Les atau Sekolah?

Posted: 19 November 2013 in Pengalaman
Tag:, ,

guru galakDulu selama sekolah di tingkat SD aku mengikuti les mata pelajaran di luar jam sekolah. Sebenarnya guru pengajarnya juga sama, tapi bedanya les dilakukan tidak di sekolah dan tidak di dalam jam pelajaran. Di dalam les tersebut lebih banyak dibahas tentang pelajaran di sekolah juga, selain sedikit pemahaman dan pengetahuan di luar pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dan karena mengikuti les tersebut, nilai sekolah menjadi terbantu dan pelajaran lebih mudah dipahami.

Meningkat di tingkat SMP aku mengikuti les juga, hanya saja yang aku ikuti cuma les bahasa Inggris saja. Les ini lebih kepada pemahaman tentang bahasa Inggris beserta pemakaiannya dalam praktek, serta didukung dengan pembahasan pelajaran di sekolah. Sehingga secara umum dan luasnya pemahaman bahasa Inggris lebih bisa dikuasai dan sangat mendukung dalam pelajaran sekolah, meskipun kemudian di sekolah tidak diajar oleh guru yang memberi les tersebut.

Sama-sama belajar, sama-sama diberi materi, sama-sama diajar oleh guru sekolah, tapi mengapa ya pengajaran dari les lebih mudah dipahami dan lebih mudah diterapkan? Kalo aku pribadi sih menganggap karena suasana di les lebih nyaman dan komunikatif aja. Misalnya saat di les, saat diberi sebuah soal matematika, guru akan mengarahkan dengan efektif dan efisien bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut. Saat kita salah mengerjakannya, kita nggak akan dihukum, malah diberitahu cara mengerjakan soal tersebut dengan mudah. Selain itu suasana les juga nggak kaku. Kita lebih bebas berekspresi dengan menanyakan berbagai pelajaran yang tidak atau belum kita pahami.

Beberapa contoh seperti di atas tentu beda dengan suasana pembelajaran di sekolah. Kita lebih dituntut ‘menjawab dengan benar’ dari setiap soal yang diberikan kepada kita. Padahal mungkin metode pengajaran yang diberikan sama antara les dan sekolah. Tapi nggak tau kenapa seolah-olah penjelasan guru di sekolah tidak cukup untuk menyalurkan ilmu dari sebuah bahasan kepada murid-muridnya. Entah kenapa…

Aku jadi teringat ada sebuah ungkapan dari seorang kenalan, dia bilang kalau les bisa bikin anak jadi pinter, kenapa perlu ada sekolah? Dari ungkapan ini seolah sekolah itu hanya sebuah sarana untuk mendapatkan pengakuan atas ‘kepintaran’ seseorang, padahal dengan adanya les mata pelajaran seorang anak bisa lebih menguasai pelajaran daripada penyajian di sekolah. Sementara aku sendiri menganggap bahwa sebenarnya proses menuntut ilmu itu tidak harus dari sekolah. Sekolah hanyalah salah satu sarana menuntut ilmu. Tapi kenyataannya memang tanpa sekolah seseorang tidak bisa diakui kompetensinya, karena tidak ada bukti formal yang mendukung bahwa dia telah mengikuti ‘proses pembelajaran’ yang mengikuti ‘proses menuntut ilmu’.

Menuntut ilmu itu penting, sekolah itu sarana, dan les itu pendukung. Tidak ada salahnya ikut les kalau ternyata bisa mendukung kegiatan di sekolah, dan selama itu merupakan bagian dari menuntut ilmu. Dengan banyaknya pilihan tempat les daripada pilihan tempat sekolah, maka harapannya pilihan yang tepat bisa mengembangkan nilai pendidikan seseorang dalam menjalani jenjang pendidikan formalnya, serta bisa meningkatkan standar pendidikannya sebagai pendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s