Tulisan Ini

Posted: 3 November 2013 in Pemikiran
Tag:, ,

Saat anda membaca tulisan ini, berarti saya sedang menanamkan ide dan pola pikir saya kepada anda, karena secara garis besarnya tulisan saya lebih berupa penuangan pola pikir dan ide yang terpikirkan daripada fakta-fakta yang sudah pasti. Sehingga bisa saya katakan bahwa saat anda membaca judul tulisan saya ini, dan kemudian anda membaca sekilas tentang isinya, maka anda tertarik untuk membaca lebih lanjut untuk membacanya sampai habis. Dan sekarang anda berada di level 1 sebagai pembaca tulisan saya.

Kemudian saat anda menceritakan kepada orang lain tentang tulisan saya ini, dan ada beberapa orang yang tertarik dengan apa yang anda ceritakan, maka dia berada di level 2 dari tulisan saya. Kecuali si level 2 ini kemudian membaca langsung tulisan saya, maka dia akan menjadi level 1. Dan apabila level 2 ini menceritakan lagi kepada yang lain (tentunya dengan isi cerita yang tidak lagi utuh seperti tulisan ini), maka dia sedang membentuk level 3 dari tulisan ini. Dan demikian seterusnya, sampai di level terakhir tulisan ini tidak lagi berupa ide dan pola pikir saya lagi, melainkan sudah tercampur oleh ide dan pola pikir dari level di atasnya.

Saya mengelompokkan ke dalam level-level itu bukan karena ingin mengkotak-kotakkan orang atau golongan. Karena pada dasarnya tidak semua orang yang (setidaknya) tahu dengan tulisan saya kemudian tertarik dan membacanya sampai habis dengan benar-benar utuh. Dalam hal level 1, yang dia membaca dengan utuh, maka ada titik-titik tertentu sebagai pokok bahasan tulisan ini yang akan tertanam dalam pemikirannya, dan menjadi bahan untuk kemudian tersampaikan ke level 2. Dan dalam proses penyampaiannya ini di dalam level 2 mungkin tidak semua orang akan setuju, tertarik, atau mengerti isinya. Sehingga ada kemungkinan lagi bahwa si level 2 ini tidak akan melanjutkan pokok tulisan tadi ke level selanjutnya.

Kalaupun kemudian level 2 tertarik, maka dia mungkin hanya akan mengambil pokok bahasan yang disampaikan dari level 1 dan kemudian menyampaikan ke level berikutnya dengan bahasa lain, atau bahkan disusupi dengan ide pikirannya sendiri.

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah khotbah sholat Jumat yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Dalam kasus itu, saya menjadi level 2 yang tidak meneruskan ide yang terdapat dalam tulisan tersebut. Bukan karena khotbahnya jelek atau tidak bermutu, tapi karena pada dasarnya khotbah tersebut tidak sampai ide pikirannya kepada level selanjutnya. Ceritanya khotib tersebut menyampaikan khotbah sholat Jumat dari sebuah tulisan (yang saya pikir merupakan artikel dari majalah atau koran). Secara ciri khasnya artikel, biasanya dalam tulisannya memuat berbagai istilah yang mungkin diperlukan dalam melengkapi tulisan tersebut, tapi tidak semua orang (bahkan mungkin dari level 1) yang mengerti.

Dari sini, si level 1 mencoba menyampaikan artikel tersebut ke jamaah sholat Jumat sebagai ‘calon’ level 2. Karena level 1 tidak menyadari bahwa bahan tersebut terlalu berat terpikir dan ditanamkan kepada audiens yang bersifat heterogen dan cenderung ‘konvensional’, maka ide yang dirasa bagus oleh si level 1 tidak bisa sampai kepada level 2. Sampai-sampai salah seorang dari level 2 yang berada di samping saya bilang bahwa bahan tulisan tersebut terlalu tinggi untuk dipikirkan.

Maka seharusnya sebisa mungkin level 1 ini memilih ‘calon’ level 2 yang sepola dengan apa yang dia sampaikan. Dan kalau bisa lebih memungkinkan lagi ide pokoknya tersebut dengan mudah tertanam di level 2, sehingga ide yang terpancar dari tulisannya tidak terbuang sia-sia karena tidak sampai ke level yang di bawahnya sebagai penerima ide. Padahal seringnya level 1 ini tidak peduli apakah para level 2 akan tertarik, peduli, atau mengerti dengan apa yang disampaikan, karena bagi level 1 itu tidak masalah. Seperti saya dalam membuat tulisan ini, hanya saja bedanya saya membuat tulisan ini dengan tidak mempedulikan apakah akan ada level 1 yang masuk dan membaca tulisan ini sampai habis, tapi tanpa memaksa semua orang mau menjadi level 1. Sedangkan level 1 menjadikan sebuah kumpulan audiens sebagai level 2 tanpa mempedulikan apakah sebenarnya mereka mau menjadi level 2.

Dan terakhir, untuk anda pembaca tulisan ini sebagai level 1 di sini, jika tidak menemukan ide pokok pembahasan dari tulisan ini, lebih baik untuk tidak disampaikan ke level yang selanjutnya. Karena jika terjadi yang demikian ini, maka saya gagal menanamkan ide dan pola pikir saya kepada anda.

Iklan
Komentar
  1. […] tulisanku tentang level-levelan yang sebelumnya, ya gitu lah adanya. Apalagi kalo informasi dari penyajian tersebut nggak dicatat, hanya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s