Arsip untuk Maret, 2012

sepeda bersepedaKembali membangkitkan semangat bersepeda pagi, setelah sangat lama sekali tidak melakukannya. Olahraga yang sebenarnya murah meriah, tapi karena aku sudah beberapa waktu tidak lagi punya sepeda, maka kegiatan transportasi lebih sering tergantikan dengan motor. Dan setelah punya sepeda lagi, kegiatan bersepeda bisa kembali dilakukan.

Beberapa rencana sudah mulai membayang, menentukan rute mana saja yang mau dilewati kembali. Prioritas utamanya adalah beberapa jalan yang dulu pada saat masih sekolah sering aku lewati. Dulu, entah sendiri atau bergerombol bersama teman-teman, sering bersepeda melewati jalan-jalan desa kecil, yang kadang tidak bisa dilalui sepeda sehingga sepeda yang harus ganti diangkat oleh kami. Menyusuri jalan-jalan yang belum pernah dilalui, mencari jalan-jalan tembus yang mempercepat sampai ke tujuan, bahkan bersepeda jauh ke luar daerah.

Kini jalan-jalan itu yang ingin aku lewati kembali. Setelah sholat Subuh, mulai keluar dengan sepeda, tentu saja hari masih cukup gelap. Melewati jalan-jalan kecil, terutama yang tanpa penerangan dan belum diaspal, menjadi cukup sulit di awal perjalanan. Bahkan saat melewati pinggiran sungai Brantas, aliran sungainya terlihat mengerikan karena hanya terlihat gelap memantulkan bayangan yang ada di sekelilingnya. Tapi kalo udah agak terang sedikit, semua jadi terlihat jelas, perjalanan terasa lebih bernuansa berbeda.

Ternyata setelah melewati jalan-jalan yang sudah cukup lama tidak aku lalui, ada beberapa tempat yang sudah berubah sehingga kadang aku pangling karena sudah lupa. Beberapa jalan tanah dulunya kini sudah menjadi jalanan beraspal, meskipun ada juga yang masih berupa jalan makadam berbatu, bahkan beberapa masih berupa batu baru. Jalan-jalan tembus yang dulu, beberapa sudah tidak lagi bisa dilewati karena sudah ditempati bangunan. Jadi ingat dengan kedua temanku dulu pada saat bersepeda sama-sama saling membanggakan desanya yang punya jalan tembus. Yang satunya tidak mau kalah dengan teman yang lain bilang kalo jalan tembus di desanya sangat benar-benar berupa jalan tembus yang melewati kebun-kebun rumah orang, bukan area yang memang sengaja dibuat jalan.

Sempat pula melewati rumah beberapa teman lama yang sudah lama juga tidak bertemu. Kini beberapa rumah-rumah mereka juga berubah tidak lagi seperti dulu saat masih sering main ke sana. Dari beberapa pengalaman tersebut, yang paling menyenangkan adalah menemukan sebuah rute yang dulu pernah aku lewati pas ikut sepeda santai di SD. Udah lama banget penasaran dengan rute tersebut, pengen menyusuri tapi lupa di beberapa bagian jalannya. Tapi begitu dicoba lagi dengan mengingat-ingat kembali, akhirnya ketemu juga jalannya.

Melakukan sebuah kegiatan yang dulu pernah bahkan sering dilakukan pada masa kecil memang menyenangkan. Banyak cerita dan kenangan yang kembali muncul, mengingatkan masa-masa di mana tidak ada beban berat yang tersimpan di dalam hati dan pikiran. Semuanya serba menyenangkan, dengan dikelilingi oleh teman-teman yang berperasaan sama. Walaupun kini aktifitas tersebut tidak lagi dilakukan bersama teman-teman yang dulu, namun cerita itu masih akan tetap tersimpan.

Patung LibertyDi sela-sela kesibukan rutinitas pagi hari, jelang berangkat kerja, sambil dengar dan lihat berita di televisi yang mengulas tentang patung-patung di Indonesia khususnya patung-patung yang bermasalah. Bahkan beberapa di antaranya kemudian dirobohkan oleh penduduk setempat karena berbagai alasan. Namun yang sangat disayangkan, ternyata pihak redaksi berita malah terkesan menyalahkan masyarakat yang tidak memahami dan mengerti makna dan maksud di balik patung tersebut.

Jangan pikir masyarakat tidak memahami seni, masyarakat mungkin sangat paham itu melebihi para tokoh di balik redaksi berita tersebut. Ini mungkin lebih tentang prinsip dan identitas komunitas. Memang banyak sekali patung-patung bersebaran di seluruh penjuru Indonesia ini. Bahkan banyak di antaranya merupakan peninggalan jaman Megalitik yang berupa patung-patung batu besar. Di depan rumahku sendiri berdiri patung berbentuk pergelangan tangan yang terpenggal mengacungkan dua jari tanda dukungan ke sebuah partai politik besar di jaman Orde Baru, namun di bawahnya tertulis “Dua Anak Cukup”. Bahkan di desaku sendiri berdiri patung besar maskot Kabupaten Kediri berwujud arca Dewa Ganesha (aneh sebenarnya kalo sebuah wilayah seperti ini bermaskotkan dewa pagan). Dengan berbagai maksud dan tujuan, tidak hanya patung yang didirikan, namun ada juga dalam bentuk monumen atau tugu.

Lalu apa perlunya pembangunan thoghut-thoghut tersebut? Dalam berita tersebut disiarkan bahwa patung-patung tersebut didirikan di antaranya dalam rangka memperindah tata ruang kota. Padahal ada sebuah patung berbiaya kurang lebih sampai 4 miliar. Padahal alangkah lebih indahnya bila biaya tersebut disalurkan untuk pembangunan sekolah-sekolah yang hampir roboh, misalnya. Atau memperbaiki sarana transportasi, contohnya. Aku tidak terlalu memperhatikan patung-patung apa saja yang bermasalah dan yang sudah dirobohkan, tapi sekilas ada berita tentang patung Barack Obama di situ. Sebuah pertanyaan kembali muncul, seberapa pentingkah patung Obama ada di Indonesia, hanya karena beberapa tahun beliau ini tinggal di Indonesia? Suatu pengandaian saja, dari sebuah penelitian bahwa Adolf Hittler pernah tinggal dan meninggal di Indonesia, mengapa Indonesia tidak merasa perlu membuat patung Adolf Hittler di Indonesia?

Memang pembuatan patung dihindari karena menjauhi maksud dari menyembahnya. Tapi patut kita simak, bahwa para penyembah berhala dahulunya tidak menyembah patung. Mereka menyembah Allah SWT melalui ajaran orang-orang soleh. Setelah orang-orang soleh tersebut meninggal, maka kaum yang ditinggalkan membuat patung-patung untuk mengenang mereka, bukan untuk menyembah mereka. Namun generasi-generasi selanjutnya kemudian “merasa” perlu menyembah patung-patung tersebut. Dan akhirnya jadilah mereka penyembah berhala. Sedangkan menurut catatan sejarah yang pernah aku dengar, jumlah dan macam berhala pada saat Islam masuk ke daerah Nusantara berkali-kali lipat lebih banyak daripada jumlah dan macam berhala pada saat Islam disebarkan di bumi Arab. Hal ini yang dikhawatirkan dari generasi-generasi kita selanjutnya, yang mungkin kurang mendapat pengetahuan tentang maksud adanya patung tersebut.

Apalagi sering sekali berkaitan dengan sebuah peristiwa maka dibuatlah monumen. Yang kemudian terjadi adalah monumen tersebut dijadikan tempat mengenang yang terkadang berlebih-lebihan. Lihat saja di Monumen Bom Bali, banyak yang kemudian menaruh bunga, foto, tulisan, bahkan berdoa di ‘altar’ monumen.

Masih tercuplik dari berita yang sama, patung bagi beberapa penguasa adalah penguat kekuasaan, terbukti sejak jaman Indonesia merdeka para penguasa negeri ini membuat patung-patung dengan maksud-maksud tertentu. Maka bertebaranlah patung-patung pahlawan, adegan heroisme perjuangan bangsa, sampai diorama dan relief-relief di berbagai tempat. Bahkan ada beberapa yang jadi maskot dari sebuah kota atau daerah (seperti patung dewa pagan Ganesha tadi). Jadi ingat sebuah patung kambing di sebelah jalan timur kantorku, awalnya aku khawatir patung tersebut merupakan pemujaan hal-hal tertentu yang mengarah kesyirikan, namun ternyata itu adalah tanda bahwa di situ ada penjual kambing.

Terakhir, masih dengan pertanyaan yang sama dalam pikiran, perlukah adanya patung tersebut? Bahkan dengan maksud apapun? Padahal kita tidak ingin malaikat tidak mau memasuki rumah kita karena ada patung thoghut di rumah kita, bagaimana ya jika malaikat tidak mau memasuki negara kita karena banyak patung thoghut di negara kita?

Beberapa bulan yang lalu banyak kekeringan di mana-mana. Maklumlah, musimnya sedang musim kemarau, jadi banyak sumber air yang mengering, dan air bersih melimpah jadi berkurang. Banyak yang beranggapan, terutama yang tersiar di berita-berita, bahwa sekarang sedang terjadi musim kemarau berkepanjangan. Padahal waktu itu masih bulan September. Kalo menurut pelajaran di sekolah, musim hujan baru dimulai di bulan Oktober sampai bulan April. Jadi sebenarnya belum masuk musim hujan, sehingga kurang tepat kalau dikatakan musim kemarau berkepanjangan.

Menurut pengamatanku dari daerahku sendiri, kemarau berkepanjangan lebih tepat disematkan untuk tahun 2009, di mana hujan baru turun di akhir bulan Desember. Sedangkan di tahun 2010 lalu, gantian musim hujan sepanjang tahun. Baru tahun 2011 lalu kemudian musim kembali normal. Perubahan alur iklim dan cuaca yang tidak menentu ini yang kemudian membingungkan banyak orang, sehingga memang bila dibandingkan dengan tahun 2010, tahun ini bisa dibilang kemarau berkepanjangan. Tapi bila dibanding tahun 2009 atau tahun-tahun biasanya, belum bisa dibilang kemarau berkepanjangan. Lebih tepatnya disebut mengalami kekeringan cukup parah, gitu aja.

Prediksi kemarau panjang juga pernah terjadi di tahun 2008, tapi ternyata saat itu hujan turun seperti biasanya, di sekitar bulan Oktober. Tapi pastinya musim seperti itu cocok buat orang-orang yang selalu mengeluh saat turun hujan. Apalagi tahun sebelumnya, banyak keluhan bermunculan hampir di semua tempat saat hujan turun. Sehingga kalau sampai pada saat seperti ini mereka yang mengeluh itu masih mengeluh juga, berarti rasa syukur sudah tercabut dari dalam diri mereka. Kemarau sudah memasuki hati mereka.

Sekarang sedang musim hujan, tentu saja hujan ada di mana-mana. Hujan turun bisa setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu. Tapi seperti musim kemarau yang lalu, banyak keluhan bermunculan tentang hujan. Padahal ini musim hujan, Man! Sangat wajar bila hujan turun, emang waktunya turun hujan. Tapi nggak tau juga apa alasan kita mengeluh saat hujan turun. Padahal kita udah melewati sekitar 6 bulan panas. Hujan pun belum sampai 6 bulan kita nikmati turunnya. Saat kita melewati hidup di musim kemarau, panasnya musim kemarau adalah resiko hidup kita. Demikian pula kalo kita melewati hidup di musim hujan, hujan adalah resiko kehidupan kita.

Kalau dengan cuaca panas kita mengeluh, cuaca hujan kita mengeluh, lalu kita mau hidup yang bagaimana? Kita tentu saja tidak bisa hidup dengan cuaca yang semau kita. Kita hidup berdasarkan tatanan hukum Allah. Masing-masing musim juga mempunyai rejeki untuk setiap manusia. Alhamdulillah kita masih bisa mendapati hidup di musim hujan tahun ini, alhamdulillah kalo kita masih mendapati musim kemarau tahun ini, alhamdulillah lagi kalo kita masih mendapati musim hujan tahun berikutnya, dan seterusnya. Hidup kita adalah siklus, naik turunnya adalah resiko kehidupan. Tidak perlu membenci hujan, tidak perlu membenci panas, bisa-bisa kita malah membenci diri kita sendiri. Jangan sampai, apalagi masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari setiap situasi dan keadaan. Ambillah hikmahnya saja!

nasi putihBiasanya di hari Ahad ibu memasak masakan yang jarang dimasak di hari-hari yang lain, entah itu sekedar sambel tumpang, gado-gado, ataupun siomay. Maklumlah, di hari Ahad itu (seringnya) semua ada di rumah, jadi masakannya pun dibuat spesial khusus hari itu. Namun ada satu makanan yang udah lama aku rindukan ada lagi di rumah pada hari Ahad itu, yaitu sego krawu.

Sego krawu yang aku kangenin ini biasanya diracik oleh Bu’ Wih. Bu’ Wih ini nenekku, yang udah wafat sekitar 17 tahun yang lalu. Dulu semasa masih kecil, pada hari Ahad ini sering banget dibuatkan sego krawu ini. Biasanya aku dan adikku setelah mandi pagi berjejer di kursi kecil di depan televisi nonton Si Unyil, sambil disuapi ibuku bergantian dengan sego krawu ini dari sebuah nampan lebar.meskipun rasanya mungkin biasa saja tapi terasa nikmat dan ngangenin.

Sego krawu ini sebenarnya adalah nasi putih biasa dengan dicampur parutan kelapa dan dicampur dengan garam. Jadi berasa nasi putih bercampur gurihnya kelapa dan sedikit asin dari garam. Dicampur dalam sebuah nampan yang nantinya langsung jadi piringnya. Masakan sederhana, tapi sukses menghidupkan kebersamaan di hari Ahad. Meskipun udah bertahun-tahun gak ngerasain lagi, tapi rasa sego krawu itu masih berbekas di lidahku sampai sekarang.

Menulis di buku harian adalah sebuah kegiatan menulis tentang diri sendiri, orang lain yang terkait, atau apapun di sebuah buku. Biasanya yang ditulis adalah pengalaman pribadi, kegiatan sehari-hari, perasaan, rencana ke depan, bahkan mungkin juga hutang-hutang yang dimiliki. Gaya penulisan pun bisa macam-macam, gaya bebas lah pokoknya. Maklum biasanya buku harian seperti ini bukan untuk konsumsi publik, hanya untuk dibaca dan ditulis untuk dan oleh diri sendiri. Sebebas apa tulisannya, itu sih terserah penulisnya saja.

Menulis buku harian seolah menceritakan tentang diri sendiri dan keadaan lingkungan sekitar kepada sebuah buku, ataupun bentuk curhat kepada seseorang, hanya saja bentuk seseorang ini adalah sebuah buku. Ada cerita yang jujur apa adanya, tapi ada juga yang tidak semuanya diceritakan.

Masih ada nggak ya yang masih suka nulis di buku harian? Meski terkesan lebay, dulu aku juga pernah menulis buku seperti ini. Isinya ya seperti itu tadi, macem-macem saja. Kadang juga ditempeli foto-foto pribadi yang berhubungan atau yang pengen disimpen. Aku menulis di buku selama sekitar 6 tahun, sejak lulus SD sampai lulus SMK.

Awalnya aku sering melihat sepupu-sepupuku punya sebuah ‘kitab sakti’, yang sangat dilarang keras bagi orang lain untuk membacanya. Kemudian suatu ketika aku dan adekku dibelikan sebuah buku kecil oleh Bapak, yang cocok dipakai sebagai catatan harian. Sebelumnya aku juga punya buku yang lebih kecil lagi untuk mencatat hal-hal yang penting untuk diingat. Sehingga setelah itu, aku dan adekku mulai membuat catatan pribadi tentang segala hal yang ingin ditulis. Meskipun namanya buku harian, tapi nyatanya tidak setiap hari aku menulisnya.

Sampai akhirnya terbuat dua buku. Aku tidak lagi menulis karena sebab yang sebenarnya sepele. Waktu aku berangkat kerja ke Bali, salah satu buku yang lama aku tinggal di rumah. Nggak taunya semua buku-bukuku yang ada di rak dijual ke tukang loak. Pas pulang aku sudah tidak punya lagi buku-buku pelajaran yang ada di rak, dan tentu saja termasuk buku harian yang tadi. Dan akhirnya buku yang baru pun lembaran yang ada tulisannya aku sobek dan aku musnahkan, jadilah mulai hari itu aku tidak lagi menulis di buku harian.

Selain buku harian aku juga suka banget membuat kliping, yang banyak tentang sepakbola, walaupun hanya berisi gambar-gambar dari majalah atau koran yang aku gunting dan tempel di sebuah buku. Kalo kliping aku mulai buat sejak kelas 5 SD, setelah event Piala Dunia 1994. Waktu itu aku lihat kok gambar-gambarnya bagus, sayang banget kalo kemudian dibiarkan begitu saja di koran. Jadinya aku mulai menggunting dan menempelkannya di buku bekas pelajaran yang sudah tidak dipakai lagi. Bahkan beberapa tahun kemudian aku malah sengaja membeli tabloid sepakbola untuk diguntingi gambarnya jadi kliping gambar. Sampai akhirnya jadilah beberapa buah buku kliping, yang beberapa ada juga yang ikut terjual di tukang loak.

Sekarang kegiatan menulis buku harian tergantikan dengan menulis di blog. Kegiatan kliping digantikan dengan menyimpan gambar-gambar di internet. Meskipun dalam jalur yang hampir sama, namun tentunya ada batasannya juga. Tulisan-tulisan yang tidak bisa dibaca setiap saat karena butuh koneksi internet. Lagian tulisannya pun hanya bisa dibaca oleh siapaun yang juga konek ke internet. Salah satu solusinya ya menyimpan halaman blog kemudian mencetak sehingga bisa dibaca kapanpun, siapapun, dan di manapun. Demikian juga dengan klipingnya, bisa disikapi dengan tindakan yang sama. Ada juga program aplikasi komputer untuk membuat catatan harian yang lebih praktis tanpa koneksi internet. Banyak pilihan, tergantung selera masing-masing orang saja.

Langganan

Posted: 21 Maret 2012 in Pengalaman
Tag:, , ,

pembeli adalah rajaBerlangganan dengan sebuah toko memang lebih banyak keuntungannya daripada tidaknya. Sang penjual dan pembeli kurang lebih sudah cukup saling mengenal dan memahami satu sama lain, sehingga tidak ada lagi kecanggungan dalam proses bertransaksi. Bahkan pelayanan yang diberikan toko pun lebih terasa memuaskan karena terasa pas dengan keinginan pelanggan. Namun tak sedikit pula pembeli yang ‘merasa’ pelanggan dari sebuah toko. Padahal bisa jadi baru sekali beli ke situ, atau bahkan malah ke situ karena saran seorang teman. Dengan merasa sebagai pelanggan maka bisa jadi pembeli yang seperti ini menginginkan keistimewaan dibanding pembeli yang lain.

Pernah suatu ketika aku disuruh bos untuk membeli sesuatu di sebuah toko. Tak lupa bos berpesan untuk menyebutkan nama kantorku atau nama bosku saat bayar, dengan harapan bisa dapat potongan atau bahkan harga istimewa karena ‘dianggap’ sebagai pelanggan. Dan akhirnya yang terjadi gak ada pengaruhnya sama sekali. Aku sih maklum, karena seberapa sakti sih urusan titip nama dalam transaksi seperti ini. Toko tersebut bisa saja melayani puluhan bahkan ratusan pembeli dalam satu hari, mungkin tidak mungkin menghapal seseorang yang sebelumnya sudah membeli dengan suatu identitas tertentu dan kemudian kembali lagi dengan menganggap diri sebagai pelanggan.

Dalam urusan jual beli aku termasuk ‘pembeli jalan lurus’, yang nggak mau repot menawar, ataupun tidak terlalu banyak bertanya. Ada barang, cocok, uang cukup, beli, bawa pulang, selesai. Tidak bisa berbasa-basi dengan asumsi bahwa penjual mengenalku karena sebelumnya aku pernah atau sering beli di situ. Meskipun lebih akrab itu lebih baik, tapi aku juga nggak mau membebani pikiran si penjual untuk mengingat-ingat kapan dan siapa aku yang baru saja kemarin juga beli ke situ.

Tapi dalam masalah langganan aku juga dihapal oleh beberapa penjual. Contohnya seperti di Adiran Kuliner, langganan beli batagor di situ. Begitu aku datang saja, bukan hanya pemiliknya yang sudah hapal makanan dan minuman apa yang akan aku pesan, yang tukang meracik pun sudah hapal, dan tanpa aku pesan sebelumnya pun makanan dan minuman sudah jadi diantar ke meja. Di sebuah toko peralatan komputer juga seperti itu, karena keseringan ke situ, pernah beli sesuatu tapi nggak ada dan harus pesen dulu, jadi dikenal penjualnya. Dan baiknya, terkadang beli di situ juga dapat diskon tanpa diminta.

Tapi yang jelas, meskipun hapal, akrab, dan ‘melanggan’ ke sebuah tempat, pastinya tidak perlu memaksa pemiliknya untuk memberikan pelayanan ekstra atau istimewa yang berbeda dari yang lain hanya karena sering ke situ. Masalah seperti pelayanan istimewa itu kewajiban pemilik usaha untuk semua konsumennya tanpa terkecuali, kalo perlu bahkan orang-orang dekatnya. Sebaliknya pelayanan istimewa adalah hak bagi semua konsumen tanpa terkecuali, tanpa perlu merasa seperti akulah pelanggan sejati di sini.

norman schwarzkopfDi sebuah episode kuis ‘Siapa Berani’, di babak terakhir, di mana seorang peserta yang berhasil menembus babak akhir bersama pendamping yang membantunya menjawab pertanyaan. Mereka tiba pada suatu pertanyaan tentang seorang tokoh asing yang namanya saja susah dieja. Kemudian salah satu dari mereka bertanya sambil menggumam pada dirinya sendiri dengan ekspresi percaya diri sok tahu dan serius, “Norman Schwarzkopf itu aktor apa sutradara ya?” Spontan aku yang tadinya kurang memperhatikan acara tersebut karena sedang mengerjakan sesuatu kemudian melotot ke layar televisi. Dan meskipun jawaban peserta tadi akhirnya benar, tapi dia juga kena sindir pembawa acaranya tentang gumamannya tadi sangat salah.

Mungkin memang bagi yang tidak tahu pertanyaan tadi sangatlah sulit dikira-kira, orang ini profesinya apa sih. Tapi bagi orang yang tau, gumaman seperti itu tentulah sangat konyol. Sebagai sedikit penjelasan, Norman Schwarzkopf terkenal sebagai jenderal yang memimpin pasukan sekutu dalam Perang Teluk di tahun 1990. Aku pernah membacanya dalam buku pelajaran Sejarah pada saat kelas dua SMK. Aku sering teringat-ingat bacaan tersebut karena sosoknya yang khas ditambah namanya yang aneh bagi orang Indonesia dan juga peran sebagai pimpinan pasukan, ditambah lagi dia terlibat dalam sebuah perang besar di era modern.

Mungkin kita jarang mengamati atau memperhatikan sejarah tokoh-tokoh dunia. Kita umumnya tidak tahu dari mana nama penghargaan Nobel berasal, atau bagaimana asal mula nama alat-alat yang bahkan kita temui setiap hari. Pengetahuan seperti itu mungkin bagi kita tidak penting, karena yang penting kita pakai alatnya saja. Pengetahuan seperti ini mungkin lebih dikuasai oleh para ahli sejarah dan pengetahuan, sehingga kita lebih memikirkan bagaimana hidup hari ini dan besok dan besoknya lagi daripada mengingat-ingat nama tokoh yang bahkan kita gak pernah tau.

Tapi melihat ‘kasus’ Norman Schwarzkopf tadi, mengingat sejarah menjadi cukup penting sebagai pengetahuan yang mungkin bagi masyarakat umum tidak penting, karena kita akan lebih mengerti dan memahami bagaimana situasi dunia yang sudah jadi saat ini terbentuk pada awalnya dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Karena memang tidak mengenakkan menjadi katak dalam tempurung (bahkan menjadi katak di luar tempurung pun tidak mengenakkan). Dan mungkin juga bisa berfungsi sebagai pencegah rasa malu karena salah menjawab pertanyaan di kuis seperti di atas.

disiplin melanggar peraturanPada dasarnya manusia didominasi dengan sifat meniru. Jadi apapun bisa ditiru oleh orang, meskipun ada salah satu yang menjadi perintisnya. Tak terkecuali dengan mentaati sebuah peraturan. Jika seseorang melihat orang lain melanggar peraturan, sedangkan tidak ada tindakan apapun dari pelanggaran tersebut, maka dia akan terpicu untuk meniru hal tersebut dengan alasan tadi. Sedangkan orang pertama yang melakukannya adalah orang yang meremehkan adanya peraturan tadi, sehingga dia yakin bahwa yang dilakukannya tidak apa-apa dan bukan merupakan sesuatu yang penting.

Jadi ingat wejangan seorang guruku yang berpesan kepada para muridnya untuk ‘disiplin saat tidak diawasi’. Bukan berarti kalo diawasi malah tidak disiplin, tapi kalo tidak diawasi saja bisa disiplin, apalagi kalo diawasi. Masalahnya sering orang meremehkan peraturan entah karena alasan kedekatan sosial, keakraban personal, ataupun alasan-alasan lain yang menurut mereka bisa mengijinkan mereka untuk melakukan pelanggaran itu.

Peraturan bukan dibuat untuk dilanggar, ataupun dibuat untuk mengetahui bahwa kita telah melanggarnya, tetapi peraturan dibuat untuk dipatuhi, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga demi kenyamanan bersama. Karena pembuatan peraturan bukan hanya tentang kedisiplinan pribadi namun juga ketertiban bersama. Kalo diajak tertib saja masih banyak orang nggak mau dengan berbagai alasan yang tidak berhubungan, bagaimana kita bisa mencontohkan kedisiplinan kepada generasi penerus di bawah kita. Bisa jadi kita hanya mewariskan kecurangan dan penipuan terhadap peraturan saja.

Dan bisa jadi kita juga melanggar peraturan pribadi yang kita buat sendiri kalo kita menganggap hal-hal seperti itu tidak penting lagi.

aksara jawaTernyata, meskipun menjadi bahasa percakapan dan komunikasi sehari-hari, menulis blog dengan menggunakan bahasa Jawa itu tidak semudah membalik telapak kaki. Terbukti dari beberapa posting blog yang aku buat menggunakan bahasa Jawa, ternyata dalam penyusunannya malah memakai tulisan bahasa Indonesia sebagai dasar pembuatannya. Padahal bahasa yang dipakai juga bukan bahasa Jawa yang halus, menggunakan bahasa sehari-hari saja, tapi tetap saja kesulitan mencari kata-kata yang tepat.

Maklumlah, bahasa Jawa mempunyai kata-kata yang bisa jadi berbeda dari satu daerah ke daerah yang lain bahkan untuk menyebutkan suatu hal yang sama. Terlebih lagi bahasa percakapan sudah mengalami penyesuaian dan adaptasi yang sangat luar biasa, bisa berbeda jauh dari bahasa pembentuk aslinya. Terlebih lagi, bahasa Jawa juga banyak menggunakan vokal ‘a’ yang tidak tegas, melainkan ‘a’ yang mengarah ke vokal ‘o’. Sedangkan dalam tulisan dasarnya, kata tersebut ditulis dengan huruf vokal ‘a’.

Selain itu, banyak lagi aksara yang tidak sama antara penulisan dan pengucapannya. Bahkan mungkin banyak orang Jawa sendiri masih salah dalam menuliskannya, meskipun benar dalam mengucapkannya. Patokan kata-kata dalam bahasa Jawa sendiri memang berdasar pada aksara Jawa, yang bila dibaca bisa menimbulkan pengertian yang lebih tegas dalam perbedaan pengucapan dan penulisan, misalkan pada huruf ‘d’ dan ‘dh’, atau ‘t’ dan ‘th’. Terutama untuk bahasa Jawa krama alus yang asli, masih sangat cocok bila ditulis dengan aksara Jawa tersebut. Terlebih lagi, banyak kosakata bahasa Jawa yang tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Alhamdulillah udah punya blog dengan memakai bahasa Jawa. Bukan bahasa Jawa halus sih, karena aku juga tidak terlalu hapal bahasa halus dari masing-masing katanya, lebih ke bahasa percakapan sehari-hari. Soal pembaca, mungkin akan banyak yang tidak paham sehingga tidak terlalu banyak dikunjungi orang, tapi setidaknya aku punya cara bagaimana agar bahasa Jawa tidak terlupakan. Banyak sekali terutama dari generasi muda sekarang ini yang tidak tahu bagaimana perbedaan bahasa Jawa untuk percakapan dengan orang tua, dengan teman sebaya, dan juga dengan generasi di bawahnya. Apalagi dengan bahasa Jawa halus. Orang-orang tua sekarang lebih suka mendidik anak-anaknya dengan bahasa Indonesia, melupakan bahasa Jawanya, sehingga pendidikan bahasa Jawa halus menjadi terlupakan pula.

status facebook cowok cewekSebenarnya gak cuma Facebook sih, tapi juga Twitter, Koprol, atau juga situs-situs jejaring sosial yang lain. Tips ini berdasarkan hasil pengamatanku sendiri dan juga data statistik bersumber dari situs-situs itu sendiri.

  1. Langkah 1: bikin nama akun semenarik mungkin, sampai menarik becak sekalipun tidak apa-apa asal unik dan menarik, bahkan tidak perlu bisa dibaca oleh orang lain.
  2. Langkah 2: pasang foto tercantik yang pernah ada. Foto orang lain pun gak masalah asal terlihat cantik. Dengan demikian, selain banyak mendatangkan komentar, juga akan banyak pengguna lain yang meminta menjadi teman.
  3. Langkah 3: dengan didukung dengan langkah 1 di atas, tidak perlu buat status yang cerdas dan panjang serta bermakna, cukup tanda baca ‘?’ sudah mengundang banyak komentar dari teman.
  4. Langkah 4: sebuah langkah praktis terakhir adalah jangan lupa untuk menekan tombol ‘Like’ pada status sendiri, biar terkesan pengguna mandiri. Kalo perlu ditambahin pula komen sendiri di bawahnya.
  5. Langkah 5: bila belum berhasil mendatangkan banyak komen, ulangi dari langkah 1.