Tertutup

Posted: 17 Maret 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Jadi ceritanya aku lagi agak lega. Lega karena selama seminggu kemaren tiba-tiba otak lagi encer, akhirnya ide bisa ngalir, dan tiap hari bisa bikin tulisan. Tau nggak, kalo aja ide nggak cair, jadi lembek, dan akhirnya aku butuh obat pencahar buat mencairkannya. Bukannya ide yang cair, malah boker yang nambah.

Sebenernya aku ini orangnya tertutup, sulit buat terbuka. Saking tertutupnya, aku bahkan sulit membuka sebuah rahasia, menuliskannya di secarik kertas, yang sebenernya hanya dibaca oleh aku sendiri. Aku terlalu khawatir bahwa kertas itu nantinya lupa naruh, tau-tau ditemuin sama orang lain, dan akhirnya dibaca orang. Sialnya, orang itu bocoran, suka nyebar-nyebarin kabar ke orang lain, dan akhirnya rahasiaku diketahui banyak orang.

Pernah sih, udah nulis gitu, dan akunya nggak sreg. Akhirnya kumpulan kertas tadi aku bakar, abunya aku sebarin, sampe sempat ada niatan buat dilarutin di air, terus aku minum. Lebaynya minta ampun! Padahal dengan dibakar aja, itu tulisan udah ilang, jadi abu. Padahal itu tadi nulisnya di buku, yang nggak sampe penuh bukunya. Yang dibakar bukunya. Itu artinya aku pake metode ‘membasmi tikus dengan membakar rumah’.

Jadi, kalo aku nulisin pengalaman di sini, aku pastikan bahwa itu adalah pengalaman yang aman buat dibaca orang dan disebarin. Nggak bakalan mungkin aku bikin tulisan, tentang pengalaman ngigau pas kemah di sekolah misalnya, karena aku sendiri kan juga nggak sadar pas ngigau.

Atau misalnya bikin tulisan tentang apa yang aku omongin pas dihipnotis sama Uya Kuya. Nggak mungkin bisa, pertama karena aku waktu itu nggak nyadar, yang kedua karena aku belum pernah ketemu sama Uya Kuya.

Pernah sih ngebaca tulisan orang yang nyeritain dirinya sendiri, tapi dikiaskan, tokohnya dikasih nama orang lain. Eh di bawahnya ada tulisannya ‘Bila ada kesamaan nasib tokoh dan penulisnya, itu karena tokohnya emang penulisnya’. Dan sebagai pembaca, aku merasa dodol.

Yang penting, aku lega untuk seminggu kemaren, meskipun nggak ada umpan balik, soalnya nggak ada komentarnya! Ya berbaik sangka aja, mungkin para pembaca tulisanku pas mau kasih komentar, tau-tau paket internetnya udah abis. Atau lagi baca di warnet, mau bikin komentar, listrik warnet mati, karena belum bayar telepon.

Komentar
  1. Dyah Sujiati mengatakan:

    Wahaha konyol

    Dan endingnya itu lhoooo koq kasian banget sih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s