Arsip untuk Oktober, 2015

Sebagai salah satu daerah yang populer di Indonesia, selain Konoha, Surabaya adalah kota yang unik. Dari namanya aja udah keliatan unik, Surabaya. Padahal kota-kota di sekitarnya namanya Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, atau Malang. Ini malah namanya Surabaya.

Dari lokasi, Surabaya juga istimewa. Surabaya adalah satu-satu kota, yang terletak di Surabaya. Bandingkan dengan Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, atau Malang. Cukup unik kan?

Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Surabaya. Nggak istimewa banget sih, soalnya emang sering. Apalagi bulan sebelumnya juga udah ke Surabaya buat ikutan workshop. Kalo kepergianku yang kali ini tujuannya adalah mau beli beberapa kebutuhan peralatan komputer dan aksesorisnya. Ini pertama kalinya, soalnya biasanya aku beli di sekitaran daerah Kediri aja.

Tujuan utamaku adalah Hitech Mall. Masalahnya adalah, toko di bagian Hitech Mall mana yang akan aku tuju. Berbekal kengawuran dan sedikit improvisasi, akhirnya aku nemuin salah satu toko yang cukup nyaman. Toko ini punya online shop juga, sehingga padu padan perangkat komputer satu dengan yang lainnya bisa lancar. Bisa menyesuaikan dengan anggaran juga. Dan karena kebetulan daftar belanja yang aku bikin ternyata beberapa bagiannya udah nggak keluar produksi lagi, nyari gantinya juga nggak susah.

Dan sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, jalanan Surabaya pasti nggak jauh dari yang namanya kepadatan kendaraan. Itulah yang aku alami waktu itu, terutama pas perjalanan pulang. Perjalanan pulang ini dimulai sekitar jam lima, saat kepadatan mungkin berada pada titik awal, di mana para pekerja pulang dari tempat kerjanya, sedangkan di jalanan masih banyak kendaraan lain yang sebelumnya udah berada di jalanan.

Sambil melewati kemacetan di sebuah persimpangan jalan, pas lampu merah nyala, kami semobil membicarakan tentang kehidupan di kota besar seperti Surabaya ini, yang cukup berbeda dengan kota asal kami, Kediri. Di Kediri macet juga sih, tapi nggak begitu parah. Dan kalo ada orang Kediri udah ngeluh kalo pas macet, mungkin dia nggak cocok hidup di kota besar.

Yang kami obrolin seputar gimana keseharian rutinitas penduduk kota besar kaya gini, yang harus pergi pagi-pagi biar lancar di perjalanan, dan pulangnya hari udah gelap masih di jalan. Nyampe rumah mungkin baru malam, istirahat bentar, pagi-paginya besoknya udah berangkat lagi.

Sambil ngobrol aku perhatikan di luar kendaraan kami, jalanan yang dipenuhi kendaraan, kebanyakan yang keliatan sepeda motor. Aku jadi membayangkan mungkin dengan kemacetan semacam ini setiap hari, akan ada orang-orang yang selalu bertemu di lampu merah yang sama. Kemudian mereka kenalan, di lampu merah itu juga. Besoknya ketemu lagi, di tempat yang sama tadi. Orang biasanya ketemu dan kenalan di kafe, mall, atau lapangan, ini ketemunya di lampu merah.

Tapi di luar itu semua, yang namanya tinggal di sebuah daerah itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, selaras dengan semua pasti ada resikonya. Mau tinggal di mana pun, atau kerja di kota apa aja, akan ada sesuatu yang jadi pertimbangan kita. Malah kadang juga jadi saling memandang orang lain hidupnya lebih enak daripada kita. Atau malah bisa jadi kita bersyukur, tempat tinggal kita nggak seperti tempat yang lain. Sebenernya kembali pada masing-masing kitanya aja sih gimana ngejalaninnya.

Perjalananku ke Surabaya hari itu, berakhir saat aku nyampe kembali di Kediri. Kalo belum di Kediri, berarti aku belum nyampe.

Iklan

Senior MOS

Posted: 2 Oktober 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Pengen ngebahas topik yang berhubungan dengan siswa baru, sekolah, dan masa perkenalan. Tau apa itu? Yak bener banget, kita bahas batu akik.

Masa Orientasi Sekolah, sering disingkat MOS, sering juga orang nggak tau apa singkatannya MOS. Dulu kayanya pas masih SMP nggak ada MOS, adanya penataran P4, berlangsung di sekolah selama 3 hari. Dan selama 3 hari itu ada acara-acara tertentu yang nggak ada hubungannya sama sekolah.

Dan sebagai siswa baru, apa aja yang disuruh kita mau-maunya aja. Disuruh bawa bawang, mau. Bawa kacang ijo, mau. Sampe bawa kayu bakar, mau juga. Kan jadi curiga, ini aku mau sekolah di SMP apa di sekolah koki ya.

Mengalami masa junior, di tahun berikutnya ngalamin juga jadi senior. Nggak tau kenapa juga, pas kelas 2 tiba-tiba disuruh ikut jadi panitia pas MOS. Padahal waktu pra MOS nggak ikutan. Emang sih waktu itu aku masuk jadi pengurus OSIS, tapi nggak terlalu aktif ikutan kegiatan OSIS.

Dan karena nggak ikutan kegiatan pra MOS ini, aku nggak dapat bagian kelas pas MOS. Waktu itu aku sama seorang temanku, namanya Agung. Dan peran kita berdua sama. Karena nggak dapat kelas buat dimasukin, kita lebih sering berkeliaran dari kelas ke kelas, berlagak sok senior tapi cengengesan terus. Bisa dibilang, sebenernya ada dan nggak adanya kita sebagai panitia MOS waktu itu nggak ngaruh pada kekuatan panitia MOS.

Tapi karena aktif di kegiatan ekskul Pramuka dan beberapa kali kegiatan OSIS pas di kelas 2, waktu naik ke kelas 3 lagi-lagi diikutkan dalam panitia MOS. Dan karena kali ini ikutan kegiatan sejak awal, mulai masa pra MOS, aku jadi kebagian kelas buat dibina. Satu kelas ada 4 orang senior pembina, 2 orang kelas 3 dan 2 orang kelas 2. Di MOS yang kali ini lebih banyak peran yang aku dapatkan, mulai memimpin para murid baru dalam kegiatan MOS, mensosialisasikan program-program tertentu, memberi pengarahan tentang sekolah, memilih pengurus kelas, sampe mendapat bagian teh dari karyawan TU sekolah.

Pas masuk SMK, meskipun aktif di ekskul juga, tapi aku nggak ikutan jadi panitia MOS. Nggak apa-apa juga lah, lagian anak SMK cowok-cowok, nggak ada yang bisa dimodusin. Eh jaman dulu belum musim yang namanya ngemodusin. Adanya tebar pesona.

Dari kegiatan MOS ini sebenernya bisa didapat banyak pelajaran dan pengalaman, beberapa di antaranya nggak mengenakkan, dan seperti yang aku bilang tadi, nggak ada hubungannya sama kegiatan belajar dan sekolah. Yang bermanfaat, misalnya, pengenalan sekolah dan program-programnya, tata hubungan sekolah, olahraga, dan kegiatan baris berbaris. Yang lain, kegiatan yang nggak berhubungan, anggap aja itu sebagai bonus buat nyenengin para senior. Biarpun mereka bilang itu buat ngelatih kedisiplinan, selama yang aku tau, kedisiplinan para tentara itu nggak didapat hanya dalam seminggu, tapi terus menerus.

MOS, dalam arti yang sebenernya, itu penting buat para siswa baru. Penting buat mengenal sekolah yang akan mereka diami selama beberapa tahun ke depan, buat tau di mana kamar kecil berada, tau guru-guru yang akan mengajar mereka, bisa mengukur jarak rumah ke sekolah sehingga nantinya berangkat sekolah nggak terlambat, sampai tau di mana celah sekolah yang bisa dipake buat cabut pas pelajaran kosong.