Arsip untuk November, 2011

Persamaan antara maling dengan pelanggar lampu merah:

1. Sama-sama mencuri
Maling mencuri barang, sesuatu yang berwujud, sedangkan pelanggar lampu merah mencuri start jalan, sesuatu yang tidak berwujud tapi bisa terlihat.

2. Sama-sama melanggar peraturan
Maling melanggar hak-hak milik pribadi orang lain, sedangkan pelanggar lampu merah melanggar peraturan dalam berlalu lintas.

3. Sama-sama tidak sabar
Maling tidak sabar untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu, sedangkan pelanggar lampu merah tidak sabar untuk menunggu nyala lampu hijau yang sebenarnya kalo ditunggu pun tidak akan sampai satu jam nyalanya.

4. Sama-sama buta
Maling membutakan mata hatinya untuk menyadari bahwa mencuri itu hal yang salah, sedangkan pelanggar lampu merah membutakan mata hatinya sendiri untuk menyadarkan pikiran bahwa ini lampu masih berwarna merah dan harus berhenti.

5. Sama-sama tidak bermoral
Udah pasti, tidak ada pesan moral dari ajaran apapun bahwa maling itu dianjurkan. Bahkan hal itu adalah mengganggu keamanan, kenyamanan dan ketertiban banyak orang. Sedangkan lampu merah, dari sejak SD kita sudah diajarkan bahwa lampu merah itu berarti berhenti, kuning berarti hati-hati, hijau berarti jalan terus, bukannya merah itu siap-siap, kuning berarti tancap gas, dan hijau berarti jalan terus. Dengan kufur nikmat itu, perlu diingat bahwa itu tanggung jawab moral kita kepada Sang Pemberi Nikmat.

Iklan

Besi Karatan

Posted: 29 November 2011 in Pemikiran
Tag:,

Benda kerja untuk praktek bagi para siswa SMK jurusan Mesin Produksi kebanyakan adalah sebatang besi yang belum berbentuk. Tugas para siswanyalah untuk membentuk besi itu jadi sebuah benda yang bermanfaat dan bernilai guna. Bisa dengan menggunakan mesin perkakas atau dengan pekerjaan tangan (sering disebut dengan kerja bangku). Misalkan para siswa diberi sebatang besi berbentuk silinder dengan permukaan yang masih sangat kasar, tugasnya adalah membuat besi tadi berbentuk silinder sempurna dengan permukaan yang halus dan sisi-sisinya yang rata.

Karena jumlah mesin tidak sepadan dengan jumlah siswa yang praktek, biasanya siswa bergantian pakai mesinnya, sehingga kadang baru menyelesaikan satu sisi, berikutnya mesin udah dipakai siswa lain sehingga menunggu dulu, sampai semua dapat giliran, baru main lagi. Kalo udah gitu sehari praktek belum tentu besi itu jadi sempurna semua bagiannya. Si besi kemudian dibawa pulang (bagi yang punya tempat penyimpanan di sekolah ya ditaruh aja di situ). Sayangnya hampir semua besi benda kerja ini rawan dan mudah banget terkena korosi (karat). Dibiarkan sehari aja udah bisa terlihat karat di mana-mana, terutama di bagian yang udah dikerjakan tadi (karena di bagian kasarnya tidak mungkin terkena karat). Apalagi kalo dibawa pulang tanpa perlindungan, kena udara dan hujan, udah deh, di pertemuan minggu berikutnya bisa-bisa kerjaannya ngulang lagi, cuma untuk menghilangkan korosi yang melekat.

Tapi ada cara mudah untuk melindungi permukaan dari korosi, yaitu dengan mengoleskan oli atau pelumas. Oli ini gampang ditemukan di bengkel mesin, bisa dari kaleng oli yang memang tersedia, atau mencolek dari tempat oli yang ada di mesin. Cukup dioles, kemungkinan besar karat tidak akan muncul. Cara lain adalah menghitamkan permukaan, atau istilah umumnya blacken, dengan catatan benda kerja udah finishing dan udah jadi, tinggal dikumpulkan. Caranya benda kerja dibakar sampai terlihat merah menyala, kemudian dicelupkan ke oli agak lama, dan saat diangkat jadilah benda kerja itu berwarna hitam di permukaannya.

Sebenarnya begitu pula dengan keadaan manusia. Saat belum tercerahkan bagaikan besi kasar yang belum terbentuk, kemudian mendapat petunjuk dan hidayah untuk menjadi yang lebih baik dan memperbanyak ibadah kepada Allah itulah saat besi dibentuk dengan mesin. Saat dalam keadaan tawadhu’ dan bertaqwa dalam hatinya harus selalu menghindari pengaruh-pengaruh negatif dari luar agar keadaan tetap suci dan iman, bagaikan pelumas yang melindungi besi dari korosi karena pengaruh udara atau hujan. Penguatan iman dan taqwa dalam diri bagaikan besi yang mengalami proses blacken tadi.

Hijrah menuju yang lebih baik dan menjadikan hari ini lebih baik daripada kemarin, dan semoga besok lebih baik daripada hari ini.

Kadang teringat kembali sebuah pertanyaan garing dari teman-teman pas jaman masih SD dulu, ‘Kalo kamu hidup sendirian di dunia ini, bagaimana dan apa yang akan kamu lakukan?’ Ini sih sebenarnya bukan pertanyaan tebak-tebakan, tapi pertanyaan opini (yiaahhh, anak SD udah main opini-opinian). Seingatku aku sendiri gak pernah ditanyain kaya gini, tapi denger-denger aja dari teman-teman pas lagi ngobrol nyantai.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya jawabannya masih bisa terbayang dan bisa mendadak dibayangkan tanpa direncanakan. Kalo aku bayangannya ya aku hidup sendirian telanjang berjalan di muka bumi, tidak ada tempat perlindungan, hujan kehujanan, panas kepanasan, kaki di kaki dan kepala di kepala, dan kemungkinan besar menjadi satu-satunya sasaran empuk saat petir dan badai melanda.

Yang sebenarnya aku pikirkan adalah sesuatu yang lebih tidak bisa dibayangkan dan di luar lingkaran pemikiranku sendiri, yaitu bagaimana jika aku sekarang ini tidak hidup di dunia ini, jadi apakah aku ini, jadi seonggok tanah tak bernilai yang setiap hari diinjak oleh manusia-manusia bumi, ataukah sudah menjadi benda lain yang lebih bermanfaat. Nyatanya aku sudah terbentuk seperti ini, punya jiwa dan nyawa yang melekat pada raga serta hidup di dunia ini dengan bahagia. Yang bisa dirasakan adalah betapa indahnya nikmat yang Allah berikan untukku dan syukur alhamdulillah aku masih bisa merasakannya.

Bayangan seperti ini sampai sekarang kadang masih terlintas. Kalo udah gitu, biasanya terus berpikir, kalo aku gak jadi seperti ini, di manakah jiwaku, apakah berbentuk jiwa, ataukah tak terbentuk. Ah, hal ini juga masih ada di luar batas lingkaran pemikiranku, di luar akal pikiran rasional. Yang pasti, tetap bersyukur aja dengan apa yang ada sekarang, inilah karunia dan rahmat Allah yang aku dapatkan.

Kira-kira teman-teman SDku masih ingat gak ya dengan pertanyaan tadi? Yah, namanya juga anak-anak, kelakuannya kekanak-kanakan, pertanyaannya garing, jawabannya udah pasti juga ngawur.

Telepon Rumah

Posted: 27 November 2011 in Pengalaman
Tag:,

Rumahku termasuk generasi awal yang memasang telepon rumah di daerahku. Di awal dekade ’90-an, saat telepon rumah masih jarang, apalagi telepon umum di daerahku, rumah kami memasang saluran telepon yang saat itu masih konvensional. Hal ini memudahkan komunikasi dengan keluarga yang lain dan juga bisa melancarkan informasi yang beredar, yang sebelumnya memakai prinsip ‘dari pintu ke pintu’, atau MLM (Mulut Lewat Mulut).

Saat itu saluran telepon yang ada masih sederhana, bahkan pesawat teleponnya masih model jadul yang harus diputar dulu lewat sebuah tuas pemutar (tidak ada tombol dan angka yang menunjukkan nomornya) yang bobotnya cukup berat, apalagi bagi anak kecil seumurku waktu itu. Setelah beberapa kali putaran, saluran tersambung dengan kantor Telkom setempat dan kemudian kami diminta menyebutkan nomor yang ingin disambungkan. Sejurus kemudian, operator menghubungi nomor tujuan dan menginformasikan bahwa ada telepon yang ingin menghubunginya, setelah itu operator menutup teleponnya. Baru kemudian kami bisa bercakap-cakap dengan pemilik telepon yang kami tuju. Sangat tidak praktis!

Bahkan nomornya pun tidak seperti saat ini. Rumahku mendapat nomor 73, saat itu yang terbanyak masih nomor 200-an gitu. Jadi kalo udah tau nomornya, saat bicara dengan operator langsung minta ke nomor tujuan tadi. Tapi kalo belum tau nomornya, cukup menyebut pemiliknya saja, operator yang akan mencarikan nomornya. Sedangkan kalo mau menghubungi nomor di luar area, harus jelas daerah Kancatel/Kandatel mana, sekalian dengan nomor teleponnya (saat itu daerah Kota Kediri sudah memakai sistem otomatis dengan lima digit nomor telepon, sedangkan di Kabupaten Kediri termasuk daerahku belum). Jika ditelepon dari luar daerah, harus ditambah pula dengan kode tertentu yang ditambahkan di depan nomor telepon.

Beberapa tahun kemudian, barulah sistem otomatisasi telepon masuk, diawali dengan sosialisasi alur dan sistem, penomoran baru (memakai sistem lima digit), dan pembagian pesawat telepon baru (udah pakai sistem penomoran dan beratnya lebih ringan). Dengan demikian semakin memudahkan hubungan komunikasi, yang tidak perlu memakai bantuan operator lagi. Nomor baru ini masih berdasarkan nomor lama, hanya ditambah beberapa nomor kode khas area. Beberapa tahun kemudian, sistem penomoran diganti lagi dengan sistem enam digit nomor telepon, yang berlaku sampai sekarang.

Dalam belasan tahun memakai telepon rumah, mulai dari abonemen masih beberapa ribu rupiah sampai sekarang beberapa puluh ribu rupiah, kami merasakan berbagai kemudahan dalam melakukan komunikasi. Apalagi sekarang udah semakin banyak yang memasang telepon rumah, atau juga menjamurnya pemakaian telepon seluler, sehingga kegunaan telepon masih dirasa sangat optimal dalam komunikasi jarak jauh.

Saat agak lelah dan bosan dalam membaca buku, orang mungkin terkadang memperhatikan berapa halaman lagi yang tersisa untuk dibaca, tanpa memperhatikan sudah berapa halaman yang dilalui setelah dibaca. Begitu pula dengan kehidupan, yang terkadang orang lebih memperhatikan apa saja yang belum didapatkannya dalam hidup, tanpa berpikir dan mengingat sudah berapa banyak hal-hal yang dilalui dan didapatkan dalam hidupnya. Orang lebih sering terpaku dengan apa yang belum didapatkan ketimbang yang sudah didapatkan. Bisa jadi yang belum didapatkan memang dibutuhkan, atau hanya sekedar asal punya aja.

Buku, seperti halnya kehidupan, memuat berbagai macam tema yang terangkum menjadi satu dan kemudian dinamai dengan judul buku tersebut. Sesaat saat bosan dengan salah satu tema, bisa jadi orang tergerak untuk membaca secara acak bab-bab berikutnya dari buku itu. Tapi akibatnya, dia tidak bisa memahaminya, karena sumber bab itu ada di bab-bab lain yang telah dilewatkannya tadi.

Saat orang menginginkan sesuatu hal yang belum didapatkannya dengan jalan pintas, dia mungkin bisa jadi akan mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa proses panjang. Tapi kemudian, apakah dia akan bisa memahami, atau pantaskah dia mendapatkannya, tanpa melalui perjuangan dan masalah panjang merintang. Harusnya, yang pantas mendapatkannya adalah mereka yang udah berjuang melewati jalan terjal dan tembok penghalang, udah melewati tantangan dan masalah, memahami seberapa pantaskah untuk mendapatkan hal yang diinginkannya tadi.

Buku, seperti halnya kehidupan, bisa jadi dihabiskan dalam waktu singkat saja oleh pembacanya, bisa pula dibaca agak lama untuk menghayati dan memahami isi bukunya. Atau bahkan karena kebosanan dan kelelahan, bisa jadi buku itu lebih lama lagi akan habis untuk membacanya. Dalam kehidupan, saat seseorang merasa malas atau bosan, maka dia akan sulit dan lama meraih apa yang diinginkannya, karena tingginya harapan tidak disertai dengan besarnya usaha untuk meraihnya.

Buku, kaya akan ilmu, seperti halnya kehidupan.

Bis

Posted: 25 November 2011 in Pengalaman
Tag:,

Gara-gara liat ibu-ibu yang lagi nyegat bis, aku jadi mengingat-ingat kapan terakhir kali aku naik bis. Rasanya udah lama banget gak naik bis, terakhir naik bis itu awal tahun lalu, itupun bis pariwisata saat ke Taman Jawa Timur Batu, bukan bis umum. Padahal dulu sering banget naik bis, ke mana-mana pake bis, maklum kendaraan andalannya ya bis itu. Tapi setelah punya motor sendiri, ke mana-mana ya naik motor. Jangankan ke Surabaya atau Malang, ke Jogja pun aku naik motor.

Jaman sekolah dulu juga tidak pernah sekalipun naik bis, menempuh jarak sekitar 10 km ya naik sepeda. Cuma kemudian saat mengikuti pendidikan profesi, aku sering naik bis. Jadi ingat-ingat lagi kebiasaan bis-bis  AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) itu, saat ibu-ibu tadi kesulitan dalam mencegat bis yang lewat. Bis-bis ini (terutama bis besar jurusan Surabaya – Tulungagung/Trenggalek) sulit diberhentikan di sembarang tempat. Kadang harus nyari hot spot dulu, yang sering digunakan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, bisa halte atau juga persimpangan jalan yang besar. Apalagi kalo udah balapan dengan bis lain, bisa-bisa mau turun pun susah.

Suatu etika (entah bisa disebut etika atau bukan) dalam berhenti saat ada calon penumpang yang nyegat adalah jika sedang di depan kendaraan lain atau lagi nyalip kendaraan lain, bisa dipastikan bis itu tidak mau berhenti, apalagi dengan kondisi mendadak. Kecuali kalo bis udah melambat dari jauh, mungkin masih bisa dan masih mau berhenti. Dan lagi-lagi, dalam posisi balapan, bis bisa dipastikan akan sulit dihentikan.

Rumahku berada di pinggir jalan raya propinsi, yang setiap hari dilewati bis-bis AKDP besar maupun kecil, sehingga memudahkan dalam menggunakan transportasi ini. Di seberang rumah juga ada halte bis, satu-satunya di kecamatanku (bahkan jika menyisir ke arah utara tidak ada lagi halte serupa). Namun meski dengan letak strategis ini, masih saja sulit mencegat bis, bahkan pernah pula beberapa kali diturunkan di tempat yang tidak tepat (terutama oleh bis-bis besar).

Sesaat kemudian, aku melihat kedua ibu yang lagi mencari bis yang mau berhenti berjalan ke arah selatan, mencari hot spot untuk pemberhentian bis. Dilihat dari cara mencari bis, mereka sedang menuju ke arah Tulungagung atau Trenggalek (mereka lebih memperhatikan bis-bis jurusan itu).

Ini pengalaman yang baru aku alamin. Begini ceritanya, di laptopku ada beberapa file yang udah masuk Recycle Bin dan gak bisa dihapus (Empty Recycle Bin). Pas di-empty gitu, muncul pesan bahwa ada file tertentu yang tidak bisa dihapus karena sebab-sebab tertentu gitu (kalo gak salah ‘Folder is not empty’). Aku udah pake beberapa cara dan program utility (seperti Tune-Up, CCleaner, atau System Mechanic), tapi itu Recycle Bin tetep menunjukkan kalo ada isinya (pas diproses dengan program-program tadi, beberapa file diindikasikan ‘corrupt and unreadable’).

Kemudian aku coba cari di Forum Computer, siapa tau aja ada caranya. Bener juga, ada beberapa orang yang mengalami masalah yang sama. Dari beberapa solusi yang muncul, aku coba-coba beberapa, tapi kemudian belum ada yang berhasil. Akhirnya aku bereksperimen sendiri dari beberapa solusi yang ada tadi. Pada prinsipnya, di tiap drive akan ada folder Recycler (atau Recycled) secara otomatis saat menginstal OS. Nah, kuncinya adalah setiap file yang dihapus dari drive tertentu, maka dia akan masuk di folder Recycler di drive yang sama. Misalnya yang dihapus di drive D:\, maka file akan ada di lokasi folder D:\Recycled.

Masalahnya adalah folder-folder Recycler itu secara otomatis oleh sistem akan diberi status Super Hidden, artinya hanya dengan mensetting tampilan dengan menampilkan file-file yang disembunyikan oleh sistem saja maka file akan tampil. Atau kalau nggak gitu atribut Super Hiddennya dihilangkan. Nah kalo yang ini aku udah bisa caranya sejak lama, yaitu lewat prompt (bisa lewat Save Mode atau langsung dari Run). Aku lebih suka lewat Run yang tidak perlu merestart komputer. Melalui jendela Run ini, diketikkan ‘cmd’ dan OK kemudian. Maka keluarlah tampilan mirip DOS jadul, yang bernama Command Prompt.

File-file yang tidak bisa dihapus tadi dulunya ada dari drive D:, maka aku harus mencari folder Recycler di drive D: (lokasinya di D:\Recycled). Untuk mencarinya tidak bisa menggunakan perintah seperti biasa aja (misalkan: ‘DIR D:’), tapi harus pake atribut, sehingga menjadi ‘DIR D:/a’ (menampilkan semua isi direktori), ini dikarenakan file yang ter-Super Hidden disetting demikian. Saat kemudian muncul foldernya Recycler, maka di prompt berikutnya segera aku ketikkan perintah ‘ATTRIB –R –S –H D:\RECYCLED’, ini berguna untuk menghilangkan atribut Super Hidden dari folder Recycled ini.

Langkah berikutnya adalah menghapus semua file yang ada di dalam folder tersebut. Aku memakai perintah ‘DEL D:\RECYCLED\*.*’, muncul pesan konfirmasi untuk meyakinkan perintah tersebut, tanpa ragu aku pencet ‘Y’ untuk segera melanjutkan penghapusan. Jika kemudian udah muncul prompt lagi tanpa ada pesan tambahan, berarti penghapusan udah sukses. Maka langkah berikutnya adalah mengembalikan status folder Recycled menjadi Super Hidden kembali, yaitu dengan perintah ‘ATTRIB +R +S +H D:\RECYCLED’, dan kemudian keluar dari Command Prompt dengan mengetikkan ‘EXIT’.

Langkah terakhir adalah merestart komputer dan kemudian secara mengejutkan Recycle Bin udah bersih. Berarti langkah coba-coba ini terbukti ampuh di laptopku, tapi mungkin tidak berhasil untuk kasus-kasus tertentu. Memang, beda masalah beda solusinya.

Sandiwara Radio

Posted: 23 November 2011 in Pengalaman
Tag:,

Tutur Tinular adalah salah satu sandiwara radio yang populer di sekitar dekade tahun ’80-an sampai ’90-an. Saat itu aku sering mendengarkan, meskipun banyak kata-kata yang kurang bisa aku mengerti karena masih terbatasnya kosakata bahasa yang aku miliki saat itu, maklum masih cukup kecil. Tapi beberapa ceritanya masih cukup aku ingat dengan agak samar. Tutur Tinular ini adalah cerita semi fiksi, cerita sejarah kerajaan Majapahit yang diberi tokoh-tokoh tambahan sehingga ceritanya lebih hidup dan lebih fokus pada tokoh utamanya.

Inti tokoh Tutur Tinular adalah Arya Kamandanu, seorang tokoh fiktif yang menjabat sebagai panglima perang Majapahit yang sakti mandraguna dan memiliki sebuah pedang sakti bernama Pedang Naga Puspa (kalo gak salah di tahun 1999 aku berkesempatan menyaksikan sendiri pedang ini di pameran seni dan budaya Kediri). Pedang ini adalah pedang pusaka dari Cina, yang dibawa ke Majapahit oleh pendekar Lou Shi San dan Mei Shin untuk diselamatkan dari kekuasaan tentara Mongol. Namun kemudian pedang tersebut juga diperebutkan di tanah Majapahit. Musuh besarnya adalah Empu Tong Bajil dan istrinya Dewi Sambi. Kelak putra Dewi Sambi, Layang Samba, mengabdi setia kepada kerajaan Majapahit dan merupakan orang yang membunuh Ra Kuti di bawah pimpinan Gajah Mada dalam Pemberontakan Kuti (kisah ini masuk dalam cerita Mahkota Mayangkara).

Sandiwara radio lainnya adalah cerita sambungan Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, yang menceritakan masa berkuasanya raja Jayanegara yang terkenal agak sewenang-wenang dengan di bawah pengaruh hasutan seorang patih fiktif bernama Ra Mapati. Cerita ini berakhir setelah peristiwa Pemberontakan Kuti yang diberantas oleh prajurit Bhayangkari di bawah pimpinan Bekel Gajah Mada.

Kedua kisah tadi adalah cerita sejarah yang dibalut dengan cerita fiksi dengan memadukan kisah-kisah kepahlawanan khas cerita masa jayanya kerajaan-kerajaan di Nusantara. Meskipun agak mengada-ada dan fiktif, namun pendengarnya bisa terbantu dalam memahami sejarah-sejarah masa kerajaan, yang tergambarkan dengan cukup bagus dalam sebuah cerita bersambung, karena di luar kefiktifannya, alur cerita yang disajikan memang tergambar dalam berbagai buku-buku sejarah. Bahkan bagi anak kecil sepertiku, sandiwara radio ini membantu dalam mengembangkan daya imajinasi, maklumlah karena hanya suaranya saja yang muncul, pendengarnya mau tidak mau akan mempunyai gambaran masing-masing dalam memahami cerita tersebut. Selain itu juga bisa menambah kosakata perbahasaan dan pengolahan kata dalam Bahasa Indonesia bagiku.

Sandiwara radio lain yang sering aku dengar adalah cerita yang murni fiktif seperti Sungging Prabangkara dan satu lagi lupa judulnya, kalo gak salah ceritanya mengisahkan seorang pahlawan wanita, Indraswari, dalam membasmi siluman serigala dan kekuasaan Nyai Calon Arang. Kedua cerita ini disiarkan di radio di tahun ’90-an pada jam satu siang, pas banget pada saat istirahat dan makan siang.

Frank William Abagnale Jr. adalah seorang penipu muda kelas gila. Dalam usia yang belum sampai menginjak 19 tahun, dia mendapatkan jutaan dolar dari hasil penipuannya. Diawali dari kaburnya dia dari rumah saat orangtuanya akan bercerai di umur 16 tahun, dia membawa sebuah buku cek yang diberikan oleh ayahnya. Saat cek itu akan dia gunakan untuk membayar tiket kereta api dan diuangkan di beberapa tempat, ternyata cek itu ditolak. Suatu inspirasi muncul saat di tengah kebingungannya, muncul ide saat dia melihat serombongan pramugari yang dipimpin oleh seorang pilot menuju ke sebuah hotel. Pada jaman itu, pilot bagaikan selebritis yang dipuja banyak orang. Dengan beberapa trik dan tipu muslihat, dia berhasil mendapatkan seragam dan perlengkapan pilot, serta mengetahui istilah-istilah dalam dunia penerbangan.

Segera setelah itu dia membuat cek palsu berlogo perusahaan penerbangan tempatnya berpraktek sebagai ko pilot. Tidak perlu banyak kesulitan kemudian saat dia menguangkan cek palsunya ke sebuah bank. Berhasil dengan ‘profesi’nya ini, kemudian dia mencoba profesi lain. Sementara para polisi sudah mulai memburunya, dengan licinnya Frank berubah-ubah profesi, bahkan berhasil mengelabui seorang detektif FBI dengan menyamar sebagai agen dinas rahasia. Kemudian dia berubah menjadi seorang dokter yang mengepalai UGD dan berdinas malam hari, serta menjadi pengacara setelah dia melamar seorang perawat yang ayahnya adalah seorang pengacara. Frank juga menggunakan banyak nama dalam menjalankan aksinya.

Sempat hampir tertangkap di hari pernikahannya, dia berhasil kabur kembali dari FBI. Di kemudian hari dia tertangkap di sebuah desa tempat ibunya berasal di Perancis. Meskipun kemudian ditahan di Perancis, detektif FBI yang memburunya membawanya kembali ke AS untuk ditahan di sana. Saat turun dari pesawat dia berhasil kabur namun kemudian ditangkap tidak lama kemudian di rumah ibunya. Akhir cerita, dia malah direkrut FBI untuk menangani masalah penipuan dengan cek dan bukti pembayaran palsu.

Ini adalah cerita dari sebuah film berdasarkan kisah nyata Frank William Abagnale Jr., ‘Catch Me If You Can’, yang bersetting dekade tahun ’60-an, dengan pertanyaan tentang kebenaran yang sering dipertanyakan. Salah satu hal yang bisa diambil dari akhir kisah ini adalah bahwa keahlian seorang penjahat pun bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi kejahatan lain yang menjadi spesialisasinya. Ini adalah film santai tentang penipuan, yang mana tokoh detektif dan penipunya akhirnya bekerjasama dalam menyelesaikan kasus-kasus kejahatan penipuan.

The Spirit

Posted: 21 November 2011 in Pemikiran
Tag:,

Kotaku
Dia memang tercipta untukku
Pada setiap malam yang sunyi, dia selalu ada untukku
Kotaku bukan munafik yang berpura-pura tampak bagus
Tidak

Kotaku adalah kota tua
Tua dan bangga terhadap semua pori-pori dan keriput-keriputnya
Kota kesayanganku, mainanku
Dia menyatakan jati dirinya, apa adanya
Keringat, tenaga dan darah dari banyak generasi

Kotaku tertidur
Selepas tengah malam hingga fajar hanya bayangan yang bergerak dalam kesunyian
Kotaku adalah cintaku
Hidupku
Dan aku jiwanya

Kotaku memang tercipta untukku
Kotaku memberikan semua yang kubutuhkan

The Spirit, 03:39 – 06:00