Posts Tagged ‘huruf’

hurufAda dua puluh enam jumlah huruf di dalam susunan alfabet universal. Dari kedua puluh enam ini, ada dua huruf yang jadi sorotanku. Nggak penting sih, tapi kalo dipikir-pikir unik aja. Kedua huruf ini adalah huruf ‘m’ dan ‘w’. Kedua huruf ini juga ada hubungannya, soalnya dengan teknik penulisan tertentu, huruf ‘m’ kalo dibalik bisa jadi huruf ‘w’, juga sebaliknya. Lainnya adalah kedua huruf ini sama-sama memegang rekor huruf paling lebar di antara huruf-huruf yang lain.

Lalu di mana uniknya? Uniknya adalah kenapa juga disebut huruf m, padahal yang lain disebut ‘a’, ‘b’, ‘c’, atau gimana gitu. Dan coba dilihat, huruf ‘w’ kalo dibaca dengan bahasa Inggris jadi ‘double u’, padahal jelas banget bahwa ‘w’ itu lebih cocok kalo dibaca dengan ‘double v’. Mungkin, kalo ditulis menggunakan huruf model latin tegak bersambung, ‘w’ memang berbentuk melengkung, sehingga seperti huruf ‘u’ yang dijejerkan. Dengan cara penulisan jaman dulu, yang menggunakan huruf latin bersambung, mungkin begitulah mengapa lebih disebut ‘double u’ daripada ‘double v’.

Kalo huruf ‘m’ gimana? Hampir sama kaya huruf ‘w’, huruf ‘m’ ini mirip dengan huruf ‘n’ yang dijejerkan. Tapi nggak tau kenapa huruf ‘m’ itu nggak dipanggil dengan ‘double n’, tapi para penemu huruf lebih menyebutnya berbeda, dipanggil ‘em’ gitu aja. Kenapa dibedain, kalo hampir mirip? Kalo dilihat dengan analisa ngacoku, jadi huruf ‘m’ itu urutannya disebut lebih dulu daripada huruf ‘n’. Kalo huruf ‘m’ disebut ‘double n’, terus ‘n’-nya itu apa? Apalagi kalo habis nyebut huruf ‘m’ kemudian berhenti istirahat, atau berhenti karena bingung dengan sebutan huruf ‘en’, huruf ‘n’ yang urutannya habis huruf ‘m’ jadi nggak kesebut, jadinya huruf ‘n’ jadi nggak dikenal.

Kalo huruf ‘w’, dia disebut setelah huruf ‘u’, jadinya saat ‘w’ disebut, ‘u’ sudah dikenal. Jadi nggak terlalu susah nyebut bahwa ‘w’ itu ‘u’ yang didobel, alias ‘double u’. Bahkan kalo ‘w’ disebut sebagai ‘v’ yang didobel sekalipun juga nggak apa-apa, soalnya urutan huruf ‘v’ juga tepat di depan huruf ‘w’. Kecuali kalo ‘w’ disebut dengan ‘double z’, mungkin penyebutan ‘w’ perlu direvisi lagi nih.

Iklan

tulisan tanganKelas 3 adalah tahun terkelamku selama masa sekolah di SD. Banyak faktor yang mengiringi hal tersebut, mulai dari pergantian sistem pembelajaran dari tingkat dasar kelas 1 dan 2 ke tingkat menengah di kelas 3 dan 4, peralihan media menulis dari buku halus ke buku biasa, sampai kepada mulai dipakainya pulpen sebagai pengganti pensil untuk menulis. Beberapa hal tersebut juga ditambah kesiapan mentalku yang saat itu berumur 7 tahun.

Salah satu transformasi yang paling mencolok adalah bentuk tulisanku yang jadi nggak karuan lagi bentuknya. Terbiasa menulis latin di buku halus dengan menggunakan pensil yang relatif sangat mudah dihapus, kemudian memakai pulpen untuk menulis di buku yang garis-garisnya lebih lebar, membuat tulisan latinku tak lagi teratur. Bahkan seakan-akan kerapian tulisan itu nggak pernah nampak di buku apapun.

Di kelas 4 aku mulai mencoba kembali merapikan tulisanku (tanpa bantuan behel). Dan tanpa sengaja, aku menemukan bentuk model tulisan yang menurutku cukup cocok sebagai tulisan tangan khasku. Tapi bentuknya jadi sangat aneh dan berbeda dengan tulisan sebelumnya. Masih dengan dasar tulisan latin tegak bersambung, tapi tidak semua tulisan menyambung. Ada beberapa yang entah kenapa tidak aku sambungkan dengan huruf sebelumnya ataupun berikutnya. Dan yang beda lagi adalah ukuran tulisannya, jadi lebih kecil-kecil.

Beberapa tahun terakhir di SD, kembali ada perubahan di tulisanku. Kembali diulangnya pelajaran menggunakan buku halus di kelas 6 membuat tulisan latinku lebih ‘kental’ dengan sambung-menyambung dan lengkung-melengkung. Menulis seolah menjadi seperti mengukir atau membuat gambar lengkungan, terutama di setiap sambungan antar huruf. Model tulisan seperti ini yang bertahan sampai aku menyelesaikan pendidikan di SD.

Masuk ke SMP kembali dihadapkan dengan transformasi tulisan. Karena di SMP tidak diwajibkan menggunakan huruf tegak bersambung, aku mengubah model tulisan menjadi huruf tegak tanpa sambungan. Agak sulit sih menyesuaikan, mengingat udah selama 6 tahun menggunakan model huruf latin bersambung. Lama kelamaan setelah terbiasa bentuk tulisanku semakin bagus dan luwes, beda dengan kekakuan di awal penggunaannya. Tapi kalo diperhatikan, masih ada yang sama dengan tulisanku di SD, yaitu ukurannya kecil-kecil. Bahkan di akhir sekolah di SMP sempat aku memakai satu baris buku menjadi dua baris tulisan, terutama untuk buku-buku yang berukuran besar, yang barisnya lebih lebar daripada buku biasa.

Masalah ukuran huruf ternyata sedikit ‘bermasalah’ di kelas 1 SMK. Seorang guru Bahasa Inggris di kelas 1 ini mengkritik kekecilan tulisan tanganku sejak pelajaran pertama. Jadilah, setiap kali pelajaran beliau, aku ‘dipaksa’ harus membesarkan ukuran hurufku. Tapi tentu saja, hanya di pelajaran beliau aku memakai tulisan yang agak besar, di pelajaran yang lain kembali lagi ke selera asal. Ciri khas tulisan sejak kelas 3 SMP, yaitu huruf yang menggantung di baris buku, juga masih aku pakai di SMK.

Dan kemungkinan sejak masa di SMK ini, sampai sekarang model bentuk tulisan tanganku tidak berubah. Kalaupun sekarang ada yang berubah tidak kelihatan jauh bedanya dengan tulisanku semasa SMK. Bentuk tulisan yang kecil, terlihat tegak dan terkesan tergores di akhir huruf, serta beberapa lengkungan kecil dan juga kurang rapi kalau menulis secara tergesa-gesa.

aksara jawaTernyata, meskipun menjadi bahasa percakapan dan komunikasi sehari-hari, menulis blog dengan menggunakan bahasa Jawa itu tidak semudah membalik telapak kaki. Terbukti dari beberapa posting blog yang aku buat menggunakan bahasa Jawa, ternyata dalam penyusunannya malah memakai tulisan bahasa Indonesia sebagai dasar pembuatannya. Padahal bahasa yang dipakai juga bukan bahasa Jawa yang halus, menggunakan bahasa sehari-hari saja, tapi tetap saja kesulitan mencari kata-kata yang tepat.

Maklumlah, bahasa Jawa mempunyai kata-kata yang bisa jadi berbeda dari satu daerah ke daerah yang lain bahkan untuk menyebutkan suatu hal yang sama. Terlebih lagi bahasa percakapan sudah mengalami penyesuaian dan adaptasi yang sangat luar biasa, bisa berbeda jauh dari bahasa pembentuk aslinya. Terlebih lagi, bahasa Jawa juga banyak menggunakan vokal ‘a’ yang tidak tegas, melainkan ‘a’ yang mengarah ke vokal ‘o’. Sedangkan dalam tulisan dasarnya, kata tersebut ditulis dengan huruf vokal ‘a’.

Selain itu, banyak lagi aksara yang tidak sama antara penulisan dan pengucapannya. Bahkan mungkin banyak orang Jawa sendiri masih salah dalam menuliskannya, meskipun benar dalam mengucapkannya. Patokan kata-kata dalam bahasa Jawa sendiri memang berdasar pada aksara Jawa, yang bila dibaca bisa menimbulkan pengertian yang lebih tegas dalam perbedaan pengucapan dan penulisan, misalkan pada huruf ‘d’ dan ‘dh’, atau ‘t’ dan ‘th’. Terutama untuk bahasa Jawa krama alus yang asli, masih sangat cocok bila ditulis dengan aksara Jawa tersebut. Terlebih lagi, banyak kosakata bahasa Jawa yang tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Alhamdulillah udah punya blog dengan memakai bahasa Jawa. Bukan bahasa Jawa halus sih, karena aku juga tidak terlalu hapal bahasa halus dari masing-masing katanya, lebih ke bahasa percakapan sehari-hari. Soal pembaca, mungkin akan banyak yang tidak paham sehingga tidak terlalu banyak dikunjungi orang, tapi setidaknya aku punya cara bagaimana agar bahasa Jawa tidak terlupakan. Banyak sekali terutama dari generasi muda sekarang ini yang tidak tahu bagaimana perbedaan bahasa Jawa untuk percakapan dengan orang tua, dengan teman sebaya, dan juga dengan generasi di bawahnya. Apalagi dengan bahasa Jawa halus. Orang-orang tua sekarang lebih suka mendidik anak-anaknya dengan bahasa Indonesia, melupakan bahasa Jawanya, sehingga pendidikan bahasa Jawa halus menjadi terlupakan pula.