Arsip untuk Februari, 2013

tulisan tanganKelas 3 adalah tahun terkelamku selama masa sekolah di SD. Banyak faktor yang mengiringi hal tersebut, mulai dari pergantian sistem pembelajaran dari tingkat dasar kelas 1 dan 2 ke tingkat menengah di kelas 3 dan 4, peralihan media menulis dari buku halus ke buku biasa, sampai kepada mulai dipakainya pulpen sebagai pengganti pensil untuk menulis. Beberapa hal tersebut juga ditambah kesiapan mentalku yang saat itu berumur 7 tahun.

Salah satu transformasi yang paling mencolok adalah bentuk tulisanku yang jadi nggak karuan lagi bentuknya. Terbiasa menulis latin di buku halus dengan menggunakan pensil yang relatif sangat mudah dihapus, kemudian memakai pulpen untuk menulis di buku yang garis-garisnya lebih lebar, membuat tulisan latinku tak lagi teratur. Bahkan seakan-akan kerapian tulisan itu nggak pernah nampak di buku apapun.

Di kelas 4 aku mulai mencoba kembali merapikan tulisanku (tanpa bantuan behel). Dan tanpa sengaja, aku menemukan bentuk model tulisan yang menurutku cukup cocok sebagai tulisan tangan khasku. Tapi bentuknya jadi sangat aneh dan berbeda dengan tulisan sebelumnya. Masih dengan dasar tulisan latin tegak bersambung, tapi tidak semua tulisan menyambung. Ada beberapa yang entah kenapa tidak aku sambungkan dengan huruf sebelumnya ataupun berikutnya. Dan yang beda lagi adalah ukuran tulisannya, jadi lebih kecil-kecil.

Beberapa tahun terakhir di SD, kembali ada perubahan di tulisanku. Kembali diulangnya pelajaran menggunakan buku halus di kelas 6 membuat tulisan latinku lebih ‘kental’ dengan sambung-menyambung dan lengkung-melengkung. Menulis seolah menjadi seperti mengukir atau membuat gambar lengkungan, terutama di setiap sambungan antar huruf. Model tulisan seperti ini yang bertahan sampai aku menyelesaikan pendidikan di SD.

Masuk ke SMP kembali dihadapkan dengan transformasi tulisan. Karena di SMP tidak diwajibkan menggunakan huruf tegak bersambung, aku mengubah model tulisan menjadi huruf tegak tanpa sambungan. Agak sulit sih menyesuaikan, mengingat udah selama 6 tahun menggunakan model huruf latin bersambung. Lama kelamaan setelah terbiasa bentuk tulisanku semakin bagus dan luwes, beda dengan kekakuan di awal penggunaannya. Tapi kalo diperhatikan, masih ada yang sama dengan tulisanku di SD, yaitu ukurannya kecil-kecil. Bahkan di akhir sekolah di SMP sempat aku memakai satu baris buku menjadi dua baris tulisan, terutama untuk buku-buku yang berukuran besar, yang barisnya lebih lebar daripada buku biasa.

Masalah ukuran huruf ternyata sedikit ‘bermasalah’ di kelas 1 SMK. Seorang guru Bahasa Inggris di kelas 1 ini mengkritik kekecilan tulisan tanganku sejak pelajaran pertama. Jadilah, setiap kali pelajaran beliau, aku ‘dipaksa’ harus membesarkan ukuran hurufku. Tapi tentu saja, hanya di pelajaran beliau aku memakai tulisan yang agak besar, di pelajaran yang lain kembali lagi ke selera asal. Ciri khas tulisan sejak kelas 3 SMP, yaitu huruf yang menggantung di baris buku, juga masih aku pakai di SMK.

Dan kemungkinan sejak masa di SMK ini, sampai sekarang model bentuk tulisan tanganku tidak berubah. Kalaupun sekarang ada yang berubah tidak kelihatan jauh bedanya dengan tulisanku semasa SMK. Bentuk tulisan yang kecil, terlihat tegak dan terkesan tergores di akhir huruf, serta beberapa lengkungan kecil dan juga kurang rapi kalau menulis secara tergesa-gesa.

Ada seorang ibu dan anaknya lagi duduk-duduk di tepi trotoar sambil makan jajanan. Saat si anak sudah menghabiskan makanannya, dia bertanya kepada ibunya di mana dia harus membuang bungkus jajanannya tadi. Ibunya memberitahu untuk membuang saja di bawahnya begitu saja. Si anak itu pun menurut. Dan selanjutnya, mungkin si anak tidak perlu bertanya lagi di mana harus membuang sampahnya.

Ada pula anak yang makan jajanan di dalam mobil yang sedang melaju di jalan. Saat selesai makan, dia pun bertanya kepada orangtuanya di mana tempat membuang sampahnya. Orangtuanya memberitahu untuk membuang ke luar lewat jendela mobil begitu saja. Dan mungkin, selanjutnya si anak tidak perlu bertanya lagi ke mana dia harus membuang sampah berikutnya.

Sebuah kebiasaan (yang mungkin juga disadari oleh orang Indonesia sendiri) bahwa orang Indonesia sering buang sampah sembarangan. Tapi sebenarnya itu salah! Karena orang Indonesia selalu membuang sampah di tempatnya, hanya saja bagi kebanyakan orang Indonesia semua tempat itu adalah tempat sampah, jadi sampah boleh dibuang di mana-mana.

Gagal paham bukan merupakan penyakit, tapi bisa menular dan bisa menurun. Kita lihat saja sekarang, ada seseorang yang merokok di depan tanda ‘Dilarang Merokok’. Jika ada satu orang saja bersama dia, kemudian ikut merokok karena berpikir bahwa berarti merokok di situ tidak apa-apa, maka orang pertama tadi telah menularkan kegagalpahamannya. Atau ada seseorang yang tidak mau berhenti di perlintasan lampu lalu lintas, maka orang di belakangnya bisa ‘tertular’ dan ikut tidak berhenti.

Perilaku yang semacam ini seakan mengesampingkan fungsi akal dan panca indera, berganti dengan kepuasan pribadi semata. Tanda ‘Dilarang Merokok’, atau lampu merah, atau rambu-rambu lalu lintas, tentu dipasang bukan untuk diabaikan, tapi sebagai instruksi yang harus ditaati. Tapi seolah orang-orang tadi tidak mau mengindahkan instruksi-instruksi tadi, seakan-akan mereka merokok bukan melalui mulut, tapi melalui mata.

Gagal paham yang seperti ini terlalu lazim di kehidupan kita pada saat ini. Padahal kita bisa menghindari kegagalpahaman ini. Kita juga masih sangat berkesempatan mencetak dan menurunkan generasi penerus yang bebas dari gagal paham tersebut. Tentunya bergantung pula dari bagaimana kita memperbaiki kualitas hidup pribadi dalam kehidupan kita ini. Jangan sampai kepuasan pribadi menutup akal dan hati kita dari kebenaran dan malah menjerumuskan kita ke arah kufur nikmat. Sehingga generasi kita selanjutnya bisa mencontoh dari kita bagaimana menjalani kebiasaan yang sehat dan bebas dari hal-hal yang bisa mengotori kualitas perilaku (setidaknya) garis keturunan kita nantinya.

Setidaknya kita memulai dari diri kita sendiri, dan setidaknya ada sesuatu yang bisa kita ubah dari kehidupan singkat kita ini. Sehingga bisa jadi suatu saat, seperti halnya gagal paham tadi, perubahan kebiasaan tersebut bisa menular kepada orang lain. Sebisa mungkin menjelang tidur kita bertekad bahwa besok kita harus mengalahkan seseorang. Besok kita harus lebih baik dari seseorang. Siapakah orang itu? Yaitu diri kita sendiri pada hari ini.

Cap Plastik

Posted: 5 Februari 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

Pagi ini, membuka sebuah kemasan plastik yang berisikan surat, yang dikirim melalui perusahaan ekspedisi terkemuka di Indonesia. Plastik yang kemudian aku sobek begitu saja, demi mendapatkan isi kemasannya. Padahal, kalo diperhatikan, perusahaan ini mau menyisihkan anggaran pengeluaran operasionalnya untuk membeli plastik dan menyablonnya sebagai identitas, untuk kemudian disobek dan dibuang oleh penerimanya. Kenapa sih harus, perusahaan ini melakukan seperti itu?

Suatu ketika, setelah berbelanja di sebuah minimarket, aku mendapati barang-barang belanjaan dibungkus dengan kresek, yang di luarnya tertera nama dan identitas lain minimarket tersebut. Padahal, saat kemudian tiba di rumah, kresek tersebut entah mau aku pakai lagi atau aku buang begitu saja. Lantas kenapa juga minimarket tersebut mau repot-repot menyediakan kresek, disablonkan pula?

Tentu saja fungsi utama dari plastik dan kresek itu tadi adalah untuk membungkus barang-barang kita, sebagai pengaman dari panas dan hujan, sebagai tanda bahwa perusahaan ini atau minimarket itu adalah sebuah tempat dan instansi yang bisa diandalkan. Seringnya nggak hanya plastik saja, bisa jadi kardus, karton, atau kemasan lainnya. Tapi setimpalkah bila kemudian pembungkus tadi kemudian dibuang begitu saja?

Brand image, adalah salah satu tujuannya. Kita jadi tau bahwa sebuah perusahaan ekspedisi ini mau mencetak plastik pembungkus yang kemudian hanya untuk dibuang, untuk memberikan kesan bahwa untuk bungkus saja mereka nggak asal-asalan. Kalo mau, bisa saja mereka memakai plastik polos asal-asalan aja untuk bungkusnya. Tapi dengan sedikit tambahan cetakan tadi, para pengguna dan penerimanya bisa mendapat kesan ‘Oh, perusahaan anu, pembungkusnya nggak asal, bagus dan ada cap merknya’.

Aku sendiri pernah membeli sesuatu di sebuah minimarket, yang kemudian untuk bungkus barang yang telah aku beli minimarket tersebut memakai plastik kresek polos. Kalo dilihat sepintas aja, jadi terlintas pikiran bahwa minimarket seperti ini bagusnya, tapi masak bungkusnya polosan aja sih. Salah satu fungsi cetakan itu juga bisa jadi meningkatkan gengsi perusahaannya.

Apalagi banyak kalangan masyarakat kita yang masih gengsi-gengsian dalam berbagai hal. Belanja misalnya, ada kelas-kelas tertentu dari masing-masing tempat. Kalo udah belanja di tempat yang sangat berkelas, dengan pulang menenteng kresek bertuliskan tempat belanja tadi, bisa terkesan orangnya jadi ikut berkelas. Padahal itu cuma kresek lo, yang ditulisi identitas tempatnya, begitu aja udah bisa menaikkan pamor nggak hanya tempatnya, tapi juga konsumennya.

Brand image, mungkin itu juga yang membuat sebuah perusahaan kacang kulit menjadi sponsor salah satu klub sepakbola terbesar di dunia, Real Madrid. Padahal kalo dipikir, wong perusahaan kacang kulit aja lo, di Indonesia ini banyak. Tapi dengan menjadi sponsor klub yang namanya udah tersohor dan mendunia, itu adalah sebuah nilai plus tersendiri bagi penjualan dan pemasaran produknya, mengesampingkan bahwa produk yang serupa banyak diproduksi di negara ini.

Kembali ke masalah ‘akhirnya jadi apa pembungkus tadi’, aku jarang membuang kresek dari apapun dan manapun terutama yang masih bagus. Kalau suatu saat memerlukan bungkus, ‘koleksi’ kresek tadi bisa bermanfaat. Tapi dari hasil pengumpulan tadi setelah terkumpul, ternyata banyak dari kresek bekas tadi yang belum atau tidak digunakan. Dan akhirnya ke mana arahnya, beberapa kembali lagi berakhir di tempat sampah, belum sempat digunakan ulang.

Kemasan plastik bungkus surat tadi, masih teronggok di tempat sampah di ruangan kantorku ini. Sebuah barang yang telah melewati proses panjang setelah sempat sangat berguna dalam kehidupan keseharian manusia, dan kemudian berakhir di sini. Bisa jadi kita manusia juga seperti itu, kehidupan selama di dunia, mungkin berguna bagi kehidupan kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita, yang suatu saat berakhir di sebuah lubang seukurannya sendiri. Begitulah kehidupan dunia yang sedang kita jalani ini.

stop complaining berhenti mengeluhMengeluh adalah salah satu luapan ketidakpuasan atas nikmat yang telah kita dapatkan. Akan tetapi bisakah kita memilih nikmat manakah yang PANTAS kita keluhkan, bila dibandingkan dengan kenyataan bahwa kita bebas menggunakan oksigen kapan pun kita sukai?

Apakah keadaan yang kita keluhkan PANTAS dibandingkan dengan kenyataan bahwa kita bebas dibiarkan hidup tanpa kita pernah merasa harus membayar ‘hutang’ tersebut?

Kalaupun kita anggap itu adalah sesuatu yang pantas, maka silakan mengeluh. Tapi logikanya, berarti kita nggak mengakui nikmat lain yang kita tidak merasa perlu untuk dikeluhkan, dan dengan demikian kita tidak dirasa pantas untuk mendapatkan nikmat-nikmat tersebut.

Demikiankah? Wa Allohu a’lam bi ash showab.

Selamat mengeluh bagi yang merasa pantas melaksanakannya.