Arsip untuk Januari, 2012

super junior k-popK-Pop, kepanjangannya Korean Pop (“Musik Pop Korea”), adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis dan kelompok musik pop Korea sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara. Kegandrungan akan musik K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada Demam Korea (Korean Wave) di berbagai negara.

Musik pop Korea pra-modern pertama kali muncul pada tahun 1930-an akibat masuknya musik pop Jepang yang juga turut memengaruhi unsur-unsur awal musik pop di Korea. Penjajahan Jepang atas Korea juga membuat genre musik Korea tidak bisa berkembang dan hanya mengikuti perkembangan budaya pop Jepang pada saat itu. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pengaruh musik pop barat mulai masuk dengan banyaknya pertunjukkan musik yang diadakan oleh pangkalan militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Musik Pop Korea awalnya terbagi menjadi genre yang berbeda-beda, pertama adalah genre “oldies” yang dipengaruhi musik barat dan populer di era 60-an. Pada tahun 1970-an, musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil. Genre lain yang cukup digemari adalah musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka dari Jepang (berdasarkan sumber).

K-Pop adalah sebutan yang lebih umum untuk menyebut kelompok yang lebih spesifik, seperti boyband atau girlband yang sekarang lagi menjadi trend di kalangan anak muda di negara kita ini. Hal ini untuk lebih menegaskan bahwa boyband atau girlband tersebut memang bagian dari K-Pop, tapi tidak berarti K-Pop hanyalah boyband atau girlband, karena banyak kesan yang berkembang seperti itu (tentang boyband atau girlband sebagai grup vokal pernah aku tulis di sini).

Dari beberapa video musik, khususnya dari beberapa grup vokal yang aku amati, terdapat beberapa keistimewaan yang mungkin bisa menjadi inspirasi (bukan hanya untuk dijiplak secara membabi buta) bagi industri musik, khususnya grup vokal di Indonesia. Karena kebanyakan grup vokal tersebut diiringi dengan tarian yang enerjik dan dinamis, hampir sama dengan grup-grup vokal jaman dulu. Namun yang berbeda adalah bagaimana gerakan tarian tersebut lebih dinamis dari grup vokal jaman dulu, dengan bentukan formasi dan gerak yang berubah-ubah hampir di setiap bagian lagu, didukung pula dengan set yang beragam dan terlihat kaya warna.

Industri musik K-Pop modern juga tidak asal dan sembarangan dalam melepas seorang/sebuah penyanyi ke pasaran. Agar penampilan mereka tidak malu-maluin, kebanyakan pihak manajemen membuat proses training dalam jangka beberapa waktu dengan jenjang yang bertahap. Jadi meskipun pada awalnya perekrutan mereka dilakukan secara instan, namun dalam proses sebagai penyanyi ‘betulan’ tidak ada yang instan. Dari tahapan tersebutlah kemudian tersaring para pemain yang siap bersaing dalam dunia permusikan.

Aliran musik K-Pop kontemporer pun sangat bervariasi, tidak hanya sekedar pop biasa namun juga banyak dipengaruhi oleh pop dance dan pop tekno (untungnya tidak ada yang terpengaruh dengan pop melayu). Sehingga hanya dengan mendengarkan musiknya, akan muncul kesan semangat dan ceria dalam dari lagu yang dibawakan. Kesan akan terasa lebih kuat dengan dukungan dance dari lagu tersebut.

Hal inilah yang seharusnya menjadi inspirasi di industri musik negara kita. Tidak hanya menjiplak lagu, tampilan, atau video klip dari para penyanyi negara lain yang sudah lebih dulu muncul dan mapan, namun bagaimana pembinaan sejak dini bertahun dan bertahap yang bisa memunculkan kembali penyanyi-penyanyi yang lebih berkualitas dan bukan sekedar instan yang muncul secara sekilas dan hilang secara berkilat. Berharap akan muncul lagi beberapa penyanyi yang akan menjadi legenda jangka panjang di masa mendatang.

membacaTidak banyak bank yang pernah aku datangi yang menyediakan bahan bacaan bagi para nasabahnya. Bahkan di antaranya tidak banyak pula bank yang menyediakan tempat duduk untuk para nasabahnya. Seringnya bank lebih mengorientasikan kepada bagaimana cara para nasabahnya mengantri daripada bagaimana cara para nasabahnya mengisi waktu untuk mengantri.

Pun di tempat-tempat lain, seperti di tempat-tempat pelayanan masyarakat lainnya. Tidak banyak yang menyediakan setidaknya koran atau majalah sebagai pengusir kebosanan bagi para konsumen yang sedang menunggu giliran dieksekusi. Untungnya salah satu tempat yang sering aku kunjungi menyediakan bahan bacaan berupa koran, majalah, bahkan buletin dan bentuk kecil berupa brosur, sehingga mengunjungi tempat tersebut tidak menjadi membosankan.

Bahkan untuk tempat cuci motor pun aku mencari yang menyediakan bahan bacaan untuk dibaca selama menunggu. Terkadang bila sempat aku membawa bahan bacaan sendiri saat mengunjungi beberapa tempat yang aku perkirakan akan cukup membosankan. Lumayan lebih berkualitas dalam menunggu daripada duduk terkantuk-kantuk ataupun berdiri terpegal-pegal.

Memang, seperti yang aku tulis di atas, seringnya sebuah tempat pelayanan lebih mengorientasikan kepada bagaimana cara para konsumennya mengantri daripada bagaimana cara para konsumennya mengisi waktu untuk mengantri. Padahal bila mereka menyediakan bahan bacaan minimal buletin saja, maka konsumen yang menunggu lebih merasa tenang dan tentunya sambil dapat informasi yang mungkin berguna. Tentu saja, pula, khususnya bagi mereka yang suka membaca dan mencari informasi.

Pernah punya pengalaman di rumah sakit tempat kerjaku sendiri, bagaimana sebenarnya kami dulu menyediakan bahan bacaan berupa koran harian bagi siapa saja yang berada di tempat. Namun sayangnya, koran-koran tersebut lebih sering berakhir dengan cara disobek-sobek ataupun dijadikan alas tidur bagi para penunggu pasien. Sehingga selanjutnya ada koran-koran yang tidak lengkap halamannya, tersobek-sobek, atau bahkan hilang tidak ada bekasnya.

Namun memang membaca tetap menjadi sesuatu hal yang penting, meskipun dilakukan untuk mengisi waktu menunggu tersebut. Karena bisa jadi hal-hal yang dibaca merupakan informasi yang bermanfaat, ataupun sekedar sebagai kegiatan pengusir kebosanan waktu tunggu. Setidaknya lebih bermanfaat daripada terkantuk-kantuk atau terpegal-pegal.

zodiakPerancis di bawah Raymond Domenech adalah kekacauan. Euro 2008 adalah buktinya. Rasi bintang sepertinya mengatakan kepada Domenech agar David Trezeguet dan Sebastien Frey dibiarkan menyaksikan turnamen dari rumah masing-masing. Susunan skuad yang diturunkan Domenech membingungkan dan memberikan hasil yang sangat, sangat buruk. Domenech memang manajer sepakbola yang memilih squadnya tidak berdasarkan skill dan performa pemainnya, tapi berdasarkan zodiak bintangnya. Dia sengaja menghindari para pemain dengan zodiak tertentu.

Ternyata di kehidupan yang dikelilingi kehidupan modern dan dibalut teknologi canggih, masih ada saja orang yang mendasarkan jalan kehidupannya pada jalannya bintang. Masih banyak orang di sekeliling kita yang masih mempermasalahkan dan menilai seseorang dari hari lahirnya atau zodiaknya. Padahal kalo dinalar secara akal sehat, bagaimana bisa hari lahir mempengaruhi sifat dan nasib seseorang, padahal beberapa orang yang lahir dalam hari yang sama pun belum tentu dan mungkin tidak mungkin mempunyai sifat dan nasib yang sama.

Sayangnya, begitulah yang terjadi, terutama dalam lingkungan kehidupan masyarakat kejawen. Menjalani kehidupan dengan pengaruh ajaran animisme dinamisme kuno dan sedikit dipengaruhi pula dari ajaran Syekh Siti Jenar, membuat hidup dipenuhi dengan ajaran TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat). Ajaran Islam yang sedikit tercemar dengan proses asimilasi budaya yang tidak sempurna, menjadikan proses kehidupan yang islami pun menjadi tercampuri. Agama dijalani berdasarkan produk budaya.

Kalaulah benar kalau agama Islam di Indonesia berasal dari Gujarat, India, seperti yang dicetuskan oleh Snouck Horgonje, bisa jadi ajaran Islam yang masuk telah mendapat pengaruh dari ajaran budaya India. Belum lagi begitu masuk ke Nusantara pada waktu itu, ajaran animisme dan dinamisme masih begitu kental dan mendominasi rakyat pada umumnya, sedangkan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat umumnya menggunakan pendekatan halus dengan sedikit demi sedikit mencampurkan kebiasaan mereka dengan ajaran Islam.

Dan begitulah yang terjadi di masyarakat kuno. Masyarakat kuno menganut ilmu T10 (titen = mengingat), mengamati sesuatu dari beberapa peristiwa yang sudah terjadi, kemudian membuat kesimpulan berdasarkan sebuah peristiwa yang berulang-ulang. Kemudian mengaitkan juga dengan tanggal lahir, hari lahir, weton, berjalannya benda-benda langit, sehingga muncullah apa yang disebut ramalan nasib berdasarkan bintang. Dan sayangnya kemudian budaya tersebut secara turun temurun diwariskan kepada generasi penerusnya, yang kemudian pula dianut secara membabi buta.

Tidak perlu heran dengan proses tersebut, bahkan sejak ribuan tahun lalu saat Islam mulai didakwahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, masyarakat Arab jahiliyah juga menganut hal-hal seperti itu. Bila diamati, jumlah tuhannya masyarakat jahiliyah pada jaman tersebut masih kalah dengan jumlah tuhannya masyarakat Nusantara kuno, dengan berbagai bentuk, macam dan namanya. Bahkan saking banyaknya, sampai sekarang pun masih ada saja tuhan-tuhan tersebut yang dilestarikan dalam wadah tradisi budaya.

Bagaimanapun kita harus menghindari dan menghilangkan pengaruh TBC, yang berdasarkan pada kisah-kisah dongeng, penambah-nambahan dalam ibadah, dan cerita-cerita yang tidak mempunyai sumber yang jelas, dalam kehidupan beribadah kita. Meskipun terkadang kita dikepung dalam lingkungan masyarakat yang masih mengagung-agungkan ajaran berdasarkan TBC, jangan sampai kita terpengaruh dan ikut arus sehingga kita mengikuti ajaran tersebut atas nama toleransi dan pergaulan, dengan mengabaikan nilai-nilai aqidah keislaman kita.

istirahat sejenakSeringkali aku menjumpai orang-orang yang menerobos perhentian lampu merah, padahal saat itu lampu yang sedang menyala adalah lampu merah, yang artinya harus berhenti. Tapi mereka seakan-akan tidak melihat ataupun melihat tapi tidak mau tahu dan terus berjalan saja. Entah dengan alasan apa mereka tidak mau berhenti, kalau dengan alasan harus cepat-cepat sampai ke tujuan nyatanya seringkali mereka yang menerobos tadi juga masih bisa aku dahului di jalan.

Entah sengaja atau tidak memang seperti itulah yang terjadi. Dan seringnya hal ini dikarenakan tidak ada pengawasan dari pihak yang berwenang, sehingga tingkat kesadaran mentaati peraturan yang sudah berkurang malah tambah didukung dengan keadaan tersebut.

Terkadang manusia memang lupa untuk berhenti. Keadaan yang sudah berjalan terlalu enak dan nyaman membuat keinginan untuk berhenti tidak ada, karena kita terlalu khawatir bila kita berhenti maka kita akan ketinggalan, atau bahkan tidak mencapai tujuan seperti yang diinginkan dengan cepat. Padahal berhenti tidak selalu membuat kita tidak bisa lebih sampai ke tujuan dengan cepat.

Dengan berhenti, bisa jadi kita mempunyai kesempatan untuk instropeksi, evaluasi, revisi, dan kemudian menjalankan aksi. Sehingga mungkin di saat kita tertinggal, kita mempunyai bekal yang cukup untuk mencapai tujuan lebih cepat dan dengan cara yang lebih sempurna. Berhenti bukan berarti kita menyerah mencapai suatu maksud tertentu, tapi lebih sebagai sarana berpikir kita untuk mendapatkan cara yang lebih baik daripada saat kita memforsir tenaga dan pikiran kita dalam memperoleh suatu tujuan.

Dan mungkin terkadang kita juga memerlukan pengawas yang akan mengingatkan kita kapan kita harus berhenti, atau kapan kita harus kembali bergerak. Kita terkadang kurang bisa mengatur diri kita sendiri dalam mengusahakan tertentu, sehingga keberadaan sang pengawas akan bisa menentukan langkah kita selanjutnya.

Ikut Bapak

Posted: 19 Januari 2012 in Pengalaman
Tag:, , , , ,

bapakSuatu sore, berhenti di sebuah pertigaan karena lampu merah sedang menyala, di sampingku ada seorang bapak naik motor, sepertinya seorang penjual tahu. Di depan dan belakangnya duduk dua orang anaknya, asyik menikmati perjalanan sore itu. Kelihatannya mereka begitu santai, sedang ikut bapaknya bekerja mengantarkan tahu-tahu ke tempat para pelanggannya.

Aku jadi teringat masa-masa kecilku, sekitar umur 3 – 5 tahun, saat aku juga seperti anak-anak kecil itu, ikut bapak bekerja. Dulu bapak adalah agen minyak tanah, yang kemudian memasarkan ke penjual-penjual lain yang berada di pelosok-pelosok desa. Minyak-minyak tadi dibawa di dalam beberapa jerigen besar, dan diangkut dengan mobil pick up butut kami. Sering kalo aku pas udah pulang dari sekolah di TK, aku diajak bapak untuk jualan keliling. Sebagai anak-anak, seneng banget rasanya bisa ikut kerja bapak, apalagi bisa sambil jalan-jalan keliling desa.

Aku kemudian juga merasakan, bagaimana senangnya anak-anak bapak penjual tahu itu saat ikut bapaknya berjualan keliling. Seolah seperti halnya aku, mereka bisa sambil jalan-jalan. Sang bapak juga sekalian sambil ngajak anak-anaknya refreshing di tengah kesibukannya berjualan. Jadi memikirkan, bagaimana berat dan sulitnya seorang bapak mencari nafkah untuk keluarganya. Tapi di balik itu, memikirkan juga bagaimana mudahnya memberi kesenangan untuk keluarganya, terutama anak-anaknya, dengan mengajak mereka saat bekerja.

Kotaku kini berdenyut 24 jam. Tancapan para pemain pasar kapitalisme seolah memupuk tumbuhnya konsumerisme di kotaku yang kecil ini. Kota kecilku, kini seakan terasa lebih kecil dan sempit. Mulai nampak kebiasaan baru di jalanan, titik-titik kemacetan dalam padatnya lalu lintas, mengikuti bertambahnya pusat-pusat keramaian di kotaku.

Kotaku mulai tumbuh berkembang. Pembangunan pesat yang seolah menjadi lambang modernisasi terlihat di mana-mana, di kotaku, sebuah kota kecil di tengah-tengah area propinsi. Ikon-ikon modernitas merambah tidak hanya di kalangan atas dan menengah, kalangan menengah ke bawah pun turut terseret dan terlibat di dalamnya. Positif, negatif, dua sisi berlawanan yang nampak, mengait satu dan lainnya. Kotaku seolah berbenah, menuju masyarakat metropolis.

Alhamdulillah, kotaku berdenyut 24 jam. Di balik kehidupan ekonomi di siang hari, masih terlihat beberapa rombongan jamaah di tengah malam, berjalan menuju ke pusat kota. Rombongan ibu-ibu bermukena berjalan menyusuri pusat kota, bukan untuk berbelanja, tetapi menuju ke salah satu tempat religi favorit. Sebuah masjid yang konon menjadi saksi bisu pemekaran dan penyebaran agama Islam di kotaku, masjid kuno yang sampai sekarang masih berdiri dan ramai dikunjungi banyak orang. Bukan hanya dari dalam kotaku sendiri, tapi juga dari daerah sekitar kotaku. Sebuah masjid yang tepat berada di pusat kota, di balik kehidupan perekonomian dan hiruk pikuk keduniawian.

Kotaku tetap aman dan tentram, bersemi dan bersinar terang. Modernisasi tidak akan menghapus sisi keagamaan dari kotaku ini. Positif, negatif, dua sisi berlawanan yang nampak, mengait satu dan lainnya.

poskamlingAku masih sempat mendapati di mana poskamling di sekitar rumahku masih mengalami keramaian dalam eksistensi kegiatannya. Memang di sekitar rumah, di tiap blok (RT/RW) selalu ada sebuah tempat bernama pos keamanan lingkungan, atau lebih sering disebut dengan singkatannya, poskamling. Pos pusat kegiatan sistem keamanan lingkungan (siskamling), di mana para penjaga dan peronda (biasanya warga lingkungan tersebut dan dibantu oleh petugas hansip) berkumpul untuk kemudian melakukan giliran ronda tiap malam untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.

Isi dari poskamling cukup beragam tapi yang pasti terdapat berbagai peralatan yang mendukung kegiatan siskamling itu sendiri. Ada beberapa pentungan, tikar, alat permainan untuk mengisi waktu ronda seperti papan catur ataupun papan karambol, ada juga yang dilengkapi dengan peralatan elektronik macam televisi atau radio, kemudian di bagian luarnya ada sebuah lonceng besi sebagai tanda untuk penduduk di sekitar. Poskamling juga bisa dipakai sebagai tempat berkumpulnya warga sekitar, walaupun hanya sekedar duduk-duduk, ngobrol sambil nonton televisi bareng.

Tapi entah sudah berapa lama kemudian poskamling tidak lagi eksis. Kurang jelas juga penyebabnya, entah karena lingkungan sudah tidak perlu dijaga lagi, atau fungsinya kurang efektif, atau hanya sebagai pengganggu lingkungan saja. Yang pasti satu per satu poskamling hilang ruh kegiatannya. Ada yang oleh penghuni rumah di dekatnya diratakan dan dijadikan bagian dari rumahnya. Ada pula yang beralih fungsi sebagai tempat jualan. Ada yang dirobohkan begitu saja. Yang masih berdiri pun, seringnya tidak terawat, meskipun masih layak dipakai.

Beruntung aku masih menemui beberapa pos yang tidak jauh dari rumahku, masih terdapat benda-benda peralatan pendukung siskamling. Meskipun yang aku tahu pos itu sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, namun masih bisa didapati pentungan-pentungan yang masih tergantung di dalamnya. Pintunya? Ada yang sepertinya terkunci rapat, dan entah siapa yang membawa kuncinya.

Mati Lampu

Posted: 14 Januari 2012 in Pemikiran
Tag:, , , ,

mati lampu blackoutSelalu ada hikmah di semua kejadian, termasuk saat listrik sedang padam. Hikmahnya adalah kita jadi sadar kalo kita ternyata punya sesuatu yang bernama listrik. Karena pada saat-saat biasa listrik selalu ada dan selalu digunakan, kita seringnya tidak sadar bahwa kita punya listrik. Listrik adalah hal yang biasa bagi kita. Tapi saat listriknya sedang tidak ada, baru terasalah bahwa ternyata kita setiap hari selalu menggunakan bantuan tenaga listrik.

Sama halnya dengan sakit, misalnya sakit gigi. Dengan sakit inilah kita baru menyadari bahwa kita punya gigi, yang ternyata terasa saat sedang sakit. Gigi yang kita punyai sejak kecil sering terlupa disyukuri saat sedang dalam keadaan normal, tapi sebaliknya, akan terasa termiliki saat sedang tidak dalam keadaan normal.

Rasa memiliki itu harusnya selalu ada, dalam keadaan apapun. Saat kita merasa memiliki, kita harusnya mensyukuri bahwa kita sedang memiliki sesuatu. Tapi saat sedang hilang, atau tidak lagi dimiliki, atau mungkin dalam keadaan yang tidak biasanya, harusnya rasa syukur juga tetap ada, tidak bisa hilang. Karena pada saat memiliki sesuatu yang dalam keadaan yang tidak wajar, kita pasti akan terbayang saat sesuatu itu dalam keadaan normal.

Dari Sebuah Maaf

Posted: 13 Januari 2012 in Pemikiran
Tag:, , ,

dilarang beri maaf bushMaaf adalah usaha untuk menutup kesalahan orang lain kepada kita. Terkadang kalau kesalahan orang lain tersebut terlalu membekas, sedangkan kita harus memaafkan, bisa jadi kita menutup kesalahan orang lain tersebut dengan luka kita, luka yang masih terbuka. Jadi saat kita menyelesaikan satu sisi, sisi yang lain akan tetap terbuka.

Maka dari itulah, sikap ikhlas dan tabah diperlukan dalam memaafkan. Kita ikhlas membiarkan kesalahan orang lain sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, dan ikhlas menjadikan luka kita sebagai penutup kesalahan tersebut. Kita juga tabah dalam menghadapi luka kita yang masih terbuka. Namun yang juga masih perlu diingat lagi, bahwa kita juga tidak bisa membiarkan luka kita terbuka terlalu lama. Harus segera dilakukan tindakan agar luka tersebut tidak malah terinfeksi dengan hal-hal lain.

Karena jika luka tersebut tidak segera ditangani, ingat bahwa luka tersebut menutupi sesuatu yang lain, yang tidak ingin kita munculkan lagi. Jika kemudian luka itu terinfeksi dan malah membuat luka baru, atau membuat luka tadi lebih lebar, maka apa yang ditutupi sebelumnya akan muncul kembali, membekas atau bahkan terlihat nyata dan jelas. Bisa-bisa maaf yang sebelumnya kita jadikan pondasinya jadi terlihat sia-sia, karena nilai keikhlasan dan ketabahannya rusak.

Butuh pengorbanan dan ketabahan besar, memang, membiarkan luka kita sendiri menutupi kesalahan orang lain. Karena mungkin berkorban untuk orang lain memang sangat sulit dilakukan, terlebih lagi oleh mereka yang menganggap bahwa mengapa harus orang lain yang mendapatkan keuntungan dari hal ini. Namun, bila dipikir lebih jauh lagi, sang pemaaf akan mendapatkan lebih banyak keberuntungan karena saat mereka berhasil menutup lukanya dengan sukses, tidak akan ada lagi hal-hal yang tidak bisa dia ikhlaskan untuk hidupnya.

Pilihan hidupApa yang membuat seseorang mengalihkan konsentrasi dari sebuah pilihan yang telah dibuatnya, bosan dengan pilihannya, menyesal dengan pilihannya, ataukah ada pilihan lain yang lebih logis? Setiap orang harusnya menyadari, membuat suatu pilihan sudah melalui berbagai proses berpikir dan menimbang, sehingga keputusan yang muncul sudah pasti tidak perlu disangsikan lagi. Memilih memang tidak bisa lepas dari kehidupan setiap manusia. Banyak pilihan, banyak konsekuensi pula yang harus dihadapi.

Pilihan satu dengan yang lain bisa jadi mempunyai konsekuensi yang sama, hanya mungkin melewati proses yang berbeda. Sehingga perlu pemikiran lebih yang lebih menyempitkan kategori pertimbangan yang ada. Pada saat keputusan akhir telah diambil, pilihan mana yang akan dipilih, maka konsentrasi menjalani pilihan tersebut harus tetap terarah dan berada dalam jalur yang benar.

Satu hal lain yang juga dibutuhkan adalah keteguhan hati. Karena setiap pilihan akan ada tantangan dan rintangannya, maka di saat menghadapinya keteguhan hatilah yang akan berperan. Jika hati sudah goyah saat menghadapi hadangan berbagai rintangan dan tantangan, maka pasti akan jatuh di tengah perjalanan, tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan menuju tujuan. Tapi jika keteguhan hati tetap ada dan konsisten, maka akan kuat menghadapi apapun yang ada di depannya. Dan mungkin tidak akan ada penyesalan jika dirasa pilihan yang telah dipilih itu malah memberikan banyak kesulitan baginya.

Memilih memang sesuatu yang berat, tapi menjalani pilihan juga tidak kalah beratnya pula. Dan akhirnya seseorang yang konsisten dan berpegang teguh pada pilihannya, dia akan mampu berjalan tegak sehingga mencapai tujuan pilihannya.