Majalah Versi Digital

Posted: 7 Januari 2014 in Pemikiran
Tag:, ,

majalahSelama ini aku nggak pernah langganan majalah atau koran atau tabloid. Yang ada sih sering beli rutin pas terbitnya, ini termasuk langganan apa nggak ya? Dulu waktu masih SD sering beli majalah anak-anak, biasanya kalo udah waktunya hari terbitnya suka ngintip-ngintip ke toko koran, udah ada apa belum. Pas SMP dengan dominasi kegemaran sepakbola aku sering beli tabloid sepakbola atau olahraga.

Menginjak masa sekolah di SMK aku punya kegemaran baru, beli majalah bekas. Kebetulan pas itu nemuin sebuah toko yang di situ ngejual majalah-majalah bekas tapi masih bagus, kayanya sih majalah yang dulu dijual dalam bentuk baru tapi nggak laku, akhirnya biar tetap produktif dijual dalam bentuk bekas. Tapi tetap aja, meskipun bekas banyak yang masih di dalam segel plastik, dan yang paling menarik bonus-bonusnya masih lengkap. Di toko ini malah bisa-bisa waktunya banyak terbuang buat meneliti isi majalahnya, soalnya ada banyak majalah yang nggak disegel jadi bisa dibuka-buka gitu. Kapannya lagi ke situ, ya nyari-nyari lagi, buka-buka lagi, sambil baca-baca lagi. Ini mungkin yang jaga toko sampai jengkel kalo pas aku ke situ.

Tapi emang sampai sekarang masih sering tertarik juga kalo ada yang jual majalah-majalah bekas ini, soalnya meskipun bekas ilmunya nggak berkurang. Selain toko yang satu tadi, aku juga nemu beberapa tempat lagi yang juga jualannya sama di dekat rumah, malah ada juga buku-buku bekas gitu. Meskipun sering juga beli yang baru. Kalo beli baru, aku kadang-kadang beli majalah tentang komputer, seringnya sih biar dapat DVD softwarenya. Masalahnya kalo baca majalahnya itu teknologinya kan udah nggak nyampai buatku sekarang, udah sangat terlalu tinggi buat diraih. Kalo softwarenya kan masih bisa dipakai.

Selain itu juga kadang-kadang beli tabloid olahraga, itu juga kalo penjual korannya lagi mampir ke kantor. Kalo nggak mampir aku ya nggak beli juga.

Sekarang kan udah mulai banyak tuh majalah elektronik, yang tinggal diunduh aja dari internet, udah bisa baca kaya majalah cetak yang biasa gitu. Cara ini katanya diklaim bisa menghemat kertas dan biaya percetakan. Selain itu juga lebih praktis dan gampang, serta dalam beberapa sektor lebih murah. Tapi itu adalah analisa kalo kita melihat dari satu sisi aja. Pastinya semua hal itu kan ada banyak sisinya, nggak cuma satu aja. Coba kita liat dari sisi-sisi yang lainnya kalo suatu saat semua media cetak diganti jadi produk digital. Ada berapa perusahaan percetakan yang kehilangan ordernya. Ada berapa toko koran yang ganti menjadi toko pulsa. Ada berapa loper koran yang alih profesi.

Sebenarnya ini dilema tersendiri, sama kaya gagasan gimana kalo perusahaan rokok ditutup aja, ya gitu analisa sebab-akibatnya. Itulah kenapa selalu ada pro dan kontra dari dua sisi yang berlawanan, soalnya emang masing-masing sisi itu juga punya segi analisa masing-masing juga. Tapi balik ke soal majalah cetak tadi, gimanapun versi majalah cetak tetap lebih menarik dan punya kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s