Posts Tagged ‘Kecampuran’

Kecampuran (bagian 2)

Posted: 8 Desember 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

musik indonesiaMusik kita adalah musik yang sering ‘kedatangan’ dengan musik-musik dari luar. Nggak hanya musik berbahasa Inggris dari daerah barat sana, tapi juga musik-musik khas dari negara-negara Asia. Kita kelewatan musik-musik dari India saat lagi ngetrennya film-film Bollywood, kedatangan musik dari Mandarin saat drama-drama seri Mandarin beredar di TV-TV kita, ketamuan musik dari Jepang berturutan dengan anime-anime menjamur di Indonesia, dan kemudian kecanduan musik dari Korea saat drama-drama Korea juga tampil di sini.

Ini membawa kebiasaan baru bagi kita orang Indonesia ini. Yaitu kelatahan belajar bahasa asing. Datangnya lagu-lagu dari mancanegara ini sebenarnya bagus, bagian bagusnya terutama adalah saat kita nggak ngerti apa yang dinyanyikan karena bahasanya beda. Mungkin kalo kita ngerti, bisa jadi lirik-liriknya nggak jauh beda sama lagu-lagu Indonesia sekarang ini. Tapi orang Indonesia banyak yang nggak mau sekedar bisa joged dengan musiknya, liriknya juga harus tau biar bisa ikutan nyanyi. Nggak sekedar tau, tapi juga ngerti.

Makanya kemudian bermunculan komunitas-komunitas pecinta grup atau penyanyi itu. Dari situ bisa dibentuk kelompok belajar yang mempelajari musik dan lirik serta terutamanya bahasa dari grup itu. Lama kelamaan, bahasa itu digunakan dalam kegiatan sehari-harinya. Bukan hanya dengan komunitas dan kelompoknya, tapi juga di luar kegiatan itu. Orang-orang jadi terlihat keren karena bisa ngomong bahasa yang nggak dimengerti orang lain. Nggak hanya itu, lembaga-lembaga kursus bahasa pun jadi bermunculan juga.

Tapi jadi ironis jika bahasa itu digunakan buat ngobrol sama orang yang nggak ngerti sama sekali dengan bahasa itu. Kasian kan kalo ada orang ngajak ngobrol orang lain terus terlontar bahasa-bahasa asing, yang orang lain itu nggak ngerti sama sekali. Ini jadi percuma aja kan?! Makanya pemakaian bahasa asing seperti ini juga digunakan dalam waktu dan tempat yang sesuai aja. Kan orang awam banyak yang nggak bisa bedain antara bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea. Biasanya mereka anggap ketiga bahasa itu adalah bahasa China. Orang-orangnya juga gitu.

Sebenarnya inti tulisan ini adalah boleh-boleh aja kita mempelajari bahasa-bahasa selain bahasa kita, malah kalo bisa gitu. Tapi jangan sampai kita kehilangan bahasa kita sendiri, malah cenderung merusaknya dengan mencampuradukkan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Ironis sekali lagi kalo ada orang Jawa lebih fasih berbahasa Jepang daripada bahasa kromo inggil Jawa. Atau lebih hapal hurup kanji daripada aksoro Jowo.

Seperti tulisanku sebelumnya, seringkali budaya orang lain terlihat lebih menarik daripada budaya kita sendiri untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi kita lupa bahwa kita terlahir dengan budaya tersendiri, dan kekhasan kita ini sebenarnya juga pengen ditiru oleh orang lain yang budayanya berbeda.

Iklan

Kecampuran (bagian 1)

Posted: 7 Desember 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

budayaKalo kita berada dalam sebuah budaya yang bukan budaya asli kita, lambat laun kita akan ikut terlarut dalam budaya itu. Entah itu karena kita terlalu terbiasa, atau kita terlalu latah ngikut-ngikut. Tapi seringnya karena kita menganggap budaya orang lain itu begitu menarik untuk diikuti, entah karena alasan biar bisa menyatu dengan budaya itu, atau karena biar terlihat keren dalam lingkungan budaya kita sendiri.

Dulu pernah kejadian pas masa praktek industri di SMK. Beberapa bulan tersebar di berbagai kota, pulang-pulang teman-teman ini berkumpul dengan logat dan bahasa masing-masing. Ini yang membingungkan, mereka kehilangan logat bahasa Jawa halus a la Kediri sebagai bahasa ibu mereka, dan beralih ke logat bahasa Jawa aneh yang bukan asli Kedirinya. Nggak tau kenapa, tapi kalo aku sendiri yang ngalamin aku menganggap bahwa logat yang aku dapati selama praktek ini unik dan kalo ditirukan memperkaya bahasa yang aku pakai. Tapi justru akhirnya logat ‘luar’ itu mengacaukan kebahasaanku sehari-hari, sampai akhirnya lambat laun logat campuran itu hilang dan kembali ke bahasa percakapan asalku.

Ada lagi pengalaman waktu SD dulu. Di SD aku ikut tim drumband. Suatu ketika ada lomba drumband dalam Porseni se Kabupaten Kediri. Dan karena pelatih drumband di SDku juga melatih SD lain yang masih sekecamatan, maka kedua tim ini berlatih bersama di lapangan. Awalnya nggak ada masalah, semua lagu dimainkan sesuai dengan lagu yang kami latih selama ini. Selama latihan, kami bergantian dengan SD satunya untuk tampil di lapangan. Dan selama nonton latihan inilah pikiran kami seolah tercuci. Setelah agak lama, kami berangkat ke lapangan dengan lagu kami, dan pulang dengan lagunya mereka. Dan ternyata mereka pun sama kaya gitu.

Itu kalo kejadian karena sebentar tinggal di lingkungan baru. Kalo kejadiannya tinggalnya lama, bahkan bisa sampai sepanjang hidup, maka budaya yang itu bisa ‘merasuki’ kita. Dan lama-lama budaya asli kita bisa berganti pada budaya baru yang kita tinggali itu. Maka percampuran seperti ini mungkin bisa jadi cara kita membaur dengan budaya baru yang kita datangi, agar kita nggak terasa sebagai orang asing.

Nggak ada yang salah sih, dengan apa yang terjadi. Toh ibaratnya hal-hal baru yang kita temui pada akhirnya akan kita sesuaikan dengan keadaan kita, jadi berbaur dengan kehidupan kita keseharian. Kalo hal baru ini nggak bisa disesuaikan dengan kita, maka bisa jadi kita akan merasakan hal ini selalu menjadi hal yang baru bagi kehidupan kita.