Ikhtiyar dalam Tawakkal

Posted: 20 Oktober 2011 in Islam
Tag:,

Ibrahim alaihi as salam tahu betul bahwa perintah Allah harus tetap berjalan. Kendati mendapatkan desakan dari Hajar dan ia bertanya kepada beliau, ‘Di mana engkau meninggalkan kami?’ Ibrahim tidak menjawabnya dan tidak menoleh kepada Hajar. Ketika cahaya Allah kembali ke hati Hajar dan keyakinannya kepada Allah itu lebih kuat dari segala hal, Hajar bertanya kepada Ibrahim, ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu seperti ini?’ Ibrahim menjawab, ‘Ya. Rabbku yang memerintahkan aku bertindak seperti ini.’

Di saat-saat kritis tersebut, Hajar berdiri kemudian berkata kepada Ibrahim dengan keyakinan diri orang yang beriman dan tentram serta kenal Allah, ‘Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkanku.’ Ketakutan pun sirna dari hati Hajar. Kedamaian dan ketentraman turun ke hatinya. Ia kembali ke dekat Baitullah. Ia tahu bahwa dirinya, suaminya dan anaknya adalah wali-wali Allah. Barangsiapa menjadi wali Allah, ia tidak akan takut, sedih, dan lemah. Ia kembali mengulang-ulang perkataannya, ‘Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami. Hai Ibrahim, pergilah engkau kepada apa yang diperintahkan Allah kepadamu.’

Perkataan Hajar di atas adalah perkataan mulia dan pernuh berkah. Itulah yang diucapkan Hajar kepada suaminya, Ibrahim alaihi as salam. Perkataan agung yang mengisyaratkan kejujuran imannya, besarnya keyakinannya kepada Allah, dan tawakkalnya kepada-Nya. Namun tawakkalnya Hajar bukan berarti pasrah dan tidak akan mau berusaha karena sudah mendapatkan jaminan akan pertolongan Allah. Di saat kurma yang ada di kantong dan air yang ada di tempat air yang ditinggalkan Ibrahim habis dan matahari nyaris membakar membuat mereka kehausan, Hajar melihat Gunung Shafa, gunung yang paling dekat dengannya. Ia segera berjalan cepat ke Gunung Shafa, kemudian datang ke lembah sambil berkata, ‘Bagaimana kalau aku melihat-lihat, siapa tahu aku melihat seseorang?’

Hajar tidak melihat siapa-siapa dan tidak mendengar pergerakan apapun. Kemudian ia turun dari atas Shafa. Ketika ia tiba di lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya, kemudian berlari seperti larinya orang yang kelelahan hingga melewati lembah tersebut dan tiba di Gunung Marwa. Ia berdiri di sana dan melihat-lihat, namun ia tidak melihat siapapun. Hajar berlari hingga tujuh kali sambil berharap bisa melihat orang yang bisa menyelematkan dirinya dan anaknya dari mati kehausan.

Cerita tersebut adalah bagaimana Hajar berusaha dalam keadaannya yang kritis dan kalut, dalam kelaparan, kehausan, dan kepanasan. Kendatipun ia tahu bahwa Allah tidak akan menelantarkannya dan anaknya, Ismail, namun ia juga berusaha mencari dan berharap ada yang bisa menyelamatkan dirinya dan anaknya.     Ia tetap berikhtiyar hingga perlindungan Allah datang kepada mereka dengan memancarnya air Zamzam, kedatangan Kabilah Jurhum, dan bentuk-bentuk perlindungan Ilahiyah lainnya yang hanya diketahui Allah saja.

Tawakkal bagi orang Islam memang sangat penting, tapi tawakkal juga harus disertai ikhtiyar untuk merubah dirinya. Tidak lengkap rasanya hidup tanpa berusaha yang terbaik, untuk membuktikan bahwa kita memang pantas hidup untuk mendapatkan nikmat Allah dan menjadi ahsan nas di dunia ini. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa usaha kaum itu untuk merubah nasibnya sendiri?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s