Arsip untuk September, 2011

Televisi (bagian 2)

Posted: 30 September 2011 in Pemikiran
Tag:,

Lalu bagaimana dengan gerakan dakwah Islamiyah lewat televisi? Cukup menggairahkan, banyak tayangan dakwah bermunculan (terutama kalo bulan Ramadhan), bahkan ada tayangan yang tayang di jam yang tidak lazim digunakan untuk tayangan dakwah, di siang hari. Padahal biasanya tayangan dakwah disiarkan pagi hari setelah Subuh, atau kadang malam ato sore hari (di televisi lokal). Dengan penceramah dan tema yang bervariasi, pemirsa bisa memilih sendiri mana yang ingin mereka saksikan.

Tetapi sebenarnya, tayangan dakwah itu terkadang mencerminkan apa yang dipercayai oleh sang pendakwahnya, bukan dalam pemahaman umum. Sehingga kemudian muncul kesan bahwa tayangan tersebut eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja, yang juga menganut paham yang sama. Aku masih ingat betul gimana masalah ibadah berdasarkan salah satu madzab yang diangkat oleh seorang pendakwah. Kebetulan sang pendakwah menerangkan tentang tata cara ibadah haji yang dalam salah satu madzab dilarang, tetapi dibenarkan dalam madzab lain. Maka, saat melaksanakan ibadah haji, jika terpaksa harus melakukan tata cara tersebut, maka jamaah tersebut harus berganti madzab dulu, kemudian kalo udah selesai prosesi hajinya bisa balik lagi ke madzabnya.

Kemudian pertanyaannya, gimana tuh tata cara berganti madzab? Apakah berganti madzab disamakan seperti berganti agama? Padahal tata cara ibadah yang benar sesungguhnya berasal dari Rasulullah Muhammad SAW. Imam madzab menjelaskan tata caranya, dengan pemikiran yang sangat mendalam. Dan meskipun saat dalam suatu madzab tidak diajarkan suatu tata cara beribadah yang diajarkan oleh imam madzab yang lain, namun imam madzab tersebut tidak ragu untuk melakukan tata cara ibadah dari imam madzab yang lain, jika tata cara tersebut ada dalam tuntunan beribadah Rasulullah SAW.

Pada kenyataannya tayangan tersebut yang membuatku mempunyai pemikiran di atas, bahwa setiap pendakwah punya paham keislaman yang berbeda, yang kemudian dibawanya saat berdakwah. Akibatnya terjadilah marjinalisasi gerakan dakwah itu sendiri, dan yang lebih memberatkan, dakwah tersebut ditayangkan lewat televisi yang kemudian disiarkan dan disaksikan oleh masyarakat umum. Sehingga saat ada segolongan masyarakat yang berbeda paham dan kemudian mereka berpikiran sempit, dengan mudah akan timbul kesenjangan dan perselisihan di antara golongan tersebut. Padahal, Islam itu satu, hanya cara memandang dan memahami yang diyakini berbeda antar umat Islam itu sendiri.

Jadi, tetaplah jadi pemirsa yang kritis (bukan kritis seperti yang ada di UGD), pintar memilah dan memilih tayangan yang tepat, dan berpikir cerdas terhadap segala gambar yang keluar dari kotak (meskipun sekarang bentuknya gak selalu kotak) ajaib ini.

Dari Blog Sendiri

Iklan

Televisi

Posted: 28 September 2011 in Pemikiran
Tag:,

Hampir di setiap rumah di Indonesia punya televisi, bahkan beberapa rumah punya lebih dari satu televisi. Seolah-olah, siaran televisi itu mempunyai sihir tersendiri bagi pemirsanya. Banyak hal yang bisa didapat dari televisi, ada yang positif, tapi banyak juga yang negatif. Media elektronik seperti televisi masih merupakan sarana efektif sebagai media penyiaran yang mampu menjangkau hampir setiap lapisan masyarakat, sehingga berbagai pihak bisa menggunakannya untuk kepentingan apapun.

Siaran televisi saat ini didominasi oleh banyaknya sinema elektronik, atau kita lebih sering menyebutnya sinetron. Baik berupa sinetron berseri (yang membosankan), ataupun juga sinetron sekali tayang (yang agak memaksakan cerita). Secara umum, sinetron yang ada sekarang berbeda dengan sinetron di era 90-an, misalnya. Secara cerita saja, sinetron masa itu menyiarkan realita kehidupan (yang lebih realistis). Mungkin yang sudah bisa melihat tivi saat era 80 sampai 90-an masih ingat sebuah sinetron yang berjudul ‘ACI (Aku Cinta Indonesia’, sebuah sinetron remaja jadul tapi kaya hikmah dan motivasi. ACI memang sebuah sinetron remaja, tapi beda dengan sinetron remaja sekarang, ACI tidak menampilkan cerita percintaan anak remaja, yang sekarang muncul di sinetron-sinetron remaja, bahkan anak-anak kecil pun dalam sinetron udah diceritakan dengan cerita percintaan pula. ACI merupakan contoh sinetron yang cukup berkualitas dan mendidik, yang jaman sekarang tidak ada hal seperti itu. Di tahun 90-an, di awal-awal televisi
swasta juga ada sinetron yang mendidik (malah mengajarkan pendidikan dan pelajaran sekolah), tapi kemudian tidak ada kelanjutannya (mungkin hal seperti itu gak laku kali ya?!).

Kalo dalam hal soundtrack, sinetron jadul punya lagu sendiri yang bukan lagu yang beredar luas, tidak seperti sekarang yang mengambil dari lagu-lagu yang sedang dan akan ngetrend (selain juga untuk mendongkrak penjualan album lagu tersebut). Makanya, dulu aku pernah bertanya-tanya ketika dalam sebuah penghargaan sinetron dikatakan bahwa soundtrack adalah lagu yang dibuat berdasarkan isi cerita sebuah sinetron, padahal saat itu sinetron dibuat setelah adanya lagu soundtracknya dengan isi cerita yang memaksakan.

Dari ceritanya pun, udah bisa ditebak gimana sinetron Indonesia jaman sekarang, gak jauh-jauh dari tema percintaan, hamil di luar nikah, hubungan terlarang, tidak disetujui oleh orangtua, kejahatan terencana yang di luar batas, iri, dengki, hasut dan teman-temannya, ditambahi dengan persekongkolan terselubung, orang-orang teraniaya, dll.  Makanya ada suatu penelitian bahwa perencanaan kejahatan di sinetron bisa dipraktekkan di dunia nyata, suatu bukti bahwa sinetron mengajarkan metode kejahatan yang bisa mengelabui korban dengan mudahnya.

Aku jadi ingat saat pernah tinggal di Malang, bersama teman-teman satu kos kami melihat suatu sinetron yang tayang perdana di televisi. Aku tidak menyaksikan sampai habis karena kemudian aku masuk kamar dan dengerin musik. Saat sinetron habis, teman sekamarku masuk kamar kemudian bercerita bahwa akhir dari sinetron itu udah bisa ditebak dari episode pertama. Saat sinetron itu kemudian berakhir, aku inget bahwa tebakan temanku tadi tepat dalam hal ceritanya, yang tidak tepat adalah ternyata episode sinetron tersebut diperpanjang dan dibuat sequelnya.

Kalo udah kayak gini, generasi sekarang merupakan generasi didikan televisi. Apapun yang ada di televisi bisa terekam dan dipraktekkan secara gampang bahkan oleh anak kecil sekalipun. Dalam salah satu cerpen yang sempat aku baca, seorang anak sejak kecil sampai dia dewasa biasa mempraktekkan kejahatan yang cara dan petunjuknya dia lihat di televisi, tanpa sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan besar. Dalam menyikapi hal-hal yang negatif untuk anak-anak, bimbingan orangtualah yang dibutuhkan untuk memberi pendidikan yang tidak didapat dari tayangan televisi. Setiap orangtua punya caranya masing-masing dalam melaksanakannya, yang paling penting hasil keluaran dan pendidikan untuk anak-anaknya tetap terpelihara dari pengaruh negatif televisi.

Dari Blog Sendiri

Setiap orang Kediri pasti tahu sambal tumpang, makanan yang membuat orang Kediri di perantauan kangen setengah mati ini di daerah lain kadang disebut nasi tumpang Kediri. Makanan khas Kediri ini berbahan dasar tempe yang mengalami fermentasi lebih lama daripada tempe yang biasa dikonsumsi, kadang biar gampang menyebutnya sambel tumpang terbuat dari tempe “busuk”. Tapi, jangan khawatir bukan busuk expired, tetapi berfermentasi lebih lama.

Tempe untuk bahan sambal tumpang ini bukan sembarangan, Konon tempe untuk sambal tumpang kalau bukan tempe Kediri tidak bisa. Bahkan di Kediri pun tidak semua tempenya enak buat sambal tumpang, seperti di satu tempenya bisa dibuat sambal tumpang, tetapi di desa lainnyatidak bisa kalaupun dipaksakan rasanya tidak bisa sesedap biasanya.

Sambal tumpang disajikan tanpa banyak variasi yaitu: nasi, sayuran (daun pepaya, daun kenikir, nangka muda, pepaya muda, dan lain sebagainya), serta lauk rempeyek dan krupuk nasi (puli). Nasi tumpang ini ada 2 jenis yaitu tumpang biasa yang menggunakan tempe “busuk” biasanya kuahnya tidak terlalu kental dan ada bulir tempenya, aroma sedapnya sudah tercium dari jarak beberapa meter.  Jenis kedua adalah sambal tumpang yang kental, biasanya ditambahkan tepung untuk pengentalnya dan menggunakan tempe biasa, aromanya nyaris tidak ada umumnya jenis sambal tumpang ini ada di Kediri kota. Terkadang ada lauk tambahan seperti tempe, tahu, telur puyuh, ayam, sate usus, dan sebagainya.

Penjual nasi tumpang dapat dijumpai hampir di setiap desa di Kediri. Umumnya jam buka adalah pagi sekali – Subuh – atau malam. Biasanya penjual nasi tumpang juga menyediakan sambal pecel, jadi nanti ada nasi campur yaitu tumpang campur pecel.

Terkadang nasi tumpang ini disajikan dalam daun pisang yang dibentuk pincuk dan menggunakan sendok dari daun pisang juga (suru). Di Bali di daerah Jl Teuku Umar Denpasar ada penjual nasi pecel tumpang yang enak banget, rame banget. Buka malam hari. Tapi penjualnya asli orang Kertosono.

Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata “KEDI” yang artinya “MANDUL” atau “Wanita yang tidak berdatang bulan”. Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, ‘KEDI” berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon Wayang, Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama “KEDI WRAKANTOLO”. Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, “KEDI” berarti Suci atau Wadad. Di samping itu kata Kediri berasal dari kata “DIRI” yang berarti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Untuk itu dapat kita baca pada prasasti “WANUA” tahun 830 saka, yang di antaranya berbunyi: “Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban”, artinya: pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban.

Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti: Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang.Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti: Prasasti Ceber, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, “Tanah Perdikan”. Dalam prasasti itu tertulis “Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri” artinya raja telah kembali ke simanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri.Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194.

Pada prasasti itu juga menyebutkan nama, Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur. “Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo”, sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang (“tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri”). Menurut Bapak MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa “Hari Jadi Kediri” muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimuculkan pada ketiga prasasti. Alasannya Prasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi. Dilihat dari ketiga tanggal tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M.. Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing.Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang. Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Daerah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang Hari Jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi “Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri”.

Berdasarkan Staasblad no. 148 tertanggal 1 Maret 1906, mulai berlaku tanggal 1 April 1906 dibentuk Gemeente Kediri sebagai tempat kedudukan Resident Kediri, sifat pemerintahan otonom terbatas dan sudah mempunyai Gemeente Road sebanyak 13 orang, yang terdiri atas 8 orang golongan Eropa dan yang disamakan, 4 orang pribumi (Inlander) dan 1 orang Bangsa Timur Asing, dan berdasarkan Stbl No. 173 tertanggal 13 Maret 1906 ditetapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun, pada tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan Stbl No. 498 menjadi Zelfstanding Gemeenteschap mulai berlaku tanggal 1 Januari 1928 (menjadi otonom penuh).

Ke Kediri, tidak lengkap rasanya kalau belum ke Monumen SLG (Simpang Lima Gumul). Yah, untuk ukuran kota seperti Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul adalah bangunan yang monumental, yang spektakuler, bangunan yang merupakan landmark dan icon Kota Kediri. Kalo Jakarta punya Monas, Surabaya punya Tugu Pahlawan, Bukittinggi punya Jam Gadang, maka warga Kediri bangga punya Monumen SLG.

Sebuah bangunan persegi empat yang berdiri megah, menjulang tinggi dan berukuran raksasa. Kita jadi merasa kecil saat berjalan melewati gerbangnya dan berada di bawah langit-langitnya. Kemegahan bangunan Monumen SLG mirip dengan Monumen Arc de Triomphe yang terdapat di Paris, Perancis (bahkan seringkali kami menjulukinya Paris Van Gumul).

Monumen Simpang Lima Gumul terletak di Desa Tugurejo, Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri. Daerah Simpang Lima adalah tempat bertemunya arus lalu lintas dari lima arah. Dari arah Kediri, Pare, Pagu, Pesantren dan Gurah. Sebagai jantungnya adalah Monumen Simpang Lima Gumul.

Posisi Kabupaten Kediri yang terletak di tengah-tengah wilayah kabupaten/kota lain di wilayah Jawa Timur bagian barat sangat strategis sebagai daerah pusat bisnis sekaligus pusat wisata.Guna lebih mengembangkan potensi wisata di Kabupaten Kediri, sebagai langkah awal Pemerintah Kabupaten Kediri sedang membangun pusat bisnis yang dikondisikan sebagai pusat wisata belanja dan dengan nama Trade Center (TC) Simpang Lima Gumul (SLG).

Pada tahap awal pusat bisnis ini telah dibebaskan lahan seluas 37 hektar dan akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan. Konsep penataan kawasan wisata belanja TC-SLG ini adalah blok masa/bangunan dengan pola radial dan di pusatnya terdapat monumen budaya Kediri dengan ketinggian 30 meter yang dibangun menyerupai monument Ach de’ Triomphe Perancis yang bisa digunakan sebagai sarana melihat kondisi wilayah Kabupaten Kediri yang sangat subur.

Konsep pengembangan TC-SLG Ke depan adalah pengunjung/ wisatawan akan dimanjakan oleh fasilitas-fasilitas yang nyaman dan representative sehingga para wisatawan dapat berbelanja sekaligus berwisata dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas ada berupa: hotel, mall, pusat grosir, showroom produk Kabupaten Kediri, perkantoran, pusat jajanan masyarakat, taman kota dan arena bermain.

Fasilitas-fasilitas tersebut akan didukung dengan infrastruktur dengan model jaringan bawah tanah dan jalan lingkar bawah tanah sebagai jalan menuju monumen. Pada saat ini pelaksanaan pembangunan TC-SLG telah menyelesaikan pembangunan monumen budaya Kediri serta tahap pengerjaan ifrastruktur berupa jalan lingkar bawah tanah.

Monumen Simpang lima Gumul terletak di Kabupaten Kediri, dimana di rencanakan jalan-jalan mengitari sebuah lingkaran yang cukup besar, ditandai dengan sebuah monumen ukuran raksasa, yang hampir bisa diperkirakan sebesar sepertiga mall. Pertama kali melihat bangunan ini, tentunya yang terlintas adalah kesan monumental yang luar biasa dari bangunan ini. Bukan hanya karena ukuran, namun juga bentuknya yang menarik. Berada di sebuah kota kecil, bangunan monumen ini mulai menarik perhatian banyak pengunjung, meskipun belum berfungsi sebagai alun-alun bundar simpang lima. Hal ini karena jalan-jalan yang menghubungkan simpang lima ini belum selesai dibuat.

Ketika memasuki kawasan bangunan ini, yang terasa adalah betapa kecilnya kita di antara kolom-kolom raksasa itu. Mendongak, memperhatikan sekitar, di antara skala sebesar itu membuat kemampuan visual kita ditantang lebih jauh untuk memahami kehadiran kita dalam lingkup massa raksasa itu. Bangunan ini setara 6 lantai, dengan ruang-ruang untuk pertemuan di atas dan sebuah hall auditorium di bagian atas, dengan sebuah dome.

Memperhatikan bangunan ini, terdapat beberapa kesan. Pertama, ia menjadi penanda yang sangat kuat untuk wilayah dimana taraf masyarakatnya masih belum berkembang pesat, namun mulai terbuka dengan adanya banyak siaran televisi. Kedua, penanda yang sangat kuat itu bisa diibaratkan mall untuk daerah sekitarnya, di mana berarti pemerintah daerah setempat cukup perhatian dengan kemajuan daerahnya dengan membuat sebuah city landmark. Ketiga, perlu dipertanyakan tentang kehadiran sosok ini dibandingkan Arc de Triomphe di Paris, Perancis.

Dengan adanya sebuah monumen seperti ini, untuk menandai dan menjadi pusat titik di mana akan berkembang sebuah pola ruang jalan melingkar, tampaknya pemerintah daerah setempat telah merencanakan bagaimana simpang lima ini akan berperan dalam tata kota di masa mendatang. Memang terlihat betapa besar pengaruhnya mulai dari sekarang. Pemerintah yang lebih memilih untuk membangun bangunan ini juga patut untuk diberi pertanyaan sejauh mana pentingnya bangunan seperti ini dibangun, apakah merupakan prioritas utama selain infrastruktur lainnya dalam kota.

Adanya kemiripan dengan bangunan Arc de Triomphe di Paris juga bisa dipertanyakan. Apakah hal ini bisa disamakan dengan mengulang suatu monumental yang memiliki makna lain di lain tempat. Melihat tampilannya, kita tidak bisa menemukan perbedaan berarti, selain bahwa ada beberapa bagian dirubah desainnya. Well, ada sedikit yang berubah, yaitu relief pada dinding bangunan, dan detil-detil yang dihilangkan, mungkin untuk memperkecil biaya pembangunan, atau dengan tujuan membuat sesuatu yang baru dari ‘saduran’ itu. Dari sisi anatomi tampak, tidak terlihat adanya perbedaan berarti dengan yang di Paris, selain ada proporsi yang berubah sedikit. Dari sisi keruangan, terdapat perbedaan, yaitu Arc de Triomphe memiliki dua sisi, monumen Simpang Lima Gumul memiliki empat sisi.

Relief bangunan Arc de Triomphe menandakan vitalitas gerak dari jiwa orang Eropa, untuk memperingati kejayaan Napoleon. Sedangkan di monumen simpang lima ini, reliefnya tidak menandakan sebuah vitalitas, namun sepertinya lebih pada jiwa sederhana masyarakat setempat, yang tidak menunjukkan kesan vitalitas itu, namun cukup kesan bersahaja dengan ‘motto pembangunan’ yang biasa hadir dalam retorika pemerintah daerah.

Yang jelas, eklektisisme yang kuat terasa hampir mendekati ‘pemindahan’ sebuah mahakarya dari satu tempat ke tempat lainnya. Adakah itu karena sentuhan modernisme mulai masuk dalam tubuh pemerintah daerah? Ataukah suatu cara mengulang (mereplika) kesuksesan suatu monumen sebagai pengukir kejayaan dan penanda yang sangat kuat dikenal dunia?

Bagaimana kuat terasanya monumentalitas itu bisa dimengerti oleh masyarakat yang lugu di daerah tersebut? Pertanyaan yang besar bila dibandingkan monumentalitas diterima di tempat lain yang masyarakatnya lebih dewasa dan kritis dengan segala perubahan yang terjadi.

Monumen Kediri terletak di tengah-tengah jalan Simpang Lima Gumul dan dalam kawasan pusat perdagangan Kabupaten Kediri yang jaraknya 2 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Kediri. Monumen dan kawasan pusat perdagangan Kabupaten Kediri saat ini masih dalam proses pelestarian pembangunan yang nantinya ke depan sebagai ikon pariwisata Kabupaten Kediri disamping Gunung Kelud. Wisata Besuki dan Puhsarang.

[Seri Kediri: 1] Kota Kediri

Posted: 26 September 2011 in Pengetahuan
Tag:,

Kota Kediri adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota Kediri dengan luas wilayah 63,40 km2 terbelah sungai Brantas yang membujur dari Selatan ke Utara sepanjang 7 km. Kota kediri merupakan satu-satunya kota di Jawa Timur yang mempunyai 2 Gunung yaitu: Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang. Kediri identik dengan kota rokok kretek. Di kota inilah, pabrik rokok kretek PT Gudang Garam berdiri dan berkembang.

Kota ini awalnya berupa sebuah Kerajaan Kediri. Tapi pada akhirnya dipilah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Raja kerajaan Kediri yang terkenal adalah Jayabaya. Raja ini terkenal dengan karyanya yang berupa Jangka Jayabaya yang berisi sebuah ramalan-ramalan yang akan terjadi pada negeri ini kelak. Setelah kejayaan tersebut, kerajaan Kediri perlahan-lahan tenggelam dan menurut sejarah Raja terakhir Kerajaan Kediri Kertajaya, beliau meninggal dalam pertempuran di desa Tumapel dalam perlawanan melawan Ken Arok pada 1222. Ken Arok ialah Raja Singosari yang pertama yang wilayahnya menggantikan Kerajaan Kediri. Kediri pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949 pernah dilewati oleh Panglima Besar Jendral Sudirman. Kediri pun mencatat sejarah yang kelam juga ketika era pemberontakan G-30 S, di mana banyak penduduk Kediri yang ikut menjadi korbannya.

Kota ini berjarak ± 128 km dari Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur terletak antara 07°45′ – 07°55’LS dan 111°05′ – 112°3′ BT. Dari aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m di atas permukaan laut, dengan tingkat kemiringan 0 – 40%.

Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan Kec. Pesantren, sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto yang mana di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m).

Secara administratif, Kota Kediri dibagi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Mojoroto (barat), Kecamatan Kota (Tengah), dan Kecamatan Pesantren (timur). Dan berada di tengah wilayah Kabupaten Kediri dengan batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah utara: Kecamatan Gampengrejo dan Kecamatan Banyakan
Sebelah selatan: Kecamatan Kandat, Kecamatan Ngadiluwih, dan Kecamatan Semen
Sebelah timur: Kecamatan Wates dan Kecamatan Gurah
Sebelah barat: Kecamatan Banyakan dan Kecamatan Semen

Di sini terdapat industri rokok domestik. Perusahaan rokok Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia, sekitar 16.000 warga kediri menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini, selain itu Gudang Garam menyumbangkan pajak dan cukai yang relatif besar terhadap Pemkot Kediri. Kota Kediri juga mengembangkan industri skala rumah tangga.

Kota ini berkembang seiring meningkatnya kualitas dalam berbagai aspek. Mulai pendidikan, pariwisata, perdagangan, birokrasi pemerintah, hingga olahraga.

Di bidang pariwisata, kota ini mempunyai beragam tempat wisata seperti Kolam Renang Pagora, Tirtayasa, Dermaga Jayabaya, Goa Selomangleng dan Taman Sekartaji. Selain itu kota Kediri juga menawarkan hiburan jalanan seperti yang bisa di jumpai di Jl. Dhoho yang merupakan pusat kota dan merupakan pusat perbelanjaan pakaian, di mana terdapat banyak pedagang nasi tumpang dan pecel lesehan yang hampir tiap malam dipenuhi oleh masyarakat Kediri dari kawula muda sampai tua, yang mencari hiburan di malam hari dengan nuansa kebersamaan. Atau di Taman Sekartaji yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, merupakan tempat yang nyaman untuk menikmati Kota Kediri di malam hari. Di dekat Taman Sekartaji terdapat bunderan dengan air mancur di tengahnya, di sekitar bunderan ini, di pinggir jalan raya, banyak terdapat penjual jagung bakar yang ramai dikunjungi para kawula muda di akhir pekan. Hal-hal tersebut ditunjang dengan fasilitas-fasilitas penginapan (ada sebuah hotel kelas bintang 3, Grand Surya), pasar swalayan, transportasi dan biro wisata.

Di bidang pendidikan, kota ini memiliki puluhan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang salah satunya sudah menyandang Sekolah Berstandar Internasional (SBI), beberapa Perguruan Tinggi lokal, Madrasah, hingga Pondok Pesantren, seperti Lirboyo, LDII, dan Queen Al-Falah.

Di bawah kepemimpinan Walikota H.A. Maschut, Kota Kediri mengalami berbagai perubahan, misalnya pembangunan mal terbesar, hotel bintang 3 pertama dan kawasan wisata Selomangkleng bertaraf nasional. Maschut juga merencanakan pembangunan jembatan baru, meresmikan pasar grosir pertama di Kota Kediri, merencanakan jalur lingkar luar Kota Kediri (Simpang Lima Gumul), dan pembangunan ruko.

Perekonomian di Kota ini juga banyak dipengaruhi oleh aktivitas pondok pesantren besar di pusat kota seperti LDII di mana setiap awal bulan selalu mengadakan acara pengajian akbar yang mengundang ribuan anggotanya.

Kota Kediri sempat menerima penghargaan sebagai kota yang paling kondusif untuk berinvestasi dari sebuah ajang yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan kualitas otonomi. Kediri menjadi rujukan para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota yang sedang berkembang. Pertumbuhan ekonomi di kota Kediri begitu pesat, hal ini juga didorong oleh sifat konsumtif masyarakat Kediri. Banyaknya perguruan tinggi swasta dan pondok pesantren menarik banyak pendatang yang secara tidak langsung ikut menggairahkan perekonomian kota ini.

Di sini tersedia makanan dan oleh-oleh khas, seperti stik tahu, tahu takwa (tahu kuning), gethuk pisang, krupuk pasir dan nasi tumpang, pecel, tumpang, bekicot. Selain itu Kota Kediri mencatat prestasi nasional dengan sukses menyelenggarakan Muktamar NU tahun 1999 dan memboyong piala Liga Indonesia IX & XII (sepakbola) tahun 2003 & 2006 melalui klub PERSIK serta mendapat predikat Kota Investasi 2003 versi Jawa Pos dan predikat Kota Sehat Nasional 2005 oleh Menteri Kesehatan. Pesantren LDII yang berada di pusat kota memiliki ciri khas yang unik yaitu memiliki menara setinggi 99 m dengan cungkup yang terbuat dari emas murni berbobot 30 kg yang juga sebagai kebanggaan warga kediri. Satu hal khas yang ada di Kediri adalah, adanya SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri, meski wilayah Kediri tidak terletak di tepi pantai.

Iklan Rokok

Posted: 26 September 2011 in Pemikiran
Tag:,

Salah satu iklan (di media apapun) yang paling kreatif adalah iklan rokok. Maklumlah, iklan rokok memang harus menarik masyarakat dengan iklan yang semenarik mungkin dalam waktu yang terbatas. Terutama untuk iklan di televisi, yang notabene iklan rokok tidak bisa tampil di siaran prime time, dan hanya bisa tampil setelah jam setengah 10 malam.

Kebanyakan iklan rokok di televisi yang sangat kreatif cukup bisa menarik masyarakat sehingga memunculkan beberapa istilah-istilah yang gampang diingat oleh masyarakat. Iklan tersebut sering dibuat berseri, bisa juga dibuat bersambung, serta menampilkan banyak tema yang seringnya gak nyambung dengan keberadaan dan manfaat rokok itu sendiri. Bisa juga menampilkan isu-isu dan kabar berita yang sedang berkembang saat ini. Sebuah iklan yang sangat mutakhir pula.

Iklan rokok pulalah yang sering mewarnai dunia sepakbola Indonesia di mana banyak sponsor rokok yang berebut menjadi sponsor klub. Itu bisa dipahami, mengingat porsi iklan yang sedemikian sedikitnya di media elektronik harus ditutupi dengan iklan di sektor yang lain. Perebutan pasar tersebut seringkali melibatkan pertarungan beberapa perusahaan besar pemain iklan. Contoh yang paling nyata bisa terlihat pada Liga Indonesia beberapa waktu yang lalu, di mana beberapa klub (yang disponsori oleh perusahaan rokok menolak menampilkan sponsor rokok (yang menjadi sponsor liga) di dalam stadion maupun display kostum serta merchandise mereka.

Yang pasti akibat dari sebuah iklan rokok bisa jadi contoh bagi iklan lainnya, di mana dengan mudah iklan rokok bisa melekat di ingatan pemirsanya karena punya ciri khas dan istilah-istilah yang mudah diingat. Selain itu, jarang juga ada iklan rokok dengan seri yang bertahan lama, karena seringnya beberapa iklan rokok tersebut akan segera berganti agar image iklan tersebut tetap segar dan menampilkan beberapa ide-ide baru, yang akan segera memenuhi ingatan para pemirsa, khususnya bagi pemirsa yang melihat televisi sampai malam hari (bahkan pagi hari). Meskipun sebenarnya, manfaat rokok akan tidak sebanding dengan apa yang diakibatkannya.

Dari Blog Sendiri

Semut

Posted: 23 September 2011 in Pemikiran
Tag:,

Semut, serangga kecil yang bukan makhluk terkecil di dunia, tapi merupakan salah satu serangga yang cukup populer. Terbukti dia muncul dalam beberapa lagu, seperti lagunya Obbie Mesakh (sebagai semut merah di lagu ‘Kisah-Kasih di Sekolah’), Melissa (Semut-Semut Kecil), bahkan sampai Michael Jackson (Semut Criminal). Ada juga film ‘Antz’, cerita tentang semut.

Di luar ‘kepopuleran’ semut itu semua, ada beberapa filosofi yang ternyata bisa disimpulkan dari kehidupan semut ini. Semut mempunyai prinsip kehidupan yang patut ditiru untuk kehidupan manusia sehari-hari. Semut itu pantang menyerah, saat dihadang dan dihentikan, mereka akan memanjat, menerobos, atau berkeliling untuk mencari jalan lain. Mereka pantang menyerah untuk mendapatkan jalan demi mencapai tujuan. Konon semut menggunakan air kencing mereka sebagai jalur perjalanan, sehingga rombongan di belakangnya akan mengikuti rombongan depannya dengan mencari air tadi. Makanya kadang kalo kita potong jalur semut dengan menghapus jalur depannya, kadang mereka akan bingung mencari jalan.

Menurut semut, masa berlimpah tidak berlangsung selamanya. Saat musim krisis akan segera datang, mereka mengumpulkan persediaan kelak. Dari sini kita (Kita? Elo aja kali!) bisa menyimpulkan bahwa kehidupan kita butuh berpikir realistik dan jauh ke depan.

Saat masa krisis berakhir, semut akan segera beraksi, kembali bekerja seperti sebelumnya. Bisa disimpulkan bahwa kita harus berpikir dan menjadi positif sepanjang waktu.

Bagaimana persiapan semut untuk mengumpulkan makanan di musim panas untuk musim dingin? Mereka melakukannya dengan segenap kemampuan. Kita juga harus bisa melakukan usaha dengan segenap kemampuan dan dengan lebih.

Mungkin dari situlah kemudian semut dijadikan maskot sekolahku di SMK dulu (yang mungkin bahkan tidak diketahui oleh siswa-siswanya sendiri). Selain hal-hal tadi, masih ada juga perilaku semut yang patut ditiru, yaitu sikap dan perilaku gotong royong. Walaupun semut bisa mengangkat beban beberapa kali berat badannya, tetap saja mereka sering melakukan bersama-sama.

Tapi, walaupun semut adalah binatang yang populer, di kebun binatang tidak ada kandang khusus semut.

Dari Blog Sendiri

Salah Kaprah Cinta

Posted: 22 September 2011 in Islam
Tag:,

Kita sadari kerusakan perilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan dan sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan ke surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat di sana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yg baru dalam masyarakat yang kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik ‘asing’ dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan ‘misteri’. Pertanyaan sederhana, “Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, emang kamu cinta sama dia?”, dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’ masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya, emang bisa?”. Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolakbelakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri di atas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakat tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan ke mana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan bumi dengan kalimat Laa Ilaha Illallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Wisata Kesehatan

Posted: 21 September 2011 in Pengalaman
Tag:,

Kata orang, bisnis rumah sakit adalah suatu bisnis yang “jahat”, di mana menurut banyak anggapan orang dalam promosinya pengelola rumah sakit akan selalu mengharapkan banyak orang sakit yang kemudian menguntungkan pihak rumah sakit. Namun sebenarnya tidak begitu, karena yang diharapkan oleh rumah sakit (atau instansi kesehatan lainnya), orang kalo sakit ya akan datang ke rumah sakitnya. Itulah sebabnya jarang ditemukan ada rumah sakit yang berpromo besar-besaran, karena walaupun kamarnya semewah di hotel tapi harganya di bawah hotel, gak ada yang mau ngamar di situ. Meskipun ada aja orang yang datang ke rumah sakit hanya sekedar untuk ngamar karena dilayani dengan baik di situ, bukan karena sakit yang mengharuskannya rawat inap.

Beberapa tahun yang lalu, aku menghadiri acara peresmian gedung rumah sakit di RSU ‘Aisyiyah dr. Soetomo Ponorogo. Gedung mewah seharga Rp. 14.000.000.000 ini total memiliki sekitar 157 tempat tidur, 2 di antaranya adalah kamar VVIP. Masuk gedungnya udah full AC di mana-mana, jadi nggak akan merasa kepanasan masuk situ. Sedangkan kamar VIPnya mempunyai nuansa warna yang berbeda di setiap kamarnya (lupa ada berapa kamarnya). Gedung 3 lantai ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas lift, namun khusus untuk karyawan dan pasien saja.

Kamar VVIPnya udah setara dengan kamar hotel berbintang, dilengkapi dengan fasilitas ciamik, ada balkonnya pula, jadi bisa bebas memandang ke luar dari atas. Tarifnya? Untuk kamar dengan spesifikasi seperti itu, cukup murah dibandingkan di hotel, Rp. 400.000 sehari. Tapi, tiap orang yang masuk meninjau ke kamar itu pasti bilang, gak mau ngamar di situ sekalipun udah dengan pelayanan ekstra.

Begitulah bisnis rumah sakit (dan instansi kesehatan lainnya), apalagi rumah sakit swasta, yang mengedepankan pelayanan prima dan service excellent. Maka harus kreatif menyiasati peluang-peluang bisnis dan ekstra hati-hati membuat rencana dan strategis bisnisnya. Untuk itulah, diadakan Wisata Kesehatan, sebuah wisata ke rumah sakit yang berfungsi sebagai pengenalan dan pendalaman tentang rumah sakit beserta segala fasilitasnya, terutama untuk anak-anak TK dan sekolah. Diawali dengan pengenalan teori tentang rumah sakit dan isinya, kemudian diikuti oleh kunjungan visual ke seluruh tempat di rumah sakit, meskipun tidak semua tempat bisa dan boleh dimasuki.

Cukup sebagai pengenalan kepada anak-anak TK, yang sebelumnya pihak rumah sakit yang datang berkunjung ke TK masing-masing untuk penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan. Jadi anak-anak itu bisa belajar dan mengetahui tentang rumah sakit secara langsung di depan matanya. Dan di balik itu semua, ini adalah promo pengenalan rumah sakit bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tapi juga kepada guru dan wali muridnya.

Dari Blog Sendiri

Hujan

Posted: 21 September 2011 in Pengetahuan
Tag:,
  1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8 – 10 km/jam.
  2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.
  3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter.
  4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm.
  5. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.
  6. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.
  7. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505 × 1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.
  8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.
  9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yang indah, tidak seperti air biasa yang dibekukan di freezer/kulkas.
  10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan ‘petrichor’.
  11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk meresonansikan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu”. Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi.

Dari Blog Sendiri