengan persahabatan. Apakah semua sikap di atas ada pada dunia nyata ini? Pencuri yang bersikap ksatria, ataukah ksatria yang bersikap pencuri?

Tulisan aslinya

Free dan Gratis

Posted: 21 Agustus 2011 in Komputer
Tag:

Masih banyak orang yang mengasumsikan sama tentang software free dan software gratis, padahal kedua jenis software itu tidak selalu sama. Software memang terbagi menjadi beberapa jenis, proprietary, shareware, dan freeware. Nah, ketiga jenis software ini bisa menjadi software gratis, tapi tidak bisa menjadi software free.

Software free (freeware), atau sering disebut juga Free Open Source Software (FOSS), adalah software bebas dalam lisensi dan hak penggunaan. Kita bisa bebas menggunakan, mengedarkan, atau menginstal tanpa ikatan hukum, asal tidak melanggar hukum saja. Dalam hal ini, Linux adalah open source operating system, di mana kita bisa menggunakan, mendapatkan dan mengubah source codenya, mengedarkan, menginstal, tanpa kita harus membeli lisensinya.

Shareware lebih mengarah ke suatu software yang diujicobakan untuk umum dalam jangka waktu tertentu, yang kemudian kalau software aslinya tidak dibeli, maka masa berlaku pemakaiannya akan habis. Sedang proprietary, kita tidak bisa menggunakan tanpa membeli software tersebut.

Sedangkan software gratis adalah software yang kita mendapatkan tanpa keluar uang sama sekali, bisa jadi pinjam teman, minta teman yang udah punya, dan lain-lain asal tidak keluar uang.

Nah, di sinilah letak perbedaan software free dan gratis. Software free seperti OS Linux dan open source lainnya belum tentu gratis kalo untuk mendapatkannya kita harus beli. Contohnya nih, aku punya CD Ubuntu 8.04 yang aku beli seharga Rp10.000, atau DVD Ubuntu 8.10 Muslim Edition seharga Rp15.000, tapi untuk hak pakai dan lisensinya setara dengan Windows asli yang harganya lebih mahal. Contohnya lagi, open office yang secara otomatis udah terintegrasi saat menginstal linux, yang setara hak pakainya dengan MS Office yang harganya juga lebih mahal.

Nah, kalo Windows sama Officenya pinjem teman yang udah punya tanpa ngeluarin uang (manfaatin teman banget!), maka itu dikategorikan sebagai software gratis, kecuali temannya perhitungan sampai minta biaya sewa atas peminjaman software itu tadi.

Bacaan yang sama

Perubahan Indikator

Posted: 20 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:

Hampir setiap hari berada di jalanan, membuatku bertemu dengan banyak orang dan banyak tipe orang, dengan berbagai sikap di jalan. Ada yang tertib, menjengkelkan, atau sangat menjengkelkan.

Salah satu tempat di mana aku sering menemui orang-orang yang sangat menjengkelkan adalah di perempatan jalan yang ada lampu merahnya. Tentunya setiap orang yang pernah sekolah dasar pasti pernah diajari bahwa lampu merah itu berarti berhenti, kuning berarti berhati-hati, dan hijau berarti jalan. Walau ga sekolah pun tapi tahu aturan, pasti juga tahu arti warna-warna tersebut. Tapi, kenyataannya tidak demikian (terutama tentang lampu merah). Di mana merah tidak harus selalu berhenti, tergantung kondisi.

Yang sering memperlakukan demikian adalah pengendara sepeda. Sepeda, yang notabene tidak ada pajaknya, sering melanggar aturan tersebut. Kalo ada apa-apa di tengahnya, yang muncul adalah alasan sepede itu kendaraan kecil, yang nabrak kendaraan gede, jadi sepedanya ga bersalah. Hal yang sama juga terjadi pada becak.

Lain lagi kalo kendaraan lain yang melakukannya. Kalo udah sepi, ga ada yang lewat, biar masih merah ya jalan aja. Ada alasan apa sih? Buru-buru? Pengen cepet? Kalo pengen cepet kok ya nggak berangkat dari kemaren aja, lebih cepet!

Salah satu yang juga sangat menyebalkan adalah pengendara motor yang di lampu merah tidak menempatkan diri dengan baik. Biasanya kalo ada pohon di tepi jalan, kebetulan lagi panas, berhentinya ya di bawah pohon itu, tidak pada jalur semestinya. Yah, kalo dengan alasan itu, mestinya kalo panas ga usah keluar, di rumah aja, daripada di jalan trus berteduh!

Perempatan (atau pertigaan) lampu merah itu jarang sekali ada ‘penunggu’nya walau ada pos dan patung polisinya (padahal polisi yang paling jujur di negeri ini adalah patung polisi dan polisi tidur!). Kecuali kalo perempatan alun-alun dan perempatan strategis lain, pasti rutin dijaga polisi. Jadi, indikator makna warna pada lampu sudah jarang dipakai, yang dipakai adalah indikator ada penjaganya atau tidak.

Ya tidak semua pengendara seperti itu. Tapi tetap aja, kebanyakan seperti itu. Sudah jelas ada tanda ‘Belok kiri ikuti isyarat lampu’, masih saja nyerobot. Ini yang salah mata atau otaknya ya?

Jadi teringat pengalamanku dulu saat sial menerobos lampu merah. Di pertigaan, biasanya kalo jalan lurus walau lampu lagi merah ya terus aja, jadinya aku terus. Padahal jelas-jelas ada polisi sedang jumeneng di tengah jalan. Ya udah, jadi deh aku dihentikan dan dikasih pengarahan. Aku memang salah, jadi ya aku dengerin aja. Pas mo bayar ‘upeti’, dia bilang ga usah, tapi aku harus berjanji tidak mengulangi lagi. Jadinya, sekarang kalo pas lewat lampu merah, aku sangat berhati-hati (bukan karena berhati-hati kalo ada yang jaga).

Sekarang, siapa yang salah? Guru SDnya yang kurang mengajarkan makna warna lampu itu, atau orangnya yang ‘bermata tapi tak melihat’? Tentulah guru tidak bisa disalahkan, karena mental berkehidupan tidak didominasi dari pengajaran sekolah. Yang terlihat di sebuah iklan rokok tentang pelanggaran lalu lintas itu memang nyata terjadi, bahkan kalau ada yang jaga sekalipun. Mungkin mental umum kita di negeri inilah yang perlu diperbaiki.

Bacaan yang sama

Anak-Anak

Posted: 20 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:

Tergelitik banget sama acara ajang kontes menyanyi anak-anak tapi menyanyikan lagu yang bukan anak-anak. Lagu-lagu yang semestinya untuk orang dewasa (yang bisa berpikir dan membedakan mana yang benar atau mana yang salah), disajikan dan ditampilkan oleh dan untuk anak-anak. Beberapa tahun sebelumnya ada acara yang sejenis, tapi lebih bernuansa “anak-anak” karena mereka mayoritas menyanyikan lagu anak-anak (setidaknya lagu buat anak-anak).

Secara realistis saja, sekarang memang jarang sekali lagu yang khusus buat anak-anak. Jarang ada album buat anak-anak yang beredar (mungkin karena kurang laku kali). Tidak ada lagi generasi penerus Joshua, Tasya, atau yang lebih jauh, Trio Kwek-Kwek. Nama-nama itu sekarang sudah tidak bisa lagi disebut anak-anak.

Di tempat lain, banyaknya sinetron untuk anak-anak (atau remaja), juga disisipi unsur yang sebenarnya bukan porsi mereka, dan cenderung dipaksakan. Sangat tidak pada tempatnya!

Orangtua adalah madrasah awal untuk anak-anak. Kemudian diteruskan oleh guru di sekolah. Sebagian pergaulan anak-anak memang ada di sekolah. Sebagian yang lain ada di lingkungan luar, yang tidak bisa dipastikan keamanannya. Memang tidak ada jaminan jika pendidikan dari awal sudah baik, yang berikutnya akan ikut jadi baik. Bisa saja baik di awal tapi buruk di sisi yang lain.

Akan selalu saya ingat kisah seorang anak, yang dari TK dan SDnya dihabiskan di suatu sekolah Islam yang (menurut saya) terbaik di daerahnya. Anak yang seperti ini seharusnya bisa membawa apa yang didapatnya dari sekolah untuk diamalkan di kehidupannya sehari-hari. Tapi nyatanya, terdengar kabar bahwa di SMP dia dikeluarkan dan juga menghamili pacarnya! Hal yang bisa disimpulkan dari anak ini adalah bahwa lingkungannya membentuk suatu sifat dan sikap yang bertolak belakang dengan apa yang didapatkannya di sekolah Islam tadi. Kebetulan dia memang tinggal dekat dengan lingkungan lokalisasi, di mana para pemabuk, penjudi dan pezina selalu berkeliaran di sana.

Mungkin tidak semua seperti itu, tapi itulah gambaran tentang anak sekarang yang sedang aku lihat. Terlebih lagi, anak-anak lebih suka dengan benda yang disebut televisi, tapi ironisnya jarang ada program televisi yang cocok dengan anak-anak. Kalau belasan tahun yang lalu, di sore hari, saat aktifnya anak-anak melihat televisi, bertaburan acara dan film untuk anak-anak, sekarang televisi bertaburan infotainment (mungkin dengan alasan yang sama seperti di atas, kurang laku dan tidak menaikkan rating).

Sekali lagi, ini adalah pandangan saya. Jadi, kalo punya pandangan lain, silakan berpendapat deh, gimana sebenarnya yang terjadi dan apa yang terbaik untuk anak-anak jaman sekarang.

 

Bacaan yang sama

Menulis

Posted: 20 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:

Apa ya yang mau aku tulis? Bagiku menulis bukan hanya menuangkan ide, curhat, gagasan dan pemikiran yang ada di pikiran, apalagi kalo menulis di blog. Tulisan yang aku ketik harus tertata rapi, berbahasa sopan sehingga mudah diterima orang lain, ketikan rapi dengan format sesuai dan bahasa dengan EYD, dll. standar bagiku untuk menulis.

Tidak mudah bagiku menentukan tema tulisanku. Aku ga mau hanya sekedar menulis memenuhi lembar blog dengan tulisan yang tidak akurat, tidak bermutu, dan tidak mendasar. Harus ada referensi, entah dari buku, website, atau blog lain kalo itu tentang suatu topik yang umum. Kalo dari pengalaman pribadi, mungkin lebih mudah, tinggal menata tata bahasa dan alurnya. Hilangkan semua hal yang tidak perlu, yang kadang muncul begitu saja di layar.

Munculnya ide yang kadang tidak terdokumentasikan kadang jadi hilang begitu tangan mulai menyentuh keyboard. Fokus menulis terbagi dengan menata lembaran ide di kepala, mana yang jadi permulaan, isi, kemudian penutupnya. Karena di saat munculnya ide terkadang tidak disertai dengan media yang bisa jadi tempat curahan, entah itu kertas, netbook, atau yang lainnya.

Sejak kecil aku suka menulis, entah itu membuat cerita-cerita yang tidak aku lanjutkan akhirannya, atau merangkum pengetahuan dari buku atau media lain. Dan terkadang apa yang aku tonton atau aku baca menjadikan suatu obsesi bagitu sendiri. Dan sejak aktif di blog, aku sering mencari topik sendiri untuk dituangkan dalam blog, tapi terkadang tidak ada ide muncul saat login ke blog. Jadinya ngeblog cuma dijadikan alat komunikasi aja, tanpa kontribusi yang berarti untuk kehidupanku dan orang lain.

Terkadang saat kita (kita? elo aja kali!) membaca media lain muncul ide untuk menyalinnya ke dalam tulisan sendiri. Tapi kadang aku berpikir, di mana letak ide kreatifku sendiri muncul. Tulisan itu milik orang lain, aku hanya menyalin dan menambahi (kadang) dengan apa saja yang perlu.

Punya tulisan sendiri memang menarik. Aku pengen meniru temanku, Adi, yang tulisannya ada di blognya dan beredar di mana-mana. Atau juga si Ali, yang dulu tulisannya pernah dimuat di surat kabar. Ada kepuasan tersendiri saat hasil karya sendiri muncul, dilihat orang lain, dikomentari, dilihat sendiri, baca-baca sendiri, senyum-senyum sendiri, pokoknya ga sendiri-sendiri aja.

Salah satu yang suka aku baca adalah suatu cerita hikmah dengan penokohan. Dulu aku sering baca tulisan pamanku, (alm.) Anshari Thoyib, di harian Surya lewat tokoh Mbah Ghofur. Atau mungkin sekarang Bapak Nur Cholis Huda, yang tulisannya rutin dimuat di majalah Matan PWM Jawa Timur.

Tapi pada dasarnya, semua manusia yang melek huruf punya kecenderungan untuk menulis, entah itu beraturan atau tidak.

Udah panjang belum sih tulisanku ini? Aku masih belum menemukan topik untuk ditulis. Di mana ya ada toko topik untuk dibahas?

Bacaan yang sama