Generalisasi ataupun Pengkhususan Hari Ibu

Posted: 22 Desember 2011 in Pengetahuan
Tag:,

Bapak dan IbuAda apa dengan tanggal ini sehingga ada banyak sekali sanjung buat ibu? Hari ibu? Mengapa hari ini? Mengapa harus hari ini? Mengapa hanya hari ini? Bukankah kasih ibu ada setiap hari? Lalu mengapa hari ini?

Kalo kemudian memang tanggal ini harus dinamai dengan ‘Hari Ibu’, berarti ini memang peringatan nasional, bukan khusus buat ibu masing-masing. Karena ibu masing-masing memang tidak hanya berjuang hari ini saja, sehingga jasa dan kasihnya tidak perlu dikenang hari ini saja, dan akhirnya hari ini, tanggal ini, dan di bulan ini, hanyalah sebuah simbol pengenangan perjuangan masa lalu saja, bukan untuk individual.

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Bukan karena dasar ini kalo kemudian aku menganggap hari ibuku adalah di bulan Maret, tapi karena alasan yang aku tulis di sini. Dengan catatan, ini hari ibu khusus buatku, kalo buat ibu masing-masing pastinya berbeda-beda kan? Bisa mengikuti ‘ketentuan’ peringatan nasional, atau punya hari ibu buat pribadi sendiri-sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s