Archive for the ‘Pengalaman’ Category

Permen Karet

Posted: 23 Juli 2016 in Pengalaman
Tag:, ,

Salah satu mitos terbesar buat anak generasi tahun ’90-an adalah permen karet merk Yosan. Yang pernah ngalamin pasti tau ya, pas jaman-jaman populernya mobil-mobilan Tamiya, Yosan juga bikin kepopuleran tersendiri. Yaitu dengan memberikan hadiah mobil-mobilan Tamiya bagi yang bisa mengumpulkan tulisan huruf Y-O-S-A-N dari bungkusnya.

Dan tentu aja hal ini menjadi ketertarikanku juga. Maka dengan segala usaha aku mengumpulkan huruf demi huruf, sampai akhirnya muncul kesulitan, yaitu aku belum punya bungkus dengan tulisan huruf N di dalamnya.

Dan kebetulan rumahku waktu itu toko ya, yang salah satu dagangannya adalah jajanan anak-anak. Salah satunya ya permen karet tadi. Tapi hal itu nggak bikin usaha ngumpulin huruf ini lebih mudah. Pernah suatu ketika ada karnaval Agustusan, yang jalurnya lewat depan rumah. Banyak orang yang juga beli jajanan di rumahku, dan banyak juga beli permen karet itu.

Setelah karnaval selesai, pastinya yang tertinggal di sekitar rumah adalah sampah-sampah. Yang banyak juga, sampah bungkus permen karet Yosan. Saking bertekadnya nyari huruf N tadi, aku sampai memunguti bungkus-bungkus bekas permen karet tadi satu per satu, yang tentu saja tidak ada satupun yang bertuliskan huruf N.

Tadinya aku nggak kepikiran bahwa bukan hanya aku yang nggak bisa nemuin huruf N dari bungkus permen karet itu. Padahal kalo dipikir-pikir, duit buat beli permen karet buat nyari huruf N itu kalo dikumpulin bisa dibeliin mobil Tamiyanya langsung.

Piknik

Posted: 17 Juli 2016 in Pengalaman
Tag:, ,
DSC03280

Kebun Binatang Surabaya

Kebun binatang adalah salah satu tempat piknik favorit saya. Seingat saya tempat piknik pertama saya ya ke kebun binatang, tepatnya Kebun Binatang Surabaya. Sayangnya kondisi sekarang udah nggak kaya dulu lagi, selain tempatnya agak kotor, banyak binatang yang mati, juga jerapah yang ketemu saya pas pertama ke situ dulu udah nggak saya temuin lagi. Bingung kan, nyari lagi di mana itu jerapah. Mau nyari di kandang sampingnya juga nggak ada. Padahal dia tinggi, kalo sembunyi kan susah, merunduk juga tetep keliatan.

Yang namanya kebun binatang itu yang tempat buat pamer binatang-binatang, kalo buat pamer lukisan itu namanya galeri. Pastinya banyak binatang di kebun binatang, kalo banyak pohon itu namanya kebun raya. Banyak pengunjung ke sini mau berlibur atau mau piknik, kalo mau makan datangnya ya ke pesta nikahan aja.

Selain kebun binatang ada taman yang banyak binatangnya berkonsep taman safari. Di sini kita keliling liat-liat binatang naik mobil. Ada juga yang konsepnya beda, berupa sea world. Di sini katanya disebut akuarium raksasa, tapi kenyataannya tidak seindah sebutannya. Nyatanya yang masuk akuarium raksasa bukan ikannya, tapi orangnya. Jadi yang terjadi sebenarnya adalah para ikan dan makhluk laut itu ngeliat manusia yang ada di dalam akuarium raksasa.

Udah umum yang namanya kebun binatang itu nggak bisa menampung semua jenis hewan. Ada aja hewan yang nggak ada di situ, misalnya semut, lalat, atau nyamuk. Sebenernya mereka ada di situ, tapi nggak ada kandangnya. Mungkin mereka ke kebun binatang itu buat berlibur atau mau piknik, atau juga mungkin lagi ada pesta nikahan nyamuk di kebun binatang.

Selain piknik, kegiatan rekreasi yang lain adalah outbound. Ngomongin tentang outbound itu menyenangkan, terutama kalo pas kelompok yang aku ikuti menang. Tapi nggak cuma kemenangan itu yang menjadi kesenangan outbound, tapi juga permainan, kebersamaan, dan outbound itu sendiri secara keseluruhan. Banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini, terutama bagi saya sendiri memberikan kesan yang berbeda-beda dari masing-masing kegiatan outboundnya.

Salah satu kegiatan outbound yang bagi saya paling berkesan dan menyenangkan adalah outbound yang bersifat penjelajahan. Kita dibagi menjadi beberapa kelompok, yang terdiri dari antara tujuh sampai sepuluhan orang. Kemudian semua kelompok berkumpul dari satu titik pemberangkatan untuk kemudian menyusuri rute tertentu yang telah ditentukan. Selama perjalanan setiap kelompok mendapatkan misi yang berakhir di titik finish. Selain itu, selama rute perjalanan tersebut ada pos-pos tertentu, di mana masing-masing pos ada tugasnya masing-masing. Yang seperti ini sih sebenarnya dulu sering saya alami sebagai penjelajahan selama mengikuti kegiatan kepramukaan.

Satu hal yang menambah kesenangannya adalah kita menyusuri sebuah rute yang berada di daerah yang sama sekali kita kenal. Maklum outboundnya kan juga bukan di daerah rumah atau tempat kerja, tapi di daerah pedesaan. Jadi menyusuri sawah, kebun, sungai, dan naik-turun daratan yang tinggi adalah perjalanan yang harus dilalui selama kegiatan outbound. Selama perjalanan ini kita bisa dihadapkan pada berbagai masalah, seperti tersesat karena tidak menemukan petunjuk jalan, tertusuk karena melewati jalan berduri, atau juga tidak berhasil melaksanakan misi globalnya.

Lain halnya dengan outbound yang on the spot, tempatnya dari awal sampai akhir ya di situ-situ aja. Kalau outbound lingkungan dengan penjelajahan panitia bisa memanfaatkan lingkungan yang ada sebagai sarananya, outbound yang ini menuntut penyelenggaranya lebih kreatif dalam membuat trek outboundnya. Misalnya kalau mau ada outbound yang pakai sarana halang rintang, ya jadinya harus bikin sarananya sendiri dengan pemanfaatan lingkungan yang minim. Selain itu outbound yang semacam ini juga membutuhkan tempat yang lebih luas agar masing-masing tugas dan permainan bisa berlangsung dan menyambung lebih cepat sehingga menghemat waktu pelaksanaan outbound secara keseluruhan.

Intinya kegiatan outbound itu menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang menyukai tantangan, petualangan, serta suka hal-hal yang berbau olahraga dan taktik strategi. Kalau mau kegiatan outbound yang lebih serius lagi bisa latihan di markas militer yang sarananya sudah tersedia, pelatihnya ada, dan sudah pasti manfaatnya bakal lebih terasa. Apalagi kalau setelah outbound kebersamaan menjadi lebih erat dan terasa hangat, semua rasa lelah dan capek selama mengikutinya jadi terbayar lunas.

Senior MOS

Posted: 2 Oktober 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Pengen ngebahas topik yang berhubungan dengan siswa baru, sekolah, dan masa perkenalan. Tau apa itu? Yak bener banget, kita bahas batu akik.

Masa Orientasi Sekolah, sering disingkat MOS, sering juga orang nggak tau apa singkatannya MOS. Dulu kayanya pas masih SMP nggak ada MOS, adanya penataran P4, berlangsung di sekolah selama 3 hari. Dan selama 3 hari itu ada acara-acara tertentu yang nggak ada hubungannya sama sekolah.

Dan sebagai siswa baru, apa aja yang disuruh kita mau-maunya aja. Disuruh bawa bawang, mau. Bawa kacang ijo, mau. Sampe bawa kayu bakar, mau juga. Kan jadi curiga, ini aku mau sekolah di SMP apa di sekolah koki ya.

Mengalami masa junior, di tahun berikutnya ngalamin juga jadi senior. Nggak tau kenapa juga, pas kelas 2 tiba-tiba disuruh ikut jadi panitia pas MOS. Padahal waktu pra MOS nggak ikutan. Emang sih waktu itu aku masuk jadi pengurus OSIS, tapi nggak terlalu aktif ikutan kegiatan OSIS.

Dan karena nggak ikutan kegiatan pra MOS ini, aku nggak dapat bagian kelas pas MOS. Waktu itu aku sama seorang temanku, namanya Agung. Dan peran kita berdua sama. Karena nggak dapat kelas buat dimasukin, kita lebih sering berkeliaran dari kelas ke kelas, berlagak sok senior tapi cengengesan terus. Bisa dibilang, sebenernya ada dan nggak adanya kita sebagai panitia MOS waktu itu nggak ngaruh pada kekuatan panitia MOS.

Tapi karena aktif di kegiatan ekskul Pramuka dan beberapa kali kegiatan OSIS pas di kelas 2, waktu naik ke kelas 3 lagi-lagi diikutkan dalam panitia MOS. Dan karena kali ini ikutan kegiatan sejak awal, mulai masa pra MOS, aku jadi kebagian kelas buat dibina. Satu kelas ada 4 orang senior pembina, 2 orang kelas 3 dan 2 orang kelas 2. Di MOS yang kali ini lebih banyak peran yang aku dapatkan, mulai memimpin para murid baru dalam kegiatan MOS, mensosialisasikan program-program tertentu, memberi pengarahan tentang sekolah, memilih pengurus kelas, sampe mendapat bagian teh dari karyawan TU sekolah.

Pas masuk SMK, meskipun aktif di ekskul juga, tapi aku nggak ikutan jadi panitia MOS. Nggak apa-apa juga lah, lagian anak SMK cowok-cowok, nggak ada yang bisa dimodusin. Eh jaman dulu belum musim yang namanya ngemodusin. Adanya tebar pesona.

Dari kegiatan MOS ini sebenernya bisa didapat banyak pelajaran dan pengalaman, beberapa di antaranya nggak mengenakkan, dan seperti yang aku bilang tadi, nggak ada hubungannya sama kegiatan belajar dan sekolah. Yang bermanfaat, misalnya, pengenalan sekolah dan program-programnya, tata hubungan sekolah, olahraga, dan kegiatan baris berbaris. Yang lain, kegiatan yang nggak berhubungan, anggap aja itu sebagai bonus buat nyenengin para senior. Biarpun mereka bilang itu buat ngelatih kedisiplinan, selama yang aku tau, kedisiplinan para tentara itu nggak didapat hanya dalam seminggu, tapi terus menerus.

MOS, dalam arti yang sebenernya, itu penting buat para siswa baru. Penting buat mengenal sekolah yang akan mereka diami selama beberapa tahun ke depan, buat tau di mana kamar kecil berada, tau guru-guru yang akan mengajar mereka, bisa mengukur jarak rumah ke sekolah sehingga nantinya berangkat sekolah nggak terlambat, sampai tau di mana celah sekolah yang bisa dipake buat cabut pas pelajaran kosong.

Dulu waktu sekolah naik sepeda, sering banget ketemu yang namanya truk. Maklumlah, jalan yang aku lalui itu jalan propinsi, jadi teman perjalanannya ya kendaraan-kendaraan besar kaya gitu.

Pernah kalo ketemu truk itu ngikutin dari belakang. Apalagi truk kan besar, jalannya pelan. Nggak kaya bis, besar tapi jalannya kenceng. Dan kepelanan truk itu adalah salah satu peluang buat tiba di sekolah lebih pagi. Maklum kan kalo makin kenceng ngayuh sepedanya, nyampe sekolah bisa lebih menyingkat waktu.

Kelakuan ini sebenernya juga ngikutin pesepeda lain juga. Sering banget ketemu sama truk yang tau-tau pas nyalip, di belakangnya ada anak-anak sekolah yang bersepeda, dan seolah memburu truknya. Makanya sekali-kali aku juga ngikutin gitu. Hasilnya, ke sekolah yang biasanya butuh waktu 35 menit, hanya 15 menit udah nyampe. Tentu saja dengan keringat yang lebih banyak dan deras.

Tapi dengan seperti itu aku jadi punya tips buat yang mau bersepeda dengan ngikutin kendaraan seperti truk tadi. Berikut ini tips-tipsnya.

1. Kalo mau bersepeda ngikutin truk, pastikan kalian berada di belakang truknya. Jangan di depan. Kalopun di depan, hadaplah berlawanan dengan arah truk, jangan ke arah truk. Dan kalo udah gitu, itu berarti bukan kalian yang ngikutin truk, tapi kalian yang dikejar truknya.

2. Pastikan truk memiliki sistem pengereman yang bagus. Cek remnya, jangan sampe truk tadi menggunakan sistem pengereman menggunakan sandal jepit. Bisa-bisa kalo ada pengereman mendadak, kalian baru tau kalo truk itu berhenti saat truk menabrak pagar rumah orang.

3. Pastikan juga sepeda kalian punya pengereman yang bagus. Karena bisa jadi truk mengerem mendadak di jalan, dan kalian ada di belakangnya nggak tau lingkungan sekitar. Kalo pas truk tiba-tiba mengerem, dan tau-tau kalian udah ada di depan truk, berarti kalian udah menyalip truk tersebut. Ini fakta!

4. Pakai perangkat perlindungan diri. Pakai helm, pelindung siku dan lutut, sabuk pengaman, kalo perlu pakai pengawalan polisi.

5. Amankan lingkungan dan pastikan ngikutin truk itu adalah ide terbaik yang kalian dapatkan waktu itu.

6. Hal yang utama kalo mau bersepeda ngikutin truk, pastikan kalian sedang bersepeda, dan pastikan yang di depan kalian itu truk.

7. Di atas segala hal, ngikutin truk itu tindakan yang berbahaya. Lebih baik buat kalian hindari.

Itu tadi tips-tips yang bisa dipakai buat ngikutin truk pake sepeda. Semoga bermanfaat dan bisa dipraktekkan.

Bahasa Inggris

Posted: 26 September 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Terasa banget ya, udah lama nggak nulis blog. Masuk akun blog ini, banyak sarang laba-laba di langit-langit. Kecoa berlarian di pojokan. Tulisan blog lama udah berdebu. Sampe sampah menumpuk di komentar. Tapi yang patut disyukuri di atas segalanya, aku masih inget password akun blogku ini.

Jadi ceritanya dulu aku pernah ikutan kursus di sebuah lembaga diklat, sebut saja namanya Dharma Nusa. Aku tulis ‘sebut saja’ bukan karena Dharma Nusa itu nama samaran, tapi emang namanya Dharma Nusa.

Nah, suatu ketika lembaga ini ngadain wisata ke Jogja. Dan sepulang dari Jogja, kita para peserta didik diwajibkan membuat karangan tentang perjalanan ke Jogja, pake Bahasa Inggris. Kebetulan kemampuanku berbahasa Inggris cukup lumayan, lumayan ngaco.

Dan demi kewajiban itu, kita semua harus bekerja keras membuat karangan berbahasa Inggris. Karena waktu itu belum musim yang namanya Google Translator, software translator juga belum terlalu terkenal, apalagi biaya jasa terjemahan cukup mahal. Belum sempat nanya sih, tapi pastinya mahal.

Jadinya berbekal buku kamus, ingatan tentang pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, dan mengandalkan spelling and grammar checker di Microsoft Word buat mengkoreksi kata dan susunan kalimat, aku tulis dulu karanganku dalam Bahasa Indonesia, kemudian baru diterjemahkan.

Tapi dasar panik, berhubung tugas juga harus cepat selesai, karangan yang harusnya menceritakan tentang pengalaman dan pelajaran yang didapat selama di Jogja malah berisi pengalaman konyol selama di Jogja. Mulai dari celana pendekku yang sobek waktu di Kaliurang, salah masuk bis waktu di Malioboro, sampai kisah temanku yang hampir matang di bak mandi, karena airnya terlalu panas.

Dan karena punya bakat jadi populer, karangan konyolku tadi malah jadi rujukan teman-temanku buat bikin karangan mereka. Kebetulan, bukan benar-benar kebetulan juga sih, di sela-sela wisata itu aku juga ikut lomba pidato Bahasa Inggris. Waktu itu aku berpidato Bahasa Inggris dengan logat Jawa medok. Sayangnya aku nggak menang, karena isi pidatoku sama judul dan temanya nggak nyambung. Ya udah kaya tulisan di blogku ini, sering nggak nyambung judul sama isinya. Ikut lomba aja udah bikin panik. Sampe-sampe ada lawanku yang pidatonya diambil dari bacaan buku pelajaran Bahasa Inggris.

Jadi karena tampilanku itu, aku jadi dianggap fasih berbahasa Inggris. Akhirnya banyak yang ambil karanganku buat dibikin jadi tugas mereka. Padahal kisa kita kan beda-beda ya di sana. Sampe-sampe pernah waktu jam kursus malam, iseng-iseng aku baca tumpukan tugasnya. Aku baca salah satu tugas, isinya mirip banget sama tugasku. Parahnya ada juga cerita tentang celana pendek yang sobek, salah naik bis, sampe teman yang hampir matang. Penasaran kan, aku cari nama pembuat tugas itu. Eh ternyata itu tugasku sendiri.

Lumayan ya, cerita tentang membuat cerita bisa ngisi lagi blogku yang lama kering. Lain kali mungkin aku bisa cerita detail perjalanan ke Jogja itu, kalo nggak ada ide lain.

Tanggal 7 kemaren aku ada tugas kantor ke Gresik. Dan seperti biasanya, aku memilih berangkat ke sana menggunakan motorku sendiri, ketimbang diantar pake kendaraan kantor. Ini akan menjadi perjalanan keduaku mengendarai motor, sedangkan jalan ke sana belum pernah aku tau.

Yang pertama itu pas tugas ke Bojonegoro. Aku ceritakan sedikit tentang perjalanan ke Bojonegoro ini. Karena sama sekali belum pernah ke sana, dengan berbekal aplikasi Google Map aku menelusuri jalur dari Kediri ke Bojonegoro. Tadinya aku mikir perjalanan ini nanti lewat Jombang, Babat, trus belok ke arah barat ke Bojonegoro. Tapi ternyata ada jalur melewati Nganjuk, yang sebenernya berbatasan langsung dengan Bojonegoro.

Dan perjalanan ke Bojonegoro ini menjadi salah satu perjalanan bermotorku yang mengesankan. Bojonegoronya sih biasa aja, tapi perjalanan ke sananya yang bikin nyaman. Melewati gunung, hutan, lembah, jalan berlubang, aspal lancar, pemandangan di sekitarnya, itu yang bikin berkesan.

Kembali tentang perjalanan ke Gresik, aku juga berbekal arah melalui aplikasi Google Map. Setauku kalo ke Gresik itu sejalan dengan ke Surabaya, atau bahkan melewati Surabaya. Ternyata ada jalan alternatif yang lebih ringkas daripada lewat Surabaya, yaitu lewat jalur Mojokerto.

Jalur lewat Mojokerto ini sebenernya juga sering aku lalui kalo bermotor ke Surabaya. Hanya saja di salah satu pertigaan, kalo ke Surabaya aku harus belok kanan, sedangkan arah ke Gresik aku lurus aja. Karena aku belum pernah lewat situ, sekaligus bisa dapat pengalaman, aku lewat jalur alternatif ini.

Gambar dari Google Map sebisa mungkin aku hapalkan, soalnya ribet kalo di tiap tempat harus buka telepon seluler dulu, buka aplikasi, trus liat jalan. Dengan berpatokan pada ke mana habisnya jalan yang ada, trus di mana waktunya belok dan jalur mana yang bisa dipake. Sejauh itu lancar-lancar aja, sampai di suatu perempatan aku salah belok. Ini dikarenakan di gambar aplikasi itu adalah pertigaan, tapi nyatanya itu adalah perempatan, hanya saja yang jalan lurusnya berupa jalan kecil.

Setengah sadar merasa ini adalah jalan yang salah, aku buka lagi aplikasinya. Dan ternyata benar, aku harusnya belok ke kanan, bukan ke kiri. Putar balik, lewat jalan yang tadi lurus. Dengan memperhatikan petunjuk di sekeliling jalan, aku yakin itu jalannya udah benar.

Sampai akhirnya aku memasuki sebuah jalan, nama yang tertulis adalah Jalan Raya Wringin Anom. Kenyataannya jalan ini lebih mirip dengan permukaan bulan daripada jalan raya. Lubangnya di mana-mana, dalam lagi. Kalo diperhatiin, lubangnya bisa buat mandiin bayi. Kalo miara ikan di situ, bisa miara mujair. Dan nggak hanya di satu tempat, ke arah sananya lagi ada lagi kumpulan lubangnya. Sampai-sampai kalo kendaraan lewat situ, bingung milih jalan yang mana, soalnya selebar jalan lubang semua.

Akhirnya setelah lepas dari jalan raya ini, dan memasuki jalur besar menuju Gresik, kelegaan hanya berlangsung sesaat, karena hujan turun. Aku tiba di tempat tujuan dengan kondisi setengah basah, karena meskipun pake jas hujan, derasnya hujan masih masuk dan membasahi pakaianku.

Dari pengalaman inilah aku jadi tau jalan menuju Gresik dari Kediri. Juga jalur-jalur yang bisa dilewati dengan lancar, jalur mana yang jadi alternatif, serta daerah-daerah yang belum pernah aku tau sebelumnya.

Hamster

Posted: 2 April 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

hamsterJadi terhitung tahun ini, udah tiga tahun aku miara hamster, hewan imut dan lucu yang tingkat keimutan dan kelucuannya udah ngalahin pemiliknya. Banyak pengalaman pahit dan manis, asem dan asin, yang didapat dari ngerawat mereka.

Pertama beli hamster itu jenis Campbell. Jadi hamster itu juga ada berbagai jenis gitu, yang masing-masing punya karakteristik dan keistimewaan tersendiri. Campbell yang aku beli adalah varian Black Mottled sama Normal Mottled. Tadinya nggak tau nama varian ini, soalnya yang jual bilangnya ini varian panda sama dominan. Sekilas aku liat, emang sih warnanya kaya panda, tapi kok nggak makan bambu ya.

Ngerawat hamster dari nol, dan hanya berbekal sedikit keterangan dari penjualnya, bikin aku harus nyari sumber lain buat ngorek-ngorek data tentang hamster ini. Beruntungnya, tiga tahun yang lalu itu udah ada internet, jadi bisa nyari di situ. Dari internet ini, aku nemuin forum pecinta hamster di Kaskus.

Dari sini, banyak banget yang bisa diambil pelajaran. Dan sebagai pemula, aku nggak mau terlalu lama. Aku harus bisa masuk ke tahap lanjutan sebagai perawat hamster. Makanya, tiap ilmu yang ada langsung aku ambil dan terapkan.

Beralih ke media lain, dapat grup juga di Facebook. Sama kaya sebelumnya, di sini banyak dokumen yang mendukung. Ditambah lagi dapat teman-teman yang nggak pelit ngasih hujatan dan ilmu. Bahkan akhirnya ketemu penghobi hamster juga di Kediri. Ilmu semakin banyak, ngerawat hamster pun bisa lebih baik lagi.

Berawal dari sepasang, nambah-nambah lagi, sampai ada yang beranak juga, sempat menyentuh angka 50 ekor piaraanku. Ada beberapa cerita berdasarkan pengalaman pribadi. Yang pertama adalah nggak semua hal yang dilakukan oleh pedagang atau peternak hamster itu benar. Ada beberapa hal yang malah bikin bahaya bagi hamsternya sendiri. Seperti yang aku alami tadi, bahwa nggak ada yang namanya hamster varian panda atau dominan.

Atau pemberian makanan buat hamsternya. Kalo banyak orang yang seenaknya aja ngasih makan hamster, dengan alasan ‘hemat duit’, ‘hamsternya doyan’, atau ‘biasanya sih gitu’, mestinya nggak semua makanan itu cocok buat hamster. Ada beberapa makanan yang malah jadi racun buat hamster.

Yang berikutnya adalah pengalaman mengembangbiakkan hamster itu. Karena salah-salah, ibu hamster yang melahirkan bisa makan anak-anaknya sendiri. Pernah suatu ketika ada indukan yang ngelahirin, dan aku pisah dengan pejantannya. Anaknya habis dimakan! Sampe dua kali kejadian kaya gitu. Tapi di lahiran yang ketiga, aku sengaja nggak pisahin dengan pejantannya. Anaknya selamat! Padahal udah diniatin, kalo kali ini anaknya habis lagi, nggak bakal aku kawinin lagi.

Dan dari indukan ini, aku jadi tau bahwa pejantan itu nggak akan makan anaknya sendiri, kalo betinanya nggak mulai. Ceritanya waktu itu si betina ngelahirin 5 ekor, tapi kemudian dia mati. Anak-anaknya ikut mati beberapa saat kemudian. Aku baru tau pas ngeliat ke kandangnya, si pejantan ini menyusun anak-anaknya yang udah mati di tempat makannya, seakan-akan bayi-bayi ini masih hidup.

Pengalaman berikutnya saat ada betina yang melahirkan, padahal nggak dicampur sama pejantannya. Jadi untuk mengontrol jumlah populasi, induk akan dipisah saat betinanya melahirkan. Betina yang satu ini aku dapat dalam keadaan hamil, kemudian aku satuin sama pejantan yang aku punya. Nggak berapa lama si betina ini lahiran, dan aku pisah dengan pejantannya. Jadi sebenernya bayi-bayi ini adalah hasil perbuatan pejantan yang lain.

Tapi nggak seberapa lama, sekitar dua minggu berikutnya, betina ini lahiran lagi. Dan kalo diamati, ini adalah hasil perbuatan pejantan yang aku satuin sebelum lahiran itu. Jadi, dari dua pejantan, betina ini mengalami dua kali lahiran, dengan jarak yang nggak jauh beda. Padahal kisaran masa hamil hamsterku ini antara 14 sampai 21 harian gitu.

Sekarang hamster yang ada dalam perawatanku tinggal enam ekor, dari tiga jenis, Campbell, Hybrid, sama Roborovski. Seterusnya aku masih pengen terus merawat hamster, karena kebanyakan penghobi hamster yang sejaman denganku dulu, sekarang udah nggak lagi miara hamster.

#Antara Sekolah dan Hujan

Hujan itu lebih sering turun di siang, sore, atau malam hari. Jarang turun di pagi hari. Apa mungkin hujan kalo pagi sekolah dulu ya?

Kenapa kali ini aku mengkaitkan sekolah dengan hujan? Padahal dua hal ini beda bidang, dan beda spesialisasi. Itu dikarenakan banyak kenangan yang berkaitan saat dua hal ini bertemu dalam satu potongan kisah kehidupan di masa lalu.

Kalo pas TK dulu, nggak ada hubungan antara sekolah sama hujan. TK kan paling banter, jam 10 pagi udah pulang. Nggak sempat ketemu hujan kalo turunnya siang. Lagian kalo hujannya mulai pagi, mending nggak usah masuk.

Di SD banyak kenangannya. Misalnya pernah pas masuk siang, waktunya pelajaran olahraga, eh hujan turun deras banget. Akhirnya nggak ada pelajaran, yang ada malah main hujan-hujanan. Atau karena masuk siang pulangnya sore, pas hujan bingung pulangnya. Andalannya cuma nunggu jemputan yang bawain payung.

Kalo pas SMP, salah satu kenangan paling berkesan dengan hujan adalah pas masuk siang, listrik di sekolah padam. Dan karena SMP kami nggak dapat bantuan UPS dari DPRD, didukung dengan hujan lebat, maka di kelas jadi gelap. Ditambah lagi pelajaran belum usai, maka kami dapat jatah lilin di masing-masing kelas. Jadilah kita belajar di kelas dengan penerangan lilin.

Yang paling banyak dapat pengalaman sekolah dan hujan adalah pas sekolah di STM. Karena ke sekolah itu naik sepeda, maka hujan adalah salah satu rintangan tersendiri selama perjalanan. Kalo pas berangkatnya sih jarang banget kehujanan, bahkan bisa dibilang cuma sekali yang aku ingat kehujanan. Waktu itu pas hari membengkel, pagi-pagi udah gerimis. Karena pake sepeda gunung, yang nggak ada slebornya, sehingga cipratan air di tanah bisa balik ke punggung. Akhirnya seragam putihku pun menjadi bercorak garis dorsal sepanjang punggung, gabungan antara air kotor dan tanah.

Salah satu pengalaman yang paling menegangkan itu ketika nekad menembus hujan pas pulang sekolah. Karena rumah udah tinggal sekitar tiga kilometer lagi, dan hujan turun, nanggung banget kalo harus berteduh, akhirnya aku nekad menembus hujan itu. Sayangnya, hujannya nggak mau ditembus oleh seorang siswa STM yang hanya mengandalkan sepedanya. Hujannya makin lebat, sehingga efek yang terjadi kemudian adalah aku merasa seperti orang yang mau tenggelam di waduk. Dan akhirnya aku menyerah. Berhenti sebentar, berteduh.

Yang sering jadi kepikiran kalo pas kehujanan gitu adalah gimana nasib buku-buku di dalam tasku. Emang kebanyakan sih jadi basah. Yang lain adalah, gimana nasib sepatuku ini. Karena aku hanya punya sepasang sepatu, kalo sore ini pas pulang sekolah kehujanan, dan nggak dimasukin kantong plastik, besok pagi aku pasti berangkat sekolah pake sepatu yang setengah kering, sebagian besar basah. Kalo jalan, jadi ada bunyi semacam percikan air gitu.

Dan karena udah terlalu keseringan kehujanan, maka di akhir-akhirnya aku bawa jas hujan kalo ke sekolah. Agak ngrepotin sih, tapi ada gunanya juga. Meskipun kadang kalo cuma hujan gerimis aja juga nggak aku pake, takut jas hujannya basah. Kalo basah kan, garansinya ilang.

Ada satu lagi kenangan hujan dan sekolah adalah, kalo hujan lebat, daerah antara SMAN 1 sampai SMA St. Agustinus Kediri itu banjir. Soalnya konon kabarnya, dulunya daerah situ rawa, airnya gampang menggenang. Dan parahnya, sistem saluran pembuangan airnya juga nggak beres. Jadi, kalo abis hujan lebat sore ini, besok paginya kita akan melihat anak-anak SMAN 1 berjejer di depan sekolah, sambil mengamati genangan air, dan mungkin ada yang merenung, ‘Air sebanyak ini bisa dibikin apa ya?’, atau ‘Air banyak gini, buat mi rebus dulu ah…’. Dan di sela-sela anak-anak ini, ada juga yang meneriakkan ‘Asyik, libur…’.

Dan daerah antara SMKN 1 Kediri, pagar paling timur sampe pagar paling barat, juga tergenang air. Tapi kami nggak ada tuh, yang duduk terdiam di atas genangan air, sambil berpikir ‘Ane sakti nih, bisa duduk di atas air…’, atau tiba-tiba ada yang punya prospek usaha bikin air isi ulang kemasan galon. Kita tetep aja masuk sekolah, kaya biasanya. Soalnya beda dengan keadaan di SMAN 1, yang banjir di sekolahku kan depan sekolah doang, kelasnya nggak.

biketoworkAku sering ke kantor dengan naik sepeda. Ini sebenernya adalah keinginan sejak lama. Tapi karena sepeda fixieku yang dulu hilang, dan beberapa waktu nggak punya sepeda, keinginan ini jadi agak terhambat. Akhirnya beberapa bulan yang lalu, aku bisa membeli sepeda, meskipun bekas, dengan harga yang sangat murah pula, hanya seratus tujuh puluh lima ribu rupiah aja. Meskipun bekas, dan perlu banyak pembenahan, kegiatan bersepeda jadi bisa dilakukan lagi.

Dan ke kantor naik sepeda itu banyak halangannya. Terutama adalah karena jalan ke kantor itu menuju ke arah Gunung Kelud, sehingga jalannya sedikit menanjak. Jarak yang sepuluh kilometer itu nggak terlalu bermasalah sih, daripada jalanan menanjak itu.

Dan karena jalan utamanya menanjak dengan tanjakan yang cukup kerasa, aku sering lewat jalur dalam, melewati jalan-jalan desa. Ya karena selain alasan itu, lewat jalan desa itu juga menghindari kepadatan dari kendaraan lain. Maklum, yang namanya orang bersepeda itu sering nggak dianggap sama kendaraan-kendaraan lain yang lebih besar. Sama truk, atau sama bis, atau yang lebih besar lagi sama pesawat terbang, atau kapal laut.

Selain itu, lewat jalur desa itu menghindarkan diri dari kebosanan. Kalo biasanya ke kantor naik motor lewat situ, naik sepeda lewat situ juga, lama-lama juga bosan. Makanya cari variasi.

Seperti yang aku bilang tadi, jalur berangkat ke kantor itu menanjak. Bahkan baru keluar gang aja, udah kerasa capek. Padahal kalo pas lagi bersepeda santai, nggak pas kerja, rasanya biasa aja. Lewat jalur jalan desa juga menanjak sih, tapi lebih landai daripada jalur besar. Dan pastinya sampe kantor udah dalam kondisi berkeringat deras, kaki pegal, tangan kesemutan, sampe tenggorokan kering, bibir pecah-pecah.

Dari kerja bersepeda itu, yang paling bisa dinikmati adalah perjalanan pulangnya. Udah pasti kayuhannya lebih ringan. Sambil menikmati jalan pulang, ironisnya aku juga menikmati jalur yang tadi paginya aku lalui dengan kerja keras.

Tapi emang kadang capek itu sering bikin ketagihan. Biarpun hari ini capek, sampe seolah-olah ogah-ogahan, besoknya pengen lagi.

Dan kerja bersepeda ini seakan mengulang waktu dulu sekolah di STM. Jarak rumah ke sekolah yang sekitar 12 kilometer juga aku tempuh naik sepeda. Dan rasanya sama kan, sama-sama capek. Tapi udah gitu, bikin seger.

Hal yang aku lakuin biasanya kalo udah nyampe kantor adalah istirahat, minum susu, sambil nunggu keringat kering ngerjain kerjaan. Keringat udah kering, mandi dulu, trus lanjutin kerjaan. Dan karena perlu mandi di tempat kerja, akhirnya nyediain peralatan kosmetik mandi di kantor. Sikat gigi, pasta gigi, sabun, parfum, handuk, sampe semen, koral, sama pasir, semua harus tersedia lengkap di tempat kerja. Biar nggak tampil sekusut mungkin.

Nyebut Merk

Posted: 27 Maret 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Dalam keseharian hidupku sebagai manusia, aku berusaha sebaik mungkin untuk nggak nyebut sebuah barang bukan dengan jenis atau nama barangnya. Artinya nggak nyebut sebuah barang dengan merknya. Misalnya kalo pas beli air minum, sebisa mungkin nggak bilang, ‘Pak, beli Aqua dong!’. Atau pas beli aksesoris buat sepeda gunungku, aku menghindari bilang ‘Bang, beli setangnya sepeda Federal.’.

Tapi sepandai-pandainya aku menghindar, tetap masih aja kadang terpaksa harus nyebut merk. Misalnya pasta gigi, aku harus nyebut Odol. Soalnya aku bingung, gimana nyebut pasta gigi dalam bahasa Jawa, kan nggak mungkin dibilang barang jemek sing nggo untu.

Atau yang paling parah adalah pengalamanku pas beli pompa air. Aku bilang ke penjaga tokonya ‘Mbak, beli pompa air.’
Si mbaknya bingung sambil nanya, ‘Pompa air opo, Mas?’
Setengah ngejelasin sambil berusaha ngegambarin pompa airnya, aku jawab ‘Itu lo Mbak, pompa air listrik.’
Si mbak masih keukeuh ‘Kayanya nggak ada Mas!’
Dan akhirnya, aku harus nyebut itu merk ‘Sanyo itu lo Mbak!’
Mbak-mbaknya juga akhirnya ngejawab ‘Owh, itu ada.’
Aku nambahin ‘Merknya Shimizu, Mbak.’

Gini kan jadinya. Orang umumnya nyebut pompa air itu dengan merk, yaitu Sanyo. Padahal aku belinya yang Shimizu.

Satu lagi merk terkenal yang jadi nama sebuah barang, Kodak. Masih aja ada orang yang bilang ‘In, pinjam Kodakmu dong!’, padahal kameraku merknya BenQ. Entah darimana, ‘BenQ’ bisa dia baca ‘Kodak’.

Tapi emang gitu kan, orang suka nyebut sesuatu dengan apa yang gampang disebut aja. Sialnya, salah satu yang gampang disebut itu merknya. Nggak heran, sering kejadian salah paham yang dialami oleh orang yang mengambil jalan lurus dengan menyebut barang dengan namanya, seperti aku tadi, dengan orang yang mengambil merk sebagai nama barang.