ruwetSering kita nggak ngerasa bahwa waktu bagi orang lain berjalan sejalan sama dengan waktu yang kita jalani. Apalagi kalo udah cukup lama kita nggak memperhatikan sesuatu, rasanya masih baru kemaren aja ngejalaninya. Kaya kemaren nih, aku baca sebuah tabloid olahraga. Eh ternyata Bastian Schweinsteiger itu umurnya sekarang udah 28 tahun, hampir sama kaya umurku. Padahal seingatku, beberapa tahun yang lalu aku baru membaca kalo Schweini adalah pemain muda prospek cerah masa depan Bayern Muenchen dan tim nasional Jerman. Kok cepet banget ya dia umurnya mau sama kaya umurku. Baru kemudian aku nyadar kalo ‘beberapa tahun’ yang aku maksud tadi ternyata udah sekitar 8 tahunan, saat dia berumur 20 tahunan, hampir sama juga kaya aku, itu bagi umurku juga sekitar 8 tahun yang lalu.

Sama nih kaya yang aku alami beberapa waktu lalu, saat ketemu temenku Agan (bukan namanya yang sebenarnya). Nggak kerasa udah sekitar dua tahunan nggak ketemu dia. Si Agan ini sering jadi obyek di tulisanku dengan cerita-cerita uniknya. Dulu, pas cerita pertamanya aku posting di blog, yang cerita Roro Jonggrang itu, aku pikir dia bakal marah apa gimana gitu ke aku, karena kisah hidupnya aku ekspos di blogku. Eh ternyata malah dia narsis pengen eksis, minta cerita-cerita dia yang lain dibikin tulisannya.

Sama kaya ketemuan yang ini, dia minta ceritanya ditulis lagi di blogku. Pada dasarnya aku nggak mau bikin tulisan, soalnya kisahnya biarpun unik tapi bikin bosan, terutama buatku. Kebetulannya aku lagi kering ide buat blog, ada gagasan tapi nggak bisa ngembangin ide. Jadilah kisahnya mulai aku tulis deh. Ceritanya hampir mirip kaya cerita-ceritanya dulu, masih seputar kisah hubungannya dengan cewek. Si Agan sendiri bingung nyeritainnya, karena kata dia cerita ini sangat rumit, ruwet, dan berakhir tidak bahagia. Ceritanya gini, beberapa tahun yang lalu dia menjalin hubungan sama seorang cewek remaja, baru lulus sekolah. Si Agan sendiri kan seangkatan sama aku, paling dia juga dulu sekolah di mana juga nggak inget. Sebenernya perbedaan jarak umur yang cukup jauh ini nggak mempengaruhi hubungan mereka, apalagi si Agan ini orangnya cukup sabar ngadepin dan ngemong ceweknya. Dia juga sering ngalah demi kelangsungan hidup mereka berdua.

Kisah mereka mulai berwarna saat datang ujian tiba. Cewek Agan yang emang cantik dan primadona ini kemudian ada seseorang yang naksir. Kebetulan si cowok ini umurnya nggak jauh beda sama cewek Agan ini, biar lebih mudahnya kita sebut Aganwati aja. Dan yang lain, cowok ini juga kenal cukup dekat dengan Aganwati. Cowok ini masih sekolah dan waktu itu akan menjalani ujian akhir kelulusan. Dia udah ngerasa cinta mati banget sama Aganwati, sehingga kegiatan belajarnya berantakan gara-gara dia sibuk ngedeketin Aganwati.

Si Aganwati ini punya sifat nggak tegaan dan punya prinsip hidup suka berbuat kebaikan untuk semua temannya. Jadinya dengan keruwetan tersendiri, yang juga bikin Agan bingung, Aganwati menganggap bahwa semua orang yang suka sama dia juga berhak dibahagiakan olehnya. Tambah ruwetnya lagi, Aganwati minta ijin kepada Agan buat ngebahagiain si cowok tadi untuk sementara. Dengan alasan umur Agan lebih tua, sehingga lebih bisa memahami keadaan, Aganwati meminta pengertian Agan untuk bersabar sementara. Dan konyolnya, si Agan mau aja disetengahduakan.

Cerita rumit cinta setengah segitiga ini bikin Agan pusing juga akhirnya. Agan nggak bisa menolak apapun yang diminta Aganwati. Tapi ternyata kondisinya semakin menyudutkan Agan, karena akhirnya nggak ada ruang gerak lagi bagi Agan untuk mendekati Aganwati. Si cowok tadi sangat posesif dan menganggap bahwa Aganwati ini miliknya seorang. Dan lagi, dia banyak banget tuntutan ke Aganwati. Sebenarnya cowok tadi tau kalo Aganwati ini punya kekasih, yaitu si Agan, tapi cowok ini nggak tau kalo Aganwati hanya cuma sementara aja membahagiakan dia, demi menemani si cowok sampe setelah ujian sekolah, biar sekolahnya nggak berantakan.

Karena terbatasnya ruang gerak Agan akhirnya, dia minta waktu buat ngebahas ini. Tapi yang ada malah Aganwati nggak bisa ngijinin Agan buat ketemuan sama dia. Akhirnya Agan udah mulai tidak sabar dengan keadaannya yang terjepit. Saat berikutnya dia memutuskan untuk mengakhiri semua kisah nggak menguntungkan ini, karena dia mulai menganalisa bahwa ternyata Aganwati juga mulai condong ke cowok tadi. Dan begitulah, lambat laun kemudian, meskipun sulit Agan menatap masa depan lagi.

Untungnya Agan ini bukan tipe orang yang lebay dan alay, yang nyeritain cerita sedihnya sendiri, yang dia alami sendiri, sambil nangis-nangis. Aku sendiri juga meskipun nggak secara detail menyimak ceritanya, menyadari bahwa alur kehidupan itu banyak warna, bahkan bisa berasal dari berbagai hal yang kita cintai dan sukai. Sedikit banyak hal-hal tersebut berpengaruh bagi perjalanan hidup kita, bisa menjadi pelajaran buat masa depan kita. Dan meskipun kenangan pahit itu harus segera dilupakan, namun ada bagian-bagian hikmah yang harus melekat pada pikiran kita dan menjadi landasan dasar operasional hidup kita.

Akhirnya aku dan Agan kembali berpisah. Dalam hati aku bersyukur punya teman seperti Agan, yang mempunyai variasi kisah, terutama berkaitan tentang kisah percintaannya. Dan meskipun Agan sekarang tidak lagi memiliki kekasih, tapi terlihat jelas bahwa Agan lebih menjalani hidup yang bahagia daripada saat masih menjalani kisah ruwetnya tadi.

Komentar
  1. Selin mengatakan:

    Bacanya ruwet juga mas. Begitulah pacaran, bikin ruwet. Mending nikah ya kan..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s