Arsip untuk April, 2015

Cerita film yang menurutku bikin kesan nggak banget di akhir cerita adalah film yang kisah akhirnya jagoannya kalah, tapi dia nggak mati. Pernah nonton nggak film yang model kaya gini? Seenggaknya ada dua film yang pernah aku tonton, dan akhirnya kaya gitu.

Yang pertama adalah Legionnaire, yang pemeran utamanya adalah Jean Claude van Damme. Ceritanya dia jadi anggota prajurit bayaran, dan di akhir cerita pasukannya kalah, kalo nggak salah semua anggota pasukannya mati, kecuali dia seorang. PHP banget!

Yang kedua adalah The Last Samurai, aktornya Tom Cruise. Waktu itu ada perang antara para samurai dan tentara kekaisaran. Dan pasukan samurai ternyata kalah. Semua prajuritnya terbunuh, kecuali satu orang. Bisa ditebak kan, satu orang ini udah pasti bukan Jean Claude van Damme, tapi Tom Cruise.

Ini kalo yang tinggal satu orang itu Steven Seagal, mungkin ceritanya bakal lain. Kita bisa liat di film-filmnya, berapapun jumlah musuhnya, si Steven Seagal ini pasti menang. Ceritanya emang jadi membosankan, tapi seenggaknya akhirannya beda sama dua film di atas.

Maksudnya itu gini, kenapa gitu ceritanya harus menyisakan satu orang. Ini kan perang, dan harusnya kalo perang, ya udah habisin sekalian pasukannya. Kalopun nggak habis, seenggaknya nyisain sepuluh orang gitu. Ini tinggal satu, nanggung banget. Apalagi yang tersisa itu aktor utamanya.

Mungkin film yang cerita akhirnya musuhnya yang menang itu bikin nyesek ya, tapi itu masih lebih baik dan lebih jelas, ketimbang musuhnya yang menang tapi nyisain satu orang. Soalnya fungsi satu orang ini jadi nggak jelas sesudah perang itu, dia tar jadi pahlawan atau tawanan.

Lain lagi kalo satu orang ini ternyata melarikan diri dari medan perang karena semua temannya udah mati. Kan bisa aja musuhnya udah nggak ngerasa ada yang tersisa, atau penontonnya nggak merasa ada teori konspirasi yang menaungi film ini. Iya kan, karena gara-gara sisa satu orang, orang ini bisa dituduh bersekongkol sama musuhnya.

Tapi di luar sebab-sebab yang nggak penting tadi, itulah yang aku rasakan setelah nonton Legionnaire. Dulu aku nonton pertama kali bareng teman-teman sekolahku, di sebuah persewaan VCD, yang untuk nonton itu kami harus nunggu satu setengah jam karena bilik nontonnya masih penuh. Begitu nonton, abis itu kita rasanya ‘Yah, gitu doang…’, kecewa banget. Coba kalo kedua film tadi digabung, yang tersisa bukan satu orang, tapi dua orang, van Damme sama Tom Cruise. Mereka masih hidup, jadi bisa minta bantuan Steven Seagal gitu.

Tanggal 7 kemaren aku ada tugas kantor ke Gresik. Dan seperti biasanya, aku memilih berangkat ke sana menggunakan motorku sendiri, ketimbang diantar pake kendaraan kantor. Ini akan menjadi perjalanan keduaku mengendarai motor, sedangkan jalan ke sana belum pernah aku tau.

Yang pertama itu pas tugas ke Bojonegoro. Aku ceritakan sedikit tentang perjalanan ke Bojonegoro ini. Karena sama sekali belum pernah ke sana, dengan berbekal aplikasi Google Map aku menelusuri jalur dari Kediri ke Bojonegoro. Tadinya aku mikir perjalanan ini nanti lewat Jombang, Babat, trus belok ke arah barat ke Bojonegoro. Tapi ternyata ada jalur melewati Nganjuk, yang sebenernya berbatasan langsung dengan Bojonegoro.

Dan perjalanan ke Bojonegoro ini menjadi salah satu perjalanan bermotorku yang mengesankan. Bojonegoronya sih biasa aja, tapi perjalanan ke sananya yang bikin nyaman. Melewati gunung, hutan, lembah, jalan berlubang, aspal lancar, pemandangan di sekitarnya, itu yang bikin berkesan.

Kembali tentang perjalanan ke Gresik, aku juga berbekal arah melalui aplikasi Google Map. Setauku kalo ke Gresik itu sejalan dengan ke Surabaya, atau bahkan melewati Surabaya. Ternyata ada jalan alternatif yang lebih ringkas daripada lewat Surabaya, yaitu lewat jalur Mojokerto.

Jalur lewat Mojokerto ini sebenernya juga sering aku lalui kalo bermotor ke Surabaya. Hanya saja di salah satu pertigaan, kalo ke Surabaya aku harus belok kanan, sedangkan arah ke Gresik aku lurus aja. Karena aku belum pernah lewat situ, sekaligus bisa dapat pengalaman, aku lewat jalur alternatif ini.

Gambar dari Google Map sebisa mungkin aku hapalkan, soalnya ribet kalo di tiap tempat harus buka telepon seluler dulu, buka aplikasi, trus liat jalan. Dengan berpatokan pada ke mana habisnya jalan yang ada, trus di mana waktunya belok dan jalur mana yang bisa dipake. Sejauh itu lancar-lancar aja, sampai di suatu perempatan aku salah belok. Ini dikarenakan di gambar aplikasi itu adalah pertigaan, tapi nyatanya itu adalah perempatan, hanya saja yang jalan lurusnya berupa jalan kecil.

Setengah sadar merasa ini adalah jalan yang salah, aku buka lagi aplikasinya. Dan ternyata benar, aku harusnya belok ke kanan, bukan ke kiri. Putar balik, lewat jalan yang tadi lurus. Dengan memperhatikan petunjuk di sekeliling jalan, aku yakin itu jalannya udah benar.

Sampai akhirnya aku memasuki sebuah jalan, nama yang tertulis adalah Jalan Raya Wringin Anom. Kenyataannya jalan ini lebih mirip dengan permukaan bulan daripada jalan raya. Lubangnya di mana-mana, dalam lagi. Kalo diperhatiin, lubangnya bisa buat mandiin bayi. Kalo miara ikan di situ, bisa miara mujair. Dan nggak hanya di satu tempat, ke arah sananya lagi ada lagi kumpulan lubangnya. Sampai-sampai kalo kendaraan lewat situ, bingung milih jalan yang mana, soalnya selebar jalan lubang semua.

Akhirnya setelah lepas dari jalan raya ini, dan memasuki jalur besar menuju Gresik, kelegaan hanya berlangsung sesaat, karena hujan turun. Aku tiba di tempat tujuan dengan kondisi setengah basah, karena meskipun pake jas hujan, derasnya hujan masih masuk dan membasahi pakaianku.

Dari pengalaman inilah aku jadi tau jalan menuju Gresik dari Kediri. Juga jalur-jalur yang bisa dilewati dengan lancar, jalur mana yang jadi alternatif, serta daerah-daerah yang belum pernah aku tau sebelumnya.

Sebagai orang yang sering berada di jalanan, dengan mengendarai motor, aku sering menemui hal-hal yang mungkin aneh, unik, atau malah ngeselin. Salah satu yang ngeselin adalah kalo ketemu ibu-ibu di jalan, mengendarai motor, dia nggak kencang, tapi juga nggak pelan. Kecepatannya konstan banget. Yang bikin kesel itu, dia jalannya nggak di tepi jalan, tapi agak nengah gitu.

Mau nyalip lewat kiri, dari depan kendaraan rame banget. Mau nyalip dari kanan, takutnya tau-tau dia jalan minggir. Dan kalo model kaya gini, mau nyalain klakson juga kadang nggak mempan. Bisa kalah sama omelannya.

Pernah ya dulu aku naik sepeda, di pertigaan tiba-tiba dari kanan ada ibu-ibu, naik sepeda juga. Tanpa tengok-tengok, nggak ngasih tanda, tau-tau dia motong jalur bersepedaku. Kadang di sini mau negor juga segan ya. Khawatirnya pas negor ‘Bu, kasih tanda dulu dong!’, eh tiba-tiba dia bilang ‘Uh, dasar cowok, nggak peka…’.

Kan bikin kesel ya, tar bisa-bisa malah terjadi obrolan nggak penting. Bisa aja tau-tau aku ngejawab ‘Emang saya salah apa Bu?’, si ibu ngejawab ‘Pikir aja sendiri!’. Kan kalo udah gini malah bikin bingung, kalo aku bilang ‘Saya nggak tau Bu.’ Si ibu akhirnya bilang ‘Emang ya, semua cowok sama saja!’

Yang bikin heran di jalanan lagi adalah nemuin orang naik motor, pake jaket tapi dibalik. Ini maksudnya gimana gitu. Aku kira gambar jaket yang bagian belakangnya lebih bagus daripada bagian depannya, pas diliat ternyata bagian belakangnya nggak ada gambarnya, polos gitu.

Padahal para perancang jaket itu udah merancang jaket sedemikian rupa, yang bisa nyaman dan aman buat dipakai. Tapi seolah-olah orang-orang ini menganggap para desainer ini salah, sehingga perlu direvisi lagi. Apalagi orang-orang yang nggak hanya pake kebalik, bagian belakangnya dipake di bagian depan. Yang ekstrim bagian lehernya dipake di bawah.

Ada lagi keunikannya adalah orang yang megang setir menghadap atas. Normalnya orang megang setir kan tangannya menghadap ke bawah, muntir gas juga lebih nyaman. Ini ada orang yang berkebalikan.

Dan yang paling unik dari semua yang aku sebut di atas, tentu aja ketemu ibu-ibu yang naik motor, dengan kecepatan konstan, jalan di tengah, pake jaket terbalik, dan tangannya menghadap ke atas.

Blokir

Posted: 4 April 2015 in Pemikiran
Tag:, ,

Akhir-akhir ini lagi marak berita tentang pemblokiran situs-situs tertentu oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, dengan rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, sebut saja BNPT. Karena situs-situs ini dinilai menyebarkan nilai-nilai radikalisme.

Dan banyak tanggapan bernada protes tentang aksi pemblokiran ini. Aku jadi berpikir-pikir, jangan-jangan suatu ketika blogku ini diblokir juga, karena menyebarkan nilai-nilai radikalisme. Iya, radikalisme dalam berpikir ngaco.

Pernah sih suatu ketika kena blokir, pas ada orang hajatan gitu. Jalan ditutup, mau lewat nggak bisa, harus putar balik. Ini kan jadi menghambat jalur transportasi ya. Masa orang punya hajat harus gitu-gitu amat sih?

Aksi blokir sering aku lakuin buat kontak Facebook. Ada akun yang suka bikin status misuh-misuh, blok. Akun yang suka bikin status ngeluh, blok. Sampe ada akun yang suka bikin status, aku blok juga. Pokoknya kalo ada kontak yang senengnya kirim hal-hal yang nggak mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa gitu, aku blok aja, biar nggak memberatkan pikiran.

Di telepon seluler itu juga ada fasilitas ngeblok nomor, yang kalo nomornya diblok mereka jadi nggak bisa telepon kita, atau SMSnya nggak masuk ke kotak masuk pesan. Aku sering juga pake fasilitas itu. Tapi sayangnya, fasilitas ini nggak bisa ngeblok SMS dari operator. Tiap hari ada aja SMS masuk dari operator. Udah disempat-sempatin buka telepon seluler buat ngecek pesan, karena bunyi ada pesan masuk, eh ternyata malah SMS dari operator.

Harusnya BNPT itu juga menggolongkan hal seperti ini sebagai aksi teror juga. Niatnya operator sih sebenernya promo fitur atau produknya, tapi kan bagi pengguna hal seperti ini seakan-akan bisa jadi teror. Kalo aja di dalam dunia teror itu berlaku juga sistem delik aduan, lama-lama para operator ini bisa diblokir sama Kementerian Komunikasi dan Informasi, gara-gara bikin teror promo SMS. Dan karena operator kita diblokir, kita jadi nggak bisa pake jasa operator. Tar telepon seluler punya kita jadi berfungsi buat alarm sama buat liat jam aja deh.

Hamster

Posted: 2 April 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

hamsterJadi terhitung tahun ini, udah tiga tahun aku miara hamster, hewan imut dan lucu yang tingkat keimutan dan kelucuannya udah ngalahin pemiliknya. Banyak pengalaman pahit dan manis, asem dan asin, yang didapat dari ngerawat mereka.

Pertama beli hamster itu jenis Campbell. Jadi hamster itu juga ada berbagai jenis gitu, yang masing-masing punya karakteristik dan keistimewaan tersendiri. Campbell yang aku beli adalah varian Black Mottled sama Normal Mottled. Tadinya nggak tau nama varian ini, soalnya yang jual bilangnya ini varian panda sama dominan. Sekilas aku liat, emang sih warnanya kaya panda, tapi kok nggak makan bambu ya.

Ngerawat hamster dari nol, dan hanya berbekal sedikit keterangan dari penjualnya, bikin aku harus nyari sumber lain buat ngorek-ngorek data tentang hamster ini. Beruntungnya, tiga tahun yang lalu itu udah ada internet, jadi bisa nyari di situ. Dari internet ini, aku nemuin forum pecinta hamster di Kaskus.

Dari sini, banyak banget yang bisa diambil pelajaran. Dan sebagai pemula, aku nggak mau terlalu lama. Aku harus bisa masuk ke tahap lanjutan sebagai perawat hamster. Makanya, tiap ilmu yang ada langsung aku ambil dan terapkan.

Beralih ke media lain, dapat grup juga di Facebook. Sama kaya sebelumnya, di sini banyak dokumen yang mendukung. Ditambah lagi dapat teman-teman yang nggak pelit ngasih hujatan dan ilmu. Bahkan akhirnya ketemu penghobi hamster juga di Kediri. Ilmu semakin banyak, ngerawat hamster pun bisa lebih baik lagi.

Berawal dari sepasang, nambah-nambah lagi, sampai ada yang beranak juga, sempat menyentuh angka 50 ekor piaraanku. Ada beberapa cerita berdasarkan pengalaman pribadi. Yang pertama adalah nggak semua hal yang dilakukan oleh pedagang atau peternak hamster itu benar. Ada beberapa hal yang malah bikin bahaya bagi hamsternya sendiri. Seperti yang aku alami tadi, bahwa nggak ada yang namanya hamster varian panda atau dominan.

Atau pemberian makanan buat hamsternya. Kalo banyak orang yang seenaknya aja ngasih makan hamster, dengan alasan ‘hemat duit’, ‘hamsternya doyan’, atau ‘biasanya sih gitu’, mestinya nggak semua makanan itu cocok buat hamster. Ada beberapa makanan yang malah jadi racun buat hamster.

Yang berikutnya adalah pengalaman mengembangbiakkan hamster itu. Karena salah-salah, ibu hamster yang melahirkan bisa makan anak-anaknya sendiri. Pernah suatu ketika ada indukan yang ngelahirin, dan aku pisah dengan pejantannya. Anaknya habis dimakan! Sampe dua kali kejadian kaya gitu. Tapi di lahiran yang ketiga, aku sengaja nggak pisahin dengan pejantannya. Anaknya selamat! Padahal udah diniatin, kalo kali ini anaknya habis lagi, nggak bakal aku kawinin lagi.

Dan dari indukan ini, aku jadi tau bahwa pejantan itu nggak akan makan anaknya sendiri, kalo betinanya nggak mulai. Ceritanya waktu itu si betina ngelahirin 5 ekor, tapi kemudian dia mati. Anak-anaknya ikut mati beberapa saat kemudian. Aku baru tau pas ngeliat ke kandangnya, si pejantan ini menyusun anak-anaknya yang udah mati di tempat makannya, seakan-akan bayi-bayi ini masih hidup.

Pengalaman berikutnya saat ada betina yang melahirkan, padahal nggak dicampur sama pejantannya. Jadi untuk mengontrol jumlah populasi, induk akan dipisah saat betinanya melahirkan. Betina yang satu ini aku dapat dalam keadaan hamil, kemudian aku satuin sama pejantan yang aku punya. Nggak berapa lama si betina ini lahiran, dan aku pisah dengan pejantannya. Jadi sebenernya bayi-bayi ini adalah hasil perbuatan pejantan yang lain.

Tapi nggak seberapa lama, sekitar dua minggu berikutnya, betina ini lahiran lagi. Dan kalo diamati, ini adalah hasil perbuatan pejantan yang aku satuin sebelum lahiran itu. Jadi, dari dua pejantan, betina ini mengalami dua kali lahiran, dengan jarak yang nggak jauh beda. Padahal kisaran masa hamil hamsterku ini antara 14 sampai 21 harian gitu.

Sekarang hamster yang ada dalam perawatanku tinggal enam ekor, dari tiga jenis, Campbell, Hybrid, sama Roborovski. Seterusnya aku masih pengen terus merawat hamster, karena kebanyakan penghobi hamster yang sejaman denganku dulu, sekarang udah nggak lagi miara hamster.