Arsip untuk Agustus, 2012

CapungCapung merupakan salah satu serangga yang sering kita lihat di tempat-tempat tertentu seperti taman atau sekitar rumah. Seperti pada kupu-kupu dan lebah, capung juga mengalami metamorfosis dalam periode kehidupannya. Bedanya, serangga kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna, sedangkan capung tidak, atau hanya mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dimulai dari telur kemudian menjadi larva dan akhirnya menjadi capung dewasa yang dapat terbang indah.

Berikut adalah keunikan-keunikan dari capung.

  • Capung merupakan salah satu serangga purba, mereka sudah ada di bumi sejak 300 juta tahun yang lalu. Fosil capung terbesar yang pernah ditemukan di bumi mempunyai ukuran lebar sayap lebih dari 3 meter.
  • Hewan ini adalah serangga golongan Odonata dengan lebih dari 5000 spesies berbeda yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Di Amerika Serikat saja terdapat lebih dari 400 spesies, apalagi Indonesia yang luas ini pasti lebih banyak spesies capung yang hidup.
  • Kita mungkin sering melihat seekor capung berada di atas permukaan air. Mengapa demikian? Ternyata di permukaan air itulah capung menaruh telur-telurnya yang kemudian akan menetas menjadi larva. Mereka juga sangat awas dengan daerahnya seperti permukaan air tersebut sehingga sering kita jumpai 2 capung yang berkelahi satu sama lain untuk memperebutkan daerah kekuasaan.
  • Walaupun kelihatannya sangat indah, capung sebenarnya adalah serangga yang ganas. Sejak menetas dari telur, mereka adalah karnivora yang suka menyantap hewan lain. Pada saat masih larva, mereka memakan plankton, ikan-ikan kecil, serta larva lain. Di saat sayap mereka mulai berkembang, capung muda memiliki bagian tubuh khusus yang berada di sekitar kepalanya yang berfungsi sebagai tongkat untuk memudahkan menangkap ikan-ikan kecil. Di saat dewasa, capung merupakan predator alami dari nyamuk, sehingga populasi capung yang banyak bisa menjadi pengontrol yang efektif dalam menanggulangi penyebaran nyamuk pada suatu tempat.
  • Hampir seluruh masa hidup capung sebenarnya dihabiskan pada saat mereka larva. Larva capung sendiri hidup kira-kira 3 tahun, setelah itu mereka baru bermetamorfosis menjadi capung dewasa yang bersayap. Capung dewasa ini hanya bertahan hidup beberapa minggu karena tujuan mereka bermetamorfosis tersebut hanya untuk menemukan pasangan agar bisa melangsungkan perkawinan dan akhirnya bisa melanjutkan keturunan.
  • Sayap capung bagian depan lebih panjang daripada sayap capung bagian belakang. Bentuk sayap seperti ini membuat capung dapat terbang sangat cepat hingga 50 km/jam dan dapat melakukan berbagai manuver di udara mulai dari bergerak ke samping, belakang sampai menyusuri suatu permukan benda. Kelihaiannya dalam terbang tersebut menobatkan mereka sebagai serangga tercepat yang ada di bumi.
  • Salah satu hal paling menarik yang ada pada capung adalah bentuk matanya. Serangga ini memliki mata yang besar dengan ribuan lensa yang bersegi-segi seperti pada lebah. Dengan mata yang besar dan bersegi-segi tersebut, capung dapat melihat ke segala arah. Hal inilah yang membuat kita agak kesulitan ketika ingin menangkap hewan ini walaupun dari belakangnya sekalipun.

sumber

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!’ Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’ (diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)

Hampir semua orang di Indonesia di manapun dia berada kebanyakan masih selalu menjenguk seseorang yang sakit, entah itu keluarga, kerabat, tetangga, teman, bahkan mungkin orang yang nggak kenal sekalipun, entah pula di rumah sakit atau di rumah. Bahkan yang sering terjadi di daerah pedesaan kalo ada yang sakit, mereka datang beramai-ramai rombongan bersama-sama. Si sakit pun, terkadang juga was-was kalo nggak dijenguk, kesannya dia nggak dianggap atau bahasa Jawanya ‘disatru’ oleh orang.

Hukum menjenguk orang sakit sendiri adalah kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka, dengan berbagai pertimbangan dasar hukum dari hadits dan penjelasan para ulama’ dalam berbagai kitab.

Di sisi lain, terlepas dari anjuran dan perintah untuk menjenguk orang sakit (bahkan yang sakitnya ringan sekalipun), si sakit juga sangat membutuhkan ketenangan dalam proses pemulihan. Mereka membutuhkan lebih banyak waktu istirahat selama dan setelah sakit tersebut. Kondisi orang sakit tentu saja beda dengan orang sehat. Jangan lupakan pula keluarga atau orang-orang yang merawat si sakit, tentunya mereka juga dalam kondisi yang beda dengan kondisi biasa.

Pastinya orang yang menjenguk si sakit menginginkan interaksi dengan si sakit atau keluarganya. Terkadang juga menjadi sebuah kerepotan tersendiri kalo harus menemani penjenguk (terutama penjenguk yang terlalu lama atau datang dalam waktu yang kurang tepat), karena penjenguk sendiri juga kurang memperhatikan waktu dan kondisinya. Misalnya di rumah sakit, saat penjenguk datang beramai-ramai menjenguk si sakit. Bisa jadi bukannya memberikan ketenangan, malah bisa mengakibatkan keramaian bukan hanya pasien dan keluarganya, tapi juga bagi pasien-pasien lain. Ada aturan di setiap rumah sakit yang membatasi penjenguk, tapi tetap saja banyak yang nggak diperhatikan.

Kalo si sakit pulang dari rumah sakit, bahkan bisa ditemui semacam ‘panitia penyambutan’ di rumah. Hal ini juga bisa mengurangi ketenangan yang dibutuhkan si sakit untuk istirahat setelah menjalani serangkaian terapi di rumah sakit. Bahkan bisa jadi keluarga si sakit yang harus memperhatikan dan meneruskan perawatan dari rumah sakit menjadi terganggu karena pastinya mereka juga perlu istirahat. Perawatan di rumah juga nggak kalah menyibukkan daripada di rumah sakit.

Lalu bagaimana menyikapi hal-hal seperti itu? Tentu saja ada tuntunan menjenguk orang sakit agar semua pihak mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan. Untuk penjenguk terutama, mereka harus memperhatikan adab-adab menjenguk orang sakit, di samping mereka bisa memberikan dorongan moral dan semangat bagi si sakit. Menjenguk orang sakit jangan sampai terlalu lama (kecuali kalo si sakit senang berlama-lama), jangan sampai nggak kenal waktu. Karena sebab meringankan beban penyakit dari si sakit, jangan sampai pula penjenguk meminta si sakit untuk bercerita panjang lebar tentang kronologi sakitnya. Cukup hal-hal yang perlu aja, nggak perlu terlalu detail.

Penjenguk bisa menghibur dan memberi harapan sembuh bagi si sakit, itu adalah salah satu upaya memberikan dorongan semangat sembuh. Jangan sampai menakut-nakuti tentang penyakitnya, apalagi kalo pernah mengetahui orang lain dengan penyakit yang sama mengalami hal-hal yang buruk. Bukannya meringankan penderitaan, malah menambah beban pikiran. Penjenguk juga perlu memahami keluhan si sakit, meskipun mereka nggak paham bagaimana cara menangani keluhan tersebut.

Dan yang terpenting juga adalah penjenguk mendoakan si sakit agar diberikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi penyakitnya. Tak lupa juga buat keluarga dan orang-orang yang merawatnya agar juga mendapat kekuatan dan ketabahan selama mendampingi si sakit.

Dengan memahami posisi dan kondisi si sakit dan keluarganya, maka penjenguk insya Allah mendapatkan barokah dari kunjungannya. Si sakit dan keluarganya juga mendapatkan doa dari penjenguknya, selain pahala karena memuliakan mereka sebagai tamu-tamunya. Dan yang utama adalah ukhuwah dan silaturahmi tetap berlanjut dengan saling menghormati keadaan satu sama lain, simpati dan empati.

Referensi:
1. Fatwa-Fatwa Kontemporer
2. Tuntunan Menjenguk Orang Sakit

teh celupAnda minum teh? Teh celup atau teh tubruk? Sudah barang tentu dengan alasan kepraktisan, banyak orang yang lebih memilih teh celup. Secara tidak sengaja teh celup ditemukan oleh Thomas Sullivan, seorang pedagang teh dan kopi dari New York, dia mengirim sample teh dalam kantong sutra kecil kepada para pelanggannya. Dia menggunakan kantong sutra karena alasan ekonomis, kalau menggunakan kaleng, selain biaya pembuatannya lebih mahal, teh yang dikemas juga harus lebih banyak.

Pada awalnya para pelanggan Thomas bingung dengan kemasan baru ini. Mereka menganggap kemasan ini sama saja dengan teh yang dimasukkan dalam saringan metal, mereka langsung melemparkan begitu saja kemasan tersebut ke dalam air panas. Baru kemudian mereka menyadari bahwa ternyata kemasan tersebut cukup praktis untuk menyeduh teh secara langsung. Mereka menganggap ini lebih praktis karena tidak perlu membersihkan saringan teh atau teko. Selesai diseduh, kemasan berikut tehnya bisa langsung dibuang. Lama-kelamaan permintaan sample teh dalam kemasan makin banyak, dan pada akhirnya Thomas Sullivan menyadari bahwa ini bisa menjadi dagangan yang menguntungkan. Teh celupnya mulai dipasarkan secara komersial pada tahun 1904, dan dengan cepat popularitasnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, disadari pula, kemasan tersebut membawa problem sendiri: kualitas aroma dan rasa. Daun teh, membutuhkan ruangan untuk mengembang, sehingga bisa mengeluarkan aroma dan rasa yang optimal. Solusinya adalah membuat kemasan lebih besar, dan daun teh yang digunakan ukurannya yang paling kecil. Ukuran ini dikenal dengan nama Fanning dan Dust yang merupakan tingkat terendah dari kualifikasi kualitas teh. Ukuran yang kecil menyebabkan zat tannin lebih cepat keluar, sehingga menimbulkan rasa pahit.

Bagaimanapun, aroma dan rasa terbaik akan keluar dari hasil seduhan loose tea atau teh tubruk. Jadi kalau anda memang ingin meningkatkan apresiasi anda terhadap teh, mulailah beralih ke loose tea. Dari segi kepraktisan, memang lebih repot. Tetapi ritual penyeduhan teh merupakan bagian dari seni teh itu sendiri. Dan jangan lupa untuk tidak membiarkan ampas teh tetap di dalam teko atau cangkir

sumber

Animasi

Posted: 13 Agustus 2012 in Sejarah
Tag:, ,

animasiComic Strip yang sering kita lihat sehari-hari sebenarnya sudah menjadi tampilan pada dekorasi tembok di Mesir sekitar 2000 tahun sebelum masehi, menceritakan banyak hal yang terjadi di Mesir waktu itu dari mulai tata cara kehidupan keseharian, pemerintahan sampai adu gulat antar prajurit. Leonardo Da Vinci juga menampilkan gerakan tangan yang berputar pada karya besarnya yaitu Vitruvian Man.

Illustrasi malaikat-malaikat pada mural gereja karya Giotto juga memperlihatkan repetisi gerakan yang kontinyu. Di Jepang orang menggunakan gulungan gambar untuk menceritakan cerita panjang sama seperti layaknya Wayang Beber di Jawa. Pada tembok Candi Borobudur juga terdapat urutan cerita tentang perjalan tiga babak Sidharta Gautama.

Namun seiring dengan perjalanan waktu manusia mencoba tidak hanya menangkap gambar tapi juga berupaya membuat karya artistiknya menjadi hidup dan bergerak. Sejak mula gambar babi hutan dan bison (banteng hutan) di dinding gua Altamira – Spanyol Utara hingga perjalanan kematian para Firaun adalah sebuah kronologi panjang yang dicoba untuk dikumpulkan sebagai bahan awal mula dari animasi.

Thaumatrope Animasi, sebenarnya tidak akan terwujud tanpa didasari pemahaman mengenai prinsip fundamental kerja mata manusia atau dikenal dengan nama The Persistance of Vision. Seperti ditunjukan pada karya seorang Prancis Paul Roget (1828), penemu Thaumatrope. Sebuah alat berbentuk kepingan yang dikaitkan dengan tali pegas di antara kedua sisinya. Kepingan itu memiliki dua gambar pada sisinya. Satu sisi bergambar burung, satu sisi lainnya bergambar sangkar burung. Ketika kepingan berputar maka burung seolah masuk ke dalam sangkarnya. Proses ini ditangkap oleh mata manusia dalam satu waktu, sehingga mengekspose gambar tersebut menjadi gerak.

Dua penemuan berikutnya semakin menolong mata manusia. Phenakistoscope, ditemukan oleh Joseph Plateu (1826), merupakan kepingan kartu berbentuk lingkaran dengan sekelilingnya di penuhi lubang-lubang dan gambar berbentuk obyek tertentu. Mata akan melihat gambar tersebut melalui cermin dan pegas membuatnya berputar sehingga satu serial gambar terlihat secara progresif menjadi gambar yang bergerak kontinyu. Teknik yang sama di tampilkan pada alat bernama Zeotrope, ditemukan oleh Pierre Desvignes (1860), berupa selembar kertas bergambar yang dimasukan pada sebuah tabung.

Pengembangan kamera gerak dan projector oleh Thomas Alfa Edison serta para penemu lainnya semakin memperjelas praktika dalam membuat animasi. Animasi akhirnya menjadi suatu hal yang lumrah walaupun masih menjadi “barang” mahal pada waktu itu. Bahkan Stuart Blackton, diberitakan telah membuat membuat film animasi pendek tahun 1906 dengan judul “Humourous Phases of Funny Faces”, di mana prosesnya dilakukan dengan cara menggambar kartun di atas papan tulis, lalu difoto, dihapus untuk diganti modus geraknya dan difoto lagi secara berulang-ulang. Inilah film animasi pertama yang menggunakan “stop-motion” yang dihadirkan di dunia.

Pada awal abad ke dua puluh, popularitas kartun animasi mulai menurun sementara film layar lebar semakin merajai sebagai alternatif media entertainment. Publik mulai bosan dengan pola yang tak pernah berganti pada animasi tanpa di dalamnya terdapat story line dan pengembangan karakter. Apa yang terjadi pada saat itu merupakan kondisi di mana mulai terentang jarak antara film layar lebar dan animasi, kecuali beberapa karya misalnya Winsor McCay yang berjudul Gertie the Dinosaur, 1914. McCay telah memulai sebuah cerita yang mengalir dalam animasinya ditambah dengan beberapa efek yang mulai membuat daya tarik tersendiri. Hal ini juga mulai terlihat pada karya Otto Messmer, Felix the Cat.

Pada era ini, cerita animasi masih banyak terpengaruh pola cerita klasik, mungkin masih terasa hingga saat ini. Tipikal ceritanya selalu dengan tokoh yang menjadi hero dan musuhnya. Industri animasi mulai kembali menanjak di Amerika manakala komersialiasi mulai merambah dunia tersebut. Cerita dan strory line pun mulai beragam disesuaikan dengan keinginan publik. Industri-industri film raksasa mulai membuat standarisasi animasi yang laku di pasaran. Biaya produksi pun dapat ditekan dan tidak setinggi dulu. Akhirnya kartun mulai memasuki era manufaktur dipertengahan abad kedua puluh.

sumber

dingdongSore hari. Halaman UFO Department Store di perempatan alun-alun kota Kediri dipenuhi nggak hanya kendaraan yang parkir di sana, tapi juga permainan-permainan anak-anak. Beberapa permainan berbasis motor listrik seperti kincir atau kereta, ada pula permainan berbasis balon besar. Semakin malam, semakin ramai dengan hadirnya anak-anak yang bermain di situ.

Jadi teringat, di masa kecilku dulu ada sebuah tempat yang hampir mirip seperti itu, sebuah arena permainan. Orangtuaku sering mengajakku ke situ. Saat itu aku nggak tau apa nama tempat seperti itu, tapi karena orangtuaku sering menyebutnya ‘Supermarket’, aku jadi ngikut nyebut gitu. Padahal aku nggak tau apa artinya itu supermarket. Apa aja di dalamnya? Mobil-mobilan goyang di tempat, mobil-mobilan baterai yang bisa digunakan keliling, kereta listrik yang memutar melalui rel, serta beberapa permainan ding-dong, itu yang aku ingat.

Suatu ketika aku nggak lagi sering diajak ke situ. Bahkan kemudian aku lupa di mana tepatnya tempat tersebut. Yang aku tau dari orangtuaku bahwa tempat itu nggak lagi digunakan sebagai pusat permainan anak-anak. Perlu beberapa waktu untuk kemudian saat aku mulai bisa main ke mana-mana sendiri, aku menemukan gedung bekas tempat permainan tersebut. Gedung itu dalam keadaan tertutup pagarnya, dan nggak keliatan ada tanda-tanda kehidupan.

Jelas tempat-tempat seperti itu sekarang ini banyak bermunculan di berbagai tempat, terutama di mal dan pusat perbelanjaan. Sampai sekarang kalo ingat mobil-mobil goyang di tempat (mungkin mirip dengan yang terpasang di odong-odong), aku masih ingat bagaimana aku menemukan sebuah lubang kecil tipis yang kemudian aku masuki uang koin di dalamnya, kemudian dengan wajah ceria anak-anak aku tersenyum kepada orangtuaku yang memperhatikan tidak jauh dari situ.

Futsal

Posted: 8 Agustus 2012 in Sejarah
Tag:, ,

FutsalKata Futsal berasal dari bahasa Spanyol, yaitu Futbol (sepak bola) dan Sala (ruangan), yang jika digabung artinya menjadi “Sepak Bola dalam Ruangan”. Menurut FIFA, asal mula Futsal ini mulai pada tahun 1930 di Montevideo, Uruguay. Pertama Futsal ini diperkenalkan oleh Juan Carlos Ceriani, seorang pelatih sepak bola asal Argentina. Hujan yang sering mengguyur Montevideo membuatnya kesal, karena rencana yang ia susun jadi berantakan karena lapangan yang tergenang air. Lalu Ceriani memindahkan latihan ke dalam ruangan. Pertama ia tetap menggunakan jumlah pemain 11 orang, namun karena lapangan yang sempit, Ia memutuskan untuk mengurangi jumlah pemain menjadi 5 orang tiap tim, termasuk penjaga gawang.

Ternyata latihan di dalam ruangan itu sangatlah efektif dan atraktif. Sehingga mampu menarik minat banyak masyarakat Montevideo. Lalu banyak penggemar bola di kota itu yang mencoba permainan baru ini, dan jadilah Futsal olahraga yang digandrungi masyarakat luas.

Sejarah Futsal versi FIFA ini tidak bisa diterima begitu saja, ada beberapa negara yang mengklaim bahwa Futsal berasal dari negara mereka masing-masing. Kanada dan Brazil termasuk negara yang mengklaim bahwa Futsal berasal dari negara mereka. Mereka menentang keras sejarah Futsal versi FIFA ini. Brazil mengklaim bahwa saat yang bersamaan dengan munculnya cerita Ceriani, pemain bola di Brazil sudah melakukan hal yang sama, namun di Brazil tidak menggunakan aturan baku, artinya aturan tiap daerah berbeda-beda.

Futsal berkembang sangat pesat di Brazil, lalu pada tahun 1936 dibuatlah kesepakatan dan penetapan aturan main futsal. Pada masa itu, peraturan futsal juga tidak banyak bedanya dengan peraturan futsal saat ini. Dengan adanya peraturan ini, futsal semakin berkembang dan digemari di Amerika Latin, bahkan ke seluruh dunia.

Di Italia, futsal mulai dikenal pada tahun 1950an. Futsal di Italia diperkenalkan oleh pemain-pemain sepak bola impor dari Amerika latin yang bermain di Seri A (Liga Italia). Di saat senggang, pemain-pemain itu bermain futsal. Dan futsal semakin dikenal dan digemari di Italia.

Beda halnya dengan di Inggris. Di Inggris pemain-pemain sepak bola sering melakukan latih tanding enam lawan enam di lapangan rumput. Futsal juga terkenal di Inggris, hingga suatu saat diselenggarakan turnamen futsal yang disponsori oleh London Express, salah satu harian terkemuka di London.

Sedangkan di Spanyol, perkembangan futsal jauh lebih cepat. Hal ini bisa terjadi karena budaya dan gaya bermain bola di Spanyol sangat mirip dengan budaya Amerika Latin.

Pada 1965 kompetisi internasional Futsal digelar untuk pertama kalinya, dengan Paraguay menjadi juara pertama. Lalu pada tahun-tahun berikutnya hingga tahun 1979 Brazil merajai kompetisi ini. Brazil juga memenangi piala Pan Amerika untuk kali pertama di tahun 1980 dan 1984.

Di tahun 1974 diadakan pertemuan perwakilan futsal dari berbagai negara. Pertemuan di Sao Paulo itu menggagas dibentuknya FIFUSA (The Federacao Internationale de Futebol de Salao/Federasi Futsal AS) sebagai organisasi resmi yang mewadahi futsal. FIFUSA saat itu menunjuk Joao Havelange sebagai ketua umum. Setelah eksisnya FIFUSA ini futsal semakin cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Kejuaraan dunia futsal pertama diselenggarakan oleh FIFUSA pada 1982 di Sao Paulo Brazil. Pada even edisi perdana ini Brazil keluar sebagai juara. Tiga tahun berikutnya, even yang sama digelar di Spanyol. Ini adalah kali pertama even tiga tahunan ini dihelat di benua Eropa, dan lagi-lagi Brazil keluar sebagai juara. Dan pada 1988 Brazil berhasil dikalahkan oleh Paraguay di Australia.

Setelah beberapa tahun eksis, Futsal semakin terorganisir, dan FIFA pun tertarik. Karena bagaimanapun juga futsal turut memajukan industri sepakbola internasional. Pada 1989 FIFA secara resmi memasukkan futsal sebagai salah satu bagian dari sepakbola, dan FIFA juga mengambil alih penyelenggaraan kejuaraan dunia futsal.

Piala dunia futsal edisi FIFA yang pertama digelar di Belanda pada 1989 dan yang kedua digelar di Hong Kong di tahun 1992, dengan Brazil sebagai juara di kedua edisi ini. Dengan adanya beberapa pertimbangan, akhirnya FIFA mengubah jadwal piala dunia Futsal ini menjadi empat tahun sekali.

sumber