Arsip untuk November, 2013

the blues chelseaSeseorang belum bisa dikatakan penggemar sebuah tim sepakbola jika dia tidak mendukung saat timnya mengalami kekalahan. Bisa aja kan pas tim yang dia gemari kalah berkali-kali terus dia nggak mendukung lagi timnya, itu berarti dia tidak menggemari tim tersebut, tapi dia menggemari kemenangan tim tersebut.

Yang namanya penggemar dia akan mendukung tim tersebut, apapun keadaan timnya. Mau timnya menang, seri, kalah, juara, terdegradasi, atau bangkrut, tetap dia dukung. Ini sebenarnya bukan fanatik ya. Kalo fanatik itu gimanapun timnya akan dia dukung, tapi kemudian muncul pemikiran bahwa timnya itu yang terbaik sekolong jagad ini, jadi tim-tim lain itu jelek dan layak dijelek-jelekkan. Fanatik lain yang lebih absurd  adalah bahwa tidak ada tim lain selain tim yang didukungnya. Ini absurdnya adalah kalo nggak ada tim lain selain timnya, gimana bisa timnya disebut terbaik. Bilang aja kalo timnya itu forever alone deh!

Makanya ada ungkapan bahwa lover adalah hater yang tertunda. Maksudnya adalah kalo kadar cintanya itu udah lebay alias berlebihan terhadap sebuah tim, dan dia membenci tim lain selain timnya, maka dia adalah hater tim lain dan dia ini fanatik sejati. Ada lagi ungkapan hater adalah lover yang tertunda. Maksud yang ini adalah biasanya yang mengetahui kelemahan dan kekurangan kita serta mau mengungkapkannya adalah mereka yang membenci kita. Yang cinta kita biasanya malah menutupi itu dan menonjolkan kelebihan dan kekuatan kita. Malah bisa dibilang hater itu yang lebih memperhatikan kita, sehingga haterlah yang sebenarnya lebih tau detail tentang kita.

Kembali ke masalah tim sepakbola tadi ya, sebenarnya bingung juga ada orang-orang Indonesia yang nekad saling mengolok-olok karena tim yang didukungnya. Sering tuh dijumpai di situs-situs berita olahraga, sepakbola terutama. Kalo ada sebuah tim yang bertanding dan preview-reviewnya dimuat di situ, pasti ada deh pendukung tim itu yang ngasih komen ke situ, itu wajar! Tapi kalo ternyata ada para pendukung tim lain ikut nimbrung di situ, itu ngapain? Terutama kalo si hater ini ngejelek-jelekin tim ini, padahal tim ini lagi main bagus banget. Pasti tujuannya apa lagi kalo bukan mencari detail tim ini, terutama kelemahannya. Tar dia ngungkapin kelemahan tim ini, dengan lebaynya dan ditambah fakta-fakta yang mungkin dibuat-buat, misalnya, tapi malah dari komen ini kita tau kalo ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari tim ini.

Tapi gini ya, sebesar-besar cinta dan dukungannya kita, orang Indonesia ini, buat Barcelona, Real Madrid, Manchester United, Chelsea, Manchester City, atau klub-klub sepakbola di Eropa sana, tetap aja kita ini orang Indonesia. Nggak ada bagus-bagusnya kita bangga-banggaan tim kesayangan, sampai bertengkar gara-gara ngunggulin masing-masing tim kegemaran kita ini. Pernah baca di forum ada pendukung dari dua tim yang bertengkar sampai ngajak berantem segala, demi apa? Toh tim yang mereka dukung, di Eropa sana, nggak tau kalo mereka berantem. Lagian kalo mereka tau, nggak ada pengaruhnya buat mereka. Bagi para klub ini, terutama tim dan pemainnya, berjuang di lapangan itu lebih baik dan lebih menghasilkan daripada pendukungnya koar-koar dan berantem nun jauh di sini, di pelosok Asia ini.

Jadi pendukung dan penggemar itu sebenarnya nggak ada salahnya, cuma liat kadarnya juga. Kalo jadi fanatik buta, mikir juga apa sih yang kita dapatkan dari itu. Toh tim yang kita dukung juga nggak ngasih kita apa-apa secara riilnya. Kita mungkin hanyalah satu dari sejuta. Mereka mungkin butuh pendukungnya seperti kita-kita ini, tapi kita tanpa perlu mendukung mereka pun, mereka tetap terkenal di manapun juga.

Sawang Sinawang

Posted: 29 November 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

sawang sinawangRoda belakang motor nggak akan bisa mengejar dan menyalip roda depannya. Kalopun dia bisa, dia bukan lagi disebut roda belakang, tapi menjadi roda depan. Tapi roda belakang itu nggak kalah kerennya kalo dibanding roda depan. Roda depan emang udah takdirnya eksis, letaknya di depan. Tapi rantai motor itu nggak dipasangkan untuk roda depan, tapi roda belakang. Sehingga kalo mesin motor nyala dan berputar, maka yang berputar dan punya tenaga itu roda belakang, roda depan hanya mengikuti aja.

Tapi roda depan itu juga penting, selain menampakkan keeksisannya. Dengan menggunakan roda depan kita berbelok-belok sesuai dengan kondisi jalanan. Dia nggak punya tenaga dari motor, tapi dia mengendalikan arah sehingga roda belakang ngikut dia. Yang lebih penting lagi adalah, untung roda itu bentuknya bulat, kalo kotak bisa bahaya soalnya jalannya jadi nggak lancar.

Sebenarnya itu adalah analogi dari bahwa setiap bagian yang ada dari motor itu punya peran dan fungsi masing-masing. Kalo nggak ada fungsinya, ngapain dipasang di situ. Misalnya biar keren motor dikasih rice cooker gitu, tapi masak mau bikin nasi aja harus punya motor. Kalo dalam kehidupan manusia, masing-masing manusia itu punya peran dan fungsi masing-masing. Dan terutama adalah masing-masing manusia punya pekerjaan masing-masing. Kalo aku bilang nggak ada pekerjaan di dunia ini yang mudah. Semua pekerjaan punya kesulitan dan resiko masing-masing. Nggak bisa supir bilang kalo jadi kernet itu lebih gampang daripada dia. Atau ada pedagang yang bilang kalo jadi preman itu lebih gampang. Jadi preman itu juga nggak gampang lo, harus punya gen dasar sebagai preman. Gen dasarnya preman itu kan kasar, garang, berani, tangguh, dan nggak berbelas kasihan. Jadi orang yang bergen dasar lemah lembut kan nggak pantas jadi preman ya.

Balik lagi ke pekerjaan tadi ya, terkait dengan peran dan fungsi masing-masing tadi, ada pengalamanku waktu kerja di pabrik. Dulu aku pernah kerja di pabrik gula. Tugasku adalah mengirimkan zak dari gudang ke pengemasan. Dari sini mungkin kesannya gampang banget kerjaku ya. Tiap harinya rata-rata kebutuhan zak di pengemasan sekitar sepuluh ribu sampai dua puluh ribuan, kalo produksinya lancar. Dalam sekali angkutan, tergantung dengan kebutuhan permintaan, bisa mengangkut sekitar lima ribu sampai delapan ribuan.

Bentuk zak yang aku kirimkan itu lembaran yang dilipat jadi empat, kemudian dibendel dengan masing-masing bendel berisi dua puluh zak. Sedangkan untuk distribusinya aku pakai gerobak dengan jumlah tenaga tiga orang. Orang kalo ngeliat kami pas lewat ngangkut zak-zak itu pakai gerobak itu mungkin bilang gampang banget zak cuma ditumpuk-tumpuk, diangkut gerobak, terus diarak rame-rame tiga orang. Tapi kalo orang tau, bikin tumpukan zak itu nggak gampang, asal ditumpuk-tumpuk di gerobak gitu. Ada pola-pola agar zak-zak itu nggak ambruk di tengah jalan pas lewat jalan yang sulit. Kalo nggak menurut pola itu, bisa-bisa zak-zak itu nggak kuat karena nggak bisa mengunci satu sama lain agar nggak ambruk. Dan yang tau pola seperti itu ya orang-orang yang setiap hari ngerjain kerjaan itu.

Intinya adalah manusia seperti kita ini lebih sering saling memandang, istilah Jawanya sawang sinawang, melihat orang lain dan merasa orang lain itu lebih gampang kerjaannya daripada kita. Padahal orang yang kita lihat itu tadi juga ngeliat kita dan merasa kita kerjanya gampang. Banyak dari kita sebagai manusia menganggap bahwa apa yang dimiliki orang lain itu lebih berharga daripada apa yang kita miliki. Tapi kita belum tau bahwa sebenarnya apa yang kita miliki itu lebih berharga daripada apapun.

Mungkin ada yang belum tahu kenapa blog ini diberi nama chuin5 dan kenapa angka 5 yang dipakai sebagai namanya. Sebenernya dulu udah pernah sih aku bikin penjelasannya, tapi karena terlalu lamanya posting tulisan itu sehingga mungkin ada yang belum tahu. Jadi gini ceritanya, menurutku angka 5 itu adalah angka yang sempurna. Bukti kalo angka 5 adalah angka yang sempurna adalah sampai sekarang nggak ada revisinya. Bisa aja kan misalnya para ahli alfabetikal itu menganggap bahwa angka 5 itu kurang unyu, sehingga perlu diganti bentuknya jadi lebih imut lagi. Atau penyebutan kata ‘lima’ untuk memanggil abjad 5 itu kurang keren dan ketinggalan jaman, sehingga diganti menjadi ‘limbad’. Tapi kan nggak, sekarang kan yang namanya 5 itu bentuknya ya gitu-gitu aja, penyebutannya juga tetap ‘lima’. Jadi angka 5 itu bisa disebut udah sempurna.

Lagian sebenarnya penyebutan ‘lima’ itu juga unik. Coba aja yang lain, disebutnya ‘satu’, ‘dua’, ‘tiga’, gitu. Tapi yang ini, bentuknya 5, nyebutnya ‘lima’. Menurut Fico Fahriza (@ficocacola), jangan-jangan penyebutan ‘lima’ itu ketukar dengan penyebutan ‘empat’. Soalnya ‘empat’ kan jumlah hurufnya ada 5, sedangkan ‘lima’ jumlah hurufnya ada 4.

Sebenarnya alasan di atas itu termasuk alasan yang ngaco, tapi nggak apa-apa lah disebutin di sini, sebagai pembuka tulisan ini. Jadi kenapa aku memilih angka 5 itu karena banyak faktor. Liat aja, jari kita masing-masing tangannya jumlahnya 5, rukun Islam ada 5, dan kalo ada 5 orang ngumpul mereka bisa bikin lanang band atau wadon band (boyband girlband versi Jawa). Ngomongin tentang lanang band (lebih tepatnya disebut vokal grup aja), angka 5 ini juga ada hubungannya. Dulu pas format vokal grup lagi naik daun di sekitaran tahun 90an akhir, ada grup vokal bernama Five dari Inggris. Nah aku ngefans tuh dari pertama kemunculannya sampai sekarang. Jadi, karena Five itu artinya 5 (‘five’, jumlah hurufnya 4, tapi nyebutnya tetep 5), jadinya dipasang angka itu sejak dari blog pertamaku dulu sampai beberapa blog yang sekarang menjadi blog-blog indukku.

Udah gitu aja.

Bikin Layout Buku

Posted: 27 November 2013 in Komputer
Tag:, ,

Mungkin suatu ketika kita dapat tugas bikin sebuah booklet, atau di kantor bikin pedoman yang berbentuk buku. Dengan tugas ini, apa yang akan kita lakukan? Mengorderkan tugas ke pengetikan? Atau ke percetakan? Satu hal yang perlu diperhatikan adalah sebuah tugas kalo kita berikan untuk dikerjakan ke orang lain hasilnya bisa jadi tidak seperti yang kita harapkan, itu pertama. Yang kedua adalah dengan orang lain yang mengerjakan tugas yang agak rumit dari kita, maka secara tidak langsung kita bikin orang tersebut lebih pintar dan lebih kreatif dari kita. Dan yang terakhir, akibatnya adalah kita tetap berada dalam zona di mana kita nggak bisa ngerjain tugas-tugas seperti itu nantinya, sehingga kita tetap menggantungkan pekerjaan ke orang tadi.

Kalo mau belajar dikit, sebenernya tugas bikin booklet atau buku ini bisa kita kerjakan sendiri, kan udah ada program pengolah kata semacam Microsoft Office atau OpenOffice. Kita tinggal bikin setting-setting aja, udah bisa bikin buku. Kali ini akan aku peragakan gimana cara buat kerangkanya, dalam hal ini aku pake Microsoft Office Word 2007.

Yang pertama adalah menentukan kertas yang akan dipakai. Biasanya yang sering dipakai adalah kertas kuarto, A4, atau folio. Dari Page Setup bisa diliat berbagai ukurannya. Kalo pake kertas kuarto yang berukuran 21,59 × 27,94 cm, pilih kertas bernama Letter. Kalo pake kertas A4 yang berukuran 21 × 29,7 cm, pilih kertas bernama A4. Kalo pake kertas folio yang ukurannya 21,59 × 33 cm, pilih jenis kertas Letter, tapi ganti ukuran Height yang sebelumnya 27,94 menjadi 33. Idealnya sebenarnya bikin booklet itu pake kertas folio, soalnya lebih panjang dan nantinya tata letak halamannya pas.

Secara umumnya bikin booklet di MS Word itu ada dua cara. Yang pertama adalah bikin dokumen seperti biasa aja, tar pas mau mencetak dibuat Page Layoutnya jadi Booklet. Cara ini sebenarnya lebih praktis, tapi kurang berseni. Ingat, yang praktis itu sering bikin nggak kreatif! Cara yang kedua adalah bikin dokumennya langsung dalam layout bukunya. Cara ini yang akan aku tulis di sini.

Karena kita akan bikin dokumen dalam bentuk yang nggak biasa, bergantung pada ukuran kertasnya seperti di atas tadi, setelah menentukan jenis kertas yang akan dipakai maka langkah berikutnya adalah bikin setting agar dokumen yang tampil udah jadi bentuk semi booklet. Sebagai contoh dalam tulisan ini aku pakai kertas folio. Orientasi kertas dibuat mode Landscape. Kemudian semua margin diatur, sebagai contoh aku buat margin atas, bawah, dan kanan dibuat 1 cm. Margin kiri dari dokumen juga akan dibuat 1 cm, tapi di sini margin kiri tidak diisi dengan angka 1. Dihitung dulu dengan memperhatikan panjang kertas, yaitu 33 cm, dibagi 2, jadi 16,5 cm. Kemudian 16,5 ini ditambah margin kiri yang diinginkan tadi, yaitu 1. Jadi margin kiri di Page Setup ini diisi dengan angka 17,5 cm. Lalu untuk bagian Multiple Pages dipilih Mirror Margins. Setelah itu selesai dan klik OK.

Sekarang kita lihat bentuk dokumen yang ada di layar. Hasil dari setting yang dibuat di Page Setup tadi terlihat di sini. Bagian dokumen akan berada di bagian kanan layar, sedang bagian kirinya kosong. Nanti kalo dokumen udah memasuki halaman berikutnya, yaitu halaman 2, dokumen akan berganti ke bagian kiri, sedang sebaliknya bagian kanannya kosong. Itu adalah hasil dari setting Mirror Margins tadi, di mana nantinya untuk halaman ganjil dokumen ada di posisi yang sesuai dengan page setup awal, sedangkan sebaliknya untuk halaman genap akan berada di posisi yang sebaliknya.

Sampai di sini sementara settingnya selesai. Kita udah bisa ngetik dan menyesuaikan sesuai dengan tugas yang kita punya tadi. Kalo udah selesai semua proses pengetikannya dan mau mencetak, perhatikan baik-baik karena proses pencetakan itu nggak begitu aja. Lihat dulu berapa jumlah halaman keseluruhan dari dokumen kita ini, kemudian bagi 4, maka hasilnya adalah jumlah lembar kertas yang dibutuhkan. Kita bagi 4 karena dalam 1 lembar kertas nantinya masing-masing akan ada 4 halaman. Kalo misalnya nggak habis dibagi 4, misalnya jumlah halamannya 26, berarti kelebihan hasil pembagiannya adalah tambahan 1 lembar kertas lagi, berarti akan butuh 7 lembar kertas.

Untuk mencetaknya, pertama pada area Page Range, isi pada bagian Pages. Jika jumlah halaman tadi 26, maka bagi dua, jadi isi Pages dengan angka 1 – 14. Ini berarti hanya halaman 1 sampai dengan 14 saja yang akan dicetak. Kemudian pada bagian print, ganti All Page in Range menjadi Odd Page. Ini berarti halaman ganjil aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai semua kertas cetakan pada bagian ini, kemudian tanpa mengubah tatanan kertas langsung balik dengan posisi vertikal dan masukkan lagi ke printer. Cetak lagi dengan cara yang sama dengan atas, hanya saja yang Odd Page tadi diganti dengan Even Page. Ini berarti halaman genap aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Proses berikutnya adalah mencetak halaman sisanya, yaitu halaman 15 sampai dengan halaman 26. Jadi isi Pages dengan angka 15 – 26. Ganti lagi bagian Print yang All Page in Range menjadi Odd page. Kertas yang udah keluar sebelumnya dari printer tadi, tanpa mengubah tatanan kertas masukkan lagi ke printer tanpa dibalik. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai kembalikan tatanan kertas yang udah keluar tadi ke printer dalam keadaan dibalik. Cetak lagi halaman 15 sampai dengan 26 dengan mengganti All Page in Range menjadi Even Page. Setelah selesai, semua cetakan udah bisa dilipat dan dibentuk buku, sesuai dengan urutan halamannya.

Yang perlu diperhatikan sekali lagi di sini adalah jumlah halaman dan kesesuaian nomor halaman pada cetakan. Misalkan halaman 1 yang ganjil, berada di sisi kanan, halaman baliknya yang berada di sisi kiri pasti adalah halaman genap. Di samping halaman genap ini, di sebelah kanan, pasti halaman ganjil dan baliknya yang sebelah kiri adalah halaman genap. Banyak masalah yang timbul karena halaman total tidak habis dibagi dengan 4. Untuk lebih yakinnya bisa dibikin simulasi dulu pake kertas lain. Bentuk lembaran kertas menjadi tatanan bentuk buku dan beri masing-masing halaman dengan nomor halamannya. Dengan simulasi ini maka mencetak bisa lebih mudah.

Kalo paparanku di atas kurang jelas dimengerti karena bahasanya berbelit-belit, anda bisa mencari referensi lain atau bikin eksperimen sendiri. Karena dengan eksperimen sendiri siapa tau anda bisa menemukan cara yang lebih mudah dari caraku tadi. Dan yang pasti anda akan lebih kreatif dalam mengerjakan tugas dan penggunaan programnya.

Tanya Dilema

Posted: 26 November 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

dilemaSuatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

‘Chuin, nggak kerja ya?’
‘Kerja, ini lagi di kantor.’
‘Kerja kok OL aja?’
‘La ini kan pake HP, kan bisa keliatan OL terus.’

Terus terang, pesan kaya gini ini bisa bikin dilema tersendiri. Gimana nggak, kan dia duluan yang kirim pesan. Kalo nggak aku balas tar aku bisa dibilang sombong. Tapi begitu aku balas aku malah dibilang OL pas kerja. Jangan-jangan kalo tar Facebook Messengerku nggak aktif aku bisa dibilang antisosial juga. Padahal tadi kan awalnya karena temenku kirim pesan. Karena ada pesan jadi aku buka. Karena aku buka jadi aku balas. Dan karena aku balas pesan aku jadi OL. Jadi sebenernya kalo temenku nggak kirim pesan aku kan nggak OL.

Nggak enak emang kalo kita digolong-golongkan pada kriteria yang nggak kita banget, kaya itu tadi. Kalo nggak sombong, ya OL pas kerja, atau kalo nggak kedua-duanya berarti antisosial. Ini seolah-seolah menggeneralisir orang yang dia aja nggak tau dan nggak ngeliat sendiri gimana orangnya. Sama kaya menilai seseorang itu sombong karena dia pendiam. Atau seseorang itu otoriter karena dia administratur.

Sebenernya kalimat dari temanku tadi bersifat kalimat tanya ya, tapi gimanapun kalimat tanyanya, itu bukan kalimat konfirmasi yang punya pilihan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’, tapi lebih bersifat kalimat tanya yang diawali dengan ‘tuduhan’.

Seperti Nemo

Posted: 25 November 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

nemoAda satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita. Kalopun omongan kita jelas, bisa nggak temen kita denger omongan kita, kan kupingnya kemasukan air.

La kalo si Nemo tadi sebagai ikan sejati pengen ngobrol pasti mereka punya bahasa sendiri. Kalo dengan ngomong nggak jelas kedengeran, bisa pake bahasa isyarat. Tapi masalahnya, sirip mereka kan pendek, lalu gimana bikin bahasa isyarat yang berbeda untuk setiap kata yang ada di dunia ini kalo gerakan mereka sangat terbatas? Ini pasti banyak kata yang sama buat sebuah gerakan. Lagian spesies ikan itu juga banyak, tapi kalo saling ngobrol mereka bisa saling ngerti satu sama lain spesies. Ini pasti karena nenek moyang ikan itu adalah seorang motivator ulung, di mana dia memotivasi semua ikan untuk menggunakan satu bahasa persatuan yang sama biar sama-sama dimengerti biarpun ada ikan paus ngomong sama ikan teri.

Kita bisa bilang ‘Ah, itu kan cuma film!’. Tapi pernah nyadar nggak, sekhayal-khayalnya film, kita bisa ngebahas film tersebut dengan serius sama teman-teman kita. Padahal dalam lubuk hati yang paling dalam kita tau bahwa itu film, ceritanya karangan, dan adegannya buatan, banyak efek-efek di dalamnya. Tapi karena cerita film, kita bisa marahan sama temen kita. Adegannya bisa mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Film pertama kali yang aku tonton di bioskop adalah Tutur Tinular, sekitar tahun 1989. Setelah nonton itu aku jadi bercita-cita menjadi Arya Kamandanu, sampai akhirnya aku nonton Power Rangers.

Ada lagi misalnya gini, kita tau bahwa dalam film horor hantu-hantunya itu buatan, ada yang memerankan. Kita bisa bilang bahwa film horor itu sebenarnya nggak horor, malah film horor sekarang itu adalah film semi porno yang disamarkan. Tapi kalo liat film horor kita bisa ngeri juga, abis nonton kita nggak bisa tidur, nggak berani jalan di jalanan sepi gelap sendiri, dan lain sebagainya. Padahal pola pikir kita di depan tadi kan ini hantu jadi-jadian, bahkan sebelum nonton filmnya kita udah ngeliat trailer di balik layar film itu. Tapi masih aja ada rasa ngerinya.

Efek-efek spesial di film Hollywood juga keren-keren! Pas nonton kita seolah-olah ngerasa itu beneran terjadi. Film ‘2012’ misalnya, rasanya beneran dunia akan dapat bencana besar, padahal kita tau itu cuma film. Kalo nonton film India rasanya kita ikut terbuai dalam lagu dan tarinya, padahal sebelumnya kita bilang kalo film Bollywood itu lebay. Itu berarti bahwa dari sebuah film kita seolah diajak masuk ke dalam alur cerita film itu dan merasakan bahwa segala hal yang ada di dalam film tadi nyata.

Seperti film Finding Nemo tadi, kalo kita yang nonton mungkin kita lagi-lagi bilang ‘Ah, itu kan cuma film!’. Tapi kalo anak kecil abis nontonnya, dia pasti pengen beli ikan kaya Nemo terus berharap dia bisa ngomong atau bisa meloloskan diri dari akuariumnya. Kita lagi-lagi bisa bilang ‘Ah, itu kan cuma anak kecil!’. Tapi kalo ternyata kita masih ngeri abis nonton film horor, siapa sekarang yang jadi anak kecil?

jawaDari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya. Tapi intinya gini, gimanapun kita ini (terutama aku) adalah orang Indonesia, yang mengaku punya bahasa sendiri, dan pernah ada yang bersumpah pula kalo bahasa ini harus dijunjung tinggi. Kalo kita punya bahasa sendiri, ngapain ngikutin bahasanya orang lain?

Bukan berarti aku anti dengan bahasa asing ya, buktinya dulu nilai ujian bahasa Inggrisku bagus (menurutku sih). Nilai bahasa Fisikaku aja yang nggak bagus-bagus amat. Tapi pada dasarnya, kalo bukan orangnya sendiri siapa yang mau pake dan melestarikan bahasa Indonesia ini? Maka aku sering heran sama orang-orang yang ngakunya cinta Indonesia tapi mengungkapkannya pake bahasa asing. Cinta Indonesia, tapi kenapa nggak cinta sama bahasanya?

Aslinya yang namanya kata-kata, di dalam bahasa Indonesia juga udah bisa mewakili semua perasaan yang tertulis dalam bahasa Inggris. Kalaupun ada kata serapan, itu udah di-Indonesiakan sama ahli-ahli bahasa di kalangan atas sana. Jadi nggak ada alasan buat bilang bahwa bahasa Indonesia itu kuno dibandingkan bahasa Afrika kuno, misalkan. Meskipun masih aja kata-kata serapan itu terasa nggak pantes kalo dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini aku masih bingung dengan apa yang dimaksud oleh kata-kata daring, luring, atau yang kata lebih umum lagi semisal tetikus, ataupun unduh, unggah, dan sebagainya. Entah apa nggak ada kata lain yang bisa mewakili itu, tapi ya udahlah, kata-kata itu juga udah masuk dalam sistem perkomputeran berbahasa Indonesia.

Kalo ngomongin transliterasi bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, kita bisa sedikit berterima kasih sama Google Translate. Sedikit aja, karena banyak kata yang ternyata nggak ditemukan di situ. Belum lagi alih bahasanya yang sangat harfiah banget. Dengan ini, harusnya kita bisa protes ke Google Translate soal ketidakakuratan alih bahasa ini. Tapi khawatirnya, kalo kita protesnya pake bahasa Indonesia, mereka baca protes kita pake transletan dari Google Translate itu tadi. Kan jadinya kandungan protes kita nggak nyampe ke mereka lagi.

Kembali ke tulisan blog berbahasa Indonesia nih, karena mempertahankan ke-Indonesiaan tadi maka sebisa mungkin aku menguasai kata-kata serapan dan alih bahasa yang tepat untuk istilah-istilah berbahasa asing untuk dituliskan ke dalam blog. Jadi nggak lagi aku pake istilah seperti ‘download’ untuk dimasukkan ke dalam tulisan, tapi karena aku juga kurang sreg dengan kata ‘unduh’, maka aku pake aja kata donlot yang udah terkenal dalam percakapan sehari-hari. Kurang tepat sih, tapi karena aku pengen mempertahankan ke-Indonesiaan tadi namun aku juga pengen biar yang baca blog ini ngerti (itupun kalo ada yang baca), makanya pake istilah yang santai aja, namanya juga blog ini santai.

Akhir kata, pakailah bahasa Indonesia untuk hal-hal di dalam Indonesia ini. Bukan berarti aku nggak berambisi biar blogku ini dibaca oleh orang-orang di Antartika sana, tapi lebih kepada kalo mereka yang di Antartika itu baca blog ini dan mereka nggak ngerti bahasanya, mereka bisa pake Google Translate dan mereka akan semakin tersesat! Bukan itu sih, maksudnya agar orang-orang di luar negeri sana yang mau baca blog ini, makanya belajar dong bahasa Indonesia. Udah gitu aja…

Proporsi

Posted: 23 November 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

proporsiSelama bertahun-tahun aku meyakini bahwa yang namanya mau menurunkan berat badan itu adalah pake sarapan pagi dan nggak makan malam terlalu dekat dengan waktu tidur. Tapi pas baca yang namanya teori OCD yang didengungkan oleh Deddy Corbuzier, dalam hati aku bilang ini teori kampret macam apa, nggak mainstream banget. Mau bikin bantahan tapi aku ini apalah, bukan ahli gizi dan bukan ahli kesehatan. Dan karena aku pengen ngebuktiin bahwa ini adalah teori bualan dan biar orang-orang di sekitarku nggak terpengaruh, makanya aku baca dengan seksama dan coba teori itu. Dan ternyata berhasil! Bukan berhasil membendung ajaran itu buat orang-orang di sekitar, tapi berhasil turun berat badanku.

Kata banyak orang aku ini gemuk. Itu yang bikin aku heran, dari mana mereka tau ya, soalnya seingatku aku nggak pernah ngomong kalo aku itu gemuk. Sejak kecil aku tumbuh dengan berat badan di bawah normal, kurus banget. Saking kurusnya, waktu aku sampai ke tinggi badan 175 cm, dan berat badanku cuma 60 kg, sementara ada iklan susu yang bisa membuat berat badan naik, aku pengen coba. Tapi sampai sekarang pengen itu nggak kesampaian. Aku berada di berat idealku ya masih baru-baru ini aja, sekitar sepuluh tahunan lah. Seingatku sepuluh tahun yang lalu berat badanku masih di angka sekitar 64 kg.

Dulu berat badanku bisa meningkat karena setiap malam aku selalu dibuatkan susu sapi segar masak. Dan susu berkapasitas 1 literan itu harus aku minum dan aku habiskan sebelum tidur, nggak peduli bagaimanapun keadaanku, mau kenyang, mau lapar, mau sakit, mau sehat, harus diminum habis! Dan nggak seberapa lama, berat badanku meningkat dengan signifikan, sampai mencapai batas ideal.

Lalu bagaimana bisa berat badanku melebihi batas normal? Itu berawal dari tahun lalu, saat masa-masa mengerjakan akreditasi di kantor. Karena banyak dokumen yang harus diselesaikan, kerja kantor jadi dari pagi sampai malam, stres melanda, camilan pun jadi sasaran. Waktu itu aku punya prinsip makan selagi pengen dan ngemil selagi bisa. Jadi apapun masuk, sampai akhirnya tanpa terukur berat badanku naik. Batas maksimal yang aku capai adalah saat habis lebaran tahun ini, yaitu 85 kg.

Sekarang ini berat badanku 75 kg. Bagiku, dua tahun lalu ini adalah berat badan maksimal, tapi setahun terakhir inilah berat badan terendahku. Sekarang tinggal mempertahankan aja dalam berat yang sekarang ini. Soalnya dalam beberapa minggu terakhir ini berat badanku nggak lagi turun, sampai-sampai aku mikir mungkin ini berat kosong badanku, kalo dikumpulin tulang-tulang sama semua isi tubuhku tanpa ada makanan yang masuk. Tapi ya baguslah, bagiku ini masih berada di dalam rentang berat normalku.

Sekedar info, yang namanya diet itu sekarang disalahartikan. Aslinya arti diet itu adalah jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang. Jadi semacam pengaturan porsi makanan gitu. Yang namanya diet itu tetap makan, tapi ada ukuran porsinya. Jadi kalo kamu nggak makan karena pengen kurus atau langsing, itu bukan diet, kita bilang aja kalo kamu nggak doyan makan!

Hobi

Posted: 22 November 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

membacaHobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca. Dan sejak saat itu, aku memproklamirkan diri bahwa hobiku adalah membaca.

Hobi adalah sebuah kegemaran atau kesenangan terhadap sesuatu perilaku tertentu. Dan yang patut diperhatikan adalah hobi itu berada di luar lingkaran kegiatan dan kebutuhan sehari-hari. Jadi yang namanya makan, tidur, minum, bernapas, mandi, dan lain-lainnya bukan termasuk hobi. Nggak kebayang kalo ada seseorang yang bilang bahwa hobinya makan, kalo suatu saat dia nggak lagi bilang bahwa hobinya makan terus ternyata dia berhenti makan.

Karena hobi itu menjadi spesifik kepada hal-hal tertentu, hobi ini bisa jadi penghasilan. Yang hobinya main sepakbola misalnya, dia bisa berkembang menjadi pemain sepakbola profesional. Atau yang hobinya bikin kerajinan, dia bisa menjual hasil-hasil kerajinannya. Tapi yang hobinya nyolong sebaiknya jangan dikembangkan, itu bisa jadi kriminal!

Kalo sekarang, seiring berjalannya waktu, hobiku jadi tambah banyak, nggak cuma membaca saja, sampai-sampai saking banyaknya aku nggak punya cukup waktu buat ngelakuin semua hobiku. Aku jadi lebih mengelompokkan hobi-hobi ini menjadi minat. Jadi kalo ada sebuah pendaftaran blog di internet, terus aku diharuskan mengisi bahwa blog itu tentang apa, itu bisa aku isikan sesuai dengan apa yang menjadi minatku.

Kalo minat ini berbeda dengan bakat. Misalkan aku berminat menjadi penyanyi, tapi ternyata kalo aku ngorok aja fals, berarti aku nggak bakat jadi penyanyi. Tapi tetap aja sama, minat bisa berubah dan bakat bisa diasah. Jadi kalo aku berminat menjadi penyanyi, aku bisa berlatih dan ikut kursus menjahit agar bisa menjadi koki ternama.

Power Bank

Posted: 21 November 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

power bankDi jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya. Kesannya jadi smartphone tidak bisa dibawa ke mana-mana karena butuh pengisian baterai ekstra. Kan nggak bisa kita mampir ke masjid atau mushola cuma buat nyolokin charger buat ngisi ulang daya. Apalagi kalo tar main colok sembarangan, terus ternyata colokannya kena infeksi virus atau kuman, bisa kena penyakit. #eh

Makanya ada teknologi pendukung bernama power bank. Nggak tau juga siapa yang pertama kali ngasih nama power bank itu, soalnya biasanya di badan alat ini juga nggak ada keterangan bahwa alat itu bernama power bank. Tapi yang pasti power bank ini sangat berguna dan membantu bagi kelangsungan hidup smartphone, apalagi kalo power banknya berarus besar dan tahan lama.

Tapi nggak selamanya power bank menjadi berguna saat kita dalam perjalanan. Malah bisa jadi bawa power bank di perjalanan itu menjadi blunder, terutama kalo kita dalam perjalanan bersama rombongan yang ternyata hanya kita yang bawa power bank. Misalkan gini, kita ada dalam rombongan perjalanan bersama 8 orang, 6 orang di antaranya punya smartphone yang butuh belas kasihan daya berlebih, dan hanya kita yang punya power bank, dan untungnya lagi power bank itu kita bawa.

Ini sama aja kaya kita mau berlibur di gurun berpadang pasir yang luas bersama 5 orang, yang konyolnya hanya kita seorang yang bawa minum, dan untungnya lagi botol yang kita bawa berkapasitas 1 liter. Tambahan kasusnya, kita ini yang fisik dan staminanya paling kuat di antara 5 orang yang lain. Ini bisa jadi ajang perebutan air minum kalo kita terusin liburan itu, kalo belum nyampe jalan 5 kilometer satu per satu teman kita mulai kehausan dan tidak ada cara lain selain minum dari botol minum 1 liter punya kita itu. Dan 5 kilometer berikutnya, saat kita butuh minum, kita nggak punya air sama sekali.

Ini juga terjadi sama kasus power bank buat berenam tadi, kalo nggak segera nemu colokan buat ngisi daya tambahan smartphonenya. Ini power bank pasti menjadi harta karun yang diperebutkan oleh 5 orang, belum termasuk kita yang jadi pemilik resminya. Jika salah satu teman udah kehilangan daya buat SMSan aja, terus dia butuh daya tambahan dan kita belum nemuin colokan terdekat, pasti power bank ini jadi sasaran targetnya dan kita menyerahkannya tanpa sadar. Padahal kemaren semalaman power bank itu udah diisi penuh buat mendukung smartphone kita sendiri.

Dan kalo ternyata kebetulan (nggak kebetulan juga sih), teman kita ini punya 2 smartphone dan kita nggak segera ngambil itu power bank karena kebutuhan kita sendiri, dia pasti nyolokin power bank itu ke smartphone satunya. Belum lagi teman-teman yang lain, yang ternyata juga berharap belas kasihan daya baterai. Sehingga pada saat power bank itu balik ke kita, karena kita yang terakhir membutuhkan soalnya tadi malam selain ngisi penuh power bank smartphone kita juga kita isi penuh baterainya, kita nggak punya daya apa-apa lagi buat diisi ke smartphone kesayangan. Dan parahnya, kita masih belum nemuin colokan terdekat buat ngisi daya lagi.

Sebenarnya ini bukan masalah pelit atau nggak solider sih, cuma aja ini berhubungan dengan kebutuhan kita juga. Bukan masalah kalo kita ini orangnya terlalu dermawan, membagikan harta benda kita ke teman-teman kita, tapi alangkah baik dan bijak, serta etisnya, kalo apa yang dipinjam teman-teman kita juga masih disisakan buat kita juga, dalam kasus di atas botol air minum 1 liter dan power bank. Kalo bilang butuh, semua juga butuh. Kalo nggak butuh, ngapain perlu barang itu dibawa. Jadi sebaiknya kalo pake kebutuhan-kebutuhan itu juga secukupnya aja, sekiranya cukup sampe tempat pemberhentian berikutnya. Jangan sampe timbul perpecahan dalam rombongan perjalanan karena saling mengklaim kebutuhan masing-masing.