Penyaji dan Pendengarnya

Posted: 31 Desember 2013 in Pemikiran
Tag:,

ceramahEntah kenapa, sebuah ceramah yang disampaikan oleh seseorang berdasarkan tulisan orang lain itu bagiku kesannya seperti ‘roh’ dari tulisan ini nggak tersampaikan. Misalnya gini, khotbah Jumat sederhananya. Seorang khotib yang kalo dia menyampaikan khotbahnya dengan membaca sebuah artikel hikmah hasil karya orang lain yang dimuat di majalah, yang menurutnya menarik, belum tentu bisa dibuat menarik dengan menyajikannya kepada jamaah sholat Jumat. Bisa aja penyajian itu jadi berkesan membosankan, entah karena khotibnya terlalu sibuk membaca sehingga kandungan maknanya tidak sampai kepada jamaah, atau karena bahasa artikelnya terlalu tinggi sehingga tidak bisa dimengerti oleh jamaah.

Mungkin ada juga yang membuat artikel itu menjadi sangat menarik untuk dibaca. Tapi yang perlu diperhatikan adalah, dengan materi yang dibaca dan disajikan kepada orang lain, apakah penyajinya punya pemahaman yang sama dengan pembuat materi itu? Kalo iya, apakah penyajinya menguasai materi itu? Kalo iya, apakah bahasa materinya bisa diterima oleh para pendengarnya? Kalo iya, apakah transfer pola pikir penulisnya bisa sampai kepada pendengarnya melalui penyaji materi tadi? Kalo iya, ya udah….

Intinya adalah, dari sebuah materi yang disampaikan, dalam bentuk apapun istilahnya, setidaknya ada sebuah atau lebih makna dan pemahaman yang bisa dibawa pulang oleh pendengarnya. Jadi menghadiri sebuah kajian misalnya, tidak jadi sebuah hal yang percuma karena ada oleh-oleh berupa ilmu dan pemahaman baru yang diambil dari materi tersebut. Jangan sampai karena asal menyampaikan materi dari literatur tertentu, penyaji gagal memberikan pola pikir yang sama saat dia membaca sebelumnya.

Karena mungkin sering banget kita menghadiri sebuah acara yang inti penyajiannya nggak nyampai ke kita. Alih-alih untuk dibawa pulang sebagai pokok ide, jangan-jangan pas perjalanan pulang aja itu materi udah lupa gimana. Ini sebenarnya nggak jauh beda dengan kita ngomong ke penyajinya “Pak, gimana kalo daripada Bapak capek baca tulisan itu, mending kita pinjam buat difotokopi?”, karena perasaan kalo mendengarkan orang membaca itu jadi membosankan. Yang baca asyik-asyik aja, yang denger nggak ngerti blas, dan parahnya pendengarnya menghadapi situasi yang mana kondisi seperti itu nggak bisa dihindari dan ditinggalkan.

Seperti tulisanku tentang level-levelan yang sebelumnya, ya gitu lah adanya. Apalagi kalo informasi dari penyajian tersebut nggak dicatat, hanya didengarkan. Terlebih lagi, kalo niat nyatet misalnya, kita bingung bagian mana yang bisa dicatet, karena mungkin materinya nggak berinti dan nggak nyampai maksud dan tujuannya.

Iklan
Komentar
  1. lazione budy berkata:

    haha.., betul.
    Tapi untuk forum Jumat memang membosankan, kita kena aturan dilarang bilang ‘hush’ apalagi tertawa. Saya punya ide kita ganti saja ceramah Jumat menjadi ala Stand up comedy, ide itu sayangnya membusuk sebelum dibahas.

  2. f.nugroho berkata:

    oleh karena itu penyaji/pemateri perlu memiliki sense of humor. Sense of humor bukan berarti humoris. Aku pernah bahas deh tentang sense of humor di blogku (modus biar baca blogku) 😀

  3. Seharunynya penyaji lebih paham materinya dan saat menyajikan sebaiknya menggunakan kata” yg mudah di cerna ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s