Sala(h)tiga

Posted: 7 Desember 2011 in Pemikiran
Tag:,

Ayah adalah sutradara shalat jamaahDi sela-sela mencari ide buat bikin tulisan-tulisan  baru untuk postingan, aku teringat tentang legenda asal-usul ‘Salatiga’ yang diceritakan seorang temanku. Tentunya asal-usul ini bukan yang sebenarnya, tapi buat guyonan aja. Saat itu aku masih sekitar kelas lima SD, saat menceritakan kepada temanku tentang legenda Salatiga yang aku baca dari sebuah buku pelajaran Bahasa Daerah. Eh, malah sama temanku dikasih ‘cerita’ tandingan tentang ‘Salatiga’ juga tapi yang nyleneh.

Dia bercerita sambil ngegambar coretan-coretan sketsa di bangku sekolahku. Ceritanya ada tiga orang laki-laki akan melaksanakan sholat, seorang bapak dan kedua anaknya. Sang bapak ini akan mengajarkan tata cara sholat kepada salah seorang anaknya yang masih kecil, dan bagi anak itu sholat ini adalah pengalamannya yang pertama. Sang bapak berpesan kepada anaknya itu sebelum sholat, bahwa apapun dan bagaimanapun yang bapaknya lakukan maka tirukanlah. Sedangkan sang kakaknya udah agak besar dan bisa sholat sendiri, sehingga tidak perlu diberi pesan oleh bapaknya.

Di rokaat terakhir, saat bangkit dari sujudnya, tiba-tiba ada tikus jatuh tepat di depan bapaknya. Karuan saja, karena agak terkejut, sholat sang bapak jadi berantakan dan tanpa sengaja beliau berkata ‘Tikus jatuh’. Sang adik, karena patuh pada pesan bapaknya, diapun menirukan dengan berkata ‘Tikus jatuh’. Jadilah sholat kedua orang ini berantakan. Nah, sang kakak yang seharusnya selamat sholatnya karena dia tidak mengikuti bapaknya, bukannya melanjutkan sholatnya tapi malah ngomong ‘Untung aku nggak ikut ngomong kaya Bapak’.

Mengapa kisah ini aku ingat terus sampai sekarang? Karena selain agak kocak, ternyata setelah aku analisa sendiri ada beberapa pelajaran yang terkandung dari dialog ‘Salatiga’ alias ‘salah tiga’ ini. Sang bapak, yang seorang pemimpin, melambangkan pemimpin yang lalai dalam tugasnya. Tanpa sadar beliau lupa bahwa bawahan akan selalu mengikuti apa yang pimpinan lakukan, apalagi kalo udah ada pesannya. Kelalaian beliau dalam tugas dasarnya menjadikan bawahan ikut melakukan kesalahan saat pemimpinnya juga keliru.

Sang adik, melambangkan seorang yang mengikuti secara membuta kepada seseorang atau kelompok. Tanpa dasar apapun (entah karena tidak tahu atau tidak mau tahu), salah atau benar itulah yang jadi panutannya. Apalagi dia juga udah diberi pesan untuk selalu mengikuti pimpinannya, maka dia menjadi patuh dan taqlid buta. Sang kakak, melambangkan seseorang yang punya ilmu tapi kurang diamalkan. Sebagai orang yang berilmu udah seharusnya dia menjalankan segala sesuatu berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Tapi karena melihat kesalahan orang lain, keluarlah nada yang seakan mencemooh dan meninggikan ilmunya, padahal ilmunya sendiri tidak dia amalkan.

Bapak yang ‘latah’, adik yang mengikuti, dan kakak yang ceroboh, kayanya juga pernah aku dengar dari sebuah ceramah tapi lupa entah di mana. Mungkin sang penceramah punya pengertian sendiri tentang apa yang ada di balik cerita ini, tapi yang pasti begitulah sifat manusia, yang mungkin akan sering kita jumpai dalam kehidupan dunia ini. Sekarang cari ide lagi buat tulisan yang lain ah, jangan sampai ‘Salatiga’nya menjadi ‘Salaempat’, ‘Salalima’, dan seterusnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s