Seri Sekolah (4): Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

Posted: 26 Oktober 2011 in Pengalaman
Tag:, ,

Ini adalah tahap terakhir periode masa sekolahku. Setelah dari SMP aku memutuskan pada satu pilihan di sekolah ini, SMK Negeri 1 Kediri. Sebelum pendaftaran dimulai aku dan beberapa orang temanku mencoba survey lokasi dan informasi ke sekolah itu. Jarak dari rumah yang lumayan jauh, sekitar 10 km, kami tempuh dengan bersepeda. Setelah nyampe di sana dan dapat informasi, kami kemudian keliling-keliling sebentar di sekitar lokasinya.

Saat pendaftaran aku diantar sama sepupuku yang jarak rumahnya gak jauh dari sekolah itu. Karena khawatir NEMku gak bisa masuk jurusan yang aku inginkan di Mesin Produksi, aku memilih dua pilihan di Mesin Produksi sendiri dan ditambah di Bangunan. Dalam satu hari langsung diadakan beberapa tahap, antara lain pemberkasan, pengisian formulir, cek fisik, cek mental, dan tes kesehatan. Pendaftaran dibuka selama satu minggu, kemudian pengumuman sekitar seminggu selanjutnya. Di SMK ini ada 5 jurusan, Mesin Otomotif, Mesin Produksi, Listrik, Elektronika, dan Bangunan.

Yak, akhirnya aku diterima di pilihan pertamaku, jurusan Mesin Produksi dengan nomor urut ranking NEM 20. Sebenarnya kalo mau masuk ke jurusan yang lebih atas (Mesin Otomotif) aku masih bisa diterima juga. Di awal-awal sekolah sekitar 2 bulan aku tinggal di rumah Paklik yang dekat situ sehingga tinggal jalan kaki aja, tapi kemudian aku lebih memilih berangkat dari rumah sendiri dengan bersepeda. Menariknya, pembagian kelas tiap jurusan dilakukan berdasarkan daftar pengurutan abjad, sehingga dalam kelasku ada 36 siswa, 23 di antaranya berhurup depan ‘A’, dan ada beberapa nama yang sama. Dalam satu angkatanku hanya ada 9 orang pelajar cewek, dan di jurusan Mesin (Otomotif dan Produksi) ‘diharamkan’ ada murid cewek.

Di sini bisa jadi di setiap pelajaran pindah ruangan kelas, jadi bisa di jam pertama dan kedua ada di kelas sini, kemudian di jam berikutnya pindah ke kelas lain. Jam pertama dimulai dari jam 06.30. Yang asyik kalo pas ada pelajaran yang gurunya tidak hadir, pelajaran berikutnya bisa maju menggantikan pelajaran kosong tadi. Kalo pas pelajaran terakhir yang kosong, ya udah, bisa pulang langsung setelah dapat persetujuan dari guru TU dan satpam. Setiap kelas berbeda jadwal pulangnya, ada yang jam 10 udah pulang (paling pagi, karena masuk setelah jam istirahat ya jam segitu), ada yang jam 12 baru pulang, paling siang jam 13.15 pulangnya. Jadi kalo cuma dapat jadwal 4 jam pelajaran (tiap mata pelajaran rata-rata 2 jam pelajaran) dalam sehari, jam 10 udah pulang. Dan kalo kedua jam pelajaran tadi kosong gak ada gurunya. Udah pasti bisa melenggang pulang pagi.

Tahun-tahun pertamaku diwarnai dengan rasa frustasi karena banyaknya tugas yang gagal aku selesaikan, terutama dalam praktek bengkel permesinan. Seolah-olah aku merasa telah salah milih jurusan. Sehingga aku agak khawatir gak naik kelas, karena sejak awal caturwulan peringkat di kelas jauh dari 20 besar. Tapi kemudian alhamdulillah bisa melewati kelas satu dengan agak terseok-seok.

Pelajaran di bengkel adalah pelajaran dengan kandungan kekerasan. Maklumlah, yang dihadapi para guru adalah anak laki-laki yang terkenal bandel-bandel, dan yang dihadapi para siswa adalah mesin-mesin berat dan dengan benda kerja yang berat pula, kebanyakan dari besi. Sehingga ada istilah lebih baik dipukul guru daripada kena colek benda kerja yang terlempar. Ada suatu kelas bengkel yang siswanya dilarang menguap, dan yang ketauan pasti akan dipanggil dan dapat hukuman yang ‘agak’ ringan. Aku sendiri, pernah dapat gamparan dan jeweran suatu ketika karena kelompok piketku menghilangkan daftar absen.

Kelas dua prestasi udah agak stabil. Pelajaran-pelajaran bengkel pun udah mulai bisa dikuasai. Kelas tiga juga demikian. Tapi kebanyakan anak-anak di kelasku kurang memperhatikan dan mempedulikan ujian akhir nasional, sehingga jarang sekali ditemui teman-teman mempersiapkan diri dengan belajar, mengikuti bimbingan belajar, atau mengumpulkan soal-soal latihan, kecuali hanya beberapa orang saja.

Sepanjang sekolah selama tiga tahun, gak pernah aku gak masuk sekolah karena alasan apapun, tapi pernah mangkir dari pelajaran karena terlambat ato sekelas mogok semua. Di sini gak ada acara rekreasi ato berkaryawisata, tapi setiap siswa diwajibkan mengikuti Praktek Industri, minimal selama 3 bulan. Waktunya ada yang di caturwulan terakhir kelas dua, tapi kebanyakan di caturwulan pertama kelas tiga. Kelasku dapat waktu yang terakhir, aku menghabiskan seminggu waktu praktek di Pare dan dua bulan yang lain di Turen.

Setamatnya dari sekolah, tidak ada acara perpisahan yang menandakan kami akan berpisah cukup lama. Hanya aku dan beberapa orang temanku duduk-duduk di dekat rumah temanku yang ada di pinggir sungai Brantas, mengeluarkan isi tas kami masing-masing, memilih beberapa lembar hasil ulangan harian yang masih tertimbun di tas, melipat jadi perahu dan menghanyutkannya di sungai Brantas. Setelah masa ini kami berjalan masing-masing, pada jalan-jalan pilihan kami sendiri dalam menghadapi kehidupan setelahnya. Sedangkan aku, alhamdulillah sebelum pengumuman kelulusan aku udah mulai magang dan kerja di sebuah pengetikan komputer.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s