Arsip untuk Desember, 2013

ceramahEntah kenapa, sebuah ceramah yang disampaikan oleh seseorang berdasarkan tulisan orang lain itu bagiku kesannya seperti ‘roh’ dari tulisan ini nggak tersampaikan. Misalnya gini, khotbah Jumat sederhananya. Seorang khotib yang kalo dia menyampaikan khotbahnya dengan membaca sebuah artikel hikmah hasil karya orang lain yang dimuat di majalah, yang menurutnya menarik, belum tentu bisa dibuat menarik dengan menyajikannya kepada jamaah sholat Jumat. Bisa aja penyajian itu jadi berkesan membosankan, entah karena khotibnya terlalu sibuk membaca sehingga kandungan maknanya tidak sampai kepada jamaah, atau karena bahasa artikelnya terlalu tinggi sehingga tidak bisa dimengerti oleh jamaah.

Mungkin ada juga yang membuat artikel itu menjadi sangat menarik untuk dibaca. Tapi yang perlu diperhatikan adalah, dengan materi yang dibaca dan disajikan kepada orang lain, apakah penyajinya punya pemahaman yang sama dengan pembuat materi itu? Kalo iya, apakah penyajinya menguasai materi itu? Kalo iya, apakah bahasa materinya bisa diterima oleh para pendengarnya? Kalo iya, apakah transfer pola pikir penulisnya bisa sampai kepada pendengarnya melalui penyaji materi tadi? Kalo iya, ya udah….

Intinya adalah, dari sebuah materi yang disampaikan, dalam bentuk apapun istilahnya, setidaknya ada sebuah atau lebih makna dan pemahaman yang bisa dibawa pulang oleh pendengarnya. Jadi menghadiri sebuah kajian misalnya, tidak jadi sebuah hal yang percuma karena ada oleh-oleh berupa ilmu dan pemahaman baru yang diambil dari materi tersebut. Jangan sampai karena asal menyampaikan materi dari literatur tertentu, penyaji gagal memberikan pola pikir yang sama saat dia membaca sebelumnya.

Karena mungkin sering banget kita menghadiri sebuah acara yang inti penyajiannya nggak nyampai ke kita. Alih-alih untuk dibawa pulang sebagai pokok ide, jangan-jangan pas perjalanan pulang aja itu materi udah lupa gimana. Ini sebenarnya nggak jauh beda dengan kita ngomong ke penyajinya “Pak, gimana kalo daripada Bapak capek baca tulisan itu, mending kita pinjam buat difotokopi?”, karena perasaan kalo mendengarkan orang membaca itu jadi membosankan. Yang baca asyik-asyik aja, yang denger nggak ngerti blas, dan parahnya pendengarnya menghadapi situasi yang mana kondisi seperti itu nggak bisa dihindari dan ditinggalkan.

Seperti tulisanku tentang level-levelan yang sebelumnya, ya gitu lah adanya. Apalagi kalo informasi dari penyajian tersebut nggak dicatat, hanya didengarkan. Terlebih lagi, kalo niat nyatet misalnya, kita bingung bagian mana yang bisa dicatet, karena mungkin materinya nggak berinti dan nggak nyampai maksud dan tujuannya.

Excel-iconMicrosoft Excel dan aplikasi spreadsheet sejenisnya adalah aplikasi dasar yang standar ada di setiap paket program aplikasi Office. Menariknya, aplikasi ini menyertakan berbagai fitur yang sangat membantu dalam mengerjakan berbagai keperluan dokumen. Tapi seiring dengan banyaknya fitur dan pengaturannya, ini jadi menyulitkan pengguna komputer konvensional. Yang dimaksud pengguna komputer konvensional adalah para pemakai yang biasanya memakai komputer yang berada di jalan yang lurus, hanya menggunakan komputer untuk mengetik tanpa peduli dengan pengaturan dan format-formatnya serta kecanggihan fitur dan kemudahannya.

Jadi gini, ceritanya sering dengar orang ngomong kalo bikin dokumen pake Excel itu susah. Emang susah sih, tapi itu berlaku bagi yang nggak mau kesusahan dan nggak mau belajar. Bayangin aja, di Excel itu udah ada fasilitas buat berhitung, bisa bikin penjumlahan dalam sekali ketik, eh masih ada aja yang udah bikin tabel penjualan, begitu ngisiin totalnya pake kalkulator. Ini kan sebenarnya bisa dibilang kita mem-PHP-in Excel. Kalo si Excel ini bisa mengeluh, mungkin dia akan menyesal diciptakan dalam keadaan yang sangat canggih, soalnya percuma aja canggih tapi nggak dimanfaatin.

Masalahnya adalah, tau pengaturan dan bisa bikin dokumen yang bagus di Excel itu adalah anugerah, tapi nggak selalu bikin mudah. Contohnya gini, dalam satu kantor yang berisi sepuluh orang, cuma ada satu orang yang menguasai Excel (mungkin setelah pertarungan tiga setengah tahun baru bisa menaklukkan Excel), yang sembilannya bisa tapi nggak tau gimana cara ngaturnya. Ini udah pasti yang satu ini jadi tempat berkeluh kesah dari sembilan orang yang lain. Bikin dokumen hampir selesai, nggak bisa ngaturnya, kasih ke satu orang tadi. Dokumennya revisi, mau dicetak, kasih lagi ke orang tadi. Satu sel penuh tulisan hilang, bingung, kasih lagi ke orang ini.

Sebenernya ini bukan masalah mau atau nggak mau dimintai tolong. Ini adalah masalah belajar. Udah tau sembilan orang ini nggak bisa Excel, mereka nggak mau cari cara gimana bisa ngatur sendiri dokumennya, itu karena masih ada satu orang ini yang bisa. Terus nanti gimana kalo satu orang ini ternyata lagi nggak ada, atau tugas ke luar, atau cuti beberapa bulan gitu, apa mau nunggu datangnya? Di sinilah harusnya proses belajar itu muncul. Awalnya bisa kan minta tolong ke satu orang ini, terus dari cara kerjanya orang ini yang minta tolong tadi merhatiin terus (caranya, bukan orangnya!). Terus abis itu coba-coba sendiri dan akhirnya bisa.

Yang susahnya adalah, minta tolong dikerjain dokumennya, kasih ke satu orang ini, eh dianya malah ngerjain tugas lain dengan alasan tugasnya harus selesai. Ini kan nggak adil, emang satu orang ini nggak ada tugas lain apa? Atau minta tolong terus dianya sendiri sibuk mainin HP, atau ngerumpi sama temen yang lain. Emang yang satu ini nggak butuh ngerumpi juga apa gimana?

Tapi sekali lagi, bisa bikin dokumen di Excel dengan tampilan yang indah dan menggunakan fitur-fiturnya adalah sebuah anugerah tersendiri. Kalo boleh ngitung pahala-pahalaan, nolong orang itu emang berpahala, tapi bikin orang lain pinter itu kan juga pahala lagi. Dan belajar biar jadi lebih pinter lagi, itu kan juga pahala tersendiri. Bergantung sama orang lain terus menerus dalam hal-hal yang sebenarnya kecil dan harusnya bisa diselesaikan sendiri itu nggak enak lo, terutama kalo nggak setiap saat kita bisa ketemu orang itu.

Persepsi

Posted: 29 Desember 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

persepsiMisalnya suatu ketika kita dapat luka, tempatnya di pojokan lutut a.k.a dengkul. Sebenarnya bingung juga, ini lutut pojokannya di mana ya, tapi ya biarlah, wong ini juga permisalan aja. Terus karena tempat lukanya ini strategis, mudah tersenggol apa aja, kita jadi punya pemikiran “Ini luka udah dihati-hati biar nggak kena senggol tapi kok tetep kena aja. Emang ya yang dihati-hati itu malah lebih sering kenanya…”.

Atau suatu ketika kita kena sariawan, tempatnya juga strategis, pastinya di mulut sih. Terus suatu saat sariawannya kegigit sendiri pas lagi makan. Sambil meringis, kita akan berpikir, “Kenapa ya sariawan itu malah sering tergigit sendiri?”.

Dari kedua contoh ini sebenarnya hanya persepsi kita aja kenapa kok bisa gitu. Sekarang misalnya dibalik, lutut kita nggak kenapa-kenapa, nggak ada lukanya, pernah nggak kita merhatiin berapa kali lutut kita ini tersenggol dalam sehari? Atau saat mulut kita semanis madu, tanpa ada sariawan, pernah nggak ngerasa berapa kali mulut kena gigi kita dalam waktu makan? Nggak kan? Itu karena kita nggak ngerasain sakitnya dan nggak menganggap bahwa itu adalah hal yang berbahaya.

Kalo ada luka kaya tadi, kesenggol dikit aja kan rasanya sakit gitu. Itulah yang bikin kita ngerasa semua hal yang kita jaga bener-bener pasti ada ujiannya. Yang nggak kita jaga, kaya lutut yang nggak terluka tadi, mau disenggol apa aja (asal nggak disenggol kendaraan di jalan) juga woles aja, nggak apa-apa terutama kalo kesenggolnya pelan aja nggak keras-keras. Kalo ada luka, misalnya kesenggol pelan aja kena bantal, udah bisa bikin kita nyumpahin agar bantal itu menjadi bantal untuk selamanya.

Bis Tingkat

Posted: 28 Desember 2013 in Pengalaman
Tag:, , ,

bis tingkatAku termasuk beruntung masih sempat merasakan naik bis tingkat. Waktu itu aku diajak orangtuaku ke Surabaya, dan waktu itu bis tingkat masih beroperasi di Surabaya. Sebelumnya bis tingkat aku kenal hanya dari mainan kecil yang dibelikan oleh nenekku. Dari mainan ini aku memperhatikan detail bis mulai dari luarnya sampai dalamnya.

Lalu bagaimana pengalamanku untuk pertama kali (dan terakhir sampai sekarang) naik bis tingkat? Cukup menyenangkan, terutama karena aku duduk di lantai dua. Awalnya menegangkan, soalnya begitu naik ke lantai dua yang aku liat bis ini nggak ada sopirnya. Terus begitu duduk ada orang yang bagiin permen ke semua penumpang, tapi nggak lama kemudian permennya diambil lagi. Ini kayanya orangnya suka PHP-in orang nih, cuma pamer-pamer permen doang gitu. Tapi ketegangan itu ilang begitu perjalanan udah agak lama. Tapi nggak lama kemudian, saat aku mulai menikmati perjalanan, eh udah sampai ke tujuan.

Setauku sekarang udah nggak ada lagi ya bis tingkat di Indonesia sebagai transportasi umum dalam kota gitu dengan trayek-trayek tertentu. Ada sih yang di Solo, tapi hanya difungsikan sebagai bis wisata aja, pemberhentiannya ya ke tempat-tempat wisata aja. Nggak tau kenapa, apa karena pemeliharaannya sulit, atau karena terlalu tinggi. Atau karena peminatnya berkurang, atau teknologi dan ergonominya nggak sesuai dengan tata kota.

Emang ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari bis tingkat ini. Kelebihannya di antaranya hemat pemakaian ruang jalan. Bayangkan aja kalo jalanan sekarang ini dipenuhi dengan bis sebagai sarana angkutan transportasi masal. Kalo bis tingkat dipakai, jumlah bis biasa bisa berkurang karena satu bis tingkat kan bisa ngewakilin dua bis biasa. Dengan demikian otomatis kan pemakaian ruang jalan, terutama buat bis yang suka kebut-kebutan di jalan itu bisa dihemat. Selain itu emang bis tingkat bisa dijadikan daya tarik wisata tersendiri. Dengan naik bis tingkat, terutama yang di atas, bisa menjangkau daya pandang yang lebih luas daripada naik bis biasa, sehingga ada sudut pandang yang berbeda.

Dari beberapa kelebihannya, juga ada kelemahannya. Salah satunya adalah bis tingkat ini hanya cocok dijalankan di jalan mendatar, mungkin lebih sesuai hanya dijadikan kendaraan transportasi umum dalam kota. Itupun juga nggak semua jalan bisa dilewati karena terbatas pada batasan tinggi dan kelandaian jalannya. Lagian, untuk penumpang yang lebih nyaman naik bis dengan melihat sopirnya, kalo dia naik bis tingkat dan dapat tempat di atas bisa-bisa dia akan merasakan ketidaknyamanan.

Mr. Bean

Posted: 27 Desember 2013 in Pemikiran
Tag:, , , ,

Mr. BeanPasti semua udah pada tau kan serial “Mr. Bean” yang disiarin di tivi itu, bahkan mungkin sering nonton. Mr. Bean adalah serial komedi televisi dari Inggris yang dibintangi oleh Rowan Atkinson. Program ini diproduksi oleh Tiger Television, yang kemudian berganti nama menjadi Tiger Aspect (perusahaan di mana Atkinson menanam sahamnya), untuk Thames Television dan awalnya hanya disiarkan di ITV. Di Britania Raya, acara ini sering disiarkan oleh PBS selama beberapa tahun dan sekarang telah tersedia dalam bentuk DVD.

Dalam serial ini Atkinson berperan menjadi seorang lelaki lucu, egois, dan banyak akal yang sering menghadapi situasi konyol karena ulah dan perbuatannya. Dalam kesehariannya, Mr. Bean mengendarai sebuah Mini Cooper (pada episode awal berwarna jingga keluaran tahun 1969, tetapi lama kelamaan berganti menjadi keluaran 1977 dengan warna hijau jeruk nipis dan kap mesin berwarna hitam).

Adegan pembuka acara ini (digunakan mulai dari episode kedua dan seterusnya) menggambarkan Mr. Bean jatuh dari langit dalam sinaran cahaya. Banyak teori mengenai arti dari adegan ini, mulai dari kemungkinan Mr. Bean adalah alien, malaikat yang dikirim ke dunia, atau manusia yang telah mengalami penculikan oleh alien (abduction) yang kemudian mengalami berbagai kejadian aneh. Tetapi para produser serial ini berpendapat bahwa adegan tersebut bermaksud menunjukkan bahwa Mr. Bean adalah manusia biasa yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian (tetapi serial animasinya memberikan artian yang lebih jelas). Apapun arti dari adegan itu, yang jelas Mr. Bean adalah karakter yang tampak sendirian di dunia, kekanakan, dan kadang terlihat tidak memahami aspek-aspek dasar yang bekerja di dunia.

Dia seolah punya dunia sendiri yang berbeda dengan orang lain, bahkan orang-orang di sekelilingnya. Dia punya boneka beruang yang seolah “hidup” dan bisa diajak ngomong. Atau dia begitu terlihat emosional saat melihat mobil yang mirip dengan mobilnya sendiri. Nggak bisa dipungkiri bahwa tingkah lakunya yang terkesan konyol itu bisa mengundang tawa buat penontonnya. Terutama yang paling diingat adalah ekspresi-ekspresi lucunya di berbagai situasi. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari film ini. Terutama adalah bahwa acara ini mempertunjukkan bagaimana Mr. Bean berusaha melakukan kegiatan sederhana, seperti pergi berenang, mendekorasi apartemennya, atau mengerjakan ujian.

Tapi di balik hal-hal yang dilakukan secara sederhana ini, Mr. Bean itu selalu punya tujuan. Misalkan pada saat mengerjakan ujian, dia punya tujuan untuk bisa lulus ujian tersebut. Yang bikin konyol tentu aja gimana dia mencapai tujuan tersebut. Kelucuan biasanya muncul ketika ia menerapkan solusinya sendiri terhadap berbagai masalah tanpa menghiraukan orang lain. Banyak saat di mana Mr. Bean akhirnya dapat mencapai tujuannya tersebut, tapi sering juga usahanya berakhir dengan kekonyolan.

Sebenarnya sayang ya dengan tayangan Mr. Bean yang ada di tivi sekarang ini. Dulu serial Mr. Bean selalu punya jam tayang sendiri di jam-jam hiburan utama. Sekarang, entah karena para pemirsa tivi udah terlalu hapal dengan tiap-tiap episodenya atau gimana, seolah-olah kesannya kalo Mr. Bean tayang di tivi itu hanya sebagai pelengkap. Mungkin karena stasiun tivi udah kehabisan acara buat ditayangin, terus ditayangin aja Mr. Bean di waktu itu.

Referensi Ide

Posting Bareng

Posted: 26 Desember 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

internet urlSampai tulisan ini aku bikin, aku udah punya 261 posting di blog ini. Bagiku ini terasa cukup banyak, tapi nggak terlalu banyak. Gimana, bingung kan? Maksudnya gini, dengan 261 tulisan yang udah aku posting di blog ini, suatu saat kalo aku bikin blog lagi dan repost dari blog ini, postingnya bisa rajin tiap hari, maka dalam waktu nggak nyampe satu tahun semua tulisan udah selesai di repost.

Tapi itu sebenarnya logika mandeg, dalam artian sementara aku punya 261 tulisan di blog ini. Tapi ini kan nggak menutup kemungkinan aku nambah tulisan lagi di tulisan ini. Sehingga saat blog baru yang aku repost di situ udah nyampe 261 tulisan terposting, di blog ini udah lebih dari itu, dan kalo lancar aku udah punya tambahan 261 tulisan lagi untuk bisa direpost (aamiin…).

Ini sebenarnya pernah kejadian dulu blog pertamaku aku bikin posting lebih dari 400 postingan, kombinasi antara tulisan, foto, musik, dan video. Saat beberapa postingan yang masih bisa dipake lagi dari situ aku repost ke blog ini, dan kemudian nggak ada lagi tulisan lagi yang bisa au posting ke sini, akhirnya aku pake sistem ‘posting bareng’, artinya apa yang aku posting di blog pertamaku itu aku posting juga ke sini. Meskipun sebenarnya blog yang pertama dengan blogku yang ini beda konsepnya, tapi nyatanya bisa jalan bareng juga. Meskipun mereka hanya sebatas jalan bareng, nggak pernah jadian, karena blog yang pertama keburu mati.

Intinya gini, apapun tulisan yang ada di blog ini, sebenarnya akan bisa aku repost di blogku yang lain bila memungkinkan. Dipilihin mana tulisan yang masih bisa berlaku pada waktu itu, atau tulisan-tulisan yang nggak cemen-cemen amat gitu. Sebenarnya setiap blogku punya konsep masing-masing. Kaya ada sebuah blogku yang juga memposting tulisan dalam bahasa Inggris, tapi yang berbahasa Indonesia juga bisa masuk ke situ. Sedangkan blog yang pake bahasa Jawa emang aku khususkan untuk tulisan berbahasa Jawa aja, nggak akan aku campurin dengan tulisan berbahasa lain.

Jadi kalo pernah nemuin ada blog lain dan ada tercantum nama Chuin5 sebagai identitasnya, bisa jadi itu juga blogku. Kalo nemuin ada tulisan-tulisan yang sama dengan yang ada di blog ini, nggak perlu heran, karena aku repost, atau posting bareng.

Pola Film

Posted: 25 Desember 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

rol filmSebenarnya hal yang dibahas dan ditampilkan di sebuah film itu adalah “MASALAH”. Kita bisa liat kan, di film itu, entah itu berupa sinema elektronik (sinetron) atau sinema layar lebar, polanya adalah ditampilkan masalah, kemudian tokoh utamanya mengatasi masalah, masalah selesai, dan tokoh utamanya menang, akhirnya bahagia. Ada sih beberapa film yang berakhir dengan tokoh utamanya nggak bahagia, tapi seenggaknya filmnya selesai, tamat, nggak nyambung-nyambung lagi, itu bisa jadi kebahagiaan bagi para penontonnya.

Tapi sekarang coba kita perhatikan, ada sinetron-sinetron berseri yang panjangnya bahkan bisa sampai seribu episode, padahal kalo sinetron itu ditayangkan setiap hari tanpa henti, dengan durasi sekitar satu jam, maka selama sekitar tiga tahunan sinetron itu tayang, bahkan belum tamat juga. Ini kan bisa bikin pertanyaan, sebenarnya seberat apa sih masalah yang dihadapi tokoh utama di sinetron itu? Kok ada ya masalah yang dihadapi sampai tiga tahun belum selesai-selesai. Padahal kita liat orang-orang Indonesia sekarang ini. Hujan gerimis sehari aja udah galaunya bukan main. Giliran besoknya panas banget ngeluhnya minta ampun. Yang kaya gini udah jelas nggak masuk kriteria pola sinetron tadi.

Dan lagi, tiga tahun sinetron nggak tamat-tamat. Kalo dengan pola tadi, tokoh utamanya bahagia di akhir cerita, ini berarti selama tiga tahun tokoh utama ini nggak bahagia, ada aja masalahnya. Ini jangan-jangan tar berakhirnya cerita gara-gara tokoh jahatnya bosan bikin masalah, terus dia mikir ‘Ah, udahan aja lah masalahnya, udah tiga tahun nih, bosan jahat terus!’. Kalo tokoh jahatnya kaya gini ini sebenarnya cerita selanjutnya udah bisa ketebak, bukannya tamat, malah tokoh jahat lainnya muncul lagi. Dia kemudian meneruskan “tradisi jahat tiga tahunan” yang dari tokoh jahat sebelumnya.

Nggak, gini lo sebenernya, apa sih manfaat dari kita, para pemirsa ini, dengan menonton sinetron yang sampai seribu episode itu? Kita lo malah terlarut dalam cerita, sehingga jangan-jangan kita terlalu menghayati peran dalam sinetron itu. Iya kalo perannya yang jadi si baik, yang ditindas selama tiga tahun woles-woles aja. Coba kalo perannya ternyata jadi si jahat, tiap hari bikin masalah nggak abis-abis, bahkan sampai tiga tahun belum selesai. Mau jadi apa hidupnya?

Kalo dulu ada kontroversi tentang tayangan-tayangan kartun kaya Pokemon atau Spongebob Squarepants karena membahayakan yang nonton, harusnya juga ada dong larangan menayangkan sinetron yang panjang-panjang episodenya. Harusnya aturan panjangnya dibatasi, misalnya kalo yang tayang setiap hari kalo bisa tiga bulan udah selesai dan yang tayang seminggu sekali enam bulan udah tamat. Kalo gitu kan abis tamat ada yang lain ngantri tayang, toh yang main kan kebanyakan ya pemainnya itu-itu aja.

Kaya FTV itu sebenarnya bagus, tapi alurnya mudah ketebak. Polanya itu nggak jauh-jauh dari ketemu, berantem, naksir, terus jadian. Pemainnya juga sebenarnya itu-itu terus. Tapi bagusnya nggak ada FTV yang nyampe tayang seribu episode. Ini kalo FTV sampai seribu episode, kasian yang mau naksir ini, mungkin episode ketemunya bisa satu episode selesai, tar berantemnya 950 episode berikutnya, 48 episode berikutnya diisi dengan acara taksir-taksiran, terus episode terakhirnya jadian, tamat!

fanti-nina-boboSebenarnya bingung dengan lagu ini, Nina Bobo. Yang jadi kebingungan adalah kenapa harus Nina aja yang bobo, gimana dengan yang lain? Karena penasaran kan aku jadi browsing cari-cari tau gimana sejarah lagu ini. Eh malah yang ketemu cerita-cerita mistis di balik itu. Tapi di sini aku nggak akan ngebahas cerita mistisnya sih, soalnya kalo orang bilang itu kurang ilmiah. Mengesampingkan cerita-cerita horor tentang lagu Nina Bobo ini, ada beberapa hal yang bisa kita analisa dari lagu ini.

Pembahasan yang pertama, ada yang hapal lirik lagu Nina Bobo? Menurut Wikipedia setidaknya ada dua versi lirik lagu Nina Bobo ini. Versi pertamanya adalah:
Nina bobo oh nina bobo
kalau tidak bobo digigit nyamuk.
Marilah bobo oh nona manis,
kalau tidak bobo digigit nyamuk.

Sedangkan versi keduanya adalah:
Nina bobo oh nina bobo
kalau tidak bobo digigit nyamuk.
Bobolah bobo adikku sayang,
kalau tidak bobo digigit nyamuk.

Ada lagi versi bahasa Belandanya, yaitu:
Slaap meisje, oh slaap, meisje (tidurlah gadis, o tidur, gadis)
als je niet gaat slapen, zul je door een mug gestoken worden. (jika kamu tidak segera tidur, kamu akan disengat seekor nyamuk)
Laten we gaan slapen, oh lief meisje, (tidurlah tidur, o gadis manis)
als je niet gaat slapen, zul je door een mug gestoken worden. (jika kamu tidak segera tidur, kamu akan disengat nyamuk)

Pembahasan yang kedua adalah ini sebenarnya lagu anak-anak, fungsinya biasanya dipakai sebagai lagu pengantar tidur anak-anak. Tapi tau nggak, bahwa sebenarnya lagu ini nggak pantas diajarkan buat anak-anak? Biasanya kita dilarang mengajarkan ancaman buat anak-anak biar mereka nggak menganggap hal itu adalah menakutkan atau patut dihindari ke depannya. Tapi lagu ini malah mengajarkan ancaman. Coba liat di salah satu baitnya, ‘Kalau tidak bobo digigit nyamuk’, ini kan ancaman! Jadi si anak ini harus milih salah satu, segera bobo atau rela digigit nyamuk. Dan anak yang baik pasti milih yang pertama.

Pembahasan yang ketiga masih ada hubungannya sama tulisanku yang sebelumnya, soal fitnah kepada nyamuk. Ingat, nyamuk itu menghisap, bukan menggigit!

Pembahasan keempatnya masih ada hubungannya sama pembahasan yang ketiga, masih soal nyamuk. Yang kita tau itu nyamuk nggak akan milih-milih mangsanya, entah itu dia nggak tidur atau sudah tidur, tetep aja dia hajar. Kalo di lagu ini dibilang ‘Kalau tidak bobo digigit nyamuk’, atau harusnya ‘Kalau tidak bobo dihisap nyamuk’, udah tidur pun nggak jaminan itu nyamuk nggak menyedot darah kita.

Pembahasan terakhirnya ada hubungannya sama cerita mistisnya. Dari hasil browsing aku menemukan setidaknya ada tiga cerita di balik nama Nina ini, dua di antaranya yang berhubungan dengan mistisnya. Yang satu namanya Helenina Mustika Van Rodjnik, yang satu lagi namanya Nina Van Mijk. Persamaan dari kedua nama ini adalah keduanya sama-sama keturunan Belanda dan sama-sama dipanggil Nina. Mitosnya kalo ada yang nyanyiin Nina Bobo buat anaknya sebelum tidur di malam hari, maka arwah Nina (nggak tau Nina yang mana) akan menjaga anak itu biar tidur nyenyak sampai pagi.

Dari sini timbul pertanyaan, sebenarnya ada berapa stok arwah Nina yang tersedia? Misalnya gini, di sebuah gang ada 20 anak kecil, 10 di antaranya pas mau tidur dinyanyiin lagu Nina Bobo. Jadi seenggaknya harus ada 10 orang (atau apa?) arwah Nina yang harus menjaga anak-anak di dalam gang ini satu per satu. Ini masih di satu gang, gimana satu kelurahan? Kalopun cerita kedua anak Belanda itu benar-benar ada, mungkin bisa dibagi tugasnya masing-masing ya. Tapi tetep aja, harus punya banyak stok buat ngejagain semua anak di Indonesia ini yang ditidurkan pake lagu Nina Bobo.

Oya, ada satu versi lagi asal mula judul Nina Bobo yang aku dapat, dan sebenarnya aku lebih cenderung ke versi ini. Karena selain sumbernya lebih valid, ini juga lebih ilmiah. Nina Bobo adalah sebuah lagu pengantar tidur dari Indonesia yang bercitrakan irama keroncong. Lagu ini juga dikenal di luar Indonesia, misalnya di Negeri Belanda. Lagu ini dipopulerkan oleh Anneke Grönloh dan Wieteke van Dort. Dalam Bahasa Indonesia, kata-kata yang digunakan untuk menidurkan dalam lagu ini adalah nina-bobo(k) atau nina bobo. Kata kerja seperti “meninabobokkan”, yang juga berasal dari lagu ini, memiliki arti “menyanyikan lagu untuk menidurkan”. Penggunaan kata tersebut spesifik hanya di Indonesia. Sementara itu, dalam Bahasa Melayu, “meninabobokkan” diterjemahkan menjadi dodoi.

Kata “nina” seringkali dikira merupakan nama sebuah gadis. Kata tersebut sebenarnya berasal dari bahasa Portugis menina, yang meskipun juga memiliki arti gadis tetapi bukanlah sebuah nama. Namun, lagu ini dinyanyikan baik untuk anak pria maupun wanita tanpa membeda-bedakan. Beberapa kata Indonesia diserap dari bahasa Portugis; misalnya juga pada kata Nona. Semenjak abad ke-16, bangsa Belanda dan Portugis menuju ke India Timur dan meninggalkan jejak mereka dalam segi bahasa serta kultur budaya.

Kata “bobok” atau “bobo” berasal dari bahasa China. Kata Indonesia yang baku adalah “tidur”, sementara kata “bobok” lebih jarang digunakan dan umumnya hanya diterapkan pada anak-anak. Berdasarkan pada lirik lagu, seekor nyamuk akan menggigit si anak jika tidak segera tidur. Ada lelucon bahwa binatang lain selain nyamuk, yaitu toegezongene, yang akan menggigit.

Referensi:
1. Nina Bobo
2. Sejarah Mengerikan di Balik Lagu Nina Bobo
3. Asal Usul Lagu Nina Bobo

white snake legendDulu waktu aku kecil ada film berseri di televisi yang terkenal banget, judulnya ‘White Snake Legend’. Yang suka nonton tivi tahun ’90-an pasti ingat nih. Dulu tayangnya di SCTV, yang sayangnya dulunya nggak siaran di tiviku. Tapi karena di rumah dipasang parabola, jadilah SCTV sebagai salah satu pengisi acara di tiviku, dan untungnya, serial ini masih tayang, belum tamat. Inget kan dengan dialognya yang ‘Istriku…’, atau ‘Suamiku…’.

Dan dari tayangan ini aku jadi belajar mengerti bahwa tidak semua ular di tivi itu menakutkan. Ular di sinetron ini lucu banget bentuknya. Aku jadi berpikir bahwa tidak semua siluman itu wujudnya jelek, garang, sangar, dan menjijikkan. Liat aja, siluman ular di sinetron ini, cantik-cantik. Satu lagi, aku jadi tau bahwa orang China di sinetron ini tidak bisa membedakan mana cewek dan mana cowok. Padahal dari mata imutku ini jelas-jelas aku tau bahwa yang jadi tokoh cowok utamanya itu cewek yang berdandan kaya cowok. Ini dandan kaya cowok aja masih keliatan kaya cewek. Aku jadi paham gimana cerita Sam Pek dan Eng Tay itu terjadi, di mana mereka nggak paham pas Eng Tay, yang nyamar jadi cowok biar bisa sekolah, itu adalah seorang cewek.

Dan terakhir, aku jadi belajar memahami bahwa tidak semua sinetron dari negeri China sana adalah sinema laga atau sinema kung fu. Okelah kita bisa masukin ‘The Grand Canal’, ‘To Liong To’, atau ‘Return of the Condor Heroes’ ke dalam kategori ini. Tapi nggak dengan ‘White Snake Legend’! Kalo mau dikata sinema laga, di mana laganya? Yang ada juga dua orang saling tunjuk-tunjukan, terus dari ujung jarinya keluar sinar semacam laser mengarah sesuai ke mana jarinya mengarah. Sinetron ini sebenarnya bisa dibilang operet, soalnya banyak nyanyinya di tengah adegannya, mirip sama film India.

Ini kaya sinetron ‘Kera Sakti’ yang pernah dibilang sama pihak tivinya sebagai sinema kung fu. Ini Kera Sakti di mana kung funya, harusnya lebih tepat sebagai sinema komedi aja, soalnya banyak komedinya sih. Ada sih adegan tawurannya, tapi hampir sama kaya sinetron ‘Ular Putih’ tadi, sering tunjuk-tunjukan gitu.

Eh tadi juga nyinggung film India ya, dulu juga suka nonton film ‘Ramayana’. Kalo ada yang pernah baca ceritanya, atau seenggaknya ngerti ceritanya, pasti kalo dirunut ceritanya kita akan ngebayangin bahwa perang antara prajurit Rama melawan pasukan Rahwana itu seru banget. Banyak adegan-adegan pertempuran antar prajurit dan duel satu lawan satu antar masing-masing panglimanya. Tapi apa yang kita dapat dari film ‘Ramayana’ yang dari India ini? Perang panah! Suatu ketika Laksmana melawan Hindrajit, Laksmana terlihat melepaskan anak panah dari busurnya, yang sedetik kemudian Hindrajit juga terlihat melakukan hal yang sama. Kedua anak panah masing-masing meluncur dan kita akan dapat mengikuti jalannya kedua anak panah ini dalam waktu lama, ya paling cepat sekitar 30 detik lah. Begitu ketemu di tengah-tengah, kedua anak panah ini akan menunjukkan kesaktiannya. Salah satu dari mereka, yang kalah, akan hilang secara tiba-tiba. Gimana dengan yang menang? Hilang dari layar, nggak diceritakan anak panah itu jalan ke mana lagi gitu!

Banyak lagi kelebayan dari film yang kita tonton, kita bisa ngomong ‘Ah itu kan cuma film!’, atau ‘Namanya juga film, banyak yang khayal’, atau sebagainya. Tapi anehnya kita seakan tersihir oleh film itu, yang kita bilang banyak boongnya tapi kita seneng nontonnya. Kita bisa sering nemuin berapa banyak orang yang ngebahas cerita sinetron kemaren malamnya dengan serunya. Kita lebih suka dengan bohongnya film karena ceritanya seru meskipun banyak yang nggak masuk akal. Dan nyatanya, kita sering lebih ingat adegan-adegan di film daripada tugas sekolah kemaren. Karena lebih menarik? Bisa jadi!

Berita Sendiri

Posted: 22 Desember 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

Waktu kecil aku pernah berlagak seperti jurnalis. Ya, sebagai wartawan gitu, bikin artikel-artikel, jurnal berita, kaya gitu sih. Ceritanya dulu aku pernah bikin liga sepakbola fantasi kalo istilahnya sekarang. Jadi aku bikin sebuah negara yang punya liga sepakbola dengan beberapa klub, dan punya sistem liga sendiri. Dasarnya mirip liga-liga sepakbola profesional kaya sekarang ini, tapi dulunya aku nggak tau gimana cara bikin sistem klasemen. Tapi pas di SMP dulu ada pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, di situ diterangkan gimana bikin sistem skoring dan jadwal liga.

Terus apa hubungannya sama wartawan tadi? Tentu saja ‘negara’ ini punya yang namanya media massa, dalam hal ini koran. Jadi aku bikin mini koran yang isinya kaya koran-koran yang ada nyata, tapi aku cuma bikin berita olahraganya, lebih spesifiknya berita tentang liga sepakbola yang aku bikin tadi. Berita ini biasanya isinya laporan hasil pertandingan, dilengkapi dengan gambar-gambar yang pura-puranya itu foto dari pertandingan. Pernah bikin pula ‘edisi poster’, menampilkan foto lengkap pemain yang pas waktu itu timnya juara liga.

Bikin berita dari kejadian yang ‘nggak nyata’ kaya gitu emang sulit ya. Aku bikin liga fantasi aja udah fantasinya ke mana-mana, maksudnya sepakbolanya gitu. Udah gitu bikin jurnalnya lagi, ini fantasinya harus berlebih. Tapi ngejalaninnya seneng-seneng aja tuh! Ini bagiku semacam perpaduan antara kegemaranku pada sepakbola dan keisenganku menyusun kata-kata, dua bidang yang berbeda dan disatukan di dalam permainan khayalan. Padahal salah satu unsur keunggulan dari sebuah berita adalah kebenaran dan kenyataannya. Ini yang aku bikin benar, tapi nggak nyata karena hanya terjadi dalam khayalanku aja.

Terus gimana sekarang kabarnya ‘liga khayalan’ku itu? Hilang! Semua catatan dan datanya cukup menarik bagi tukang loak saat mereka berkunjung ke rumahku. Sama kaya buku-buku karyaku sejak kelas 1 SD, catatan ini sangat diminati bagi penjual barang bekas.

Dan sekarang jurnal yang aku tuliskan ada di dalam halaman blog yang aku bikin. Kalo ada yang bilang bahwa ngeblog itu peran sebagai sutradara, desainer, penulis, perias, dan sekaligus pemainnya, maka dengan berani aku bilang, ‘YA!!’. Program ngeblog ini sebenarnya masih ada hubungannya sama program liga fantasi tadi, sama-sama ada di pikiran dan kemudian dikeluarkan biar nggak terperangkap di sana. Kalo liga fantasi tadi diwujudkan dengan bikin sistem perligaan dan pemberitaan, kalo di blog ini ya bentuknya bikin tulisan.

Dan dengan ngeblog ini sebagian dari cita-citaku semasa kecil, yaitu bikin jurnal, jadi tercapai. Seenggaknya meskipun banyak tulisan yang nggak masuk akal dan nggak mutu, tapi itulah yang keluar dari pikiranku, yang mungkin dia mulai gerah dan takut terperangkap di sana, atau dia fobia akan ruang gelap dan tertutup, akhirnya keluarlah dalam bentuk rangkaian kata-kata gitu.