Archive for the ‘Pengalaman’ Category

Cek

Posted: 29 November 2017 in Pengalaman
Tag:, ,

Ada kalanya sebuah keunggulan dari sesuatu itu nggak perlu kita uji. Ada kalanya membaca petunjuk itu penting. Kedua hal ini lupa diperhatikan sama seorang teman saya.

Ceritanya dimulai saat teman saya membeli telepon genggam, merknya Blackview. Katanya dia beli dari Singapura, pengiriman memakan waktu sekitar 2 mingguan. Harganya 3 juta rupiah. Keunggulan dari hape ini adalah dia kuat, semacam hape buat kegiatan petualangan, tahan air, tahan banting, dan udah punya fitur-fitur canggih, selayaknya telepon pintar pada umumnya.

Hari itu hari Jumat, hape yang dia beli baru saja sampai di rumahnya setelah perjalanan jauh. Karena penasaran dengan keunggulan yang ditawarkan, dia berniat mencoba ketangguhan telepon itu dengan mencelupkan hapenya ke air. Tanpa memeriksa apapun yang ada dalam kemasan hape tersebut, tanpa ragu dia memasukkan hape itu ke dalam sebuah wadah yang berisi air. Kemudian dia tinggal keluar buat sholat Jumat.

Pulang dari masjid, hape tadi diangkatnya dari dalam wadah. Dan keadaan hape tersebut cukup mengenaskan bagi sebuah hape. Air udah masuk di mana-mana. Sebelum teman saya tadi memutuskan untuk marah-marah, karena hapenya tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditawarkan, dia meraih kemasan hape tadi dan mengambil buku manualnya. Sambil membaca buku manual, dia melihat sesuatu dalam sebuah kemasan plastik kecil, isinya sekrup kecil berjumlah 4 buah.

Akhirnya dia menyadari, bahwa sekrup itu adalah pengaman terakhir dalaman hape tadi dari dunia luar yang ganas. Sekrup itu harus dipasangkan pada bagian belakang hape, yang memang ada lubangnya berjumlah 4. Namun tentu saja, nasib sudah menjadi bubur. Yang dia lakukan akhirnya hanya bisa keliling mencari suku cadang pengganti hapenya yang udah kemasukan air tadi. Tapi karena hape bermerk Blackview masih amat sangat jarang di Kediri yang punya, toko-toko aksesoris hape tidak ada yang menjual suku cadangnya.

Saya berkunjung ke rumah teman saya tadi malam harinya. Dia cerita panjang lebar tentang peristiwa seharian itu ke saya. Saya juga sempat memeriksa hape yang nahas tadi. Hapenya emang bagus banget, dipegang lumayan berat, dan keras. Cocok dengan spesifikasinya yang tahan banting. Saya lihat bagian dalamnya yang banyak pelindungnya, jadi kalo bagian belakang hape tersebut dipasang ke badan hape, ada semacam seal yang melindungi bagian dalaman hapenya.

Tapi kuncinya, tentu saja, di 4 buah sekrup yang harus dipasang ke lubangnya. Tanpa itu, semua percuma. Uang 3 juta hilang begitu aja, terendam air di sebuah wadah plastik. Saya hanya bisa berharap, semoga bukan saya yang mengalami kemalangan seperti ini di masa-masa yang akan datang.

Iklan

Komputer

Posted: 25 November 2017 in Pengalaman
Tag:, ,

kartun-komputer1Seingat saya saya sudah pengen banget punya komputer sejak saya masih TK. Saya ingat waktu itu saya minta dibelikan komputer ke orangtua saya, padahal saya sendiri belum tau alat komputer itu buat apa sebenernya. Cuma tau dari gambar di majalah anak-anak aja waktu itu.

Dan saya ingat gimana sensasi berhadapan dengan perangkat komputer untuk pertama kalinya. Pelajaran komputer mulai ada di SMP, jadi itulah pertama kali saya berkenalan dengan komputer. Saya duduk di bangku paling depan, dengan 2 teman sekelas saya. Di depan saya ada seperangkat alat komputer, monitor segede tipi, di atas sebuah kotak putih dengan beberapa tombol dan slot. Di depannya teronggok keyboard yang posisinya dibalik, sehingga saya kesulitan mencari tombol huruf A.

Dasar anak SMP yang penuh penasaran ya, kami bertiga sebangku malah sibuk menjahili keyboard dengan mencoba memencet-mencet seluruh tombol yang ada. Pas saya lihat sekeliling, ternyata semua teman saya juga gitu. Sampai-sampai guru saya memperingatkan agar jangan bermain dengan keyboardnya, harganya jutaan! Jutaan? Kami saat itu nggak bisa membayangkan sampai berapa jutaannya, tapi yang jelas kami nggak lagi-lagi main-main sama keyboard-keyboard itu.

Seiring berjalannya waktu kami sudah mulai praktek dengan perangkat komputer ini. Yang saya pengen tau banget waktu itu adalah bagaimana bikin sebuah file, bagaimana cara main game, sampai penasaran bagaimana main internet. Sampai-sampai saya sok-sokan mengetik sebuah alamat situs, terus saya enter, nggak muncul apa-apa! Maklum, kan komputernya masih pakai sistem DOS, ya mana mau mereka nurut ke kita.

Jaman sekarang, murid-murid pelajar komputer yang sering saya temui mungkin juga seperti saya waktu itu, pengennya cepet bisa, cepet menguasai program, sampai pengen ngapain aja. Itu yang saya rasakan waktu dulu pernah jadi instruktur kursus komputer. Saya mencoba merumuskan tahapan pembelajaran untuk para peserta kursus mulai dari yang sangat dasar dan mungkin sulit, kalau perlu dimulai dari beli komputernya di mana. Setelah itu baru bertahap ke langkah-langkah yang lebih mudah.

Tapi nggak semua peserta kursus bisa ngikutin. Saya pernah punya murid yang baru dapat pelajaran menyalin, memotong, dan menempel file, eh dia protes karena nggak segera ada pelajaran mengetik. Setelah itu dia nggak balik lagi masuk kursus. Mana belum bayar lagi!

Dan sekarang ini bekerja komputer seolah-olah menjadi aktifitas sehari-hari, apalagi saya. Bagi saya bekerja dengan komputer nggak lagi harus bisa aja, tapi udah lebih ke dituntut harus mengerti. Karena banyak banget fitur komputer yang jarang orang pake. Banyak orang yang taunya cuma buat ngetik sama main game tetris pake komputer, padahal spesifikasi komputernya tinggi. Ada yang beli laptop berharga jutaan rupiah, tapi dipake untuk hal-hal yang standar aja. Ya itu sebenernya hak masing-masing ya, tapi alangkah kerennya kalo punya barang bagus dengan keterampilan yang sepadan juga.

Upgrade

Posted: 23 November 2017 in Pengalaman
Tag:, ,

phoneAlhamdulillah, udah lama banget nggak nulis blog. Saking lamanya, saya bahkan sampai malu punya blog nggak keurus. Gara-garanya ide saya mandeg, tiap ada ide induk nggak bisa ngembangin lagi. Rasanya kaya udah nggak punya tenaga buat mikirin akhir idenya.

Dan tiap kali online, saya malah menghindari buka akun saya ini, takut jadi beban. Makanya begitu buka akun blog saya, kerusakan terjadi di mana-mana. Atap pada bocor, lantai kotor, sarang laba-laba merajalela, ini kalo harus bersih-bersih dulu bisa 2 harian baru kelar.

Tapi bagaimanapun saya harus kembali produktif. Makanya, biar kran ide kembali lancar, di tulisan comeback saya ini saya pengen cerita yang ringan-ringan dulu aja. Saya mau cerita bahwa sekitar seminggu yang lalu nggak ada angin nggak ada badai, tiba-tiba telepon genggam saya mau dibeli teman saya. Bahkan dia mau beli berapapun, asalkan nggak lebih dari 750 ribu.

Hape saya adalah ASUS Zenfone Go, dan jauh dari lubuk hati saya yang paling dangkal, saya nggak berminat ngejual hape ini. Saya bahkan belum ada bayangan mau beli hape apa lagi kalo yang ini dijual. Tapi pas tau-tau mau dibeli sama teman saya, pendirian saya goyah. Bahkan dia mau ngasih duitnya langsung waktu itu juga.

Akhirnya dengan ringan hati, saya terima duitnya, tapi dengan syarat hapenya baru saya kasih besoknya. Dan seketika itu juga saya langsung nyari-nyari hape yang dijual dengan harga sekitar itu. Saya nyari di sebuah situs jual beli barang bekas online, nggak enak saya sebut namanya, saya sebut inisialnya aja, OLX.

Pertama yang saya tentukan buat kriteria hape saya berikutnya adalah spesifikasi yang harus lebih daripada hape saya yang sebelumnya. Tapi yang saya prioritaskan yang penting jaringannya udah bisa menjangkau sinyal 4G. Masalah kamera sih nomor 1.

Dan akhirnya ada juga yang jual hape bekas dengan harga segitu dan spesifikasi yang saya inginkan. Saya dapat hape Sony Xperia Z1 Compact, yang bisa menjangkau sinyal 4G, spesifikasi lain-lain juga lebih mumpuni. Kameranya juga gede resolusinya, bisa mendukung hobi saya berfotografi lewat hape. Cuma layarnya aja yang lebih kecil, tapi nggak masalah, yang penting muncul gambarnya.

Mau nggak mau, pulang kerja hujan-hujan saya nekad nyari alamat penjualnya, setelah saya hubungi sebelumnya. Setelah dapat hapenya, saya harus merelakan kartu sekunder saya untuk nggak ikut masuk ke slot hapenya. Maklum, hape saya yang sebelumnya kan dual SIM, yang ini single.

Masalah selanjutnya adalah kartu SIM saya masih berteknologi jadul, belum mendukung teknologi 4G, sehingga harus ditukar ke Grapari dulu. Setelah beberapa hari, akhirnya saya baru bisa ke Grapari hari kemarin. Udah lama banget sebenernya saya nggak ke Grapari. Saking lamanya, satpam yang jaga di situ aja udah nggak kenal sama saya. Untungnya atapnya pada bocor, lantai kotor, sampai sarang laba-laba merajalela.

Proses upgrade kartu SIM ini ternyata udah pake mesin canggih, mirip mesin ATM. Padahal terakhir saya ke situ mesin ini belum ada. Prosesnya cukup pakai KTP sama hape harus nyala. KTP diletakkan di bagian pemindai di mesin, saya tinggal pencet-pencet jerawat satpamnya.

Pertama masukin nomor hape. Gampang banget ini, saya aja hapal. Setelah memencet tombol permintaan PIN, saya dapat SMS gelap, nggak ada nama pengirimnya. Di situ ada PIN yang harus saya masukkan ke layar aplikasi. Selanjutnya saya tinggal memencet permintaan ganti kartu, dan kartu SIM baru saya keluar dengan sendirinya di laci. Kartu baru ini saya pasang di hape saya, dan jaringan 4G pun muncul di layar. Tamat!

Permen Karet

Posted: 23 Juli 2016 in Pengalaman
Tag:, ,

Salah satu mitos terbesar buat anak generasi tahun ’90-an adalah permen karet merk Yosan. Yang pernah ngalamin pasti tau ya, pas jaman-jaman populernya mobil-mobilan Tamiya, Yosan juga bikin kepopuleran tersendiri. Yaitu dengan memberikan hadiah mobil-mobilan Tamiya bagi yang bisa mengumpulkan tulisan huruf Y-O-S-A-N dari bungkusnya.

Dan tentu aja hal ini menjadi ketertarikanku juga. Maka dengan segala usaha aku mengumpulkan huruf demi huruf, sampai akhirnya muncul kesulitan, yaitu aku belum punya bungkus dengan tulisan huruf N di dalamnya.

Dan kebetulan rumahku waktu itu toko ya, yang salah satu dagangannya adalah jajanan anak-anak. Salah satunya ya permen karet tadi. Tapi hal itu nggak bikin usaha ngumpulin huruf ini lebih mudah. Pernah suatu ketika ada karnaval Agustusan, yang jalurnya lewat depan rumah. Banyak orang yang juga beli jajanan di rumahku, dan banyak juga beli permen karet itu.

Setelah karnaval selesai, pastinya yang tertinggal di sekitar rumah adalah sampah-sampah. Yang banyak juga, sampah bungkus permen karet Yosan. Saking bertekadnya nyari huruf N tadi, aku sampai memunguti bungkus-bungkus bekas permen karet tadi satu per satu, yang tentu saja tidak ada satupun yang bertuliskan huruf N.

Tadinya aku nggak kepikiran bahwa bukan hanya aku yang nggak bisa nemuin huruf N dari bungkus permen karet itu. Padahal kalo dipikir-pikir, duit buat beli permen karet buat nyari huruf N itu kalo dikumpulin bisa dibeliin mobil Tamiyanya langsung.

Piknik

Posted: 17 Juli 2016 in Pengalaman
Tag:, ,
DSC03280

Kebun Binatang Surabaya

Kebun binatang adalah salah satu tempat piknik favorit saya. Seingat saya tempat piknik pertama saya ya ke kebun binatang, tepatnya Kebun Binatang Surabaya. Sayangnya kondisi sekarang udah nggak kaya dulu lagi, selain tempatnya agak kotor, banyak binatang yang mati, juga jerapah yang ketemu saya pas pertama ke situ dulu udah nggak saya temuin lagi. Bingung kan, nyari lagi di mana itu jerapah. Mau nyari di kandang sampingnya juga nggak ada. Padahal dia tinggi, kalo sembunyi kan susah, merunduk juga tetep keliatan.

Yang namanya kebun binatang itu yang tempat buat pamer binatang-binatang, kalo buat pamer lukisan itu namanya galeri. Pastinya banyak binatang di kebun binatang, kalo banyak pohon itu namanya kebun raya. Banyak pengunjung ke sini mau berlibur atau mau piknik, kalo mau makan datangnya ya ke pesta nikahan aja.

Selain kebun binatang ada taman yang banyak binatangnya berkonsep taman safari. Di sini kita keliling liat-liat binatang naik mobil. Ada juga yang konsepnya beda, berupa sea world. Di sini katanya disebut akuarium raksasa, tapi kenyataannya tidak seindah sebutannya. Nyatanya yang masuk akuarium raksasa bukan ikannya, tapi orangnya. Jadi yang terjadi sebenarnya adalah para ikan dan makhluk laut itu ngeliat manusia yang ada di dalam akuarium raksasa.

Udah umum yang namanya kebun binatang itu nggak bisa menampung semua jenis hewan. Ada aja hewan yang nggak ada di situ, misalnya semut, lalat, atau nyamuk. Sebenernya mereka ada di situ, tapi nggak ada kandangnya. Mungkin mereka ke kebun binatang itu buat berlibur atau mau piknik, atau juga mungkin lagi ada pesta nikahan nyamuk di kebun binatang.

Selain piknik, kegiatan rekreasi yang lain adalah outbound. Ngomongin tentang outbound itu menyenangkan, terutama kalo pas kelompok yang aku ikuti menang. Tapi nggak cuma kemenangan itu yang menjadi kesenangan outbound, tapi juga permainan, kebersamaan, dan outbound itu sendiri secara keseluruhan. Banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini, terutama bagi saya sendiri memberikan kesan yang berbeda-beda dari masing-masing kegiatan outboundnya.

Salah satu kegiatan outbound yang bagi saya paling berkesan dan menyenangkan adalah outbound yang bersifat penjelajahan. Kita dibagi menjadi beberapa kelompok, yang terdiri dari antara tujuh sampai sepuluhan orang. Kemudian semua kelompok berkumpul dari satu titik pemberangkatan untuk kemudian menyusuri rute tertentu yang telah ditentukan. Selama perjalanan setiap kelompok mendapatkan misi yang berakhir di titik finish. Selain itu, selama rute perjalanan tersebut ada pos-pos tertentu, di mana masing-masing pos ada tugasnya masing-masing. Yang seperti ini sih sebenarnya dulu sering saya alami sebagai penjelajahan selama mengikuti kegiatan kepramukaan.

Satu hal yang menambah kesenangannya adalah kita menyusuri sebuah rute yang berada di daerah yang sama sekali kita kenal. Maklum outboundnya kan juga bukan di daerah rumah atau tempat kerja, tapi di daerah pedesaan. Jadi menyusuri sawah, kebun, sungai, dan naik-turun daratan yang tinggi adalah perjalanan yang harus dilalui selama kegiatan outbound. Selama perjalanan ini kita bisa dihadapkan pada berbagai masalah, seperti tersesat karena tidak menemukan petunjuk jalan, tertusuk karena melewati jalan berduri, atau juga tidak berhasil melaksanakan misi globalnya.

Lain halnya dengan outbound yang on the spot, tempatnya dari awal sampai akhir ya di situ-situ aja. Kalau outbound lingkungan dengan penjelajahan panitia bisa memanfaatkan lingkungan yang ada sebagai sarananya, outbound yang ini menuntut penyelenggaranya lebih kreatif dalam membuat trek outboundnya. Misalnya kalau mau ada outbound yang pakai sarana halang rintang, ya jadinya harus bikin sarananya sendiri dengan pemanfaatan lingkungan yang minim. Selain itu outbound yang semacam ini juga membutuhkan tempat yang lebih luas agar masing-masing tugas dan permainan bisa berlangsung dan menyambung lebih cepat sehingga menghemat waktu pelaksanaan outbound secara keseluruhan.

Intinya kegiatan outbound itu menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang menyukai tantangan, petualangan, serta suka hal-hal yang berbau olahraga dan taktik strategi. Kalau mau kegiatan outbound yang lebih serius lagi bisa latihan di markas militer yang sarananya sudah tersedia, pelatihnya ada, dan sudah pasti manfaatnya bakal lebih terasa. Apalagi kalau setelah outbound kebersamaan menjadi lebih erat dan terasa hangat, semua rasa lelah dan capek selama mengikutinya jadi terbayar lunas.

Senior MOS

Posted: 2 Oktober 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Pengen ngebahas topik yang berhubungan dengan siswa baru, sekolah, dan masa perkenalan. Tau apa itu? Yak bener banget, kita bahas batu akik.

Masa Orientasi Sekolah, sering disingkat MOS, sering juga orang nggak tau apa singkatannya MOS. Dulu kayanya pas masih SMP nggak ada MOS, adanya penataran P4, berlangsung di sekolah selama 3 hari. Dan selama 3 hari itu ada acara-acara tertentu yang nggak ada hubungannya sama sekolah.

Dan sebagai siswa baru, apa aja yang disuruh kita mau-maunya aja. Disuruh bawa bawang, mau. Bawa kacang ijo, mau. Sampe bawa kayu bakar, mau juga. Kan jadi curiga, ini aku mau sekolah di SMP apa di sekolah koki ya.

Mengalami masa junior, di tahun berikutnya ngalamin juga jadi senior. Nggak tau kenapa juga, pas kelas 2 tiba-tiba disuruh ikut jadi panitia pas MOS. Padahal waktu pra MOS nggak ikutan. Emang sih waktu itu aku masuk jadi pengurus OSIS, tapi nggak terlalu aktif ikutan kegiatan OSIS.

Dan karena nggak ikutan kegiatan pra MOS ini, aku nggak dapat bagian kelas pas MOS. Waktu itu aku sama seorang temanku, namanya Agung. Dan peran kita berdua sama. Karena nggak dapat kelas buat dimasukin, kita lebih sering berkeliaran dari kelas ke kelas, berlagak sok senior tapi cengengesan terus. Bisa dibilang, sebenernya ada dan nggak adanya kita sebagai panitia MOS waktu itu nggak ngaruh pada kekuatan panitia MOS.

Tapi karena aktif di kegiatan ekskul Pramuka dan beberapa kali kegiatan OSIS pas di kelas 2, waktu naik ke kelas 3 lagi-lagi diikutkan dalam panitia MOS. Dan karena kali ini ikutan kegiatan sejak awal, mulai masa pra MOS, aku jadi kebagian kelas buat dibina. Satu kelas ada 4 orang senior pembina, 2 orang kelas 3 dan 2 orang kelas 2. Di MOS yang kali ini lebih banyak peran yang aku dapatkan, mulai memimpin para murid baru dalam kegiatan MOS, mensosialisasikan program-program tertentu, memberi pengarahan tentang sekolah, memilih pengurus kelas, sampe mendapat bagian teh dari karyawan TU sekolah.

Pas masuk SMK, meskipun aktif di ekskul juga, tapi aku nggak ikutan jadi panitia MOS. Nggak apa-apa juga lah, lagian anak SMK cowok-cowok, nggak ada yang bisa dimodusin. Eh jaman dulu belum musim yang namanya ngemodusin. Adanya tebar pesona.

Dari kegiatan MOS ini sebenernya bisa didapat banyak pelajaran dan pengalaman, beberapa di antaranya nggak mengenakkan, dan seperti yang aku bilang tadi, nggak ada hubungannya sama kegiatan belajar dan sekolah. Yang bermanfaat, misalnya, pengenalan sekolah dan program-programnya, tata hubungan sekolah, olahraga, dan kegiatan baris berbaris. Yang lain, kegiatan yang nggak berhubungan, anggap aja itu sebagai bonus buat nyenengin para senior. Biarpun mereka bilang itu buat ngelatih kedisiplinan, selama yang aku tau, kedisiplinan para tentara itu nggak didapat hanya dalam seminggu, tapi terus menerus.

MOS, dalam arti yang sebenernya, itu penting buat para siswa baru. Penting buat mengenal sekolah yang akan mereka diami selama beberapa tahun ke depan, buat tau di mana kamar kecil berada, tau guru-guru yang akan mengajar mereka, bisa mengukur jarak rumah ke sekolah sehingga nantinya berangkat sekolah nggak terlambat, sampai tau di mana celah sekolah yang bisa dipake buat cabut pas pelajaran kosong.

Dulu waktu sekolah naik sepeda, sering banget ketemu yang namanya truk. Maklumlah, jalan yang aku lalui itu jalan propinsi, jadi teman perjalanannya ya kendaraan-kendaraan besar kaya gitu.

Pernah kalo ketemu truk itu ngikutin dari belakang. Apalagi truk kan besar, jalannya pelan. Nggak kaya bis, besar tapi jalannya kenceng. Dan kepelanan truk itu adalah salah satu peluang buat tiba di sekolah lebih pagi. Maklum kan kalo makin kenceng ngayuh sepedanya, nyampe sekolah bisa lebih menyingkat waktu.

Kelakuan ini sebenernya juga ngikutin pesepeda lain juga. Sering banget ketemu sama truk yang tau-tau pas nyalip, di belakangnya ada anak-anak sekolah yang bersepeda, dan seolah memburu truknya. Makanya sekali-kali aku juga ngikutin gitu. Hasilnya, ke sekolah yang biasanya butuh waktu 35 menit, hanya 15 menit udah nyampe. Tentu saja dengan keringat yang lebih banyak dan deras.

Tapi dengan seperti itu aku jadi punya tips buat yang mau bersepeda dengan ngikutin kendaraan seperti truk tadi. Berikut ini tips-tipsnya.

1. Kalo mau bersepeda ngikutin truk, pastikan kalian berada di belakang truknya. Jangan di depan. Kalopun di depan, hadaplah berlawanan dengan arah truk, jangan ke arah truk. Dan kalo udah gitu, itu berarti bukan kalian yang ngikutin truk, tapi kalian yang dikejar truknya.

2. Pastikan truk memiliki sistem pengereman yang bagus. Cek remnya, jangan sampe truk tadi menggunakan sistem pengereman menggunakan sandal jepit. Bisa-bisa kalo ada pengereman mendadak, kalian baru tau kalo truk itu berhenti saat truk menabrak pagar rumah orang.

3. Pastikan juga sepeda kalian punya pengereman yang bagus. Karena bisa jadi truk mengerem mendadak di jalan, dan kalian ada di belakangnya nggak tau lingkungan sekitar. Kalo pas truk tiba-tiba mengerem, dan tau-tau kalian udah ada di depan truk, berarti kalian udah menyalip truk tersebut. Ini fakta!

4. Pakai perangkat perlindungan diri. Pakai helm, pelindung siku dan lutut, sabuk pengaman, kalo perlu pakai pengawalan polisi.

5. Amankan lingkungan dan pastikan ngikutin truk itu adalah ide terbaik yang kalian dapatkan waktu itu.

6. Hal yang utama kalo mau bersepeda ngikutin truk, pastikan kalian sedang bersepeda, dan pastikan yang di depan kalian itu truk.

7. Di atas segala hal, ngikutin truk itu tindakan yang berbahaya. Lebih baik buat kalian hindari.

Itu tadi tips-tips yang bisa dipakai buat ngikutin truk pake sepeda. Semoga bermanfaat dan bisa dipraktekkan.

Bahasa Inggris

Posted: 26 September 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Terasa banget ya, udah lama nggak nulis blog. Masuk akun blog ini, banyak sarang laba-laba di langit-langit. Kecoa berlarian di pojokan. Tulisan blog lama udah berdebu. Sampe sampah menumpuk di komentar. Tapi yang patut disyukuri di atas segalanya, aku masih inget password akun blogku ini.

Jadi ceritanya dulu aku pernah ikutan kursus di sebuah lembaga diklat, sebut saja namanya Dharma Nusa. Aku tulis ‘sebut saja’ bukan karena Dharma Nusa itu nama samaran, tapi emang namanya Dharma Nusa.

Nah, suatu ketika lembaga ini ngadain wisata ke Jogja. Dan sepulang dari Jogja, kita para peserta didik diwajibkan membuat karangan tentang perjalanan ke Jogja, pake Bahasa Inggris. Kebetulan kemampuanku berbahasa Inggris cukup lumayan, lumayan ngaco.

Dan demi kewajiban itu, kita semua harus bekerja keras membuat karangan berbahasa Inggris. Karena waktu itu belum musim yang namanya Google Translator, software translator juga belum terlalu terkenal, apalagi biaya jasa terjemahan cukup mahal. Belum sempat nanya sih, tapi pastinya mahal.

Jadinya berbekal buku kamus, ingatan tentang pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, dan mengandalkan spelling and grammar checker di Microsoft Word buat mengkoreksi kata dan susunan kalimat, aku tulis dulu karanganku dalam Bahasa Indonesia, kemudian baru diterjemahkan.

Tapi dasar panik, berhubung tugas juga harus cepat selesai, karangan yang harusnya menceritakan tentang pengalaman dan pelajaran yang didapat selama di Jogja malah berisi pengalaman konyol selama di Jogja. Mulai dari celana pendekku yang sobek waktu di Kaliurang, salah masuk bis waktu di Malioboro, sampai kisah temanku yang hampir matang di bak mandi, karena airnya terlalu panas.

Dan karena punya bakat jadi populer, karangan konyolku tadi malah jadi rujukan teman-temanku buat bikin karangan mereka. Kebetulan, bukan benar-benar kebetulan juga sih, di sela-sela wisata itu aku juga ikut lomba pidato Bahasa Inggris. Waktu itu aku berpidato Bahasa Inggris dengan logat Jawa medok. Sayangnya aku nggak menang, karena isi pidatoku sama judul dan temanya nggak nyambung. Ya udah kaya tulisan di blogku ini, sering nggak nyambung judul sama isinya. Ikut lomba aja udah bikin panik. Sampe-sampe ada lawanku yang pidatonya diambil dari bacaan buku pelajaran Bahasa Inggris.

Jadi karena tampilanku itu, aku jadi dianggap fasih berbahasa Inggris. Akhirnya banyak yang ambil karanganku buat dibikin jadi tugas mereka. Padahal kisa kita kan beda-beda ya di sana. Sampe-sampe pernah waktu jam kursus malam, iseng-iseng aku baca tumpukan tugasnya. Aku baca salah satu tugas, isinya mirip banget sama tugasku. Parahnya ada juga cerita tentang celana pendek yang sobek, salah naik bis, sampe teman yang hampir matang. Penasaran kan, aku cari nama pembuat tugas itu. Eh ternyata itu tugasku sendiri.

Lumayan ya, cerita tentang membuat cerita bisa ngisi lagi blogku yang lama kering. Lain kali mungkin aku bisa cerita detail perjalanan ke Jogja itu, kalo nggak ada ide lain.

Tanggal 7 kemaren aku ada tugas kantor ke Gresik. Dan seperti biasanya, aku memilih berangkat ke sana menggunakan motorku sendiri, ketimbang diantar pake kendaraan kantor. Ini akan menjadi perjalanan keduaku mengendarai motor, sedangkan jalan ke sana belum pernah aku tau.

Yang pertama itu pas tugas ke Bojonegoro. Aku ceritakan sedikit tentang perjalanan ke Bojonegoro ini. Karena sama sekali belum pernah ke sana, dengan berbekal aplikasi Google Map aku menelusuri jalur dari Kediri ke Bojonegoro. Tadinya aku mikir perjalanan ini nanti lewat Jombang, Babat, trus belok ke arah barat ke Bojonegoro. Tapi ternyata ada jalur melewati Nganjuk, yang sebenernya berbatasan langsung dengan Bojonegoro.

Dan perjalanan ke Bojonegoro ini menjadi salah satu perjalanan bermotorku yang mengesankan. Bojonegoronya sih biasa aja, tapi perjalanan ke sananya yang bikin nyaman. Melewati gunung, hutan, lembah, jalan berlubang, aspal lancar, pemandangan di sekitarnya, itu yang bikin berkesan.

Kembali tentang perjalanan ke Gresik, aku juga berbekal arah melalui aplikasi Google Map. Setauku kalo ke Gresik itu sejalan dengan ke Surabaya, atau bahkan melewati Surabaya. Ternyata ada jalan alternatif yang lebih ringkas daripada lewat Surabaya, yaitu lewat jalur Mojokerto.

Jalur lewat Mojokerto ini sebenernya juga sering aku lalui kalo bermotor ke Surabaya. Hanya saja di salah satu pertigaan, kalo ke Surabaya aku harus belok kanan, sedangkan arah ke Gresik aku lurus aja. Karena aku belum pernah lewat situ, sekaligus bisa dapat pengalaman, aku lewat jalur alternatif ini.

Gambar dari Google Map sebisa mungkin aku hapalkan, soalnya ribet kalo di tiap tempat harus buka telepon seluler dulu, buka aplikasi, trus liat jalan. Dengan berpatokan pada ke mana habisnya jalan yang ada, trus di mana waktunya belok dan jalur mana yang bisa dipake. Sejauh itu lancar-lancar aja, sampai di suatu perempatan aku salah belok. Ini dikarenakan di gambar aplikasi itu adalah pertigaan, tapi nyatanya itu adalah perempatan, hanya saja yang jalan lurusnya berupa jalan kecil.

Setengah sadar merasa ini adalah jalan yang salah, aku buka lagi aplikasinya. Dan ternyata benar, aku harusnya belok ke kanan, bukan ke kiri. Putar balik, lewat jalan yang tadi lurus. Dengan memperhatikan petunjuk di sekeliling jalan, aku yakin itu jalannya udah benar.

Sampai akhirnya aku memasuki sebuah jalan, nama yang tertulis adalah Jalan Raya Wringin Anom. Kenyataannya jalan ini lebih mirip dengan permukaan bulan daripada jalan raya. Lubangnya di mana-mana, dalam lagi. Kalo diperhatiin, lubangnya bisa buat mandiin bayi. Kalo miara ikan di situ, bisa miara mujair. Dan nggak hanya di satu tempat, ke arah sananya lagi ada lagi kumpulan lubangnya. Sampai-sampai kalo kendaraan lewat situ, bingung milih jalan yang mana, soalnya selebar jalan lubang semua.

Akhirnya setelah lepas dari jalan raya ini, dan memasuki jalur besar menuju Gresik, kelegaan hanya berlangsung sesaat, karena hujan turun. Aku tiba di tempat tujuan dengan kondisi setengah basah, karena meskipun pake jas hujan, derasnya hujan masih masuk dan membasahi pakaianku.

Dari pengalaman inilah aku jadi tau jalan menuju Gresik dari Kediri. Juga jalur-jalur yang bisa dilewati dengan lancar, jalur mana yang jadi alternatif, serta daerah-daerah yang belum pernah aku tau sebelumnya.

Hamster

Posted: 2 April 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

hamsterJadi terhitung tahun ini, udah tiga tahun aku miara hamster, hewan imut dan lucu yang tingkat keimutan dan kelucuannya udah ngalahin pemiliknya. Banyak pengalaman pahit dan manis, asem dan asin, yang didapat dari ngerawat mereka.

Pertama beli hamster itu jenis Campbell. Jadi hamster itu juga ada berbagai jenis gitu, yang masing-masing punya karakteristik dan keistimewaan tersendiri. Campbell yang aku beli adalah varian Black Mottled sama Normal Mottled. Tadinya nggak tau nama varian ini, soalnya yang jual bilangnya ini varian panda sama dominan. Sekilas aku liat, emang sih warnanya kaya panda, tapi kok nggak makan bambu ya.

Ngerawat hamster dari nol, dan hanya berbekal sedikit keterangan dari penjualnya, bikin aku harus nyari sumber lain buat ngorek-ngorek data tentang hamster ini. Beruntungnya, tiga tahun yang lalu itu udah ada internet, jadi bisa nyari di situ. Dari internet ini, aku nemuin forum pecinta hamster di Kaskus.

Dari sini, banyak banget yang bisa diambil pelajaran. Dan sebagai pemula, aku nggak mau terlalu lama. Aku harus bisa masuk ke tahap lanjutan sebagai perawat hamster. Makanya, tiap ilmu yang ada langsung aku ambil dan terapkan.

Beralih ke media lain, dapat grup juga di Facebook. Sama kaya sebelumnya, di sini banyak dokumen yang mendukung. Ditambah lagi dapat teman-teman yang nggak pelit ngasih hujatan dan ilmu. Bahkan akhirnya ketemu penghobi hamster juga di Kediri. Ilmu semakin banyak, ngerawat hamster pun bisa lebih baik lagi.

Berawal dari sepasang, nambah-nambah lagi, sampai ada yang beranak juga, sempat menyentuh angka 50 ekor piaraanku. Ada beberapa cerita berdasarkan pengalaman pribadi. Yang pertama adalah nggak semua hal yang dilakukan oleh pedagang atau peternak hamster itu benar. Ada beberapa hal yang malah bikin bahaya bagi hamsternya sendiri. Seperti yang aku alami tadi, bahwa nggak ada yang namanya hamster varian panda atau dominan.

Atau pemberian makanan buat hamsternya. Kalo banyak orang yang seenaknya aja ngasih makan hamster, dengan alasan ‘hemat duit’, ‘hamsternya doyan’, atau ‘biasanya sih gitu’, mestinya nggak semua makanan itu cocok buat hamster. Ada beberapa makanan yang malah jadi racun buat hamster.

Yang berikutnya adalah pengalaman mengembangbiakkan hamster itu. Karena salah-salah, ibu hamster yang melahirkan bisa makan anak-anaknya sendiri. Pernah suatu ketika ada indukan yang ngelahirin, dan aku pisah dengan pejantannya. Anaknya habis dimakan! Sampe dua kali kejadian kaya gitu. Tapi di lahiran yang ketiga, aku sengaja nggak pisahin dengan pejantannya. Anaknya selamat! Padahal udah diniatin, kalo kali ini anaknya habis lagi, nggak bakal aku kawinin lagi.

Dan dari indukan ini, aku jadi tau bahwa pejantan itu nggak akan makan anaknya sendiri, kalo betinanya nggak mulai. Ceritanya waktu itu si betina ngelahirin 5 ekor, tapi kemudian dia mati. Anak-anaknya ikut mati beberapa saat kemudian. Aku baru tau pas ngeliat ke kandangnya, si pejantan ini menyusun anak-anaknya yang udah mati di tempat makannya, seakan-akan bayi-bayi ini masih hidup.

Pengalaman berikutnya saat ada betina yang melahirkan, padahal nggak dicampur sama pejantannya. Jadi untuk mengontrol jumlah populasi, induk akan dipisah saat betinanya melahirkan. Betina yang satu ini aku dapat dalam keadaan hamil, kemudian aku satuin sama pejantan yang aku punya. Nggak berapa lama si betina ini lahiran, dan aku pisah dengan pejantannya. Jadi sebenernya bayi-bayi ini adalah hasil perbuatan pejantan yang lain.

Tapi nggak seberapa lama, sekitar dua minggu berikutnya, betina ini lahiran lagi. Dan kalo diamati, ini adalah hasil perbuatan pejantan yang aku satuin sebelum lahiran itu. Jadi, dari dua pejantan, betina ini mengalami dua kali lahiran, dengan jarak yang nggak jauh beda. Padahal kisaran masa hamil hamsterku ini antara 14 sampai 21 harian gitu.

Sekarang hamster yang ada dalam perawatanku tinggal enam ekor, dari tiga jenis, Campbell, Hybrid, sama Roborovski. Seterusnya aku masih pengen terus merawat hamster, karena kebanyakan penghobi hamster yang sejaman denganku dulu, sekarang udah nggak lagi miara hamster.