Posts Tagged ‘membaca buku’

buku manualHari Jumat pagi. Agenda hari itu adalah rapat struktural pada jam 9. Tapi mendadak sekitar jam 8 aku mengetahui kalo komputer kasir mengalami masalah. Komputer yang ini emang udah lama bermasalah di motherboardnya dan sebenarnya aku udah siapin motherboard baru buat gantiin, tapi karena setelah aku beli beberapa hari sebelumnya sampai hari itu nggak ada masalah lagi jadi aku tunda pergantiannya.

Jadi mau nggak mau hari itu juga aku harus segera ganti mobo untuk kelancaran pelayanan. Bongkar komponen dari mobo lama yang masih bisa dipakai untuk dipasang di mobo baru. Selesai pasang, kemudian berlanjut ke instalasi kabel. Setelah dirasa cukup kemudian aku pasang mobo ke casing, dan aku coba hidupkan. Hasilnya, CPU hanya menyala tanpa mentransfer data apapun ke monitor. Berarti ada yang belum beres.

Dugaan awalku prosesornya nggak kompatibel sama mobo baru. Tapi aku menyimpulkan sendiri kalo itu bukan penyebab adekuat, karena mobo baru kompatibel dengan proses lama yang Core 2 Duo ini. Memori juga bukan penyebab karena memori baru yang aku beli bersama mobonya udah sangat kompatibel. Dari pemasangan kabel sebelumnya aku tidak menemukan adanya colokan konektor power +12 V yang 4 pin. Semula aku menduga kalo mobo ini nggak pake konektor 4 pin, soalnya aku cari emang nggak ada, jadinya nggak kepikir bahwa itu masalahnya.

Lagi-lagi mobo dilepas dan komponennya dikembalikan ke mobo lama. Komputer bisa nyala dan tampil di monitor. Lepas lagi komponen, balik ke mobo baru, tetap nggak mau nyala. Dalam kondisi kecapekan, kemudian aku memutuskan buat ‘belajar’ dengan membaca buku manualnya. Dari tadi buku manual tergeletak di samping kursi dan cuma aku liat buat nentuin posisi konektor kabel tombol dan lampu. Liat buku dari halaman depan, halaman berikutnya ada gambar penampang mobo. Aku cermati bagian mana yang terlewat. Dan ternyata, dari gambar penampang tersebut aku temukan konektor power +12V 4 pin. Kemudian aku cari di mobonya, ketemu juga, letaknya emang nggak biasa yang sering aku tau, ada di pinggir hampir pojok. Segera aku colokin kabelnya, dicoba, dan berhasillah pergantian mobo hari itu.

Buku manual, sebuah buku yang mungkin ada hampir di setiap barang baru, terutama barang-barang elektronik. Sebuah buku gratis yang sayangnya nggak terlalu sering dibaca. Karena menyertai produknya, tentunya buku ini ‘hanya’ berisi tentang pengetahuan produk tersebut, bukan pengetahuan umum. Tapi tetap saja, buku ini adalah media bantuan buat mengoperasikan produknya.

Hampir sama halnya dengan pernyataan persetujuan yang muncul saat menginstal program-program komputer, buku manual ini hampir selalu terlewatkan. Aku masih ingat dulu pada waktu SMP aku dibelikan sebuah kalkulator scientific yang cukup bagus pada saat itu, aku langsung baca buku manualnya. Tapi ternyata kesan yang aku pahami lebih pada barang tersebut adalah barang yang mudah rusak, sulit perawatannya, dan beberapa hal negatif lain, karena dari halaman awal yang aku baca adalah instruksi peringatan.

Mungkin agak lain dengan buku manual yang menyertai produk telepon seluler. Biasanya karena kita udah mengenal dan terbiasa dengan sebuah merk tertentu yang tiap serinya mempunyai bentuk dan fasilitas yang hampir sama, kita akan melewatkan membaca buku manualnya. Tapi kalo beda merk atau beda fitur dan bentuknya, lebih baik baca buku manualnya dulu sebelum memakai.

Memang bukan sebuah keharusan membaca sebuah buku panduan dari sebuah produk. Tapi tentu saja buku ini bukanlah barang ‘bonus’ yang nggak bermanfaat sama sekali dalam pemakaian produknya. Istilahnya, buku ini adalah ‘ensiklopedia’ pemakaian sebuah produk, jadi ada atau tidak manfaatnya, akan lebih baik kalo disimpan karena bisa jadi suatu saat kita membutuhkannya.

Iklan

Tidak ada salahnya meniru cara belajar teman, terutama dari para jenius. Karena bisa jadi cara belajar mereka bisa kita terapkan untuk diri kita sendiri, meskipun sebenarnya semua orang punya caranya sendiri-sendiri dalam hal belajar yang baik dan benar, serta yang mudah dan gampang dilaksanakan.

Berawal dari iseng membaca buku catatan temanku, Bro Salim Darmadi pada saat waktu luang di SMP dulu, aku menemukan cara belajarku sendiri diadaptasi dari caranya mencatat pelajaran. Mungkin saja banyak yang penasaran bagaimana orang sepintar Bro Adi membuat catatan dan bagaimana caranya belajar, tapi waktu itu aku benar-benar lagi iseng aja membaca bukunya yang tergeletak begitu saja di meja. Aku perhatikan buku tulis tersebut, sekilas dari membaca halaman pertama terlihat bahwa dia menggunakan sebaris di lembar buku tulis untuk menulis dua baris, jadi satu bari dijadikan dua untuk menulis. Kebetulan buku itu adalah buku yang ukurannya agak besar, jadi mungkin cukup untuk menulis dua baris di satu baris yang sudah disediakan dalam buku.

Itu baru pengamatan awal saja. Pengamatan berikutnya hasil dari membolak-balik buku, ternyata buku itu bukan khusus untuk satu pelajaran saja, melainkan campuran dari beberapa pelajaran, yang jadi satu dan dipisahkan satu sama lain dengan tulisan titel mata pelajaran di atas catatannya. Dan pengamatan berikutnya adalah catatannya sebenarnya tidak cukup rapi susunannya menurutku, tapi mudah diingat dan dimengerti terutama bagi penulisnya sendiri.

Dari pengamatan tersebut, aku membuat metode belajarku sendiri waktu itu. Aku menyediakan sebuah buku tulis khusus untuk catatan campuran. Tentunya aku mencatat semua pelajaran dalam buku tersebut, sama seperti yang dilakukan Bro Adi tadi. Kemudian dari catatan tersebut aku kemudian menyalinnya di buku yang lebih khusus untuk mata pelajaran tertentu.

Prakteknya, setiap kali pelajaran di dalam kelas, apapun pelajarannya aku tulis di buku campuran. Kemudian hasil dari mencatatku di buku tersebut aku catat dan salin kembali di buku yang khusus untuk mata pelajaran tertentu, di malam sebelum mata pelajaran tersebut diajarkan kembali. Misalnya hari Senin ada pelajaran Matematika, Sejarah, dan Biologi. Aku mencatat pelajaran Matematika, Sejarah, dan Biologi di buku campuran. Kemudian hari Kamis ada pelajaran Sejarah lagi. Hari Rabu malam aku menyalin catatan Sejarah dari buku campuran ke buku pelajaran Sejarah.

Prinsipnya sama dengan mengulang apa yang diajarkan pada hari Senin untuk dicatat sekaligus otomatis dipelajari dan diingat kembali untuk hari Kamis. Jadi belajar lebih ringkas, apalagi bagiku yang sulit mempelajari sesuatu. Dan hasilnya, nilaiku di akhir tahun itu meningkat dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Mungkin cara tersebut terkesan ribet, berbelit-belit, atau malah menyulitkan diri sendiri. Tapi begitulah cara yang menurutku lebih mudah. Dan cara tersebut juga aku pakai di tingkat pendidikan selanjutnya juga. Hanya satu kelemahannya adalah jika menemui teman yang agak malas mencatat, kemudian pinjam catatan temannya yang lebih lengkap. Kalo kemudian yang dipinjam catatanku, aku harus merobek lembar catatan dari buku campuranku tadi untuk dipinjamkan. Dan kembalinya pun tidak selalu satu atau dua hari, bisa sampai hari di mana pelajaran tersebut kembali diajarkan.