Penguji Apa Adanya

Posted: 29 Februari 2012 in Pengalaman
Tag:, , , , , ,

ujian dilarang mencontekSeorang anak memenuhi gilirannya, memasuki ruang kelas. Kemudian dia mengambil tempat duduk di depanku. Aku melihat wajahnya, dia mempunyai mata yang cantik, dengan bulu mata yang lentik. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera memberikan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dia jawab. Dan beberapa waktu kemudian, dia selesai dan keluar dari ruangan. Dia menjadi salah satu dari beberapa anak yang lulus dengan cukup sukses malam ini di hadapanku.

Itu adalah sepenggal kisah yang terjadi sekitar 12 tahun yang lalu, di sebuah malam di mana para anggota junior Pramuka di SMP sedang menjalani ujian sebagai syarat kecakapan umum mereka yang pertama. Aku sendiri sudah lulus dua tahun dari SMP saat itu, sehingga malam itu aku kebagian jadi salah satu penguji untuk mengetahui sejauh mana keseriusan dan kenyataan mereka dalam memenuhi syarat-syarat kecakapan umum tersebut.

Dalam briefing sebelum dimulainya ujian tersebut, kami para penguji sudah diwanti-wanti oleh para senior kami untuk tidak dengan mudah memberikan tanda tangan sebagai tanda kelulusan para junior. Pertanyaan-pertanyaannya harus benar-benar dari buku teks, dan jawabannya pun juga harus benar, salah sedikit saja maka mereka harus mengulang ke luar, belajar kembali, memberi kesempatan temannya untuk maju, kemudian dia sendiri kembali masuk ruangan dan menghadapi para penguji lagi.

Kesan dalam menjalani ujian semacam itu, pengujinya dinilai kejam, keras, dan mempersulit keadaan. Padahal sebenarnya para penguji seperti itu adalah mereka yang mematuhi peraturan dengan memberikan pertanyaan ujian sebagaimana syarat yang ditentukan, seperti pertanyaan yang sama maksudnya dengan apa yang tertulis di syarat-syarat standar. Mereka yang kemudian dicap sebagai penguji yang terlalu lurus, tidak fleksibel, dan cap-cap negatif lainnya.

Maka, tidak mudah memang, menjadi orang yang taat peraturan. Kadang orang-orang seperti ini yang kemudian terpinggirkan dan tidak dianggap ada. Seperti malam itu, yang berakhir dengan di luar perencanaan. Para peserta lebih memilih seorang penguji yang tidak seperti penguji yang lain (karena dia datang terlambat dan tidak mengikuti briefing sehingga tidak tahu aturan ujiannya), yang dengan mudahnya memberikan tanda tangan kelulusan kepada para peserta ujiannya.

Iklan
Komentar
  1. Ilham berkata:

    wah ini ‘cerita klasik’ ujian yang menegangkan dari sudut panjang sang penguji. hehe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s