Antara Sekolah dan Hujan

Posted: 29 Maret 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

#Antara Sekolah dan Hujan

Hujan itu lebih sering turun di siang, sore, atau malam hari. Jarang turun di pagi hari. Apa mungkin hujan kalo pagi sekolah dulu ya?

Kenapa kali ini aku mengkaitkan sekolah dengan hujan? Padahal dua hal ini beda bidang, dan beda spesialisasi. Itu dikarenakan banyak kenangan yang berkaitan saat dua hal ini bertemu dalam satu potongan kisah kehidupan di masa lalu.

Kalo pas TK dulu, nggak ada hubungan antara sekolah sama hujan. TK kan paling banter, jam 10 pagi udah pulang. Nggak sempat ketemu hujan kalo turunnya siang. Lagian kalo hujannya mulai pagi, mending nggak usah masuk.

Di SD banyak kenangannya. Misalnya pernah pas masuk siang, waktunya pelajaran olahraga, eh hujan turun deras banget. Akhirnya nggak ada pelajaran, yang ada malah main hujan-hujanan. Atau karena masuk siang pulangnya sore, pas hujan bingung pulangnya. Andalannya cuma nunggu jemputan yang bawain payung.

Kalo pas SMP, salah satu kenangan paling berkesan dengan hujan adalah pas masuk siang, listrik di sekolah padam. Dan karena SMP kami nggak dapat bantuan UPS dari DPRD, didukung dengan hujan lebat, maka di kelas jadi gelap. Ditambah lagi pelajaran belum usai, maka kami dapat jatah lilin di masing-masing kelas. Jadilah kita belajar di kelas dengan penerangan lilin.

Yang paling banyak dapat pengalaman sekolah dan hujan adalah pas sekolah di STM. Karena ke sekolah itu naik sepeda, maka hujan adalah salah satu rintangan tersendiri selama perjalanan. Kalo pas berangkatnya sih jarang banget kehujanan, bahkan bisa dibilang cuma sekali yang aku ingat kehujanan. Waktu itu pas hari membengkel, pagi-pagi udah gerimis. Karena pake sepeda gunung, yang nggak ada slebornya, sehingga cipratan air di tanah bisa balik ke punggung. Akhirnya seragam putihku pun menjadi bercorak garis dorsal sepanjang punggung, gabungan antara air kotor dan tanah.

Salah satu pengalaman yang paling menegangkan itu ketika nekad menembus hujan pas pulang sekolah. Karena rumah udah tinggal sekitar tiga kilometer lagi, dan hujan turun, nanggung banget kalo harus berteduh, akhirnya aku nekad menembus hujan itu. Sayangnya, hujannya nggak mau ditembus oleh seorang siswa STM yang hanya mengandalkan sepedanya. Hujannya makin lebat, sehingga efek yang terjadi kemudian adalah aku merasa seperti orang yang mau tenggelam di waduk. Dan akhirnya aku menyerah. Berhenti sebentar, berteduh.

Yang sering jadi kepikiran kalo pas kehujanan gitu adalah gimana nasib buku-buku di dalam tasku. Emang kebanyakan sih jadi basah. Yang lain adalah, gimana nasib sepatuku ini. Karena aku hanya punya sepasang sepatu, kalo sore ini pas pulang sekolah kehujanan, dan nggak dimasukin kantong plastik, besok pagi aku pasti berangkat sekolah pake sepatu yang setengah kering, sebagian besar basah. Kalo jalan, jadi ada bunyi semacam percikan air gitu.

Dan karena udah terlalu keseringan kehujanan, maka di akhir-akhirnya aku bawa jas hujan kalo ke sekolah. Agak ngrepotin sih, tapi ada gunanya juga. Meskipun kadang kalo cuma hujan gerimis aja juga nggak aku pake, takut jas hujannya basah. Kalo basah kan, garansinya ilang.

Ada satu lagi kenangan hujan dan sekolah adalah, kalo hujan lebat, daerah antara SMAN 1 sampai SMA St. Agustinus Kediri itu banjir. Soalnya konon kabarnya, dulunya daerah situ rawa, airnya gampang menggenang. Dan parahnya, sistem saluran pembuangan airnya juga nggak beres. Jadi, kalo abis hujan lebat sore ini, besok paginya kita akan melihat anak-anak SMAN 1 berjejer di depan sekolah, sambil mengamati genangan air, dan mungkin ada yang merenung, ‘Air sebanyak ini bisa dibikin apa ya?’, atau ‘Air banyak gini, buat mi rebus dulu ah…’. Dan di sela-sela anak-anak ini, ada juga yang meneriakkan ‘Asyik, libur…’.

Dan daerah antara SMKN 1 Kediri, pagar paling timur sampe pagar paling barat, juga tergenang air. Tapi kami nggak ada tuh, yang duduk terdiam di atas genangan air, sambil berpikir ‘Ane sakti nih, bisa duduk di atas air…’, atau tiba-tiba ada yang punya prospek usaha bikin air isi ulang kemasan galon. Kita tetep aja masuk sekolah, kaya biasanya. Soalnya beda dengan keadaan di SMAN 1, yang banjir di sekolahku kan depan sekolah doang, kelasnya nggak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s