Televisi

Posted: 28 September 2011 in Pemikiran
Tag:,

Hampir di setiap rumah di Indonesia punya televisi, bahkan beberapa rumah punya lebih dari satu televisi. Seolah-olah, siaran televisi itu mempunyai sihir tersendiri bagi pemirsanya. Banyak hal yang bisa didapat dari televisi, ada yang positif, tapi banyak juga yang negatif. Media elektronik seperti televisi masih merupakan sarana efektif sebagai media penyiaran yang mampu menjangkau hampir setiap lapisan masyarakat, sehingga berbagai pihak bisa menggunakannya untuk kepentingan apapun.

Siaran televisi saat ini didominasi oleh banyaknya sinema elektronik, atau kita lebih sering menyebutnya sinetron. Baik berupa sinetron berseri (yang membosankan), ataupun juga sinetron sekali tayang (yang agak memaksakan cerita). Secara umum, sinetron yang ada sekarang berbeda dengan sinetron di era 90-an, misalnya. Secara cerita saja, sinetron masa itu menyiarkan realita kehidupan (yang lebih realistis). Mungkin yang sudah bisa melihat tivi saat era 80 sampai 90-an masih ingat sebuah sinetron yang berjudul ‘ACI (Aku Cinta Indonesia’, sebuah sinetron remaja jadul tapi kaya hikmah dan motivasi. ACI memang sebuah sinetron remaja, tapi beda dengan sinetron remaja sekarang, ACI tidak menampilkan cerita percintaan anak remaja, yang sekarang muncul di sinetron-sinetron remaja, bahkan anak-anak kecil pun dalam sinetron udah diceritakan dengan cerita percintaan pula. ACI merupakan contoh sinetron yang cukup berkualitas dan mendidik, yang jaman sekarang tidak ada hal seperti itu. Di tahun 90-an, di awal-awal televisi
swasta juga ada sinetron yang mendidik (malah mengajarkan pendidikan dan pelajaran sekolah), tapi kemudian tidak ada kelanjutannya (mungkin hal seperti itu gak laku kali ya?!).

Kalo dalam hal soundtrack, sinetron jadul punya lagu sendiri yang bukan lagu yang beredar luas, tidak seperti sekarang yang mengambil dari lagu-lagu yang sedang dan akan ngetrend (selain juga untuk mendongkrak penjualan album lagu tersebut). Makanya, dulu aku pernah bertanya-tanya ketika dalam sebuah penghargaan sinetron dikatakan bahwa soundtrack adalah lagu yang dibuat berdasarkan isi cerita sebuah sinetron, padahal saat itu sinetron dibuat setelah adanya lagu soundtracknya dengan isi cerita yang memaksakan.

Dari ceritanya pun, udah bisa ditebak gimana sinetron Indonesia jaman sekarang, gak jauh-jauh dari tema percintaan, hamil di luar nikah, hubungan terlarang, tidak disetujui oleh orangtua, kejahatan terencana yang di luar batas, iri, dengki, hasut dan teman-temannya, ditambahi dengan persekongkolan terselubung, orang-orang teraniaya, dll.  Makanya ada suatu penelitian bahwa perencanaan kejahatan di sinetron bisa dipraktekkan di dunia nyata, suatu bukti bahwa sinetron mengajarkan metode kejahatan yang bisa mengelabui korban dengan mudahnya.

Aku jadi ingat saat pernah tinggal di Malang, bersama teman-teman satu kos kami melihat suatu sinetron yang tayang perdana di televisi. Aku tidak menyaksikan sampai habis karena kemudian aku masuk kamar dan dengerin musik. Saat sinetron habis, teman sekamarku masuk kamar kemudian bercerita bahwa akhir dari sinetron itu udah bisa ditebak dari episode pertama. Saat sinetron itu kemudian berakhir, aku inget bahwa tebakan temanku tadi tepat dalam hal ceritanya, yang tidak tepat adalah ternyata episode sinetron tersebut diperpanjang dan dibuat sequelnya.

Kalo udah kayak gini, generasi sekarang merupakan generasi didikan televisi. Apapun yang ada di televisi bisa terekam dan dipraktekkan secara gampang bahkan oleh anak kecil sekalipun. Dalam salah satu cerpen yang sempat aku baca, seorang anak sejak kecil sampai dia dewasa biasa mempraktekkan kejahatan yang cara dan petunjuknya dia lihat di televisi, tanpa sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan besar. Dalam menyikapi hal-hal yang negatif untuk anak-anak, bimbingan orangtualah yang dibutuhkan untuk memberi pendidikan yang tidak didapat dari tayangan televisi. Setiap orangtua punya caranya masing-masing dalam melaksanakannya, yang paling penting hasil keluaran dan pendidikan untuk anak-anaknya tetap terpelihara dari pengaruh negatif televisi.

Dari Blog Sendiri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s