Posts Tagged ‘telepon seluler’

teknologi mediaDalam beberapa tahun belakangan ini perubahan pemanfaatan teknologi atas kemajuannya dalam media massa sangat terasa keoptimalannya. Misalnya saja, beberapa tahun yang lalu stasiun radio masih sangat mengandalkan atensi pendengarnya dari surat ataupun kartu pos. Saat telepon mulai banyak dipakai, maka mulai dipakailah juga interaksi pendengar melalui telepon on air maupun off air. Ketika kemudian teknologi telepon seluler mulai banyak dipakai masyarakat, maka layanan melalui SMS juga mulai dipakai di radio. Dan yang cukup populer belakangan ini adalah interaksi melalui media jejaring sosial milik stasiun radio tersebut dengan para pendengarnya.

Demikian juga dengan media audio visual, televisi misalnya. Dulu berbagai macam acara seperti kuis ataupun acara lain yang mengajak interaksi pemirsanya masih mengandalkan jasa pos. Kemudian telepon mulai digunakan dalam kegiatan interaktif tersebut, mulai dari telepon standar sampai layanan telepon premium. Dan kemudian memasuki era telepon seluler, SMS juga sangat bisa digunakan untuk mendukungnya. Dan terakhir, mulai merambah menggunakan media jejaring sosial.

Sejak sekitar sedekade terakhir ini, acara yang menggunakan polling menggunakan SMS juga banyak bermunculan di televisi, mulai dari musik, penghargaan, kuis, sampai beberapa ajang pencarian bakat. Sorotan terhadap penggunaan tarif yang digunakan di atas rata-rata tarif SMS biasa, tidak mengurangi minat baik pihak penyelenggara maupun pemirsanya untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Mengesampingkan penilaian dari para juri yang ahli dalam masing-masing bidangnya, polling SMS ini mengajak para pemirsanya untuk ikut aktif dalam menentukan pemenangnya.

Dari sini sebenarnya terlihat bahwa faktor subyektifitas dari pemirsa pengirim SMS berperan dalam menentukan pantas tidaknya seseorang peserta acara tersebut melaju ke tahap selanjutnya. Karena sebagus apapun bakat seseorang, tapi kalau tidak ada pendukung ataupun penggemarnya yang memberikan suara baginya melalui SMS tentu saja dia tidak akan bisa melampaui pencapaian yang lain. Tentunya masing-masing peserta mempunyai penggemar masing-masing, yang berbeda-beda jumlahnya, dan mungkin saja tidak semua dari penggemar tersebut mengikuti polling SMS tersebut.

Untuk melancarkan aliran dukungan melalui SMS tersebut, biasanya para keluarga, kerabat, maupun kelompok komunitas pendukungnya mengadakan kampanye untuk polling tersebut, sehingga kegiatan kampanye tersebut juga bisa menjadi faktor penambah banyaknya SMS yang masuk mendukung peserta tersebut.

Tentu saja, kualitas peserta masih menjadi sebuah kunci yang bisa membuka kran dukungan SMSnya. Para pemirsanya juga pasti bisa menilai (meskipun secara subyektif) bagaimana tampilan keseluruhannya, sehingga tidak ada kesalahan penilaian dikarenakan dukungan SMS yang kurang meskipun penampilannya luar biasa. Dan kalau memang hal tersebut terjadi, juga tidak bisa disalahkan karena pendukung peserta tersebut tidak mengirimkan SMS dukungannya. Mengisi polling, apalagi lewat SMS, tentu saja bukan sebuah keharusan yang harus dipaksakan. Mekanisme ini digunakan untuk memanfaatkan teknologi dan juga melibatkan para pemirsanya sebagai alternatif, serta mulai mengubah paradigma media massa sebagai alat komunikasi searah menjadi alat komunikasi dua arah karena masyarakat bisa berperan serta dalam kegiatannya.

mencuri ide plagiatPada masa sedang menjamurnya motor-motor buatan China di Indonesia, ada sebuah uneg-uneg kecil yang ada dalam pikiranku. Industri motor, bukankah menjadi sebuah industri yang bisa dimasukkan ke dalam industri berskala besar, dilihat dari harganya saja, nggak ada motor baru yang semurah-murahnya di bawah harga lima juta rupiah. Apalagi teknologi motor yang sangat hebat dan sangat membantu mendukung transportasi. Tapi mengapa ya, motor-motor China tersebut menjiplak habis desain-desain motor yang sudah ada (kebanyakan dari motor Jepang), bukankah sayang banget kalo industri berskala besar tapi produknya sama dengan industri lain dalam bidang yang sama?

Aspirasiku tadi sedikit terjawab dengan sebuah wawancara yang aku baca di sebuah tabloid motor, kata seorang staf marketingnya desain yang sama tersebut dimaksudkan agar motor-motor China yang tergolong baru di Indonesia ini bisa masuk dengan mudah ke pangsa pasar Indonesia, karena desainnya udah dikenal secara luas melalui motor-motor Jepang yang udah mapan. Nah, dari sini ternyata uneg-unegku nggak berhenti. Sekali lagi muncul pemikiran, apakah harus mengorbankan desain yang jiplakan tersebut untuk menjual sebuah produk? Mengapa bukan sistem pemasarannya yang dimodif dengan desain-desain baru?

Sekali lagi pemikirannya adalah betapa sayangnya industri berskala besar dengan modal yang tentunya besar pula, hanya menjiplak model desain yang udah ada, tanpa ada inovasi luar dalamnya. Apalagi dengan kualitas produk yang masih sangat diragukan, masyarakat juga masih sangat ragu dengan ketahanlamaan motor-motor tersebut. Kalo dilihat secara sekilas saja, bisa kita lihat kalo motor tersebut emang sekilas mirip dengan motor-motor Jepang. Apalagi stripping dan varian motornya juga meniru motor yang udah ada, hanya sedikit ‘diplesetkan’ biar tetap kelihatan sama. Soal harga yang lebih murah juga seolah menguatkan jargon ‘harga membawa rupa’.

Beberapa tahun ini, Indonesia juga diramaikan dengan ‘meledaknya’ pasar telepon seluler China yang lagi-lagi menawarkan harga yang lebih murah. Dan lagi-lagi pula, desainnya mencontek merk-merk ponsel yang udah lebih dulu mapan. Sedangkan dalamannya, apapun desainnya namun software yang dipakai hampir sama. Maka nggak heran kalo meskipun merk dan desain bisa beda, tapi program tampilan dan pemrosesnya bisa sama. Dan untuk yang ini aku juga udah punya jawaban yang sama dengan motor tadi, desain ponsel merk China dibuat sama dengan ponsel yang udah ada agar lebih mudah menarik konsumen.

Nggak bisa dipungkiri kalo ponsel sebenarnya kalo dipikir-pikir adalah sebuah teknologi hebat, di mana nggak hanya suara yang bisa dikirim, bahkan gambar (baik berhenti maupun bergerak), dokumen, dan macam-macamnya bisa dikirim ke manapun asal yang dikirimi juga punya ponsel dengan spesifikasi yang cocok. Dan hebatnya lagi teknologi secanggih itu bahkan bisa didapatkan dengan harga yang tidak lebih dari lima ratus ribuan. Tapi soal kualitas, pastinya konsumen sendiri yang lebih pantas menilai.

Dari kedua contoh produk di atas unsur menjiplak atau plagiat terlibat di sini. Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator. Apakah produsen ponsel atau motor tadi udah mendapatkan ijin dari kreator awalnya, itu yang aku nggak paham. Yang pasti adalah bahwa kedua benda yang ada serupa tapi nggak sama.

Mungkin ada sebuah ilustrasi dalam menjiplak atau plagiarisme. Misalkan ada orang yang mempublikasikan tarian ‘Gangnam Style’ lengkap beserta lagu aslinya (mungkin juga beserta aksesorisnya), belum bisa dibilang menjiplak. Tapi kalo ada orang yang mempublikasikan tarian tersebut dengan lagu yang berbeda dan diubah tanpa ada ijin sebelumnya dari yang berwenang, maka bisa dikatakan itu menjiplak. Ada contoh lain pada beberapa tahun yang lalu, saat ada dua musisi rebutan sebuah cuplikan score musik dalam lagu yang masing-masing mereka ciptakan, padahal yang aku tahu score musik yang mereka rebutkan itu sebenarnya juga udah ada sebelum lagu yang mereka ciptakan. Jadi para plagiator rebutan benda plagiatnya.

Di tahun 2005 pertama kalinya aku membeli motor. Karena keterbatasan dana maka motor China yang aku sasar. Dan akhirnya aku membeli sebuah motor (lebih tepatnya buatan Taiwan), yang desainnya sama sekali beda dengan motor-motor yang ada dan punya ciri khas tersendiri. Terus terang aku nggak malu pake motor murah asal bermanfaat, tapi aku sangat enggan memakai motor jiplakan.