Arsip untuk Oktober, 2014

Masa Kecil

Posted: 28 Oktober 2014 in Pengalaman
Tag:,

gambar-anak-anak-7 by googleMengenang kembali masa kecil mungkin cukup menyenangkan. Kita bisa senyum-senyum sendiri, mengenang masa-masa indah bermain, bahkan pengen ngerasain lagi waktu itu.

Inilah yang sedang terjadi padaku belakangan ini. Berawal dari meninggalnya seorang sepupuku, beberapa waktu yang lalu. Waktu kecil aku ini termasuk anak yang hampir nggak punya teman main di lingkungan rumah, karena nggak ada anak-anak yang sebaya denganku. Praktis temanku hanya terbatas pada teman-teman sekolah aja. Apalagi waktu itu belum ada Facebook, Twitter, atau media sosial yang lain.

Sepupuku ini hampir seumuran denganku. Kami sering main bersama, di rumah kakeknya, atau di rumahnya. Dulu dia pernah tinggal di rumah dinas gudang PT. Pusri, yang karena ini ada di lokasi gudang, otomatis halaman rumahnya luas banget. Apalagi di belakang rumah langsung berbatasan dengan rel kereta api, yang karena itu PT. Pusri, pengangkutannya juga melalui kereta api.

Nggak tau gimana perasaan dia, tapi aku merasa masa bermain kami begitu menyenangkan. Tentu saja rasanya beda dengan bermain bersama teman-teman sekolah. Di sekolah, karena aku termasuk anak yang suka dibully, aku agak pilih-pilih teman. Tapi tetap aja itu menyenangkan.

Aku teringat bagaimana saat pelajaran olahraga, waktunya olahraga air, dan kami terpaksa memindahkan lokasi olahraga kami dari sekolahan ke kolam sumber mata air, dengan suka ria kami berjalan menuju kolam tersebut. Jarak kolam dengan sekolah sekitar 2 sampai 3 kilometer, dan begitu menyenangkan rasanya, punya kegiatan pelajaran sekolah, yang di luar sekolah.

Bukannya nggak move on kalo kemudian aku membayangkan masa kecil, masa laluku. Masa-masa yang sebenarnya bagiku nggak terlalu menyenangkan, atau setidaknya masa-masa menyenangkannya tidak aku ingat saat ini. Tapi saat masa-masa itu begitu terlintas dengan indah dan memberikan pemikiran mendalam.

Sampai saat-saat sekarang ini, saat bercengkerama dengan teman-teman sekolah dulu, kami masih suka ngebahas waktu-waktu itu. Saat kami begitu bermain nggak kenal waktu dan tempat, saat ada seorang yang cengeng di antara kami, dan itu aku, saat-saat canggung ketika ada yang dijodoh-jodohin satu sama lain, atau saat-saat ketika kami bekerjasama ketika ulangan.

Dan seolah kenangan sekolah itu tanpa batas pertemanan. Sekarang pun, saat ketemu dengan teman-teman yang dulunya nggak akrab, kita juga masih bisa berakrab-akraban. Nggak peduli gimana dulu kita sering berantem, sering main geng-gengan, atau sering saling mengejek, sekarang inilah kita, di sini, punya kenangan sekolah yang sama, dan masa bermain yang sejaman.

Kami mungkin akan selalu berpikir, bahwa belum pasti anak-anak sekarang punya masa bermain yang kami alami dulu. Masa-masa di mana yang namanya mesin game konsol hanya berupa ding-dong, yang kami mainkan bergantian, yang bahkan aku nggak pernah punya giliran main. Sekarang mesin game udah beragam, dan setiap orang bisa main sendiri-sendiri. Kehidupan soliter yang mungkin menghilangkan kenangan bermain petak umpet, main layangan sampai Maghrib, atau main kelereng di halaman tetangga.

Iklan