Komedi

Posted: 6 Juni 2013 in Pemikiran
Tag:, , , , , , , ,

lucuAku termasuk tipe orang yang suka humor dan komedi. Apapun acara di televisi, kalo ada komedinya, pasti aku suka nontonnya, dan mungkin beberapa kemudian dengan mudah akan masuk ke daftar tontonku. Tapi meskipun suka komedi, ternyata aku nggak bisa menulis sesuatu materi yang bikin orang tertawa. Maka dari itu, aku jadi menyimpulkan bahwa aku termasuk tipe orang yang serius.

Ada banyak tipe orang humoris, atau bisa kita katakan komedian aja, di dunia ini. Dari banyak tipe tersebut, bisa ditarik dua garis untuk membedakannya, yaitu satu golongan komedian profesional, dan satu lagi golongan komedian total. Komedian profesional, kalo dilihat dari arti katanya aja, bisa diartikan bahwa dia punya pekerjaan sebagai orang lucu, pelawak, komedian, atau sejenisnya. Jadi, di luar pekerjaannya, dia bukan orang yang suka ngelucu. Dia akan ngelucu kalo dibayar aja, tentunya dalam bingkai pekerjaannya.

Kalo komedian total, dia dibayar atau nggak dibayar tetep aja lucu. Ngelawak jadi bukan sebuah hal yang terbatasi oleh bayaran. Apapun, di manapun, dan gimanapun kondisinya, tetep aja dia bisa ngelucu, tanpa harus mikirin siapa yang mau bayar kelucuan dia itu. Orang yang seperti ini bisa dibilang ‘ngelawak karena ikhlas’.

Ada sebuah materi lawakan, biasanya disebut Stand Up Comedy. Aku sendiri menafsirkan sebagai ngelawak sambil berdiri. Jadi syaratnya dia harus tetap berdiri selama ngelawak. Kalo dia terus ngelawak sambil duduk, maka syaratnya sebagai Stand Up Comedy telah gugur, dan dia berubah subyek menjadi Sit Down Comedy. Di televisi ada beberapa program acara seperti ini, bahkan ada yang khusus menampilkan Stand Up Comedy, terutama di sebuah stasiun televisi berinisial depan ME- dan inisial belakangnya -TRO. Tapi entah kenapa aku nggak terlalu ngikutin, mungkin karena aku juga nggak tau jadwal tayangnya, dan juga mungkin karena jadwal tayangnya terlalu malam, sehingga bentrok dengan jadwal tidurku.

Bagiku Stand Up Comedy sendiri punya dua sisi. Sisi pertama, jenis komedi seperti ini kaya semacam ‘komedi egois’. Seorang menceritakan sebuah materi pokok, yang ditambahi materi-materi lucu (yang sering dibuat-buat), terus penonton dan orang lain hanya ‘boleh’ ketawa-ketawa aja. Komedi model begini bisa dilakukan di mana saja, baik ada orang lain maupun sendirian aja. Jadi seolah-olah, komedi seperti ini adalah komedi ‘sepi’, ya bisa juga disebut semacam pidato kelucuan lah.

Di sisi berikutnya, materi komedi seperti ini kebanyakan adalah materi cerdas. Ada beberapa pemaparan yang mungkin bagi beberapa kalangan sulit dimengerti dalam sekali dengaran. Materi komedi yang kaya rasa seperti ini, juga tidak menjadikan isu-isu tabu menjadi sebuah hal yang ‘haram’ untuk diungkapkan, tentu saja menjadikan model komedi ini lebih digemari, meskipun ‘sepi’.

Aku jadi membayangkan gimana jika sebagai orang yang serius, aku harus melaksanakan praktek Stand Up Comedy. Yang ada aku hanya melontarkan kalimat-kalimat yang nggak penting dan nggak bisa bikin orang ketawa (meskipun hanya ketawa dalam hati). Tapi sebenarnya aku juga mikir, orang-orang yang menganggap bahwa ‘komedian adalah orang yang serius itu sebuah ironi’ adalah sebuah ironi tersendiri, karena pasti komedian (terutama yang profesional) itu adalah orang yang serius. Kalo nggak serius ngapain mereka ngelucu, pasti mereka hanya bermalas-malasan aja nggak ngapa-ngapain. Namanya juga nggak serius.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s