Arsip untuk September, 2012

idealismeKalo saja semua pengguna jalan mempunyai idealisme untuk mematuhi semua peraturan dan tanda-tanda lalu lintas, mungkin berada di jalanan adalah tempat yang cukup menyenangkan. Tapi seringnya tidak demikian, masih banyak mendapati bahwa pengguna jalan seenaknya saja menggunakan jalan tanpa memperhatikan peraturan ataupun rambu lalu lintas. Pengguna-pengguna yang seperti ini bisa jadi pembuat celaka terselubung, karena bisa jadi karena ulah mereka akan membahayakan pengguna jalan yang lain.

Idealisme yang dimaksud tentu saja idealisme untuk mematuhi apapun peraturan, apapun tanda, dan apapun kondisinya. Nggak peduli kita sedang buru-buru atau santai, nggak peduli kita sedang mendapat kesempatan atau mendapat kesempitan, kalo udah dengan niat dan kemauan untuk selalu taat berlalu lintas maka kita akan segan untuk melanggarnya. Karena sulitnya mendapatkan idealisme seperti ini, kita telah mendapati jalanan adalah salah satu tempat yang paling berbahaya di dunia ini.

Dan sepertinya rambu-rambu akan terus tetap diremehkan, tulisan-tulisan akan terus tetap tidak dibaca, dan warna-warna lampu akan terus tetap tidak terlihat, tanpa ada kesadaran. Nggak usah nunggu kesadaran semua orang, cukup dimulai dari diri sendiri aja, kalopun nggak ada yang kemudian ngikutin ya nggak apa-apa, yang penting kita udah terhindar dari melakukan hal-hal yang selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan bagi orang lain. Dan tentu pasti kita harus ingat tentang prinsip bahwa semua yang diciptakan dan dikaruniakan Allah kepada kita harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak.

Memang, meskipun nggak semua orang suka dengan mematuhi peraturan dan memiliki idealisme di jalanan, namun bukan berarti bisa seenaknya saja berkendara di jalanan. Jalan adalah fasilitas umum, yang karena itulah menghargai orang lain yang juga sama-sama sedang menggunakan jalan adalah sesuatu yang perlu dijaga. Karena sering kalo di jalan hampir semua orang berprinsip sama bahwa selain diri sendiri, orang lain selalu salah. Apalagi orang yang idealis juga sering dianggap sebagai orang yang lugu, culun, norak, kampungan, dan anggapan-anggapan negatif yang lain. Padahal sebenarnya orang yang idealis itu adalah orang yang mempunyai karakter dan prinsip hidup yang harus dipegang.

Tanpa idealisme di jalan maka seseorang akan terus melakukan kompromi dengan peraturan dan keadaan yang ada, entah karena alasan terburu-buru atau nggak akan ada yang menegur saat melanggar peraturan. Dan yang demikian ini akan terus dan terus berlanjut sampai ke generasi berikutnya tanpa disadari. Dan kalo kita sendiri nggak berusaha memutusnya, maka generasi kita sendiri, yang berada di bawah kita sendiri, para keturunan anak cucu kita, akan terus berada dalam lingkaran ketidakpatuhan. Bukan murni sepenuhnya karena salah mereka, tapi bisa jadi karena kita sendiri enggan merubah diri sendiri.

mencuri ide plagiatPada masa sedang menjamurnya motor-motor buatan China di Indonesia, ada sebuah uneg-uneg kecil yang ada dalam pikiranku. Industri motor, bukankah menjadi sebuah industri yang bisa dimasukkan ke dalam industri berskala besar, dilihat dari harganya saja, nggak ada motor baru yang semurah-murahnya di bawah harga lima juta rupiah. Apalagi teknologi motor yang sangat hebat dan sangat membantu mendukung transportasi. Tapi mengapa ya, motor-motor China tersebut menjiplak habis desain-desain motor yang sudah ada (kebanyakan dari motor Jepang), bukankah sayang banget kalo industri berskala besar tapi produknya sama dengan industri lain dalam bidang yang sama?

Aspirasiku tadi sedikit terjawab dengan sebuah wawancara yang aku baca di sebuah tabloid motor, kata seorang staf marketingnya desain yang sama tersebut dimaksudkan agar motor-motor China yang tergolong baru di Indonesia ini bisa masuk dengan mudah ke pangsa pasar Indonesia, karena desainnya udah dikenal secara luas melalui motor-motor Jepang yang udah mapan. Nah, dari sini ternyata uneg-unegku nggak berhenti. Sekali lagi muncul pemikiran, apakah harus mengorbankan desain yang jiplakan tersebut untuk menjual sebuah produk? Mengapa bukan sistem pemasarannya yang dimodif dengan desain-desain baru?

Sekali lagi pemikirannya adalah betapa sayangnya industri berskala besar dengan modal yang tentunya besar pula, hanya menjiplak model desain yang udah ada, tanpa ada inovasi luar dalamnya. Apalagi dengan kualitas produk yang masih sangat diragukan, masyarakat juga masih sangat ragu dengan ketahanlamaan motor-motor tersebut. Kalo dilihat secara sekilas saja, bisa kita lihat kalo motor tersebut emang sekilas mirip dengan motor-motor Jepang. Apalagi stripping dan varian motornya juga meniru motor yang udah ada, hanya sedikit ‘diplesetkan’ biar tetap kelihatan sama. Soal harga yang lebih murah juga seolah menguatkan jargon ‘harga membawa rupa’.

Beberapa tahun ini, Indonesia juga diramaikan dengan ‘meledaknya’ pasar telepon seluler China yang lagi-lagi menawarkan harga yang lebih murah. Dan lagi-lagi pula, desainnya mencontek merk-merk ponsel yang udah lebih dulu mapan. Sedangkan dalamannya, apapun desainnya namun software yang dipakai hampir sama. Maka nggak heran kalo meskipun merk dan desain bisa beda, tapi program tampilan dan pemrosesnya bisa sama. Dan untuk yang ini aku juga udah punya jawaban yang sama dengan motor tadi, desain ponsel merk China dibuat sama dengan ponsel yang udah ada agar lebih mudah menarik konsumen.

Nggak bisa dipungkiri kalo ponsel sebenarnya kalo dipikir-pikir adalah sebuah teknologi hebat, di mana nggak hanya suara yang bisa dikirim, bahkan gambar (baik berhenti maupun bergerak), dokumen, dan macam-macamnya bisa dikirim ke manapun asal yang dikirimi juga punya ponsel dengan spesifikasi yang cocok. Dan hebatnya lagi teknologi secanggih itu bahkan bisa didapatkan dengan harga yang tidak lebih dari lima ratus ribuan. Tapi soal kualitas, pastinya konsumen sendiri yang lebih pantas menilai.

Dari kedua contoh produk di atas unsur menjiplak atau plagiat terlibat di sini. Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator. Apakah produsen ponsel atau motor tadi udah mendapatkan ijin dari kreator awalnya, itu yang aku nggak paham. Yang pasti adalah bahwa kedua benda yang ada serupa tapi nggak sama.

Mungkin ada sebuah ilustrasi dalam menjiplak atau plagiarisme. Misalkan ada orang yang mempublikasikan tarian ‘Gangnam Style’ lengkap beserta lagu aslinya (mungkin juga beserta aksesorisnya), belum bisa dibilang menjiplak. Tapi kalo ada orang yang mempublikasikan tarian tersebut dengan lagu yang berbeda dan diubah tanpa ada ijin sebelumnya dari yang berwenang, maka bisa dikatakan itu menjiplak. Ada contoh lain pada beberapa tahun yang lalu, saat ada dua musisi rebutan sebuah cuplikan score musik dalam lagu yang masing-masing mereka ciptakan, padahal yang aku tahu score musik yang mereka rebutkan itu sebenarnya juga udah ada sebelum lagu yang mereka ciptakan. Jadi para plagiator rebutan benda plagiatnya.

Di tahun 2005 pertama kalinya aku membeli motor. Karena keterbatasan dana maka motor China yang aku sasar. Dan akhirnya aku membeli sebuah motor (lebih tepatnya buatan Taiwan), yang desainnya sama sekali beda dengan motor-motor yang ada dan punya ciri khas tersendiri. Terus terang aku nggak malu pake motor murah asal bermanfaat, tapi aku sangat enggan memakai motor jiplakan.

jalanSedang melewati sebuah jalan kecil, kemudian melihat sebuah tanda pengalihan jalan di sebuah persimpangan. Ternyata di jalan tersebut ada seorang penduduk yang mengadakan hajatan, yang memerlukan penutupan jalan. Padahal sejak kemarin jalan ini juga udah ditutup, emang berapa hari ya hajatannya. Terpaksalah membelokkan motor melewati jalan kecil, daripada putar balik dengan jalan yang lebih jauh lagi. Belokan pertama, jalan makadam dengan jalur aman yang sempit di kiri kanannya. Belokan kedua, jalan berdebu di sepanjang jalan dan nyaris nggak ada jalur aman buat dilewati. Belokan ketiga, jalan yang cukup aman tapi sedang dibangun makadam di ujung jalannya.

Sering banget menemui hal tersebut selama berkendara, terutama di lingkungan jalan yang lebih kecil. Kalo jalan raya sangat jarang yang demi berhajat harus menutup ruas jalan secara keseluruhan. Meskipun pernah ada tetangga rumah yang pejabat desa menutup jalan propinsi buat ngadain hajatan. Kondisi rumah yang kecil dengan pekarangan dan halaman yang sempit memaksa seseorang akhirnya me’luber’kan pestanya ke jalan. Dan pada akhirnya, pengguna jalanlah yang harus mengalah.

Kalo kondisi jalan yang udah dihapal sih nggak masalah. Masalahnya kalo belum pernah tau ada jalan lain yang bisa dilewati bisa-bisa nyasar-nyasar ke daerah-daerah yang malah nggak ada jalan menuju tempat tujuan. Pernah suatu ketika karena ada hajatan di jalan, harus belok ke jalan lain. Kalo jalannya sih udah tau arahnya, tapi karena penasaran pengen tau barangkali ada jalur lain yang lebih pendek, coba belok ke jalan kecil di tengah sawah. Eh nggak taunya jalan tersebut nggak mengarah ke jalan, tapi mengarah ke pabrik batu bata.

Sering juga saat ada orang yang sedang mengadakan hajatan udah memasang tanda di persimpangan jalan menuju rumahnya, tapi karena banyak pengguna jalan nggak peduli dan merasa ‘yakin’ kalo masih bisa dilewati, akhirnya tanda peringatan tersebut nggak digubris. Akhirnya saat tau kalo jalan benar-benar tertutup total, balik lagi deh cari jalan lain. Kalo masih naik motor, sepeda, atau jalan sih enak aja putar balik, kalo naiknya truk jadi bingung cari cara buat memutar.

Nggak tau juga gimana, tapi yang jelas emang hajatan bagi masyarakat bisa jadi nggak lagi sebagai sebuah peringatan atau perayaan semata, tapi juga bisa sebagai lambang tingkat kemakmuran atau kemampuan seseorang. Meskipun kenyataannya ada yang demi mengadakan hajatan seseorang rela menjual harta benda, atau meminjam uang ke sana ke mari, yang penting hajatan berlangsung. Dan menutup jalan tadi adalah salah satu akibatnya, kalo di salah satu jalan hanya ada satu orang yang hajatan sih nggak masalah, tapi kalo udah berjajar setiap rumah ngadain hajatan, yang repot tentu saja pengguna jalan.

Pengguna jalan sendiri juga berpikiran nggak mau tau siapa yang ngadain hajatan, yang diinginkan cuma mendapat kelancaran dalam berkendara, serta kenyamanan melewati jalanan. Bukan sebuah jalan berbatu atau jalan berdebu yang diinginkan. Namun itu semua juga tergantung pada masing-masing pihak bisa memahami dan menghargai satu sama lain.

buku manualHari Jumat pagi. Agenda hari itu adalah rapat struktural pada jam 9. Tapi mendadak sekitar jam 8 aku mengetahui kalo komputer kasir mengalami masalah. Komputer yang ini emang udah lama bermasalah di motherboardnya dan sebenarnya aku udah siapin motherboard baru buat gantiin, tapi karena setelah aku beli beberapa hari sebelumnya sampai hari itu nggak ada masalah lagi jadi aku tunda pergantiannya.

Jadi mau nggak mau hari itu juga aku harus segera ganti mobo untuk kelancaran pelayanan. Bongkar komponen dari mobo lama yang masih bisa dipakai untuk dipasang di mobo baru. Selesai pasang, kemudian berlanjut ke instalasi kabel. Setelah dirasa cukup kemudian aku pasang mobo ke casing, dan aku coba hidupkan. Hasilnya, CPU hanya menyala tanpa mentransfer data apapun ke monitor. Berarti ada yang belum beres.

Dugaan awalku prosesornya nggak kompatibel sama mobo baru. Tapi aku menyimpulkan sendiri kalo itu bukan penyebab adekuat, karena mobo baru kompatibel dengan proses lama yang Core 2 Duo ini. Memori juga bukan penyebab karena memori baru yang aku beli bersama mobonya udah sangat kompatibel. Dari pemasangan kabel sebelumnya aku tidak menemukan adanya colokan konektor power +12 V yang 4 pin. Semula aku menduga kalo mobo ini nggak pake konektor 4 pin, soalnya aku cari emang nggak ada, jadinya nggak kepikir bahwa itu masalahnya.

Lagi-lagi mobo dilepas dan komponennya dikembalikan ke mobo lama. Komputer bisa nyala dan tampil di monitor. Lepas lagi komponen, balik ke mobo baru, tetap nggak mau nyala. Dalam kondisi kecapekan, kemudian aku memutuskan buat ‘belajar’ dengan membaca buku manualnya. Dari tadi buku manual tergeletak di samping kursi dan cuma aku liat buat nentuin posisi konektor kabel tombol dan lampu. Liat buku dari halaman depan, halaman berikutnya ada gambar penampang mobo. Aku cermati bagian mana yang terlewat. Dan ternyata, dari gambar penampang tersebut aku temukan konektor power +12V 4 pin. Kemudian aku cari di mobonya, ketemu juga, letaknya emang nggak biasa yang sering aku tau, ada di pinggir hampir pojok. Segera aku colokin kabelnya, dicoba, dan berhasillah pergantian mobo hari itu.

Buku manual, sebuah buku yang mungkin ada hampir di setiap barang baru, terutama barang-barang elektronik. Sebuah buku gratis yang sayangnya nggak terlalu sering dibaca. Karena menyertai produknya, tentunya buku ini ‘hanya’ berisi tentang pengetahuan produk tersebut, bukan pengetahuan umum. Tapi tetap saja, buku ini adalah media bantuan buat mengoperasikan produknya.

Hampir sama halnya dengan pernyataan persetujuan yang muncul saat menginstal program-program komputer, buku manual ini hampir selalu terlewatkan. Aku masih ingat dulu pada waktu SMP aku dibelikan sebuah kalkulator scientific yang cukup bagus pada saat itu, aku langsung baca buku manualnya. Tapi ternyata kesan yang aku pahami lebih pada barang tersebut adalah barang yang mudah rusak, sulit perawatannya, dan beberapa hal negatif lain, karena dari halaman awal yang aku baca adalah instruksi peringatan.

Mungkin agak lain dengan buku manual yang menyertai produk telepon seluler. Biasanya karena kita udah mengenal dan terbiasa dengan sebuah merk tertentu yang tiap serinya mempunyai bentuk dan fasilitas yang hampir sama, kita akan melewatkan membaca buku manualnya. Tapi kalo beda merk atau beda fitur dan bentuknya, lebih baik baca buku manualnya dulu sebelum memakai.

Memang bukan sebuah keharusan membaca sebuah buku panduan dari sebuah produk. Tapi tentu saja buku ini bukanlah barang ‘bonus’ yang nggak bermanfaat sama sekali dalam pemakaian produknya. Istilahnya, buku ini adalah ‘ensiklopedia’ pemakaian sebuah produk, jadi ada atau tidak manfaatnya, akan lebih baik kalo disimpan karena bisa jadi suatu saat kita membutuhkannya.