Kekebalan Tubuh

Posted: 13 Maret 2015 in Pengalaman
Tag:, ,

Jadi ceritanya, sejak awal tahun lalu aku ngerasa sistem kekebalan tubuhku ini mulai menurun. Padahal sebelumnya, jarang banget yang namanya flu, apalagi sampe demam. Tapi sejak awal tahun lalu, tiba-tiba aku kena pilek yang agak berkepanjangan. Dan sejak aku pulang dari pelatihan di Malang, akhir Maret tahun lalu, malah kerasa ada yang lebih aneh lagi dengan gejala pilekku.

Awalnya muncul bau-bau agak amis gitu. Pikirku itu berasal dari pedagang ayam goreng yang ada di depan rumah, yang lagi goreng ikan apa gimana. Tapi kok makin hari makin ngerasa aneh, kan itu pedagang ayam, ngapain goreng ikan ya? Dan lagian baunya nggak cuma pas lagi ada di rumah aja, tapi pas kerja juga muncul.

Kalo ini karena pilek, nggak pernah muncul tuh ingusnya dari lubang hidungku ini. Sampe suatu hari, beberapa hari kemudian, akhirnya ingusnya keluar. Dalam logika kampretku, kalo baunya busuk-busuk amis kaya gitu tar ingusnya warnanya kaya ada darahnya gitu. Tapi ternyata nggak, warnanya malah hijau. Apa mungkin ingus juga ikutan program go green ya?

Ya udah, akhirnya periksa ke dokter dan dapet obat. Agak lama juga sembuhnya pilek ini, yang penting akhirnya sembuh.

Tapi jaman sekarang ini orang-orang lebih suka pamer di media sosial kalo lagi sakit, daripada berobat ke dokter. Orang jadi punya bahan buat bikin status pas sakit.

Apalagi di grup ya. Sebagai salah seorang yang menjadi anggota dari salah satu grup kedaerahan di Facebook, nama grupnya kita samarin jadi ‘Asli Banget’, padahal nama aslinya itu grup ‘Asli Kediri’, keliatan banget kalo orang di sini lebih mengandalkan pendapat orang daripada langsung cari ke sumber terpercaya.

Misalnya ada yang ngepos ‘Ada yang tau obat buat penyakit asma?’, atau ‘Kalo sakit herpes itu obatnya apa ya?’. Biasanya kalo ada yang kaya gini, aku ngasih komentar ‘Periksa ke dokter aja, biar lebih tepat penanganannya.’. Iya, gitu kan? Ini bidangnya kesehatan, ranah pekerjaannya para dokter dan praktisi kesehatan. Bukan keahlian anggota grup!

Ya mungkin aja sih ada yang pernah ngalamin gitu, terus dengan berbekal pengalaman dia nyaranin sebuah solusi yang dia tau. Tapi sejauh mana nilai kepercayaan atas solusi tersebut bisa dipercaya?

Misalnya dari kiriman tentang asma tadi, ada 50 komentar, yang 25 di antaranya ngasih solusi yang berbeda. Apakah sang pengirim tulisan tadi akan mencoba 25 solusi ini? Misalnya hari pertama nyobain salah satu solusi. Karena kayanya nggak ada perubahan, besokannya coba solusi lain. Begitu seterusnya sampe hari ke-25.

Dan sering kejadian, yang terampuh adalah yang terakhir. Dan akhirnya, dengan sedikit penyesalan dia mikir, ‘Kenapa nggak ambil solusi yang ke-25 ini dari pertama ya?’. Ya kita mana tau, kan ada 25 pilihan.

Coba kalo periksa ke dokter, pilihan kita mungkin tinggal dokter mana yang kita pilih. Setelah itu, solusi dari dokter mungkin nggak hanya satu, tapi juga nggak nyampe dua puluh lima solusi.

Tapi ya nggak apa-apa lah, kalo emang milih solusi pake metode ’25 solusi’ tadi, kan seenggaknya dalam 25 hari bisa punya ide buat bikin status.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s