Beberapa bulan yang lalu banyak kekeringan di mana-mana. Maklumlah, musimnya sedang musim kemarau, jadi banyak sumber air yang mengering, dan air bersih melimpah jadi berkurang. Banyak yang beranggapan, terutama yang tersiar di berita-berita, bahwa sekarang sedang terjadi musim kemarau berkepanjangan. Padahal waktu itu masih bulan September. Kalo menurut pelajaran di sekolah, musim hujan baru dimulai di bulan Oktober sampai bulan April. Jadi sebenarnya belum masuk musim hujan, sehingga kurang tepat kalau dikatakan musim kemarau berkepanjangan.

Menurut pengamatanku dari daerahku sendiri, kemarau berkepanjangan lebih tepat disematkan untuk tahun 2009, di mana hujan baru turun di akhir bulan Desember. Sedangkan di tahun 2010 lalu, gantian musim hujan sepanjang tahun. Baru tahun 2011 lalu kemudian musim kembali normal. Perubahan alur iklim dan cuaca yang tidak menentu ini yang kemudian membingungkan banyak orang, sehingga memang bila dibandingkan dengan tahun 2010, tahun ini bisa dibilang kemarau berkepanjangan. Tapi bila dibanding tahun 2009 atau tahun-tahun biasanya, belum bisa dibilang kemarau berkepanjangan. Lebih tepatnya disebut mengalami kekeringan cukup parah, gitu aja.

Prediksi kemarau panjang juga pernah terjadi di tahun 2008, tapi ternyata saat itu hujan turun seperti biasanya, di sekitar bulan Oktober. Tapi pastinya musim seperti itu cocok buat orang-orang yang selalu mengeluh saat turun hujan. Apalagi tahun sebelumnya, banyak keluhan bermunculan hampir di semua tempat saat hujan turun. Sehingga kalau sampai pada saat seperti ini mereka yang mengeluh itu masih mengeluh juga, berarti rasa syukur sudah tercabut dari dalam diri mereka. Kemarau sudah memasuki hati mereka.

Sekarang sedang musim hujan, tentu saja hujan ada di mana-mana. Hujan turun bisa setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu. Tapi seperti musim kemarau yang lalu, banyak keluhan bermunculan tentang hujan. Padahal ini musim hujan, Man! Sangat wajar bila hujan turun, emang waktunya turun hujan. Tapi nggak tau juga apa alasan kita mengeluh saat hujan turun. Padahal kita udah melewati sekitar 6 bulan panas. Hujan pun belum sampai 6 bulan kita nikmati turunnya. Saat kita melewati hidup di musim kemarau, panasnya musim kemarau adalah resiko hidup kita. Demikian pula kalo kita melewati hidup di musim hujan, hujan adalah resiko kehidupan kita.

Kalau dengan cuaca panas kita mengeluh, cuaca hujan kita mengeluh, lalu kita mau hidup yang bagaimana? Kita tentu saja tidak bisa hidup dengan cuaca yang semau kita. Kita hidup berdasarkan tatanan hukum Allah. Masing-masing musim juga mempunyai rejeki untuk setiap manusia. Alhamdulillah kita masih bisa mendapati hidup di musim hujan tahun ini, alhamdulillah kalo kita masih mendapati musim kemarau tahun ini, alhamdulillah lagi kalo kita masih mendapati musim hujan tahun berikutnya, dan seterusnya. Hidup kita adalah siklus, naik turunnya adalah resiko kehidupan. Tidak perlu membenci hujan, tidak perlu membenci panas, bisa-bisa kita malah membenci diri kita sendiri. Jangan sampai, apalagi masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari setiap situasi dan keadaan. Ambillah hikmahnya saja!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s