kasetDulu sebelum jamannya musik berformat mp3 berjaya, kaset adalah primadona musik. Kaset merupakan media jualan musik yang paling efektif di segala lapisan masyarakat. Selain pemilik perorangan, stasiun radio juga banyak memutar musik dengan berbasis pada pemutaran kaset di studionya. Bahkan pada saat media audio CD mulai beredar, kaset masih laris di pasaran, baik yang versi aslinya atau bajakannya yang lebih banyak beredar. Penjual kaset bajakan juga cukup banyak, bahkan pemasarannya lebih luas ke pelosok-pelosok daerah daripada penjual kaset aslinya, yang kebanyakan berjualan di toko-toko. Mungkin kalo sekarang seperti penjual VCD atau DVD yang ada di berbagai tempat seperti itu.

Isi dalam kaset pun tidak terbatas pada musik saja. Beragam isinya, mulai dari kisah cerita anak-anak (yang terkenal seperti Sanggar Cerita), pengajian, lawakan, ataupun campuran (seperti cerita musikal). Aku masih ingat bagaimana aku pernah punya beberapa kaset lama berisi Sanggar Cerita, Si Unyil, dan juga grup lawak Kwartet Jaya ataupun Srimulat. Kaset pun menjadi media untuk merekam acara-acara tertentu. Orangtuaku sering merekamkan acara televisi melalui tape recorder dan disimpan di dalam kaset. Kemudian aku sendiri juga sering merekam lagu-lagu dari radio ataupun televisi ke dalam kaset. Pernah suatu ketika aku asal aja mengambil kaset yang kemudian aku pakai untuk merekam suaraku sendiri sedang bercerita, dan begitu diperiksa ulang ternyata lagu-lagu asli dalam kaset tersebut adalah lagu-lagu yang lumayan bagus, yang sayangnya ‘ternodai’ oleh rekaman suaraku.

Karena sering tidak mampu beli album rekaman lagu, dan karena gak ada album yang hanya menyediakan lagu-lagu yang aku suka aja, maka merekam sendiri dalam kaset kosong adalah suatu kegiatan yang cukup menyenangkan. Lagu yang akan direkam bisa dipilih sesuai dengan keinginanku. Seiring dengan perkembangan jaman, di mana kemudian ditampilkan format mp3 sebagai pemutar audio yang lebih praktis dan mudah, maka kegiatan mendengarkan musik pun mulai tergantikan dengan mendengarkan melalui media berformat mp3. Lebih praktis karena lagu-lagunya bisa dipilih sendiri dengan lebih efisien. Bahkan album-album yang dulu pernah aku beli kasetnya sekarang bisa didonlot dengan mudah, isinya pun juga lebih beragam. Dan akhirnya sekarang nasib kaset-kasetku hanya berfungsi sebagai penghias lemari, jarang didengarkan, dan terabaikan.

Di beberapa tempat mungkin masih cukup banyak komunitas penyuka kaset, terutama kaset-kaset edisi lama jadul. Aku sendiri juga sudah jarang menyambangi toko kaset untuk mencari atau membeli kaset-kaset tertentu. Sekarang kaset menjadi suatu kenangan bermusik saja bagiku, untuk disimpan bukan untuk dibuang. Bukannya bermaksud sentimentil, namun aku masih sering teringat bagaimana riwayat mendapatkan masing-masing kasetku tersebut, bagaimana dulu memasuki toko kaset ibarat masuk ke dunia permainan yang mengasyikkan dengan berbagai pengalaman yang mengayakan. Bagaimana kaset-kaset itu menemaniku dalam berbagai kegiatan di masa lalu. Dan selama masih ada tape recorder di dunia ini, kaset-kaset tersebut akan masih tetap bisa terpakai, meskipun hanya sekedar untuk mendapatkan sensasi mendengarkan musik dengan cara yang lebih berbeda.

Iklan
Komentar
  1. Mazkur berkata:

    Pilu juga dengar kisahnya,wah q rindu juga ama kaset.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s