Binatang Peliharaan

Posted: 6 April 2012 in Pengalaman
Tag:, ,

hamsterEntah kenapa, beberapa bulan lalu jadi kepengen banget memelihara hamster. Mungkin keseringan melewati sebuah petshop, jadinya penasaran gimana ya rasanya memelihara hamster itu. Sehingga jadilah, suatu hari kemudian di bulan lalu aku mampir ke petshop tadi buat membeli sekaligus tanya-tanya gimana caranya memelihara hamster yang baik dan benar, maklumlah aku tidak punya pengetahuan sama sekali tentang cara memeliharanya. Beruntunglah pada saat aku ke situ ada beberapa ekor hamster yang tersedia. Dan mulailah aku memilih hamster mana yang mau aku beli.

Pertama kali aku menunjuk seekor hamster yang sedang berbaring di pojok kandang. Hamster berwarna hitam putih yang kemudian aku tahu jenis campbell black mottled (panda), seharga Rp15.000 per ekornya. Sebelum memutuskan jadi membelinya, kemudian aku tanya-tanya ke penjualnya apa saja yang diperlukan dalam memelihara hamster. Kebetulan juga petshop ini juga menyediakan perlengkapan minimal dalam memelihara hamster, berupa kandang kecil, mainan kincir, pasir atau serutan kayu sebagai alasnya, botol minum, dan juga makanannya sekalian. Sehingga akhirnya aku putuskan untuk membeli sepasang hamster di situ. Selain si panda tadi, aku memilih seekor lagi yang berbeda warnanya, campbell normal mottled dominan berwarna coklat muda dengan garis hitam di sepanjang punggungnya menghubungkan kepala dengan ekornya.

Jadilah sore itu aku membawa pulang sepasang hamster dan perlengkapannya. Perlengkapannya berupa tempat makan, botol minum, dan kincir untuk berlari-larian. Berbekal sedikit pengetahuan yang didapat dari penjual hamster tadi, aku mulai memelihara hamster di rumah. Tapi karena kekurangtahuanku, botol minum tadi sedikit bocor meneteskan air terus menerus, yang mengakibatkan alas pasirnya basah semua. Seingatku hamster tidak bisa hidup di tempat yang terlalu basah dan banyak air, sehingga malam itu aku ganti alas pasirnya, mengeringkan hamsternya, dan merapatkan lagi tutup botol minumnya sehingga air tidak menetes tanpa disentuh oleh hamsternya.

Karena merasa pengetahuan masih kurang seperti tadi, mulailah aku mencari pengetahuan lain di internet. Dari berbagai sumber kemudian aku paham bagaimana selanjutnya memperlakukan hamster tersebut sehingga mereka merasa nyaman. Ternyata merawat hamster itu sebenarnya seperti memperlakukan manusia juga, mereka juga harus dijaga dari penyakit-penyakit yang sering diderita oleh manusia. Maka dari itu mulailah sedikit demi sedikit aku melengkapi lagi aksesorisnya.

Beberapa hari kemudian aku kembali ke petshop untuk membeli tempat mandi hamster. Hamster perlu mandi, tapi tidak dengan air. Hamster mandi dengan sistem mandi kering, memakai pasir sebagai sarananya. Selain sebagai tempat mandi, wadah tersebut bisa juga sebagai toilet hamster. Maka diperlukan juga pasir wangi sebagai sarananya, selain untuk tempat mandi dan buang airnya hamster, pasir tersebut akan mengurangi bau pada kandang dan sekaligus pada hamsternya. Karena gigi hamster terus tumbuh, perlu ada gigitan untuk mengasah giginya. Maka dari itu, aku menambahkan potongan dahan pohon kecil sebagai sarana gigitannya. Juga aku beli rumah-rumahan sebagai tempat tidur mereka.

Kemudian aku juga memperhatikan kandangnya. Kandang tersebut terasa sempit sekali, apalagi ditambah dengan toilet hamsternya. Maka muncul ide membuatkan loteng sendiri di kandang jerujinya, mengingat kandang hamster yang luas aku lihat di beberapa tempat cukup mahal sehingga perlu menambah anggaran lagi. Setelah membeli beberapa peralatan untuk membuat kandang, maka dimulailah merakit bahan-bahan tersebut. Kemudian saat kandang tersebut hampir jadi, aku ingat ada penjual kandang yang tokonya dekat tempat kerjaku. Setelah aku lihat-lihat ke sana, ternyata harganya sama saja, terlalu mahal untuk anggaranku. Tapi dari kunjungan ini aku jadi tahu kalo penjualnya ternyata peternak hamster juga.

Jadilah kembali menimba ilmu dari senior hamsterer. Dari diskusi ini, penjualnya tidak menyarankan kandang yang aku buat tadi sebagai kandang hamster, dengan alasan kawat jeruji tidak cocok untuk kaki hamster. Kaki hamster lebih terdesain sebagai kaki yang memijak, bukan kaki yang mencengkeram. Meskipun hanya sebagai dinding kandangnya, nantinya hamster juga pasti memanjatinya. Jadi terpaksalah kandang buatanku tadi tidak terpakai. Sebagai gantinya aku memesan akuarium dengan desain yang aku inginkan ke penjual tadi. Lumayan lebih besar daripada kandangnya yang sekarang. Malah kemudian aku tambah lagi hamster campbell panda betina yang aku beli di penjual tadi.

Lepas dari masalah kandang tersebut, aku kemudian fokus belajar di konsumsi hamster. Meskipun pakan yang awalnya aku beli ternyata cukup bagus dan sehat untuk hamster, perlu ada pakan berupa camilan untuk hamsternya. Beberapa kalo percobaan seperti memberikan wortel, tahu, kecambah, ataupun jeli, ternyata hamster lebih sering menghabiskan kecambah lebih cepat dibanding jenis makanan yang lain. Untuk tahu, hamsterku lebih cepat menghabiskan tahu yang digoreng daripada tahu yang mentah. Jeli pernah sekali aku berikan, baru habis 2 hari kemudian. Sedangkan kecambah, yang menjadi makanan favoritnya, selain beli aku juga membuat sendiri dari biji-bijian makanan hamsternya kemudian aku timbun dengan pasir dimasukkan di botol, dan kemudian dibasahi dengan air. Didiamkan beberapa hari di bawah tempat tidur dan muncullah batang-batangnya. Hamsterku paling suka dengan yang ini, biasanya saat dimasukkan ke akuarium sekaligus dengan botolnya, mereka berebutan memanjat botol dan memakan dahan-dahan kecil tersebut. Kalau stok makanan utamanya aku tahu tempat yang bisa beli dengan curah tanpa kemasan, di situ bisa beli berapa banyak sesuai kebutuhannya. Tempat makannya aku isi setiap sore hari. Sedang untuk minumnya aku kasih air matang untuk menjaga hamster tidak kena kuman penyakit dari air mentah.

Kandang aku bersihkan seminggu sekali. Biasanya dengan mengganti alas pasirnya, kemudian mencuci aksesorisnya, dan juga memandikan hamster dengan pasir wanginya. Awalnya aku menggunakan pasir zeolit sebagai alasnya. Pasir ini lebih efisien penggunaannya karena bisa dicuci. Caranya dengan merendam pasir dalam sebuah wadah dengan air yang dicampur cairan desinfektan, sehingga bekas makanan atau kotoran hamster akan mengapung di permukaan air. Kotoran tersebut dibuang, pasirnya ditiriskan kemudian dijemur. Akan butuh beberapa hari (apalagi dengan cuaca seperti sekarang ini) untuk pasir benar-benar kering. Sedangkan aksesoris peralatan hamster direndam dalam air hangat selama beberapa menit, baru kemudian dicuci.

Belakangan aku mengganti pasir zeolit dengan serutan kayu sebagai alasnya. Karena kelihatannya hamsterku lebih suka dengan serutan kayu. Di rumah-rumahannya memang sering aku beri serutan kayu atau tisu sebagai alasnya, tapi kemudian alas tersebut dibawa keluar rumahnya dan ditumpuk di pojok akuarium sebagai tempat tidur. Tentu saja penggunaan serutan kayu tidak bisa dipakai ulang, harus diganti. Untuk memandikan hamsternya, aku masukkan ke toples wadah pasir wanginya, aku guyur mereka dengan pasir wangi sampai menutupi seluruh bulu-bulu mereka, dan kemudian aku masukkan mereka ke akuarium.

Sejauh ini peliharaan baru ini cukup menyenangkan. Sering aku angkat dan aku taruh di luar akuarium untuk main di lantai, meskipun beberapa waktu lalu salah satunya sering menggigit tanganku. Hamster yang jenis ini memang sering menggigit, namun cukup mudah untuk dijinakkan asalkan sering berinteraksi dengan mereka. Dan belakangan gigitan mereka ke tanganku juga sudah berkurang. Yang belum aku alami adalah kalau suatu saat ada yang melahirkan, karena menurut informasi memelihara hamster melahirkan merupakan sebuah pengalaman yang berbeda lagi.

Sebagai pemula dalam memelihara hamster, aku juga pengen merasakan memelihara jenis yang lain. Aku mulai mencari informasi bagaimana cara memelihara jenis winter white, apakah sama dengan jenis campbell ini. Sehingga suatu saat kalo udah bisa beli akuarium lagi bisa langsung diwujudkan dengan membeli sepasang winter white.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s