Menjenguk (vs Ketenangan) Orang Sakit

Posted: 26 Agustus 2012 in Pemikiran
Tag:, , , ,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!’ Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’ (diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)

Hampir semua orang di Indonesia di manapun dia berada kebanyakan masih selalu menjenguk seseorang yang sakit, entah itu keluarga, kerabat, tetangga, teman, bahkan mungkin orang yang nggak kenal sekalipun, entah pula di rumah sakit atau di rumah. Bahkan yang sering terjadi di daerah pedesaan kalo ada yang sakit, mereka datang beramai-ramai rombongan bersama-sama. Si sakit pun, terkadang juga was-was kalo nggak dijenguk, kesannya dia nggak dianggap atau bahasa Jawanya ‘disatru’ oleh orang.

Hukum menjenguk orang sakit sendiri adalah kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka, dengan berbagai pertimbangan dasar hukum dari hadits dan penjelasan para ulama’ dalam berbagai kitab.

Di sisi lain, terlepas dari anjuran dan perintah untuk menjenguk orang sakit (bahkan yang sakitnya ringan sekalipun), si sakit juga sangat membutuhkan ketenangan dalam proses pemulihan. Mereka membutuhkan lebih banyak waktu istirahat selama dan setelah sakit tersebut. Kondisi orang sakit tentu saja beda dengan orang sehat. Jangan lupakan pula keluarga atau orang-orang yang merawat si sakit, tentunya mereka juga dalam kondisi yang beda dengan kondisi biasa.

Pastinya orang yang menjenguk si sakit menginginkan interaksi dengan si sakit atau keluarganya. Terkadang juga menjadi sebuah kerepotan tersendiri kalo harus menemani penjenguk (terutama penjenguk yang terlalu lama atau datang dalam waktu yang kurang tepat), karena penjenguk sendiri juga kurang memperhatikan waktu dan kondisinya. Misalnya di rumah sakit, saat penjenguk datang beramai-ramai menjenguk si sakit. Bisa jadi bukannya memberikan ketenangan, malah bisa mengakibatkan keramaian bukan hanya pasien dan keluarganya, tapi juga bagi pasien-pasien lain. Ada aturan di setiap rumah sakit yang membatasi penjenguk, tapi tetap saja banyak yang nggak diperhatikan.

Kalo si sakit pulang dari rumah sakit, bahkan bisa ditemui semacam ‘panitia penyambutan’ di rumah. Hal ini juga bisa mengurangi ketenangan yang dibutuhkan si sakit untuk istirahat setelah menjalani serangkaian terapi di rumah sakit. Bahkan bisa jadi keluarga si sakit yang harus memperhatikan dan meneruskan perawatan dari rumah sakit menjadi terganggu karena pastinya mereka juga perlu istirahat. Perawatan di rumah juga nggak kalah menyibukkan daripada di rumah sakit.

Lalu bagaimana menyikapi hal-hal seperti itu? Tentu saja ada tuntunan menjenguk orang sakit agar semua pihak mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan. Untuk penjenguk terutama, mereka harus memperhatikan adab-adab menjenguk orang sakit, di samping mereka bisa memberikan dorongan moral dan semangat bagi si sakit. Menjenguk orang sakit jangan sampai terlalu lama (kecuali kalo si sakit senang berlama-lama), jangan sampai nggak kenal waktu. Karena sebab meringankan beban penyakit dari si sakit, jangan sampai pula penjenguk meminta si sakit untuk bercerita panjang lebar tentang kronologi sakitnya. Cukup hal-hal yang perlu aja, nggak perlu terlalu detail.

Penjenguk bisa menghibur dan memberi harapan sembuh bagi si sakit, itu adalah salah satu upaya memberikan dorongan semangat sembuh. Jangan sampai menakut-nakuti tentang penyakitnya, apalagi kalo pernah mengetahui orang lain dengan penyakit yang sama mengalami hal-hal yang buruk. Bukannya meringankan penderitaan, malah menambah beban pikiran. Penjenguk juga perlu memahami keluhan si sakit, meskipun mereka nggak paham bagaimana cara menangani keluhan tersebut.

Dan yang terpenting juga adalah penjenguk mendoakan si sakit agar diberikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi penyakitnya. Tak lupa juga buat keluarga dan orang-orang yang merawatnya agar juga mendapat kekuatan dan ketabahan selama mendampingi si sakit.

Dengan memahami posisi dan kondisi si sakit dan keluarganya, maka penjenguk insya Allah mendapatkan barokah dari kunjungannya. Si sakit dan keluarganya juga mendapatkan doa dari penjenguknya, selain pahala karena memuliakan mereka sebagai tamu-tamunya. Dan yang utama adalah ukhuwah dan silaturahmi tetap berlanjut dengan saling menghormati keadaan satu sama lain, simpati dan empati.

Referensi:
1. Fatwa-Fatwa Kontemporer
2. Tuntunan Menjenguk Orang Sakit

Komentar
  1. dek Ririn mengatakan:

    Sering kita temui, orang2 ber-besuk mengajak sanak Family-nya[ formasi lengkap se-keluarga] mulai dari nenek,kakek,ibu ,bapak,anak,cucu,menantu,keponakan lengkap gak ada yg absen. kalau dulu di Rumah sakit ada larangan mengajak anak kecil ber-bezuk, kenapa sekarang kok jarang ada yg menerapkanya? selain anak2 kecil daya tahan tubuhnya masih rentan terhadap penyakit, mereka pasti banyak ulah berlarian kesana kemari yang bisa mengganggu ketenangan si pasien itu sendiri……

  2. seo mengatakan:

    Hey! This is my first visit to your blog!
    We are a team of volunteers and starting a new initiative in a community in the
    same niche. Your blog provided us useful information to work
    on. You have done a outstanding job!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s