Posts Tagged ‘bapak’

Bapak

Posted: 25 November 2014 in Pengalaman
Tag:, ,

keluargaAku dan bapak jarang sekali ngobrol-ngobrol. Maklum, sifat dasar bapak itu orangnya pendiam dan cenderung kaku, dan sifat itu dengan sempurna menurun kepadaku. Jadinya kalo nggak sangat penting banget, kami jarang ngobrol.

Kalo di rumah cuma ada kami berdua, ya seolah-olah kaya anak-anak sekolah yang mau pulang, siapa yang tenang dia yang pulang duluan. Karena kami sama-sama tenang, akhirnya pulang bareng. Lagian mau pulang ke mana lagi, kan udah di rumah.

Karena nggak terlalu sering dan banyak bicara itulah, kami, aku dan ibu, sering nggak memahami maksud dan kemauan bapak. Sehingga harus ada semacam bahasa khusus buat komunikasi kami.

Tapi untungnya ibu lebih banyak bicara dan nggak kaku, sehingga ibu yang sering jadi penghubung komunikasi di rumah. Apalagi kalo udah ada hubungannya dengan pihak di luar rumah kami, ibu yang sering jadi juru bicara keluarga.

Sampai akhirnya, di awal bulan Oktober, bapak tiba-tiba sakit, dan harus dirawat di rumah sakit. Sepanjang pengetahuanku, ini yang ketiga kalinya bapak dirawat di rumah sakit. Yang pertama, waktu itu ceritanya bapak sedang di jalan, mengendarai motor. Dari arah berlawanan, ada sebuah truk yang melaju, yang tanpa diduga, roda depan sebelah kanannya lepas, dan kemudian meluncur ke arah bapak.

Waktu itu bapak dirawat di puskesmas. Setelah sekitar dua hari, dokter yang merawat mengindikasikan perlu perawatan lanjut, karena luka bapak agak parah, akhirnya bapak dirujuk ke rumah sakit tempatku bekerja. Sekitar dua hari berikutnya, bapak udah bisa pulang.

Yang kedua, waktu itu ceritanya bapak minta diantar periksa ke rumah sakit. Di jalan, tiba-tiba ban motorku yang belakang bocor. Setelah berjalan agak jauh, baru ketemu ada tukang tambal ban. Setelah selesai, lanjut deh ke rumah sakitnya.

Sampai di rumah sakit, masuk ruang periksa, baru ditanyain aja dokter udah mendiagnosa bapak kena gejala stroke. Itu karena pas ditanyai dokter, bapak bicaranya agak cadel. Sebenernya, ya emang gitu model bicaranya bapak, nggak terlalu keras, jadi yang diajak ngobrol juga nggak terlalu denger dengan jelas.

Tapi karena udah kena kata-kata “gejala stroke” tadi, aku udah sedikit panik, dan memutuskan merawatinapkan bapak saat itu juga. Nyatanya, ternyata bapak nggak apa-apa. Besok sorenya pulang ke rumah.

Ini yang ketiga, bapak lagi ke masjid buat jamaah sholat Maghrib. Selesai jamaah, ada orang yang mengetuk pintu rumahku. Ternyata teman jamaah bapak, memberi kabar kalo tiba-tiba bapak ambruk dalam posisi terduduk miring ke kanan. Sesaat kemudian, bapak diantar pulang oleh teman-teman jamaah yang lain.

Aku memutuskan untuk segera membawa bapak ke rumah sakit saat itu. Dan sejak saat itu, bapak dirawat di rumah sakit tempatku bekerja, dengan diagnosa stroke, yang ini beneran. Kondisi bapak dengan kesadaran yang kurang, lebih sering nggak sadar, seperti sedang tidur. Kalo membuka mata sebentar, sebentar kemudian udah tidur lagi. Sekitar empat hari kemudian, bapak dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Kediri.

Karena di rumah hanya ada kami bertiga, jadilah aku dan ibu bergantian mengurus rumah dan rumah sakit, dengan dibantu oleh beberapa keluarga. Untungnya waktu itu adikku juga pulang dari Depok, jadi lumayan ada tambahan tenaga, selama semingguan.

Bapak dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara selama sekitar dua mingguan, sebagian besar di antaranya di ruang ICU. Kalo pas jam bezuk, dan aku masuk ICU, kadang muncul rasa iri dengan pasien lain. Keluarga mereka masuk ke ICU, kemudian menyuapi para pasien ini, menanyai gimana rasanya, dan sebagainya. Dan aku, hanya bisa melihat bapak, sesekali memegang tangannya, sambil mengamati monitor pasien yang menunjukkan tanda-tanda vital bapak.

Saat bapak boleh pulang ke rumah, kondisinya sebenernya nggak jauh beda dengan di rumah sakit. Hanya saja, sering kalo diajak berkomunikasi ada sedikit respon. Anggota gerak sebelah kanan masih lemas, beda dengan anggota gerak yang sebelah kiri. Tapi seenggaknya, kalo di rumah, bapak mungkin bisa lebih merasakan kenyamanan. Kami juga bisa merawat sambil mengerjakan tugas yang lain.

Kini, bapak sudah tiada. Hanya tiga hari di rumah, bapak wafat. Aku masih ingat, semalam sebelumnya sebelum tidur, aku mengaturkan guling beliau, agar tidur dengan nyaman. Tangan beliau juga menyambut guling yang aku atur. Paginya, sebelum berangkat kerja, bersama ibuku juga masih sempat membersihkan badan bapak, mengganti spreinya, dan mengatur tempat tidurnya.

Sosok yang gagah itu udah nggak ada lagi. Secara eksistensi, karena kediaman bapak, kami nggak terlalu merasa jauh beda dengan biasanya. Tapi tetap saja kami merindukan sosok beliau, rutinitas keseharian bapak yang sebenernya gitu-gitu aja, atau mengingat masa kecilku, di mana aku sering ikut bapak kalo lagi kerja.

Bapak, seorang yang pendiam dan kaku, tapi begitu banyak kesan mendalam yang beliau tinggalkan. Dan aku yakin beliau punya cara sendiri buat menyayangi keluarganya. Sering membayangkan, gimana ya masa-masa kecil bapak dulu. Indahkah? Menyenangkankah? Bahagiakah? Kalopun aku nggak bisa mengembalikan kebahagiaan itu untuk beliau, aku hanya terus berharap semoga beliau terus diberikan kebahagiaan di masa hidupnya.

Untuk segala kenangan yang telah kau tinggalkan, terima kasih bapakku.

Ikut Bapak

Posted: 19 Januari 2012 in Pengalaman
Tag:, , , , ,

bapakSuatu sore, berhenti di sebuah pertigaan karena lampu merah sedang menyala, di sampingku ada seorang bapak naik motor, sepertinya seorang penjual tahu. Di depan dan belakangnya duduk dua orang anaknya, asyik menikmati perjalanan sore itu. Kelihatannya mereka begitu santai, sedang ikut bapaknya bekerja mengantarkan tahu-tahu ke tempat para pelanggannya.

Aku jadi teringat masa-masa kecilku, sekitar umur 3 – 5 tahun, saat aku juga seperti anak-anak kecil itu, ikut bapak bekerja. Dulu bapak adalah agen minyak tanah, yang kemudian memasarkan ke penjual-penjual lain yang berada di pelosok-pelosok desa. Minyak-minyak tadi dibawa di dalam beberapa jerigen besar, dan diangkut dengan mobil pick up butut kami. Sering kalo aku pas udah pulang dari sekolah di TK, aku diajak bapak untuk jualan keliling. Sebagai anak-anak, seneng banget rasanya bisa ikut kerja bapak, apalagi bisa sambil jalan-jalan keliling desa.

Aku kemudian juga merasakan, bagaimana senangnya anak-anak bapak penjual tahu itu saat ikut bapaknya berjualan keliling. Seolah seperti halnya aku, mereka bisa sambil jalan-jalan. Sang bapak juga sekalian sambil ngajak anak-anaknya refreshing di tengah kesibukannya berjualan. Jadi memikirkan, bagaimana berat dan sulitnya seorang bapak mencari nafkah untuk keluarganya. Tapi di balik itu, memikirkan juga bagaimana mudahnya memberi kesenangan untuk keluarganya, terutama anak-anaknya, dengan mengajak mereka saat bekerja.

Rossi memboncengSepasang bapak dan ibu, beserta seorang anaknya, menaiki sebuah sepeda motor, mencapai sebuah perempatan lampu merah yang lampunya pas menyala warna merah. Di tiang lampu tersebut, terpampang jelas bagi mereka yang bisa membaca, ‘Belok Kiri Ikuti Isyarat Lampu’. Sang bapak sudah menghentikan motornya dan berhenti beberapa saat, tapi kemudian sang ibu berpendapat lain. Baginya tidak apa-apa menerobos lampu merah, toh juga mereka belok ke kiri. Dan akhirnya sang bapak melajukan motornya di saat semua orang masih berhenti karena mentaati peraturan di lampu merah.

Kejadian ini benar-benar terjadi beberapa bulan yang lalu, aku tahu persis karena aku berhenti tepat di samping kanan bapak itu. Saat kemudian sang bapak memutuskan untuk melajukan kendaraannya, satu hal yang terpikir di pikiranku adalah anaknya tadi. Sang anak telah menjadi saksi pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh orangtuanya, betapa sebuah tindakan yang paling efektif untuk menanamkan kepada seorang anak kecil bahwa melanggar peraturan itu tidak apa-apa. Sebuah pelajaran kesalahan dan pengajaran moral tepat di depan matanya sendiri, yang dicontohkan oleh orangtuanya sendiri.

Maka jangan hanya menyalahkan lingkungan anak saat anak-anak didapati mendapat pengaruh buruk dan berperilaku tidak sepantasnya. Perlu juga ada instropeksi bagi para orangtua dalam bersikap dan berperilaku karena anak-anak juga pasti akan mencontoh mereka. Faktor lingkungan adalah pengaruh eksternal, maka faktor orangtua harus bisa lebih kuat daripada lingkungannya. Penanaman ide dan perilaku yang baik dengan kuat sejak anak masih kecil menjadi salah satu cara untuk membentengi anak dari pengaruh eksternal tadi.

Saat kemudian ada pelanggaran peraturan, aku hanya bisa bertanya-tanya bagaimana mereka dididik oleh orangtua mereka, atau bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Memang aku belum pernah menjadi orangtua dan mengasuh anak-anak, tapi bagiku hal ini juga sangat penting, karena bisa jadi sikap dan perilaku anak adalah cerminan dari sistem pembinaan dan pengasuhan dari orangtua mereka sendiri.