Archive for the ‘Islam’ Category

Patung LibertyDi sela-sela kesibukan rutinitas pagi hari, jelang berangkat kerja, sambil dengar dan lihat berita di televisi yang mengulas tentang patung-patung di Indonesia khususnya patung-patung yang bermasalah. Bahkan beberapa di antaranya kemudian dirobohkan oleh penduduk setempat karena berbagai alasan. Namun yang sangat disayangkan, ternyata pihak redaksi berita malah terkesan menyalahkan masyarakat yang tidak memahami dan mengerti makna dan maksud di balik patung tersebut.

Jangan pikir masyarakat tidak memahami seni, masyarakat mungkin sangat paham itu melebihi para tokoh di balik redaksi berita tersebut. Ini mungkin lebih tentang prinsip dan identitas komunitas. Memang banyak sekali patung-patung bersebaran di seluruh penjuru Indonesia ini. Bahkan banyak di antaranya merupakan peninggalan jaman Megalitik yang berupa patung-patung batu besar. Di depan rumahku sendiri berdiri patung berbentuk pergelangan tangan yang terpenggal mengacungkan dua jari tanda dukungan ke sebuah partai politik besar di jaman Orde Baru, namun di bawahnya tertulis “Dua Anak Cukup”. Bahkan di desaku sendiri berdiri patung besar maskot Kabupaten Kediri berwujud arca Dewa Ganesha (aneh sebenarnya kalo sebuah wilayah seperti ini bermaskotkan dewa pagan). Dengan berbagai maksud dan tujuan, tidak hanya patung yang didirikan, namun ada juga dalam bentuk monumen atau tugu.

Lalu apa perlunya pembangunan thoghut-thoghut tersebut? Dalam berita tersebut disiarkan bahwa patung-patung tersebut didirikan di antaranya dalam rangka memperindah tata ruang kota. Padahal ada sebuah patung berbiaya kurang lebih sampai 4 miliar. Padahal alangkah lebih indahnya bila biaya tersebut disalurkan untuk pembangunan sekolah-sekolah yang hampir roboh, misalnya. Atau memperbaiki sarana transportasi, contohnya. Aku tidak terlalu memperhatikan patung-patung apa saja yang bermasalah dan yang sudah dirobohkan, tapi sekilas ada berita tentang patung Barack Obama di situ. Sebuah pertanyaan kembali muncul, seberapa pentingkah patung Obama ada di Indonesia, hanya karena beberapa tahun beliau ini tinggal di Indonesia? Suatu pengandaian saja, dari sebuah penelitian bahwa Adolf Hittler pernah tinggal dan meninggal di Indonesia, mengapa Indonesia tidak merasa perlu membuat patung Adolf Hittler di Indonesia?

Memang pembuatan patung dihindari karena menjauhi maksud dari menyembahnya. Tapi patut kita simak, bahwa para penyembah berhala dahulunya tidak menyembah patung. Mereka menyembah Allah SWT melalui ajaran orang-orang soleh. Setelah orang-orang soleh tersebut meninggal, maka kaum yang ditinggalkan membuat patung-patung untuk mengenang mereka, bukan untuk menyembah mereka. Namun generasi-generasi selanjutnya kemudian “merasa” perlu menyembah patung-patung tersebut. Dan akhirnya jadilah mereka penyembah berhala. Sedangkan menurut catatan sejarah yang pernah aku dengar, jumlah dan macam berhala pada saat Islam masuk ke daerah Nusantara berkali-kali lipat lebih banyak daripada jumlah dan macam berhala pada saat Islam disebarkan di bumi Arab. Hal ini yang dikhawatirkan dari generasi-generasi kita selanjutnya, yang mungkin kurang mendapat pengetahuan tentang maksud adanya patung tersebut.

Apalagi sering sekali berkaitan dengan sebuah peristiwa maka dibuatlah monumen. Yang kemudian terjadi adalah monumen tersebut dijadikan tempat mengenang yang terkadang berlebih-lebihan. Lihat saja di Monumen Bom Bali, banyak yang kemudian menaruh bunga, foto, tulisan, bahkan berdoa di ‘altar’ monumen.

Masih tercuplik dari berita yang sama, patung bagi beberapa penguasa adalah penguat kekuasaan, terbukti sejak jaman Indonesia merdeka para penguasa negeri ini membuat patung-patung dengan maksud-maksud tertentu. Maka bertebaranlah patung-patung pahlawan, adegan heroisme perjuangan bangsa, sampai diorama dan relief-relief di berbagai tempat. Bahkan ada beberapa yang jadi maskot dari sebuah kota atau daerah (seperti patung dewa pagan Ganesha tadi). Jadi ingat sebuah patung kambing di sebelah jalan timur kantorku, awalnya aku khawatir patung tersebut merupakan pemujaan hal-hal tertentu yang mengarah kesyirikan, namun ternyata itu adalah tanda bahwa di situ ada penjual kambing.

Terakhir, masih dengan pertanyaan yang sama dalam pikiran, perlukah adanya patung tersebut? Bahkan dengan maksud apapun? Padahal kita tidak ingin malaikat tidak mau memasuki rumah kita karena ada patung thoghut di rumah kita, bagaimana ya jika malaikat tidak mau memasuki negara kita karena banyak patung thoghut di negara kita?

zodiakPerancis di bawah Raymond Domenech adalah kekacauan. Euro 2008 adalah buktinya. Rasi bintang sepertinya mengatakan kepada Domenech agar David Trezeguet dan Sebastien Frey dibiarkan menyaksikan turnamen dari rumah masing-masing. Susunan skuad yang diturunkan Domenech membingungkan dan memberikan hasil yang sangat, sangat buruk. Domenech memang manajer sepakbola yang memilih squadnya tidak berdasarkan skill dan performa pemainnya, tapi berdasarkan zodiak bintangnya. Dia sengaja menghindari para pemain dengan zodiak tertentu.

Ternyata di kehidupan yang dikelilingi kehidupan modern dan dibalut teknologi canggih, masih ada saja orang yang mendasarkan jalan kehidupannya pada jalannya bintang. Masih banyak orang di sekeliling kita yang masih mempermasalahkan dan menilai seseorang dari hari lahirnya atau zodiaknya. Padahal kalo dinalar secara akal sehat, bagaimana bisa hari lahir mempengaruhi sifat dan nasib seseorang, padahal beberapa orang yang lahir dalam hari yang sama pun belum tentu dan mungkin tidak mungkin mempunyai sifat dan nasib yang sama.

Sayangnya, begitulah yang terjadi, terutama dalam lingkungan kehidupan masyarakat kejawen. Menjalani kehidupan dengan pengaruh ajaran animisme dinamisme kuno dan sedikit dipengaruhi pula dari ajaran Syekh Siti Jenar, membuat hidup dipenuhi dengan ajaran TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat). Ajaran Islam yang sedikit tercemar dengan proses asimilasi budaya yang tidak sempurna, menjadikan proses kehidupan yang islami pun menjadi tercampuri. Agama dijalani berdasarkan produk budaya.

Kalaulah benar kalau agama Islam di Indonesia berasal dari Gujarat, India, seperti yang dicetuskan oleh Snouck Horgonje, bisa jadi ajaran Islam yang masuk telah mendapat pengaruh dari ajaran budaya India. Belum lagi begitu masuk ke Nusantara pada waktu itu, ajaran animisme dan dinamisme masih begitu kental dan mendominasi rakyat pada umumnya, sedangkan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat umumnya menggunakan pendekatan halus dengan sedikit demi sedikit mencampurkan kebiasaan mereka dengan ajaran Islam.

Dan begitulah yang terjadi di masyarakat kuno. Masyarakat kuno menganut ilmu T10 (titen = mengingat), mengamati sesuatu dari beberapa peristiwa yang sudah terjadi, kemudian membuat kesimpulan berdasarkan sebuah peristiwa yang berulang-ulang. Kemudian mengaitkan juga dengan tanggal lahir, hari lahir, weton, berjalannya benda-benda langit, sehingga muncullah apa yang disebut ramalan nasib berdasarkan bintang. Dan sayangnya kemudian budaya tersebut secara turun temurun diwariskan kepada generasi penerusnya, yang kemudian pula dianut secara membabi buta.

Tidak perlu heran dengan proses tersebut, bahkan sejak ribuan tahun lalu saat Islam mulai didakwahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, masyarakat Arab jahiliyah juga menganut hal-hal seperti itu. Bila diamati, jumlah tuhannya masyarakat jahiliyah pada jaman tersebut masih kalah dengan jumlah tuhannya masyarakat Nusantara kuno, dengan berbagai bentuk, macam dan namanya. Bahkan saking banyaknya, sampai sekarang pun masih ada saja tuhan-tuhan tersebut yang dilestarikan dalam wadah tradisi budaya.

Bagaimanapun kita harus menghindari dan menghilangkan pengaruh TBC, yang berdasarkan pada kisah-kisah dongeng, penambah-nambahan dalam ibadah, dan cerita-cerita yang tidak mempunyai sumber yang jelas, dalam kehidupan beribadah kita. Meskipun terkadang kita dikepung dalam lingkungan masyarakat yang masih mengagung-agungkan ajaran berdasarkan TBC, jangan sampai kita terpengaruh dan ikut arus sehingga kita mengikuti ajaran tersebut atas nama toleransi dan pergaulan, dengan mengabaikan nilai-nilai aqidah keislaman kita.

Puji-Pujian

Posted: 3 November 2011 in Islam
Tag:,

Sungguh, berhati-hatilah terhadap segala pujian atau sanjungan. Terlebih lagi jika pujian itu diucapkan di depan banyak orang. Di balik pujian itu, tersembunyi sebilah pedang yang bisa memenggal leher orang yang gemar dipuji.

Dalam kitab Al-Arba’in fi Ushul ad-Dien, Iman Ghazali meriwayatkan bahwa sekali waktu seseorang memuji sahabatnya di depan Rasulullah Muhammad SAW. Saat itu beliau bersabda, “Celaka kamu. Kamu telah memotong leher sahabatmu.”

Ghazali mengungkapkan ada beberapa penyakit hati yang merupakan cerminan akhlak tercela, baik bagi orang yang memuji mau pun yang dipuji. Penyakit hati yang diidap orang yang suka memuji orang lain – menurut Ghazali, biasa terjadi di kalangan penguasa, orang-orang yang punya kedudukan atau kekayaan – adalah dusta, lancang (suka menjilat), dan munafik.

Orang yang bangga atau suka dipuji-puji mudah sekali terkena penyakit hati; sombong, congkak, riya’, dan membanggakan diri sendiri. Di samping dikutuk Allah – karena mengidap sifat-sifat setan – sesungguhnya mereka termasuk orang yang dungu. Sudah sombong, riya’, dan membanggakan diri, mau pula membiarkan lehernya dipotong orang lain.

Begitu buruk dan seriusnya akibat penyakit hati yang disebabkan oleh pujian, sampai-sampai dalam kitab Al-Arba’in fi Ushul ad-Dien Ghazali mengutip peringatan Rasulullah, “Jika seseorang berjalan kepada orang lain membawa sebilah pisau tajam, maka itu lebih baik daripada dia memuji seseorang di depan hidung orang tersebut.” Dalam ungkapan sehari-hari, sabda Nabi itu bisa diterjemahkan, “Lebih baik kau ancam aku dengan pisau daripada kau bunuh aku dengan pujianmu.”

Pujian seseorang kepada orang lain biasanya disampaikan dengan kata-kata manis disertai pamrih tertentu. Pamrih inilah – umumnya berkonotasi negatif – yang sesungguhnya yang amat berbahaya. Ia bagai racun mematikan yang berlapis madu. Ghazali menyebut orang yang suka memuji, memiliki sifat “munafik”; tampak manis di lapisan luarnya, tapi mematikan di bagian dalamnya.

Terhadap orang seperti itu, Ghazali mengutip pernyataan keras Rasulullah, “Taburkanlah tanah ke wajah para pemuji.” Cara lain, berdoa kepada Allah seperti dilakukan Sayidina Ali RA ketika dipuji seseorang, “Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang dia tidak ketahui dan jangan Engkau siksa aku atas apa yang mereka katakan, serta jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka kira”.

Pujian sesungguhnya ungkapan yang agung dan tidak bisa dikotori oleh hal-hal buruk yang hanya layak ditujukan kepada Dzat Yang Mahaagung. Semua ayat tentang pujian dalam Al-Qur’an semata-mata hanya ditujukan untuk Allah SWT. Karena sesungguhnya, manusia terlalu kerdil dan tidak memiliki derajat untuk dipuji. Wallahu a’lam bish-shawab.

Saat bersih-bersih dan liat-liat file-file di komputer-komputer kantorku, aku kemudian tertarik dan membaca salah satu file lamaku yang membahas soal cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha. Dalam literatur ini dicantumkan salah satu surat:

“Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 21)

Kemudian ada penjelasan di seputar ayat ini. Kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha kemudian timbul di kalangan mufassirin. Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir al Qur’an yang ditunjuk oleh Departemen Agama Republik Indonesia (DEPAG-RI) dalam al Qur’an dan Terjemahnya, memberikan penafsiran ayat tersebut. Ketika terjemah ayat tersebut menuturkan: “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya”, dalam footnote (no. 748), Tim menulis: “Orang Mesir yang membeli Yusuf AS. itu seorang Raja Mesir bernama Qithfir dan nama isterinya Zulaikha.” Tidak sampai di situ, lebih jauh lagi nama Zulaikha tersebut langsung dicantumkan di dalam terjemah ayatnya. Hal ini dapat kita lihat pada terjemah Surat Yusuf ayat 23: “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya…”. Begitu pula dalam footnote (no. 750) yang menafsiri ayat tersebut. “Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf AS. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu Zulaikha….”. Demikian nama Zulaikha disinggung sebanyak tiga kali dalam al-Qur’an dan Terjemahnya yang dicetak dan disebarluaskan oleh DEPAG-RI. Usaha penerjemahan itu dilangsungkan selama delapan tahun oleh tim khusus yang diketuai oleh Prof. R.H. A. Soenarjo, S.H. dari Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al Qur’an. Selesai pada tahun 1971.

Dengan demikian, tersebarnya Al Qur’an dan Terjemahnya versi DEPAG-RI kala itu, diawali keterangan para ulama yang menukil kisah itu dari kitab-kitab tafsir klasik, akhirnya penamaan Zulaikha tersebut melembaga di masyarakat. Mereka tidak tahu menahu tentang otentisitas riwayat seputar itu. Yang mereka kenal, bahkan sudah menjadi keyakinan, Zulaikha itu adalah nama wanita yang merayu Nabi Yusuf AS. Kemudian setelah Nabi Yusuf AS. diangkat menjadi pembesar Mesir, Zulaikha dinikahi oleh beliau. Mereka berdua hidup seia-sekata, saling mengasihi dan menyayangi. Menurut mereka, itulah dambaan setiap keluarga dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Maka tak heran jika tipologi Yusuf – Zulaikha, oleh mereka, disamakan dengan tipologi Adam – Hawa, Muhammad – Khadijah, dan Ali – Fatimah. Padahal tidak ada riwayat yang shahih menerangkan bahwa istri al Aziz itu bernama Zulaikha dan Nabi Yusuf pernah menikahinya. Karenanya, ada yang berseloroh bahwa orang yang berdoa agar kedua mempelai itu saling sayang-menyayangi seperti Yusuf dan Zulaikha, maka hal itu sama saja dengan mendoakan agar seseorang itu menyayangi istri orang lain, alias berselingkuh.

Agama Islam datang setelah Agama Yahudi dan Nashrani. Begitu pula pengikutnya. Kaum Yahudi dan Nashrani memiliki dasar-dasar pengetahuan agama yang diperolehnya dari kitab suci mereka, Taurat untuk Yahudi dan Injil untuk Nashrani, sebelum mereka akhirnya memeluk Islam. Bahkan, khusus mengenai cerita para nabi dan umat terdahulu, mereka memiliki data-data yang sangat rinci. Maka tidak heran, ketika al Qur’an menuturkan cerita-cerita tersebut, mereka langsung memberikan responnya berdasarkan kitab suci mereka dengan sangat mendetail.

Memang al Qur’an bukan kitab sejarah. Tetapi al Qur’an memuat fakta sejarah, khususnya para nabi dan umat-umat terdahulu. Dari segi penuturannya, menunjukkan bahwa al Qur’an ingin menunjukkan ke-i’jazan-nya. Sedangkan dari segi isinya, semua itu agar dijadikan pelajaran yang berharga bagi umat manusia yang hidup setelahnya.

Pengikut Islam periode pertama, yaitu masa Rasulullah Saw dan para shahabatnya, menyikapi cerita-cerita mereka dengan sangat hati-hati. Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda:

“Kamu jangan membenarkan penuturan Ahl al-Kitab, jangan pula mendustakannya. Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa-apa (kitab) yang diturunkan kepada kami dan (kitab-kitab) yang diturunkan kepadamu.”

Sikap kehati-hatian ini diperintahkan oleh Nabi SAW kepada para shahabatnya, sebab di dalam penuturan Ahl al-Kitab mengandung dua kemungkinan, benar dan salah. Tetapi Nabi SAW juga tidak hitam-putih. Bersikap fleksibel dalam masalah ini, beliau, yang diikuti para shahabatnya, tetap menerima penuturan mereka, sejauh tidak menyangkut akidah dan hukum-hukum syariah. Kebolehan tersebut terbetik dari sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr sebagai berikut:

“Sampaikan apa-apa dariku meskipun itu berupa satu ayat. Kamu tidak apa-apa meriwayatkan penuturan Bani Isra`il (Ahl al-Kitab). Siapa yang mendustakanku dengan sengaja, maka bersiaplah dirinya untuk menempati tempatnya di neraka.”

Hadits di atas melukiskan kepada kita bahwa Nabi SAW membolehkan para shahabatnya (dan umatnya) untuk mengambil tafsir Isra`iliyyat. Tetapi lagi-lagi tetap dengan syarat, tidak boleh berisi riwayat palsu. Jadi harus betul-betul diketahui keshahihannya. Demikian pula halnya dengan kisah romantis Nabi Yusuf As. dan Zulaikha.  Ketika al Qur’an dalam ayat di muka tadi (surat Yusuf ayat 21) disinggung, para Ahl al-Kitab pun sibuk menuturkan alur cerita tersebut dengan detail. Nama Zulaikha yang dilansir sebagai istri dari al Aziz (pejabat tinggi Negeri Mesir saat itu), tersebar luas setelah Ahl al Kitab menuturkannya. Karenanya, di sini kita perlu hati-hati dalam menyikapinya. Apakah benar seperti itu atau hanya bualan mereka yang tidak ada dasarnya. Atau jangan-jangan riwayat tentang hal itu adalah palsu. Sikap hati-hati seperti inilah yang harus kita lakukan ketika menghadapi kisah tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha.

Sedikit sekali kitab tafsir yang menuturkan nama Zulaikha sebagai istri al-Aziz dengan metodologi transmisi. Berdasarkan suatu riwayat, namanya bukan Zulaikha, tetapi Ra’il binti Ra’a`il. Adapun yang lain menuturkan penamaan istri al Aziz tersebut dengan beberapa riwayat yang berbeda. Nama Ra’il didapatkannya dari riwayat Ibnu Ishaq yang dituturkan oleh al-Mawardi. Sedangkan nama Zulaikha tidak disebutkan sumber riwayatnya. Disebutkan nama Zulaikha tersebut bersumber dari riwayat Abu al-Syeikh dari Syu’aib al-Juba’i. Adapun nama Ra’il binti Ra’ayil didapatkannya dari riwayat Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Muhammad bin Ishaq. Selain itu ada juga para mufassir yang menuturkan penamaan istri al Aziz itu, baik dengan Zulaikha atau Ra’il, dalam kitab-kitab tafsir mereka, tetapi tidak menyebutkan sumber periwayatannya.

Ada juga mufassir yang hati-hati dalam menyikapi masalah ini. Lihat saja misalnya al Imam al Fakhr al Razi (w. 604 H). Setelah beliau menyajikan menu cerita beraroma isra`iliyyat seputar identitas orang Mesir yang membeli Yusuf berikut istrinya secara mendetail, dengan tegas beliau mengatakan bahwa riwayat-riwayat di atas tidak ada dasarnya dalam al Qur’an. Begitu juga Hadis yang shahih tidak ada yang menguatkannya. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa penafsiran kitab suci al Qur’an itu tidak disandarkan pada riwayat-riwayat ini. Karenanya, orang yang  berakal harus berhati-hati dalam mengambil riwayat tersebut sebelum  menceritakannya pada orang lain. Begitu juga halnya dengan al-Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam kitabnya al Tafsir al Qayyim. Ketika menafsiri ayat di atas, beliau tidak menyebutkan nama istri al Aziz tersebut. Menurut beliau para ulama yang dijadikan pegangan olehnya tidak ada yang menyebutkan nama wanita itu. Tetapi mereka hanya menuturkan sifat-sifatnya yang buruk sebagaimana al-Qur’an menuturkannya.

Hal senada dilontarkan pula oleh al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, mufassir kontemporer, dalam kitabnya Tafsir al-Manar. Dia mengatakan bahwa al Qur’an tidak menyebutkan secara jelas nama orang Mesir yang membeli Yusuf. Begitu juga nama istrinya. Menurut beliau al Qur’an itu bukan kitab cerita atau sejarah an sich, melainkan di dalamnya terdapat hikmah, nasihat, pelajaran, dan pendidikan akhlak. Karenanya al Qur’an hanya menyebut orang Mesir itu dengan al Aziz. Sebab gelar al Aziz itu nantinya akan disandang oleh Nabi Yusuf setelah diangkat menjadi kepercayaan raja di Mesir.

Terus bagaimana kebenaran cerita ini? Karena penasaran, aku kemudian bertanya kepada Bro Abbas yang lebih menguasai literatur Arab dan kitab-kitab para ulama. Bro Abbas kemudian mengambil dari tafsir Ibn Katsir.

Yang membeli Nabi Yusuf adalah Ithfir atau Qithfir seorang menteri keuangan (Menkeu) Mesir pada masa Raja: Ar-Royyan bin Al-Walid, dan istri Ithfir namanya adalah Ra’el binti Ra’ael, ada yang meriwayatkan juga nama Istri Menkeu ini adalah Zulaikha.

Dan menurut Ibn Asyur dalam Tafisrya At-Tahrir wa Al-Tanwir:

Ra’el adalah sebutan bangsa Yahudi dan Zulaikha adalah sebutan yang tertera di manuskrip Arab klasik.

Lalu Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat 56 surat Yusuf menjelaskan lebih lanjut tentang akhir cerita Nabi Yusuf ketika keluar dari penjara dan terbukti ternyata Nabi Yusuf adalah orang yang jujur.

Maka Nabi Yusuf diangkat menjadi Menkeu oleh Raja ar Rayyan, dan menggantikan posisi al Aziz atau Ithfir yang dulu menjadi dalang penjeblosan Nabi Yusuf ke penjara dengan tuduhan kasus perselingkuhan dengan Zulaikha atau Rael.

Menurut Mujahid (ahli Tafsir dari kalangan shahabat dan riwayatnya diambil Ibnu Jarir at Thobari dalam buku tafsirnya yang paling banyak menjadi refrensi tafsir bil ma’tsur Jamiul Bayan fi Ta’wil al Qur’an,) bahwa Ithfir meninggal dunia beberapa malam setelah dicopot dari MenKeu Mesir oleh Raja Arroyyan. Nah ini nih yang seru: Roman Asmaranya!!!

Lalu Raja ar Rayyan mempunyai inisiatif untuk menikahkan Nabi Yusuf dengan mantan Istri Ithfir (al Aziz) yang benama Rael atau Zulaikha. Lalu mereka (Yusuf dan Zulaikha) bertemu kembali, tapi dalam kesempatan yang berbeda dan sekarang sudah resmi dan halal layaknya pasutri. Yang menarik adalah, diriwayatkan bahwa ketika mereka berdua berada di dalam kamar, terjadilah dialog yang akan menjadi jawaban dari rasa penasaranku tadi. Diriwayatkan Nabi Yusuf membuka pembicaraan dengan berkata: “Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu, wahai Zulaikha”. Lalu diriwayatkan bahwa Zulaikha pun menjawab dengan jawaban yang diplomatis dan romantis.

“Wahai orang yang terpercaya, janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu (cinta ini membunuhku, kata The Nasib) ketika kita bertemu dulu jujur dan akuilah bahwa di matamu akupun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan dan segalanya aku punya, namun ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan manapun termasuk aku, lantas akupun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu wahai Nabi Yusuf”.

Kemudian diriwayatkan para mufassir bahwa ternyata Nabi Yusuf baru menyadari kebenaran ucapan Zulaikha setelah membuktikan bahwa ternyata Zulaikha masih perawan. Mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak laki laki. Jadi begitu ceritanya. Kesimpulannya adalah memang Istri Nabi Yusuf adalah Rael atau Zulaikha.

Dan keduanya memang “Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”, karena memang ayat al Qur’an menyebutkan begitu. Dan hikmahnya tentu model hubungan yang paling mendapatkan barakah adalah jika melalui jalan yang disyariatkan Islam, dan bukan LKMD (Lamaran Keri Metheng Dhisik) .

Wa Allohu a’lam bi ash showab

Ibrahim alaihi as salam tahu betul bahwa perintah Allah harus tetap berjalan. Kendati mendapatkan desakan dari Hajar dan ia bertanya kepada beliau, ‘Di mana engkau meninggalkan kami?’ Ibrahim tidak menjawabnya dan tidak menoleh kepada Hajar. Ketika cahaya Allah kembali ke hati Hajar dan keyakinannya kepada Allah itu lebih kuat dari segala hal, Hajar bertanya kepada Ibrahim, ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu seperti ini?’ Ibrahim menjawab, ‘Ya. Rabbku yang memerintahkan aku bertindak seperti ini.’

Di saat-saat kritis tersebut, Hajar berdiri kemudian berkata kepada Ibrahim dengan keyakinan diri orang yang beriman dan tentram serta kenal Allah, ‘Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkanku.’ Ketakutan pun sirna dari hati Hajar. Kedamaian dan ketentraman turun ke hatinya. Ia kembali ke dekat Baitullah. Ia tahu bahwa dirinya, suaminya dan anaknya adalah wali-wali Allah. Barangsiapa menjadi wali Allah, ia tidak akan takut, sedih, dan lemah. Ia kembali mengulang-ulang perkataannya, ‘Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami. Hai Ibrahim, pergilah engkau kepada apa yang diperintahkan Allah kepadamu.’

Perkataan Hajar di atas adalah perkataan mulia dan pernuh berkah. Itulah yang diucapkan Hajar kepada suaminya, Ibrahim alaihi as salam. Perkataan agung yang mengisyaratkan kejujuran imannya, besarnya keyakinannya kepada Allah, dan tawakkalnya kepada-Nya. Namun tawakkalnya Hajar bukan berarti pasrah dan tidak akan mau berusaha karena sudah mendapatkan jaminan akan pertolongan Allah. Di saat kurma yang ada di kantong dan air yang ada di tempat air yang ditinggalkan Ibrahim habis dan matahari nyaris membakar membuat mereka kehausan, Hajar melihat Gunung Shafa, gunung yang paling dekat dengannya. Ia segera berjalan cepat ke Gunung Shafa, kemudian datang ke lembah sambil berkata, ‘Bagaimana kalau aku melihat-lihat, siapa tahu aku melihat seseorang?’

Hajar tidak melihat siapa-siapa dan tidak mendengar pergerakan apapun. Kemudian ia turun dari atas Shafa. Ketika ia tiba di lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya, kemudian berlari seperti larinya orang yang kelelahan hingga melewati lembah tersebut dan tiba di Gunung Marwa. Ia berdiri di sana dan melihat-lihat, namun ia tidak melihat siapapun. Hajar berlari hingga tujuh kali sambil berharap bisa melihat orang yang bisa menyelematkan dirinya dan anaknya dari mati kehausan.

Cerita tersebut adalah bagaimana Hajar berusaha dalam keadaannya yang kritis dan kalut, dalam kelaparan, kehausan, dan kepanasan. Kendatipun ia tahu bahwa Allah tidak akan menelantarkannya dan anaknya, Ismail, namun ia juga berusaha mencari dan berharap ada yang bisa menyelamatkan dirinya dan anaknya.     Ia tetap berikhtiyar hingga perlindungan Allah datang kepada mereka dengan memancarnya air Zamzam, kedatangan Kabilah Jurhum, dan bentuk-bentuk perlindungan Ilahiyah lainnya yang hanya diketahui Allah saja.

Tawakkal bagi orang Islam memang sangat penting, tapi tawakkal juga harus disertai ikhtiyar untuk merubah dirinya. Tidak lengkap rasanya hidup tanpa berusaha yang terbaik, untuk membuktikan bahwa kita memang pantas hidup untuk mendapatkan nikmat Allah dan menjadi ahsan nas di dunia ini. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa usaha kaum itu untuk merubah nasibnya sendiri?

Akhwat mendahului ikhwan dalam berta’aruf, itu sah-sah saja. Hanya saja, budaya timur ini yang membuat kita salah persepsi tentang hal itu. Rasa malu memang sangat harus dipertahankan dalam kepribadian seorang muslim. Bahkan malu itupun adalah sebagian dari iman, bukan? Tetapi, yang paling penting adalah bisa menempatkan rasa malu itu sendiri. Tidaklah seorang muslim yang tidak dapat berlaku proporsional. Semua orang muslim, harus dapat menempatkan sesuatu dengan benar! Karena, jika kita tidak menempatkan sesuatu dengan benar, maka kita disebut dholim.

Lalu, apakah akhwat yang mendahului ikhwan berta’aruf itu tidak punya rasa malu? Mungkin kita sering mendengar dan membaca tentang riwayat Ibunda kita, Khadijah! Seorang wanita mulia, yang menikahi manusia paling mulia pula. Mungkin kita berpikir bahwa Khadijah adalah seorang wanita mulia, dan kita tidak setara dengan beliau. Maka kita tidak boleh meniru beliau. Atau karena kita menganggap bahwa yang dinikahi oleh Khadijah adalah seorang yang sangat mulia, sehingga kita memakluminya. Sedangkan sekarang, tidak ada lagi ikhwan yang paling sempurna. Maka sudah tertutup pintu wanita untuk menkhitbah duluan. Tidak ada seorangpun yang menyamai Rasulullah. Bahkan, jin sekalipun! Lalu, apakah salah jika seorang akhwat menembak ikhwan duluan! Sebuah pertanyaan besar, mungkin!

Tetapi pada dasarnya, Allah memberikan derajat yang sama kepada seluruh hambanya. Baik wanita maupun pria. Tidak ada perbedaan derajatnya. Yang membedakan hanyalah iman dan ketaqwaannya! Lalu, hubungannya dengan akhwat nembak duluan? Yaitu, wanita sah-sah saja menembak ikhwan lebih dulu. Dan, sudah ada beberapa contoh, selain Khadijah! Tidaklah wanita lebih rendah derajatnya, jika wanita itu menembak ikhwan duluan. Tetapi, kesiapan seorang wanita untuk menembak ikhwan duluan haruslah sangat matang. Di samping kesiapan akhidah dan ilmu, juga harus dikuatkan pada sisi mentalnya.

Dan seandainya, ikhwan tidak menerima tembakan akhwat, maka harus diingat bahwa niat untuk menembak hanya karena Allah. Bukan karena siapa-siapa. Jadi meskipun ikhwan tidak menerima, akhwat tetap bisa berlapang dada. Karena niatnya, hanya untuk Allah! Ya, meskipun kita tahu. bahwa, hati seorang wanita sangatlah sensitif untuk masalah yang satu ini! Tetapi minimal, bahwa rasa malu harus ditempatkan pada tempatnya! Akhwat boleh malu, misalkan saat tembakannya tidak diterima oleh ikhwan. Tetapi hal itu tidak memalukan. Perlu diingat, bahwa hal itu bukanlah perbuatan yang memalukan! Atau bahkan merendahkan derajat wanita itu sendiri.

Jadi derajat wanita, tidak akan pernah luntur meskipun tembakannya meleset. Malu boleh, asal tahu penempatan malu itu! Ada sebuah contoh dari seorang shahabiah. Dinukilkan dari hadits! Seorang wanita datang kepada Rasulullah, shahabiah itu menghibahkan dirinya, untuk dinikahi oleh Rasulullah. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah hanya terdiam, tidak berkata apapun sampai ketiga kalinya. Lalu tiba-tiba seorang pria berkata kepada Rasulullah ‘Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya!’ Rasulullah mengatakan ‘Apa engkau punya sesuatu?’ lalu jawab pria itu ‘Aku tidak memiliki apapun ya Rasulullah!’ lalu Rasulullah bertanya ‘Apakah engkau hafal suatu surat dalam Al Qur’an?’ lalu pria itu pun menjawab ‘Aku hafal ini dan itu!’ lalu Rasulullah, mengatakan ‘pergilah, karena aku telah menikahkanmu dengannya, dengan mahar surat Al Qur’an yang engkau hafal!’

Apakah wanita itu menjadi rendah karena tidak dinikahi oleh rasulullah? Ataukah wanita itu rendah karena telah ditolak Rasulullah? Atau wanita itu rendah karena dinikahi oleh orang yang bukan Rasulullah? Apalagi dinikahi dengan mahar yang hanya hafalan Al Qur’an! Apakah wanita itu menjadi hina? Tidak! Shahabiah itu tetaplah seorang shahabiah. Seorang yang derajatnya tidaklah lebih rendah dari shahabiah-shahabiah lainnya! Ada sebuah contoh. Ada sebuah riwayat juga, yang menyatakan, ada seorang yang menikah dengan mahar sepasang sendal yang dipakai oleh orang itu. Dan Rasulullah bertanya ‘Apakah engkau ridha terhadap diri dan hartamu dengan sepasang sendal?’ si wanita itu menjawab ‘Ya.’ Maka Rasulullah membolehkannya.

Dari kisah-kisah seperti tadi, apakah wanita itu sangat rendah? Hingga dia harus dihargai dengan hanya sepasang sendal! Atau, ada kisah lain yang menyatakan sahabat Rasulullah menikahkan dengan mahar, sebuah cincin besi. Semua ini pernah terjadi! Dan itu, tidak pernah menjadikan rasa malu terhadap para shahabiah-shahabiah.

Ini sebuah contoh yang telah dilakukan oleh generasi Rasulullah! Jadi yang terpenting adalah. Rasa malu itu ditempatkan dengan sebenar-benarnya tempat malu itu sendiri. Jika kita telah melakukan kesalahan terhadap syari’at Islam, baru rasa malu itu timbul. Jika kita melakukan dosa-dosa, baru rasa malu dan derajat yang rendah itu boleh muncul! Tetapi jika, kita tidak melakukan perbuatan yang melanggar syari’at. Maka sesungguhnya, kita tidak perlu merasa malu. Karena itu memang perbuatan yang tidak memalukan!

Hanya karena adat daerah, yang membuat rasa malu itu muncul. Dan persoalan-persoalan yang dianggap tabu dalam adat kita. Maka kita sering terkecoh dengan menempatkan rasa malu itu sendiri! Jadi, jika sebuah perkara yang pada dasarnya tidak dilarang oleh agama. Maka seharusnya, kita tidak usah memperdebatkan atau mencari-cari kesalahan pada hal-hal itu.

Diringkas dari ‘Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan’

Salah satu rubrik favoritku dalam majalah ‘Matan’ adalah Kolom, yang secara rutin diisi oleh Bapak Nur Cholis Huda, wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dalam majalah edisi April 2010, kebetulan tema majalah ‘Matan’ membahas masalah nikah siri, sehingga dalam rubrik Kolom ini juga dibahas tentang nikah siri, lebih khususnya tentang poligami.

Di sini diceritakan tentang makna dan pelaksanaan poligami di kehidupan nyata. Kebanyakan alasan yang dikemukakan adalah melaksanakan sunah Rasul. Padahal kalo mau benar-benar melaksanakan sunah Rasul, harus dipahami pula esensi dan sebab mengapa Rasul beristri lebih dari satu, sehingga bukan hanya mengikuti secara membuta dan mengglobal.

Dalam buku ‘Istri-Istri Para Nabi’ digambarkan betapa manusiawinya kehidupan Rasulullah Muhammad SAW bersama istri-istrinya. Rasulullah tidak berpoligami saat istri pertama beliau, Khadijah binti Khuwailid R.A., masih hidup. Rasulullah SAW hidup bersama Khadijah selama lebih dari 24 tahun, dan selama itu Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain. Sedangkan Khadijah saat menikah dengan Rasulullah berstatus janda, pernah menikah 2 kali, mempunyai 1 anak dengan suami pertamanya, Atiq bin Aidz, dan 2 anak dengan suami keduanya, Abu Halak Malik bin Nabbasy.

Setelah wafatnya Khadijah, Rasulullah kemudian menikahi ‘Aisyah binti Abu Bakar R.A. 2 tahun sebelum hijrah, dan ‘Aisyah dinikahi saat masih gadis. Kemudian Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah R.A., janda as Sakran bin Amr, di tahun yang sama, kemudian menikah dengan Hafshah binti Umar, janda Khunais bin Hudzafah as Sahmi di tahun 2 H, tiga puluh bulan kemudian, Rasulullah menikah dengan Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah R.A., janda ath Thufail bin al Harits, kemudian beliau menikah dengan Ummu Salamah binti Abu Umaiyyah, janda Abu Salamah bin Abdul Asyhal, tahun 4 H, kemudian menikah dengan Zainab binti Jahsy R.A., janda Zaid bin Haritsah, tahun 5 H, dan di tahun 5 H pula, Rasulullah menikahi Juwairiyah binti al Harits al Khuzaiyah R.A., janda Musafi’ bin Shafwan al Mushthaliqi. Pada tahun 6 H, Rasulullah menikahi Raihanah binti Zaid R.A., janda al Hakam, kemudian Rasulullah menikahi Ummu Habibah binti Abu Sufyan R.A., janda Ubaidillah bin Jahsy, pada tahun 7 H, kemudian menikah dengan Shafiyah binti Huyai R.A., janda Salam bin Misykam dan Kinanah bin ar Rabi’, di tahun 7 H pula. Pada tahun 8 H, Rasulullah memperistri Maimunah binti al Harits R.A., janda Abu Ruhm bin Abdul Uzza.

Ada pula Maria al Qibthiyah, istri Rasulullah dari kalangan Kristen Goptic Mesir yang masuk Islam dan dinikahi sekitar tahun 7 H., yang memberi seorang putra bagi Rasulullah dan satu-satunya putra Rasul setelah masa kenabian beliau, yang sayangnya putra beliau ini, Ibrahim, meninggal saat berusia 18 bulan karena sakit parah. Beliau adalah budak Rasulullah yang dihadiahkan oleh al Muqaiqis dari Mesir. Untuk istri Rasul yang satu ini tidak banyak referensi yang bisa aku temukan apakah beliau dinikahi dalam status gadis atau janda, yang jelas beliau sangat membuat istri-istri Rasulullah yang lain cemburu karena kecantikannya. Maria tidak dimasukkan daftar sebagai Ummahat al Mukminin dalam beberapa sumber, padahal beliau mendapatkan penghargaan dan kehormatan yang sama sebagai istri Rasulullah SAW, bahkan mendapatkan gelar yang sama sebagai Ummahat al Mukminin bersama istri-istri Rasulullah yang lain.

Masih ada pula istri-istri Rasul yang lain, yang disebutkan dinikahi Rasulullah tapi tidak beliau gauli, serta beberapa wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasul dan ada pula yang beliau tolak. Menurut ‘Aisyah R.A.: “Rasulullah SAW tidak wafat hingga Allah menghalalkan beliau menikahi wanita-wanita mana saja yang beliau inginkan”. Dan kemudian Rasulullah menikahi wanita-wanita yang sudah menikah sebelumnya (kecuali ‘Aisyah R.A.). Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah tidak menghendaki aku menikah atau dinikahkan kecuali dengan wanita-wanita penghuni surga”.

Maka jika ingin mencontoh Rasulullah SAW, contohlah Rasulullah yang menikahi janda tua yang punya yatim, pejuang yang menjadi janda, terlantar, dan terlunta-lunta di negeri orang karena dicerai suaminya yang murtad. Mereka ini ketika dinikahi Rasulullah sudah tidak muda lagi, bahkan hampir menopause. Dan pernikahan beliau juga selalu dirayakan, tidak diam-diam. Alasan yang layak dipertimbangkan terutama bagi yang akan berpoligami dengan alasan mengikuti sunnah Rasul. Sedangkan yang sudah terlanjur ya sudah, tinggal bersikap adil karena setiap ketidakadilan dalam hal apapun dan dalam bentuk apapun berlawanan dengan Islam.

Ada salah satu hal yang menarik untuk aku cermati dan rasakan dari novel berjudul “Bidadari untuk Ikhwan” karya Fajar Agustanto. Bahwa di luar lingkaran aktivitas dakwah, para ikhwan dan akhwat jarang bergaul dengan komunitas di luar kelompok mereka, sehingga berkesan eksklusif. Padahal sebenarnya, banyak para ikhwan atau akhwat yang canggung jika berkumpul dengan selain mereka, karena orang di luar komunitas mereka cenderung mengesankan mereka itu orang aneh. Meskipun banyak juga ikhwan dan akhwat yang bergaul nyaman dengan lingkungan di luar golongan mereka.

Orang awam cenderung melihat dari ciri-ciri para ikhwan dan akhwat itu. Para ikhwan sering dikesankan dengan pemuda yang berjenggot, bercelana cingkrang di atas mata kaki, kadang tidak lepas dari baju gamisnya, berdahi menghitam, dan ciri-ciri lainnya. Para akhwat juga dicitrakan sebagai para pemudi yang memakai jilbab lebar, burqa, memakai abaya, dan ciri-ciri lain yang sudah melekat pada pikiran masyarakat pada umumnya.

Dan kata akhwat juga sudah menjadi hegomoni seorang yang berjilbab besar. Padahal, akhwat ataupun ikhwan, hanyalah kata bahasa Arab biasa yang berarti wanita atau pria. Jika kata-kata ikhwan dan akhwat itu terus bermakna aktivis dakwah, jangan-jangan malah kata-kata itulah yang membuat dakwah tidak berjalan dengan lancar. Jangan-jangan, kata itulah yang telah mempersulit dakwah. Jangan-jangan, kata itulah yang membuat dikotomi sesama umat Islam. Jangan-jangan, sudah terjadi pembedaan. Jangan-jangan, akan mudah mengakibatkan perpecahan umat. Kemudian pula ada sebutan ikhwit yang kemudian dikenal untuk menyebut seorang wanita yang memakai jilbab kecil (yang sebenarnya tidak layak juga disebut jilbab, sebut saja kerudung atau khimar).

Maka, kemudian aku ikut tersenyum saat tokoh utama dalam novel tersebut menceritakan kepada teman-temannya (saat dia dirawat di rumah sakit), bahwa rata-rata perawat yang ada di rumah sakit itu adalah akhwat, lalu kemudian dia menunjuk seorang perawat yang memakai baju putih, rok pendek dan bertopi kecil putih, yang kemudian disambut senyum teman-temannya. Padahal, yang dikatakannya adalah benar, bahwa perawat itu adalah seorang wanita, yang tentu saja juga bisa disebut akhwat.

Kiriman yang Sama

Salah Kaprah Cinta

Posted: 22 September 2011 in Islam
Tag:,

Kita sadari kerusakan perilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan dan sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan ke surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat di sana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yg baru dalam masyarakat yang kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik ‘asing’ dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan ‘misteri’. Pertanyaan sederhana, “Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, emang kamu cinta sama dia?”, dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’ masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya, emang bisa?”. Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolakbelakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri di atas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakat tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan ke mana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan bumi dengan kalimat Laa Ilaha Illallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Berdoa Jangan Egois

Posted: 15 September 2011 in Islam
Tag:,

Doa siapakah yang paling mustajab? Itulah doa malaikat. Kapankah malaikat berdoa? Saat kita mendoakan orang lain dengan ikhlas, malaikat akan mengamini dan mendoakan agar doa itu kembali pada kita yang mendoakan.

Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari cahaya, tanpa hawa nafsu, selalu bertasbih dan memuji Allah, tanpa pamrih dan keinginan lain. Maka, bisa dikatakan bahwa malaikat adalah makhluk tanpa dosa, dan apa yang mereka doakan kemungkinan besar akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Memang, kita tidak hanya diajarkan untuk berdoa bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Maka redaksi doa yang lebih tepat bukannya ‘aku memohon…’, tapi ‘kami memohon…’. Doa memang bukan hanya milik kita, tapi juga milik saudara-saudara kita.

Jangan lupakan keikhlasan berdoa juga. Doa yang lebih ikhlas akan lebih menunjukkan keinginan kita, dan lebih bagusnya, akan diamini oleh malaikat.

Maka berhati-hatilah dalam mendoakan orang lain. Mendoakan kebaikan bagi orang lain, maka kebaikan juga akan kita dapatkan, demikian juga sebaliknya, mendoakan kejelekan orang lain, maka kejelekan itu bisa kembali kepada kita, karena malaikat juga mengamini doa kita.

Teringat suatu kisah tentang perlombaan anak-anak. Saat sang pemenang lomba mendapatkan hadiahnya, dia ditanya oleh sang pemberi hadiah, ‘Apakah kamu berdoa untuk menang untuk lomba ini?’. Sang anak pemenang itu menjawab, ‘Tidak adil jika aku berdoa untuk kekalahan orang lain, aku hanya berdoa agar aku tidak menangis jika aku kalah’.

Doa bisa dibagi menjadi dua, yaitu doa permintaan kepada Allah dan doa untuk memuji Allah. Dalam sholat kedua doa itu akan selalu kita ucapkan, doa memuji dan doa permintaan yang silih berganti mengiringi bacaan sholat kita. Namun kadang, kita tidak sadar bahwa kita sedang berdoa, dan tidak ada yang lebih menyedihkan, kalau kita meminta sesuatu tapi kita tidak memikirkan permintaan itu.

Dan sekali lagi, jangan lupakan keikhlasan dan kefokusan dalam berdoa. Jangan mendoakan keburukan orang lain yang keburukannya bisa kembali ke si pendoa. Dan selalu ingat bahwa berdoa bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk semua orang. Dan yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doa kita.

Repost dari Blog Sendiri