Mengenali Bos

Posted: 28 Desember 2011 in Pemikiran
Tag:,

Merubah jongos menjadi bosSaat membenahi komputer di sebuah lembaga, aku mendengar dua orang karyawan lembaga tersebut sedang bercakap-cakap. Tentunya bukan karena aku sengaja nguping, lagian buat apa nguping pembicaraan orang yang tidak menyangkut dengan namaku. Dalam sebuah percakapan, salah seorang di antaranya berujar dengan nada bertanya, apakah bosnya tahu bagaimana karyawannya dan kemampuan kerja karyawannya. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah kalimat ini hanya merupakan sebuah bahan pembicaraan saja, ataukah dia benar-benar tidak mengenal bagaimana bosnya.

Karena tentu saja aku tahu bagaimana ‘kesaktian’ bosnya, yang mungkin belum pernah aku kenal ada orang yang mengenal orang lain ‘sehebat’ bosnya tersebut. Si bos tersebut bisa menilai secara global seseorang hanya dari dengan melihat muka dan penampilan orang tersebut. Aku cukup kenal beliau ini, karena udah cukup lama aku bekerjasama dengan si bos ini, jadi aku cukup tahu bagaimana interaksi beliau dengan karyawannya. Sebagai pimpinan, terutama mengurusi masalah sumber daya manusia, tentulah beliau mempunyai kompetensi yang mumpuni, di atas rata-rata orang kebanyakan, di situlah letak ‘kesaktian’ beliau. Dan kalau karyawan tadi mempertanyakan hal tersebut, bisa jadi dia belum kenal betul bagaimana bosnya tersebut.

Merupakan suatu kebutuhan bahkan kewajiban kalau seorang pimpinan mengenal bagaimana watak dan karakter, serta kemampuan bawahannya secara menyeluruh. Namun, tidak ada salahnya kalau sebaliknya, seorang karyawan juga mengenal secara mendalam bagaimana watak dan karakter atasannya. Dengan demikian seorang bawahan bisa menyesuaikan diri dan menempatkan diri secara benar di hadapan atasannya. Memang ada atasan yang sangat akrab dan ramah dengan bawahannya, sehingga seolah-olah tidak ada jarak di antara keduanya. Namun tentu saja, di dalam dunia kerja, tetap harus dibedakan posisi atasan dan bawahannya. Sang atasan, sebagai pemegang, pengendali dan pengambil kebijakan, harus tetap punya kewibawaan dalam menerapkan kebijakan tersebut kepada bawahannya. Jangan sampai karena sudah dekat banget, perintah atasan tidak perlu dianggap serius oleh bawahannya.

Aku mendapati beberapa atasan dengan karakter yang hampir sama, menuruti selera mereka dalam hal sebuah hasil pekerjaan. Dengan atasan yang dulu, aku sering berselisih paham dan berdebat dalam mempertahankan ide dan gagasanku, sebelum akhirnya mau tidak mau aku harus patuh pada pilihannya. Dengan atasan yang sekarang tidak jauh berbeda pula. Kalau udah demikian, biasanya aku menganut sistem kerja ‘pemalas pasif’, mengerjakan sesuatu dengan diperintah. Meskipun si bos udah bilang ‘Tuangkan idemu!’, tapi berdasarkan dengan pengalaman yang sudah-sudah, aku tahu akan jadi apa ide itu, terutama kalau berseberangan dengan selera bos.

Dengan mengenal atasan atau bos juga membiasakan kita mengenali sedang bagaimana emosi si bos, sedang marah, sedih, senang, atau yang lainnya. Sehingga saat sedang ingin menyampaikan sesuatu, kita juga harus menempatkan diri, karena bila salah bertindak bisa-bisa apapun yang dilakukan pasti akan salah bagi penglihatan dan perasaan si bos. Namun, tentunya bos yang baik bukanlah bos yang seperti ini, melainkan juga mempunyai pengertian kepada karyawannya. Sebaliknya pula, karyawan yang baik juga mengenal bosnya, setidaknya cukup mengenalnya. Dan kemungkinan, di sebuah lembaga besar seorang bawahan akan sangat sulit dan jarang bertemu dengan bosnya, tapi di sebuah lembaga kecil seorang bawahan akan sangat mudah dan sering bertemu dengan bosnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s