Hymne Guru

Posted: 4 Desember 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

guruKemaren hari Senin tanggal 25 Nopember itu Hari Guru ya? Pantesan pas upacara bendera SMP sebelah rumah itu petugasnya guru-guru semua. Nggak tau juga kapan terakhir para guru ini jadi petugas upacara. Tapi ngomongin soal guru aku nggak bisa lupa pada semua guru-guruku dari mulai TK sampai SMK. Kalopun aku lupa berarti aku nggak ingat. Kemaren juga pas reuni akbar di SMP aku didatangin seorang guru, berjilbab, cantik, dia nyapa aku, ‘Yang lainnya ke mana?’. Ternyata beliau masih ingat aku, akunya yang lupa namanya. Setelah lama ngingat-ngingatnya baru ingat beliau dulu guruku pas kelas satu. Tadi beliau nanya teman-temanku yang lain pada ke mana, apa nggak datang apa gimana gitu.

Pas reuni itu juga ada seorang pembicara yang ngajak semua yang datang berdiri dan menyanyikan Hymne Guru. Sampai ada bapak-bapak di sebelah yang nangis-nangis. Ternyata nangisnya karena beliau nggak hapal lagunya, kirain karena terharu mengingat guru-guru beliau dulu.

Tapi emang benar, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Kita liat aja, para murid-muridnya ada yang jadi pembesar-pembesar, jadi presiden, jadi kepala kantor pendidikan, jadi jenderal, tapi gurunya tetap jadi guru. Kalopun naik pamornya ya mungkin jadi gurunya presiden, gurunya jenderal, tapi tetep yang utama jadi guru di sekolah. Pernah dulu guru SD-ku ada yang mengamanatkan, ‘Besok kalau sudah jadi orang gede dan kaya, jangan lupa gurunya lo ya anak-anak, jangan sampai kalau ketemu di jalan gurunya ditabrak pakai mobil pribadi’. Duh, kalo ingat guru ini rasanya jadi terharu dengan amanatnya itu.

Tapi sebenarnya mengajari orang lain nggak harus jadi guru juga. Dan tidak semua guru itu ngajar di sekolahan. Misalnya kita ngajarin anak kecil main kelereng, kita bisa jadi guru kelereng. Atau ngajarin main layangan, kita bisa jadi guru layangan. Dan karena pahala guru akan terus mengalir sebagai ilmu yang bermanfaat, jangan sampai kita ngajarin yang jahat-jahat. Misalnya kita ngajarin orang cara mencopet yang efektif dan efisien, kemudian kita jadi guru copet, pas kita mati nanti bukan pahala yang didapat, tapi dosa yang terus mengalir.

Sedih juga kalo ingat bahwa tidak semua guru itu dihargai dengan cara yang layak. Banyak guru yang sampai harus menuntut keadilan atas nasibnya dan perlakuan terhadapnya. Ada sekolah-sekolah tempat menuntut ilmu yang sampai kena korban penggusuran atau penyitaan. Meskipun sebenarnya menuntut ilmu itu nggak harus di sekolah, tapi yang namanya sekolah itu bisa jadi sarana dan alat untuk menyatukan antara para guru dengan muridnya, antar guru, dan antar murid sendiri. Kesan sekolah, selain tempat mencari ijasah, bisa lebih terhangatkan dengan nuansa yang disebarkan oleh para guru-gurunya pada setiap pelajaran yang disajikannya kepada murid-muridnya.

Mungkin kita sampai sekarang memilih guru-guru dengan nuansa humor sebagai guru favorit kita. Tapi nggak usah malu kalo bilang bahwa guru-guru yang galak adalah guru-guru yang paling kita ingat sampai sekarang. Contohnya aku nggak pernah lupa kalo aku pernah digampar guruku di SMK. Atau pas ulanganku dapat nilai jelek di SMP, SD asal sekolahku sebelumnya yang jadi sasaran guruku. Atau pula diusir dari kelas karena telat datang. Guru-guru yang bikin suasana menegangkan kaya gini emang nggak bisa kita lupakan.

Gimanapun, rasa terima kasih akan terus mengalir dari kita para murid-murid buat para guru-guru kita, di manapun kita berada dan di manapun mereka berada. Kita mungkin nggak ngerasa bahwa saat ini pelajaran-pelajaran mereka berguna untuk kehidupan sehari-hari kita, tapi dari mereka kita tau bahwa ada sesuatu hal yang mungkin sebelumnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s