norman schwarzkopfDi sebuah episode kuis ‘Siapa Berani’, di babak terakhir, di mana seorang peserta yang berhasil menembus babak akhir bersama pendamping yang membantunya menjawab pertanyaan. Mereka tiba pada suatu pertanyaan tentang seorang tokoh asing yang namanya saja susah dieja. Kemudian salah satu dari mereka bertanya sambil menggumam pada dirinya sendiri dengan ekspresi percaya diri sok tahu dan serius, “Norman Schwarzkopf itu aktor apa sutradara ya?” Spontan aku yang tadinya kurang memperhatikan acara tersebut karena sedang mengerjakan sesuatu kemudian melotot ke layar televisi. Dan meskipun jawaban peserta tadi akhirnya benar, tapi dia juga kena sindir pembawa acaranya tentang gumamannya tadi sangat salah.

Mungkin memang bagi yang tidak tahu pertanyaan tadi sangatlah sulit dikira-kira, orang ini profesinya apa sih. Tapi bagi orang yang tau, gumaman seperti itu tentulah sangat konyol. Sebagai sedikit penjelasan, Norman Schwarzkopf terkenal sebagai jenderal yang memimpin pasukan sekutu dalam Perang Teluk di tahun 1990. Aku pernah membacanya dalam buku pelajaran Sejarah pada saat kelas dua SMK. Aku sering teringat-ingat bacaan tersebut karena sosoknya yang khas ditambah namanya yang aneh bagi orang Indonesia dan juga peran sebagai pimpinan pasukan, ditambah lagi dia terlibat dalam sebuah perang besar di era modern.

Mungkin kita jarang mengamati atau memperhatikan sejarah tokoh-tokoh dunia. Kita umumnya tidak tahu dari mana nama penghargaan Nobel berasal, atau bagaimana asal mula nama alat-alat yang bahkan kita temui setiap hari. Pengetahuan seperti itu mungkin bagi kita tidak penting, karena yang penting kita pakai alatnya saja. Pengetahuan seperti ini mungkin lebih dikuasai oleh para ahli sejarah dan pengetahuan, sehingga kita lebih memikirkan bagaimana hidup hari ini dan besok dan besoknya lagi daripada mengingat-ingat nama tokoh yang bahkan kita gak pernah tau.

Tapi melihat ‘kasus’ Norman Schwarzkopf tadi, mengingat sejarah menjadi cukup penting sebagai pengetahuan yang mungkin bagi masyarakat umum tidak penting, karena kita akan lebih mengerti dan memahami bagaimana situasi dunia yang sudah jadi saat ini terbentuk pada awalnya dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Karena memang tidak mengenakkan menjadi katak dalam tempurung (bahkan menjadi katak di luar tempurung pun tidak mengenakkan). Dan mungkin juga bisa berfungsi sebagai pencegah rasa malu karena salah menjawab pertanyaan di kuis seperti di atas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s