Renungan

Posted: 22 Maret 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Aku pernah beberapa kali ikutan renungan, yang berupa sebuah sesi dari sebuah acara, yang di situ ada unsur kilas balik, motivasi, dan tekad ke depan. Seringnya sih ikut karena nggak bisa mengelak, terutama pas ikutan kemah. Di situ akan ada seorang sesosok manusia, yang ternyata seorang pujangga sajak, yang sedang menyamar jadi kakak senior.

Trus kita disuruh nunduk, kadang sambil memejamkan mata, trus dikasih cerita tentang orangtua, dosa-dosa kita, disuruh ngebayangin macem-macem, trus disuruh bikin resolusi ke depan. Ada seorang teman, yang pas renungan malam dia nggak nunduk, nggak merem juga, tapi ngeliat langit, ada petir menyambar-nyambar di sana. Dia sambil senyum-senyum sendiri. Aku pikir, resolusi ke depannya, dia akan bertekad buat jadi Gundala Putra Petir.

Yang terakhir pas sekitar sebulan lalu, di sebuah acara seminar gitu. Dan lagi-lagi, nggak bisa mengelak dari ikutan renungan. Alurnya sama, ada seorang pujangga sajak, yang sedang menyamar jadi penyaji materi. Kita duduk, disuruh merem, lampu ruangan dimatikan. Trus dikasih cerita macam-macam.

Beberapa menit kemudian, mulai terdengar isak-isak tangis dari beberapa orang di sekitarku. Aku hampir ikut terhanyut sama provokasi sang motivator, pas ngingetin tentang bapak. Tapi aku masih bisa nahan. Di jelang akhir sesinya, disetellah lagu D’Masiv, judulnya ‘Jangan Menyerah’. Kita yang ada di situ disuruh ikut nyanyi bersama. Di sela-sela lagu, masih terdengar isak tangis beberapa orang di sebelah kiriku. Aku menebak, itu adalah campuran tangisan haru, sama nggak apal lirik lagunya D’Masiv.

Masalahnya adalah aku nggak terlalu suka dengan acara seperti ini. Kita disuruh merenungi kesalahan kita, seolah kita nggak punya dorongan buat merenung sendiri. Motivasi dari orang lain, yang seolah kita nggak bisa memotivasi diri sendiri. Ya, itu sebenernya alasan yang dibuat sedramatis mungkin ya, alasan sebenernya karena aku nggak suka berada dalam situasi yang bikin canggung.

Iya kan renungan bikin kita berada dalam kendali orang lain, seorang pujangga sajak yang lagi menyamar. Kita jadi nggak bebas, duduk dikomando, bahkan napas aja ada aba-abanya. Tapi di balik itu aku juga yakin, ada sesuatu yang bisa kita ambil dalam sesi perenungan seperti ini.

Seperti yang terjadi di seminar tadi, karena lampu mati, aku jadi leluasa ambil permen di meja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s