Arsip untuk Juni, 2013

cita citaWaktu kecil kalo ditanya cita-cita sejak kecil, layaknya kebanyakan anak kecil, lambat laun hari demi hari aku menjawab berubah-ubah. Mulai dari dokter, insinyur, direktur, dan beberapa profesi lain. Begitu remaja, aku pengen banget jadi orang-orang yang berprofesi sederhana, semacam loper koran, penjual poster, atau kerja kantoran. Sejak selepas SMP, ada cita-cita tambahan, yaitu kerja di pabrik, karena sekolahku waktu itu jurusan teknik mesin produksi. Dan ternyata habis lulus sekolah aku jadi kerja di pabrik, dan sekarang kerja di kantoran.

Tentu saja anak-anak kecil kalo ditanya masalah cita-cita, mereka belum ngerti benar apa dan bagaimana itu. Mereka mempunyai keinginan menjadi seperti apa yang mereka lihat keren dan menarik. Habis lihat polisi, mereka pengen jadi polisi yang gagah. Habis lihat tentara, mereka pengen jadi tentara yang ksatria. Habis lihat dokter, mereka pengen jadi dokter yang berwibawa, bahkan kalo habis lihat pengantin, mereka pengen jadi pengantin yang berbahagia. Jadi cita-cita anak kecil lebih berhubungan dengan profesi yang ingin mereka jalani di masa besarnya nanti.

Setelah agak besar, anak-anak kecil tadi lebih realistis. Bisa jadi karena kondisi lingkungan dan keluarga, atau keinginan pribadi, cita-cita mereka lebih mengarah ke minat dan bakat mereka yang sebenarnya. Mereka jadi menyempitkan proyeksi dan lebih fokus mengarahkan segala yang dilakukannya ke arah cita-citanya. Bisa dengan sekolah yang berhubungan dengan cita-citanya, mempelajari segala macam ilmu tentang cita-citanya, dan lain sebagainya. Sehingga kalo ditanya lagi, mereka lebih mantap memberi jawaban tentang cita-citanya.

Agak dewasa lagi, biasanya orang-orang kalo ditanya cita-cita, mereka lebih suka menjawab dengan jawaban yang diplomatis. Kalo sebelumnya soal profesi, kali ini jawaban yang banyak muncul adalah jawaban yang lebih global, misalnya ingin menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara, masyarakat, keluarga, dan agama. Cita-cita ini lebih berarti luas dan merupakan langkah ‘aman’ bagi mereka untuk apapun profesi yang mereka dapatkan. Atau kalo nggak mendapat jawaban, mereka suka menjawab dengan jawaban ‘cita-cita masuk surga’. Cita-cita yang mulia, tapi perlu dipertanyakan jika melihat bagaimana usaha mereka meraihnya dari kehidupan dunia ini.

Namanya juga cita-cita, kalo nggak kesampaian ya nggak apa-apa. Yang penting kita punya tujuan yang jelas, sehingga ada semacam rencana dan strategi untuk meraihnya. Hidup jadi nggak asal hidup, asal apapun dan asal jadi apapun bisa. Okelah itu bagus, hidup nggak tergantung dari sesuatu dan tidak terdikte dengan macam apapun, tapi tentu saja hidup harus tetap punya arah. Jadi apa yang dilakukan selalu berarti dan tidak membuat penyesalan di hari depannya.

Iklan

teknologi mediaDalam beberapa tahun belakangan ini perubahan pemanfaatan teknologi atas kemajuannya dalam media massa sangat terasa keoptimalannya. Misalnya saja, beberapa tahun yang lalu stasiun radio masih sangat mengandalkan atensi pendengarnya dari surat ataupun kartu pos. Saat telepon mulai banyak dipakai, maka mulai dipakailah juga interaksi pendengar melalui telepon on air maupun off air. Ketika kemudian teknologi telepon seluler mulai banyak dipakai masyarakat, maka layanan melalui SMS juga mulai dipakai di radio. Dan yang cukup populer belakangan ini adalah interaksi melalui media jejaring sosial milik stasiun radio tersebut dengan para pendengarnya.

Demikian juga dengan media audio visual, televisi misalnya. Dulu berbagai macam acara seperti kuis ataupun acara lain yang mengajak interaksi pemirsanya masih mengandalkan jasa pos. Kemudian telepon mulai digunakan dalam kegiatan interaktif tersebut, mulai dari telepon standar sampai layanan telepon premium. Dan kemudian memasuki era telepon seluler, SMS juga sangat bisa digunakan untuk mendukungnya. Dan terakhir, mulai merambah menggunakan media jejaring sosial.

Sejak sekitar sedekade terakhir ini, acara yang menggunakan polling menggunakan SMS juga banyak bermunculan di televisi, mulai dari musik, penghargaan, kuis, sampai beberapa ajang pencarian bakat. Sorotan terhadap penggunaan tarif yang digunakan di atas rata-rata tarif SMS biasa, tidak mengurangi minat baik pihak penyelenggara maupun pemirsanya untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Mengesampingkan penilaian dari para juri yang ahli dalam masing-masing bidangnya, polling SMS ini mengajak para pemirsanya untuk ikut aktif dalam menentukan pemenangnya.

Dari sini sebenarnya terlihat bahwa faktor subyektifitas dari pemirsa pengirim SMS berperan dalam menentukan pantas tidaknya seseorang peserta acara tersebut melaju ke tahap selanjutnya. Karena sebagus apapun bakat seseorang, tapi kalau tidak ada pendukung ataupun penggemarnya yang memberikan suara baginya melalui SMS tentu saja dia tidak akan bisa melampaui pencapaian yang lain. Tentunya masing-masing peserta mempunyai penggemar masing-masing, yang berbeda-beda jumlahnya, dan mungkin saja tidak semua dari penggemar tersebut mengikuti polling SMS tersebut.

Untuk melancarkan aliran dukungan melalui SMS tersebut, biasanya para keluarga, kerabat, maupun kelompok komunitas pendukungnya mengadakan kampanye untuk polling tersebut, sehingga kegiatan kampanye tersebut juga bisa menjadi faktor penambah banyaknya SMS yang masuk mendukung peserta tersebut.

Tentu saja, kualitas peserta masih menjadi sebuah kunci yang bisa membuka kran dukungan SMSnya. Para pemirsanya juga pasti bisa menilai (meskipun secara subyektif) bagaimana tampilan keseluruhannya, sehingga tidak ada kesalahan penilaian dikarenakan dukungan SMS yang kurang meskipun penampilannya luar biasa. Dan kalau memang hal tersebut terjadi, juga tidak bisa disalahkan karena pendukung peserta tersebut tidak mengirimkan SMS dukungannya. Mengisi polling, apalagi lewat SMS, tentu saja bukan sebuah keharusan yang harus dipaksakan. Mekanisme ini digunakan untuk memanfaatkan teknologi dan juga melibatkan para pemirsanya sebagai alternatif, serta mulai mengubah paradigma media massa sebagai alat komunikasi searah menjadi alat komunikasi dua arah karena masyarakat bisa berperan serta dalam kegiatannya.

helmMeskipun kita naik motor dengan jarak yang dekat, bukan berarti aspal jalanan itu menjadi terasa empuk bagi kepala kita. Malah kalo dipikir itu hal yang paling konyol dalam bermotor adalah jatuh di dekat rumah, dan tingkatan kekonyolannya yang paling tinggi adalah jatuh tepat di depan rumah. Nggak liat jarak, nggak liat waktu, yang namanya jalanan, apalagi yang aspalan, itu hampir bisa dipastikan keras banget. Belum lagi kalo ditambah malunya karena jatuh. Iya kalo masih cuma lecet-lecet dikit atau luka gimana gitu, kalo terus kepala pecah, udah nggak sempat ngerasain malu dan nyeselnya lagi deh.

Fenomena umumnya emang gitu kan. Kalo naik motor, jarak dekat aja, bahkan ke tempat yang dari depan rumah udah keliatan, males banget pake helm. Padahal kalo tempat tujuannya keliatan dari rumah ngapain juga pake motor, jalan kaki aja kenapa. Lagian diliat dari rumah matahari itu juga keliatan, tapi nggak ada juga motor yang bisa dipake ke sana.

Meremehkan, pelanggaran berawal dari meremehkan. Sebuah kesalahan kecil yang menjadi besar, saat remeh itu benar-benar dianggap remeh. Helm itu apaan sih, bikin berat kepala aja, lagian bisa ngerusak model rambut keren a la Edy Brokoli. Tapi tentu aja helm itu bukan hanya syarat buat lewat di depan polisi, tapi berguna banget buat ngelindungin sebuah benda yang biasanya kita pake buat mikir. Kecuali kalo yang dipake buat mikir itu udah nggak penting lagi dan juga dianggap remeh, ya silakan aja sih nggak usah pake helm.

Ironi seperti ini yang nggak terlalu dipahami oleh masyarakat awam, apalagi kebanyakan masyarakat Indonesia, yang juga berpikir bahwa semua tempat di muka bumi ini adalah tempat sampah. Polisi seolah bisa ditaklukkan dengan memakai helm aja, padahal aspal nggak bisa gitu. Dulu para ksatria berkuda di jaman kerajaan juga nggak pake helm pas naik kuda, ya nggak apa-apa sih, mereka pasti juga mikir toh waktu itu juga nggak ada polisi patroli lalu lintas. Tapi dari dulu, pas jalanan masih berbatu dan bertanah, tetep aja yang namanya jalanan itu bukan tempat yang nyaman buat ngejatuhin kepala.

Meremehkan, bisa jadi dari hal-hal yang remeh temeh itu terjadi hal-hal yang besar dan hebat, termasuk pecahnya kepala itu tadi. Mau sekeren apapun potongan rambutnya, sesimetris apapun bentuk kepalanya, atau secakep apapun wajahnya, tetap aja nggak keliatan bagus kalo pecah kepala. Kalopun pake helm juga nggak menjamin kalo kepala nggak pecah kalo terlindas truk, seenggaknya kan meminimalisir efek, apalagi kalo siapa tau musuhnya bukan truk. Dan lagi, kita harusnya bisa berpikir bahwa menjaga keselamatan diri sendiri itu lebih penting daripada lebih memperhatikan menjaga penampilan saat naik motor.

SubyektifitasMasing-masing dari kita mempunyai pemahaman dan pemikiran yang berbeda-beda. Bisa jadi dalam melihat sebuah hal yang sama, kita punya penjelasan yang berbeda satu sama lain, sehingga bisa terjadi perbedaan pendapat dalam menyikapi hal tersebut. Hal inilah yang membuat subyektifitas adalah sesuatu yang bersifat individu dan pribadi, karena lebih mengarah kepada pengertian dari masing-masing orang itu sendiri.

Saat seseorang menganut suatu paham dan pengertian tertentu, dia pasti menganggap bahwa apa yang dia pahami tersebut adalah benar, tidak peduli bagaimana orang lain menganggap itu salah. Demikian juga saat beranggapan bahwa seseorang patut dijadikan sebagai idola dan apapun yang dilakukan dianggap benar. Padahal subyektifitas seperti itu bisa jadi sebuah kefanatikan yang bila terlalu besar kadarnya bisa menyebabkan tertutupnya pikiran seseorang terhadap pemikiran lain yang berbeda dari apa yang dipahaminya.

Subyektifitas bisa menutup pemahaman sesuatu secara obyektif, dalam hal ini adalah memahami dan menyadari benar atau salahnya sebuah hal. Jika subyektifitas tadi sudah mengarah kepada kefanatikan dan menganggap bahwa apapun yang terjadi dalam sebuah hal adalah benar, maka kelemahan dari hal tersebut tidak bisa terlihat lagi dan faktor obyektifitas dari sebuah hal tersebut tidak diperhatikan lagi. Apapun hal yang berlawanan dengan pemahaman bisa jadi mentah karena ada sebuah faktor anti-kritik atau anti-salah dari hal tersebut, disebabkan fanatisme buta.

Tentu saja, subyektifitas yang berhubungan dengan individualisme menjadi sebuah faktor relatifitas, di mana yang dipandang baik oleh seseorang, bisa jadi tidak begitu baik bila dipandang oleh orang lain, atau bisa juga sama baiknya, tergantung dari apa, siapa, dan bagaimana pandangan dari masing-masing individu tersebut.

Meskipun ada berbagai kelemahan dari subyektifitas tersebut, tentu saja juga ada kelebihan dari faktor subyektifitas ini. Misalnya, karena pendapat berbagai pribadi bisa berbeda, maka hal tersebut bisa memperkaya pandangan dari sebuah hal, dan juga bisa menjadi saran dan masukan atas apa yang perlu dilakukan dalam menyikapi hal tersebut. Hal ini membuat hal tersebut memiliki berbagai alternatif pilihan sebagai produk pemikiran dari berbagai pandangan individual. Tentu saja, dalam menerima berbagai pemikiran dan pemahaman tersebut harus dihilangkan hal-hal yang bersifat fanatisme dan menerima subyektifitas yang lebih mengarah pada pemikiran obyektif.

lucuAku termasuk tipe orang yang suka humor dan komedi. Apapun acara di televisi, kalo ada komedinya, pasti aku suka nontonnya, dan mungkin beberapa kemudian dengan mudah akan masuk ke daftar tontonku. Tapi meskipun suka komedi, ternyata aku nggak bisa menulis sesuatu materi yang bikin orang tertawa. Maka dari itu, aku jadi menyimpulkan bahwa aku termasuk tipe orang yang serius.

Ada banyak tipe orang humoris, atau bisa kita katakan komedian aja, di dunia ini. Dari banyak tipe tersebut, bisa ditarik dua garis untuk membedakannya, yaitu satu golongan komedian profesional, dan satu lagi golongan komedian total. Komedian profesional, kalo dilihat dari arti katanya aja, bisa diartikan bahwa dia punya pekerjaan sebagai orang lucu, pelawak, komedian, atau sejenisnya. Jadi, di luar pekerjaannya, dia bukan orang yang suka ngelucu. Dia akan ngelucu kalo dibayar aja, tentunya dalam bingkai pekerjaannya.

Kalo komedian total, dia dibayar atau nggak dibayar tetep aja lucu. Ngelawak jadi bukan sebuah hal yang terbatasi oleh bayaran. Apapun, di manapun, dan gimanapun kondisinya, tetep aja dia bisa ngelucu, tanpa harus mikirin siapa yang mau bayar kelucuan dia itu. Orang yang seperti ini bisa dibilang ‘ngelawak karena ikhlas’.

Ada sebuah materi lawakan, biasanya disebut Stand Up Comedy. Aku sendiri menafsirkan sebagai ngelawak sambil berdiri. Jadi syaratnya dia harus tetap berdiri selama ngelawak. Kalo dia terus ngelawak sambil duduk, maka syaratnya sebagai Stand Up Comedy telah gugur, dan dia berubah subyek menjadi Sit Down Comedy. Di televisi ada beberapa program acara seperti ini, bahkan ada yang khusus menampilkan Stand Up Comedy, terutama di sebuah stasiun televisi berinisial depan ME- dan inisial belakangnya -TRO. Tapi entah kenapa aku nggak terlalu ngikutin, mungkin karena aku juga nggak tau jadwal tayangnya, dan juga mungkin karena jadwal tayangnya terlalu malam, sehingga bentrok dengan jadwal tidurku.

Bagiku Stand Up Comedy sendiri punya dua sisi. Sisi pertama, jenis komedi seperti ini kaya semacam ‘komedi egois’. Seorang menceritakan sebuah materi pokok, yang ditambahi materi-materi lucu (yang sering dibuat-buat), terus penonton dan orang lain hanya ‘boleh’ ketawa-ketawa aja. Komedi model begini bisa dilakukan di mana saja, baik ada orang lain maupun sendirian aja. Jadi seolah-olah, komedi seperti ini adalah komedi ‘sepi’, ya bisa juga disebut semacam pidato kelucuan lah.

Di sisi berikutnya, materi komedi seperti ini kebanyakan adalah materi cerdas. Ada beberapa pemaparan yang mungkin bagi beberapa kalangan sulit dimengerti dalam sekali dengaran. Materi komedi yang kaya rasa seperti ini, juga tidak menjadikan isu-isu tabu menjadi sebuah hal yang ‘haram’ untuk diungkapkan, tentu saja menjadikan model komedi ini lebih digemari, meskipun ‘sepi’.

Aku jadi membayangkan gimana jika sebagai orang yang serius, aku harus melaksanakan praktek Stand Up Comedy. Yang ada aku hanya melontarkan kalimat-kalimat yang nggak penting dan nggak bisa bikin orang ketawa (meskipun hanya ketawa dalam hati). Tapi sebenarnya aku juga mikir, orang-orang yang menganggap bahwa ‘komedian adalah orang yang serius itu sebuah ironi’ adalah sebuah ironi tersendiri, karena pasti komedian (terutama yang profesional) itu adalah orang yang serius. Kalo nggak serius ngapain mereka ngelucu, pasti mereka hanya bermalas-malasan aja nggak ngapa-ngapain. Namanya juga nggak serius.

hurufAda dua puluh enam jumlah huruf di dalam susunan alfabet universal. Dari kedua puluh enam ini, ada dua huruf yang jadi sorotanku. Nggak penting sih, tapi kalo dipikir-pikir unik aja. Kedua huruf ini adalah huruf ‘m’ dan ‘w’. Kedua huruf ini juga ada hubungannya, soalnya dengan teknik penulisan tertentu, huruf ‘m’ kalo dibalik bisa jadi huruf ‘w’, juga sebaliknya. Lainnya adalah kedua huruf ini sama-sama memegang rekor huruf paling lebar di antara huruf-huruf yang lain.

Lalu di mana uniknya? Uniknya adalah kenapa juga disebut huruf m, padahal yang lain disebut ‘a’, ‘b’, ‘c’, atau gimana gitu. Dan coba dilihat, huruf ‘w’ kalo dibaca dengan bahasa Inggris jadi ‘double u’, padahal jelas banget bahwa ‘w’ itu lebih cocok kalo dibaca dengan ‘double v’. Mungkin, kalo ditulis menggunakan huruf model latin tegak bersambung, ‘w’ memang berbentuk melengkung, sehingga seperti huruf ‘u’ yang dijejerkan. Dengan cara penulisan jaman dulu, yang menggunakan huruf latin bersambung, mungkin begitulah mengapa lebih disebut ‘double u’ daripada ‘double v’.

Kalo huruf ‘m’ gimana? Hampir sama kaya huruf ‘w’, huruf ‘m’ ini mirip dengan huruf ‘n’ yang dijejerkan. Tapi nggak tau kenapa huruf ‘m’ itu nggak dipanggil dengan ‘double n’, tapi para penemu huruf lebih menyebutnya berbeda, dipanggil ‘em’ gitu aja. Kenapa dibedain, kalo hampir mirip? Kalo dilihat dengan analisa ngacoku, jadi huruf ‘m’ itu urutannya disebut lebih dulu daripada huruf ‘n’. Kalo huruf ‘m’ disebut ‘double n’, terus ‘n’-nya itu apa? Apalagi kalo habis nyebut huruf ‘m’ kemudian berhenti istirahat, atau berhenti karena bingung dengan sebutan huruf ‘en’, huruf ‘n’ yang urutannya habis huruf ‘m’ jadi nggak kesebut, jadinya huruf ‘n’ jadi nggak dikenal.

Kalo huruf ‘w’, dia disebut setelah huruf ‘u’, jadinya saat ‘w’ disebut, ‘u’ sudah dikenal. Jadi nggak terlalu susah nyebut bahwa ‘w’ itu ‘u’ yang didobel, alias ‘double u’. Bahkan kalo ‘w’ disebut sebagai ‘v’ yang didobel sekalipun juga nggak apa-apa, soalnya urutan huruf ‘v’ juga tepat di depan huruf ‘w’. Kecuali kalo ‘w’ disebut dengan ‘double z’, mungkin penyebutan ‘w’ perlu direvisi lagi nih.

ruwetSering kita nggak ngerasa bahwa waktu bagi orang lain berjalan sejalan sama dengan waktu yang kita jalani. Apalagi kalo udah cukup lama kita nggak memperhatikan sesuatu, rasanya masih baru kemaren aja ngejalaninya. Kaya kemaren nih, aku baca sebuah tabloid olahraga. Eh ternyata Bastian Schweinsteiger itu umurnya sekarang udah 28 tahun, hampir sama kaya umurku. Padahal seingatku, beberapa tahun yang lalu aku baru membaca kalo Schweini adalah pemain muda prospek cerah masa depan Bayern Muenchen dan tim nasional Jerman. Kok cepet banget ya dia umurnya mau sama kaya umurku. Baru kemudian aku nyadar kalo ‘beberapa tahun’ yang aku maksud tadi ternyata udah sekitar 8 tahunan, saat dia berumur 20 tahunan, hampir sama juga kaya aku, itu bagi umurku juga sekitar 8 tahun yang lalu.

Sama nih kaya yang aku alami beberapa waktu lalu, saat ketemu temenku Agan (bukan namanya yang sebenarnya). Nggak kerasa udah sekitar dua tahunan nggak ketemu dia. Si Agan ini sering jadi obyek di tulisanku dengan cerita-cerita uniknya. Dulu, pas cerita pertamanya aku posting di blog, yang cerita Roro Jonggrang itu, aku pikir dia bakal marah apa gimana gitu ke aku, karena kisah hidupnya aku ekspos di blogku. Eh ternyata malah dia narsis pengen eksis, minta cerita-cerita dia yang lain dibikin tulisannya.

Sama kaya ketemuan yang ini, dia minta ceritanya ditulis lagi di blogku. Pada dasarnya aku nggak mau bikin tulisan, soalnya kisahnya biarpun unik tapi bikin bosan, terutama buatku. Kebetulannya aku lagi kering ide buat blog, ada gagasan tapi nggak bisa ngembangin ide. Jadilah kisahnya mulai aku tulis deh. Ceritanya hampir mirip kaya cerita-ceritanya dulu, masih seputar kisah hubungannya dengan cewek. Si Agan sendiri bingung nyeritainnya, karena kata dia cerita ini sangat rumit, ruwet, dan berakhir tidak bahagia. Ceritanya gini, beberapa tahun yang lalu dia menjalin hubungan sama seorang cewek remaja, baru lulus sekolah. Si Agan sendiri kan seangkatan sama aku, paling dia juga dulu sekolah di mana juga nggak inget. Sebenernya perbedaan jarak umur yang cukup jauh ini nggak mempengaruhi hubungan mereka, apalagi si Agan ini orangnya cukup sabar ngadepin dan ngemong ceweknya. Dia juga sering ngalah demi kelangsungan hidup mereka berdua.

Kisah mereka mulai berwarna saat datang ujian tiba. Cewek Agan yang emang cantik dan primadona ini kemudian ada seseorang yang naksir. Kebetulan si cowok ini umurnya nggak jauh beda sama cewek Agan ini, biar lebih mudahnya kita sebut Aganwati aja. Dan yang lain, cowok ini juga kenal cukup dekat dengan Aganwati. Cowok ini masih sekolah dan waktu itu akan menjalani ujian akhir kelulusan. Dia udah ngerasa cinta mati banget sama Aganwati, sehingga kegiatan belajarnya berantakan gara-gara dia sibuk ngedeketin Aganwati.

Si Aganwati ini punya sifat nggak tegaan dan punya prinsip hidup suka berbuat kebaikan untuk semua temannya. Jadinya dengan keruwetan tersendiri, yang juga bikin Agan bingung, Aganwati menganggap bahwa semua orang yang suka sama dia juga berhak dibahagiakan olehnya. Tambah ruwetnya lagi, Aganwati minta ijin kepada Agan buat ngebahagiain si cowok tadi untuk sementara. Dengan alasan umur Agan lebih tua, sehingga lebih bisa memahami keadaan, Aganwati meminta pengertian Agan untuk bersabar sementara. Dan konyolnya, si Agan mau aja disetengahduakan.

Cerita rumit cinta setengah segitiga ini bikin Agan pusing juga akhirnya. Agan nggak bisa menolak apapun yang diminta Aganwati. Tapi ternyata kondisinya semakin menyudutkan Agan, karena akhirnya nggak ada ruang gerak lagi bagi Agan untuk mendekati Aganwati. Si cowok tadi sangat posesif dan menganggap bahwa Aganwati ini miliknya seorang. Dan lagi, dia banyak banget tuntutan ke Aganwati. Sebenarnya cowok tadi tau kalo Aganwati ini punya kekasih, yaitu si Agan, tapi cowok ini nggak tau kalo Aganwati hanya cuma sementara aja membahagiakan dia, demi menemani si cowok sampe setelah ujian sekolah, biar sekolahnya nggak berantakan.

Karena terbatasnya ruang gerak Agan akhirnya, dia minta waktu buat ngebahas ini. Tapi yang ada malah Aganwati nggak bisa ngijinin Agan buat ketemuan sama dia. Akhirnya Agan udah mulai tidak sabar dengan keadaannya yang terjepit. Saat berikutnya dia memutuskan untuk mengakhiri semua kisah nggak menguntungkan ini, karena dia mulai menganalisa bahwa ternyata Aganwati juga mulai condong ke cowok tadi. Dan begitulah, lambat laun kemudian, meskipun sulit Agan menatap masa depan lagi.

Untungnya Agan ini bukan tipe orang yang lebay dan alay, yang nyeritain cerita sedihnya sendiri, yang dia alami sendiri, sambil nangis-nangis. Aku sendiri juga meskipun nggak secara detail menyimak ceritanya, menyadari bahwa alur kehidupan itu banyak warna, bahkan bisa berasal dari berbagai hal yang kita cintai dan sukai. Sedikit banyak hal-hal tersebut berpengaruh bagi perjalanan hidup kita, bisa menjadi pelajaran buat masa depan kita. Dan meskipun kenangan pahit itu harus segera dilupakan, namun ada bagian-bagian hikmah yang harus melekat pada pikiran kita dan menjadi landasan dasar operasional hidup kita.

Akhirnya aku dan Agan kembali berpisah. Dalam hati aku bersyukur punya teman seperti Agan, yang mempunyai variasi kisah, terutama berkaitan tentang kisah percintaannya. Dan meskipun Agan sekarang tidak lagi memiliki kekasih, tapi terlihat jelas bahwa Agan lebih menjalani hidup yang bahagia daripada saat masih menjalani kisah ruwetnya tadi.

sabar ikhlasManusia adalah sekumpulan makhluk yang cenderung memperhatikan apa yang bisa didapat dari apa yang diberikan. Kebanyakan perintah-perintah Allah tentang ibadah juga diberi tambahan iming-iming tentang pahala dan balasan apa yang didapat manusia itu jika mereka melakukannya. Padahal ibadah itu merupakan kewajiban dan kebutuhan dari manusia itu sendiri, bahkan untuk agar manusia melaksanakannya masih diberi ‘motivasi’ apa yang bisa didapat dari ibadahnya tersebut.

Tapi tentu saja tidak semua hal dari yang kita lakukan bisa mendapat balasan (terutama balasan langsung). Misalnya saja, aku suka bakso, tapi bakso tidak suka aku. Ada banyak balasan yang tidak langsung dan tidak tampak yang akan didapatkan manusia di kelak kemudian hari, bukan langsung didapat. Sehingga manusia memerlukan sebuah sikap yang bisa mendukungnya agar ‘tabah’ dan sabar dengan balasan yang tidak didapat langsung tersebut.

Sikap tersebut adalah tulus dan ikhlas. Ikhlas memberi, tanpa ada pamrih dan mengharap balasan yang bisa langsung diterimanya. Sikap ini bisa mengisi ‘kekosongan’ benak manusia atas sebuah pemikiran logis tentang ‘memberi adalah menerima’. Memberi memang akan menerima, tapi tentunya tidak semua menerima itu terlaksana saat memberi itu juga. Ada beberapa hal yang masih ‘tertahan’, dan untuk menunggu yang ‘tertahan’ tersebut ada satu sikap lagi, yaitu sabar.

Kalo dipikirkan secara mendasar, membalas adalah hak yang diberi. Mau membalas atau tidak, selain tergantung kemauan yang diberi, juga kemampuan yang diberi, serta kepatutannya. Nggak semua pemberian memang bisa dibalas secara langsung karena ketiga faktor tersebut, sehingga ada kalanya balasan (kalaupun dibalas) nilainya tidak sebanding dengan yang sudah diberikannya.

Makanya bagaimanapun, memberi itu juga harus disertai dengan sikap ikhlas, jadi kalo nggak dibalas ya nggak apa-apa, kan masih punya ikhlas. Dan juga, kalopun tidak (ataupun belum) dibalas, ya harus sabar. Merunut bahwa hidup itu hanya sementara, maka sabar itu harusnya juga bisa lebih sementara saja. Kalaupun tidak ada balasan di dunia, mungkin balasan tersebut akan tertahan dan diberikan di akhirat. Jangan sampai kesabaran kita diikhlaskan hanya karena kita tergesa-gesa menilai sesuatu.