Menutup Jalan

Posted: 12 September 2012 in Pengalaman
Tag:, , , , ,

jalanSedang melewati sebuah jalan kecil, kemudian melihat sebuah tanda pengalihan jalan di sebuah persimpangan. Ternyata di jalan tersebut ada seorang penduduk yang mengadakan hajatan, yang memerlukan penutupan jalan. Padahal sejak kemarin jalan ini juga udah ditutup, emang berapa hari ya hajatannya. Terpaksalah membelokkan motor melewati jalan kecil, daripada putar balik dengan jalan yang lebih jauh lagi. Belokan pertama, jalan makadam dengan jalur aman yang sempit di kiri kanannya. Belokan kedua, jalan berdebu di sepanjang jalan dan nyaris nggak ada jalur aman buat dilewati. Belokan ketiga, jalan yang cukup aman tapi sedang dibangun makadam di ujung jalannya.

Sering banget menemui hal tersebut selama berkendara, terutama di lingkungan jalan yang lebih kecil. Kalo jalan raya sangat jarang yang demi berhajat harus menutup ruas jalan secara keseluruhan. Meskipun pernah ada tetangga rumah yang pejabat desa menutup jalan propinsi buat ngadain hajatan. Kondisi rumah yang kecil dengan pekarangan dan halaman yang sempit memaksa seseorang akhirnya me’luber’kan pestanya ke jalan. Dan pada akhirnya, pengguna jalanlah yang harus mengalah.

Kalo kondisi jalan yang udah dihapal sih nggak masalah. Masalahnya kalo belum pernah tau ada jalan lain yang bisa dilewati bisa-bisa nyasar-nyasar ke daerah-daerah yang malah nggak ada jalan menuju tempat tujuan. Pernah suatu ketika karena ada hajatan di jalan, harus belok ke jalan lain. Kalo jalannya sih udah tau arahnya, tapi karena penasaran pengen tau barangkali ada jalur lain yang lebih pendek, coba belok ke jalan kecil di tengah sawah. Eh nggak taunya jalan tersebut nggak mengarah ke jalan, tapi mengarah ke pabrik batu bata.

Sering juga saat ada orang yang sedang mengadakan hajatan udah memasang tanda di persimpangan jalan menuju rumahnya, tapi karena banyak pengguna jalan nggak peduli dan merasa ‘yakin’ kalo masih bisa dilewati, akhirnya tanda peringatan tersebut nggak digubris. Akhirnya saat tau kalo jalan benar-benar tertutup total, balik lagi deh cari jalan lain. Kalo masih naik motor, sepeda, atau jalan sih enak aja putar balik, kalo naiknya truk jadi bingung cari cara buat memutar.

Nggak tau juga gimana, tapi yang jelas emang hajatan bagi masyarakat bisa jadi nggak lagi sebagai sebuah peringatan atau perayaan semata, tapi juga bisa sebagai lambang tingkat kemakmuran atau kemampuan seseorang. Meskipun kenyataannya ada yang demi mengadakan hajatan seseorang rela menjual harta benda, atau meminjam uang ke sana ke mari, yang penting hajatan berlangsung. Dan menutup jalan tadi adalah salah satu akibatnya, kalo di salah satu jalan hanya ada satu orang yang hajatan sih nggak masalah, tapi kalo udah berjajar setiap rumah ngadain hajatan, yang repot tentu saja pengguna jalan.

Pengguna jalan sendiri juga berpikiran nggak mau tau siapa yang ngadain hajatan, yang diinginkan cuma mendapat kelancaran dalam berkendara, serta kenyamanan melewati jalanan. Bukan sebuah jalan berbatu atau jalan berdebu yang diinginkan. Namun itu semua juga tergantung pada masing-masing pihak bisa memahami dan menghargai satu sama lain.

Komentar
  1. zamy mengatakan:

    “Meskipun pernah ada tetangga rumah yang pejabat desa menutup jalan propinsi buat ngadain hajatan”. qiqiqiq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s