Posts Tagged ‘Idealisme Jalanan’

Bagian Pertamanya

Suatu hari, di sebuah persimpangan jalan. Sedang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Tiba-tiba dari samping ada orang yang dengan tanpa merasa bersalah terus berjalan tanpa berhenti. Nggak seberapa lama kemudian lampu udah menyala hijau, dan nggak sampai 500 meter kemudian aku udah mendahului orang yang menerobos lampu lalu lintas tadi.

Kalo begitu apa istimewanya menerobos lampu lalu lintas kalo ternyata nggak bikin lebih cepat daripada orang-orang yang berhenti? Nggak beda jauh dengan kendaraan-kendaraan lain yang lebih memilih berhenti. Padahal berhenti di lampu merah itu juga nggak lama lo, nggak sampe satu jam lamanya. Jadi merasa kasihan orang yang nggak berhenti tadi karena nggak bisa membedakan warna, lebih merasa kasihan kepada guru-guru sekolahnya yang mengajarkan berbagai jenis warna yang berbeda, lebih merasa kasihan lagi kepada orangtuanya yang membiayai sekolahnya agar bisa menjadi orang yang berguna.

Apalagi kalo lampu merahnya ada penghitung waktu mundurnya. Yang jadi patokan bukan lagi warna lampunya, tapi angkanya. Kalo udah mau angka 1 muncul aja udah pada keburu ngegas aja, padahal lampunya juga belum ganti warnanya.

Eits, tapi ini bukan karena masalah buta warna atau nggak bisa membedakan warna. Ini masalah moral individual, dan masih ada hubungannya dengan idealisme di jalanan. Urusannya bukan lagi dengan guru sekolah atau orangtua, tapi lebih kepada Sang Maha Pencipta, yang menganugerahi manusia untuk bisa berpikir dan membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Sering pula yang patuh dan taat peraturan menjadi korban. Pelakunya tidak lain siapa lagi kalo bukan para pelanggar peraturan, si pelahap maut. Udah berhenti di lampu merah, eh malah yang lain nerobos dan nyerempet pula. Bisa jadi mereka berpikir kalo semua orang akan melanggar peraturan seperti mereka, apalagi kalo mereka bawa kendaraan yang gede-gede, yang setiap orang di jalanan harus minggir buat memberi mereka jalan. Karena itulah sering terjadi pemikiran masal, yaitu seseorang yang memikirkan sesuatu dan tanpa sadar orang-orang yang lain juga punya pemikiran yang sama.

Watak, sifat, sikap, dan perilaku memang sering menjadi pembawaan masing-masing individu. Tapi kalo hal-hal tersebut bisa diubah ke arah yang lebih baik dan tidak membahayakan orang lain, harusnya diubah juga. Dan nggak setiap orang yang tidak mau berubah, akan ada orang-orang yang tidak mau terus menerus ‘terperangkap’ dalam ketidakpatuhan tersebut.

Iklan

idealismeKalo saja semua pengguna jalan mempunyai idealisme untuk mematuhi semua peraturan dan tanda-tanda lalu lintas, mungkin berada di jalanan adalah tempat yang cukup menyenangkan. Tapi seringnya tidak demikian, masih banyak mendapati bahwa pengguna jalan seenaknya saja menggunakan jalan tanpa memperhatikan peraturan ataupun rambu lalu lintas. Pengguna-pengguna yang seperti ini bisa jadi pembuat celaka terselubung, karena bisa jadi karena ulah mereka akan membahayakan pengguna jalan yang lain.

Idealisme yang dimaksud tentu saja idealisme untuk mematuhi apapun peraturan, apapun tanda, dan apapun kondisinya. Nggak peduli kita sedang buru-buru atau santai, nggak peduli kita sedang mendapat kesempatan atau mendapat kesempitan, kalo udah dengan niat dan kemauan untuk selalu taat berlalu lintas maka kita akan segan untuk melanggarnya. Karena sulitnya mendapatkan idealisme seperti ini, kita telah mendapati jalanan adalah salah satu tempat yang paling berbahaya di dunia ini.

Dan sepertinya rambu-rambu akan terus tetap diremehkan, tulisan-tulisan akan terus tetap tidak dibaca, dan warna-warna lampu akan terus tetap tidak terlihat, tanpa ada kesadaran. Nggak usah nunggu kesadaran semua orang, cukup dimulai dari diri sendiri aja, kalopun nggak ada yang kemudian ngikutin ya nggak apa-apa, yang penting kita udah terhindar dari melakukan hal-hal yang selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan bagi orang lain. Dan tentu pasti kita harus ingat tentang prinsip bahwa semua yang diciptakan dan dikaruniakan Allah kepada kita harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak.

Memang, meskipun nggak semua orang suka dengan mematuhi peraturan dan memiliki idealisme di jalanan, namun bukan berarti bisa seenaknya saja berkendara di jalanan. Jalan adalah fasilitas umum, yang karena itulah menghargai orang lain yang juga sama-sama sedang menggunakan jalan adalah sesuatu yang perlu dijaga. Karena sering kalo di jalan hampir semua orang berprinsip sama bahwa selain diri sendiri, orang lain selalu salah. Apalagi orang yang idealis juga sering dianggap sebagai orang yang lugu, culun, norak, kampungan, dan anggapan-anggapan negatif yang lain. Padahal sebenarnya orang yang idealis itu adalah orang yang mempunyai karakter dan prinsip hidup yang harus dipegang.

Tanpa idealisme di jalan maka seseorang akan terus melakukan kompromi dengan peraturan dan keadaan yang ada, entah karena alasan terburu-buru atau nggak akan ada yang menegur saat melanggar peraturan. Dan yang demikian ini akan terus dan terus berlanjut sampai ke generasi berikutnya tanpa disadari. Dan kalo kita sendiri nggak berusaha memutusnya, maka generasi kita sendiri, yang berada di bawah kita sendiri, para keturunan anak cucu kita, akan terus berada dalam lingkaran ketidakpatuhan. Bukan murni sepenuhnya karena salah mereka, tapi bisa jadi karena kita sendiri enggan merubah diri sendiri.