Duratmoko Sinatriyo

Posted: 21 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:

Tiba-tiba saja aku teringat akan sebuah buku yang berhasil aku pinjam dari temanku, judulnya Duratmoko Sinatriyo, sebuah buku full pakai bahasa Jawa halus, kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia kurang lebih artinya Pencuri yang Bersifat Satria.

Secara detail aku lupa bagaimana ceritanya, tapi secara inti dan pelajaran buku itu aku masih ingat. Secara ringkas aku ceritakan, begini ceritanya:

Suatu hari seorang pencuri mendatangi sebuah rumah kaya yang berada jauh dari rumahnya. Namun ketika menjalankan aksinya dia dipergoki oleh seorang penjaga yang cukup sakti. Akibatnya keduanya terlibat dalam pertarungan sengit. Dalam satu kesempatan, penjaga hampir bisa menikam pencuri itu dengan senjatanya. Namun pencuri itu dalam sikap membelakangi sang penjaga dan memeluk sebatang pohon. Sang penjaga enggan menikam dari belakang, sehingga dia meminta si pencuri untuk berbalik menghadapnya. Namun sang pencuri enggan, dan dia mengajukan syarat untuk menunda pertarungan itu sekitar tiga minggu, agar ia bisa menemui keluarganya untuk terakhir kalinya sebagai perpisahan. Sang penjaga setuju dan mereka sepakat bertemu lagi di tempat yang sama dalam sikap yang sama pula. Akhirnya kedua berpisah dan si pencuri itu kembali ke kampungnya untuk menemui keluarganya. Pada waktu yang telah ditentukan keduanya kembali bertemu dan kembali mereka berada pada posisi yang sama seperti sebelumnya. Si pencuri memeluk pohon dan penjaga itu akan menikam dari punggungnya. Karena si pencuri tidak mau berbalik, maka sang penjaga membuat lubang di pohon itu sehingga tembus ke arah dada si pencuri. Namun akhirnya sang penjaga mengurungkan niatnya karena sikap si pencuri yang sangat menepati janji, padahal dia tahu bahwa dia akan dibunuh oleh sang penjaga yang tangguh itu. Dan akhirnya mereka jadi sahabat sampai mereka berpisah kembali untuk melanjutkan hidup mereka.

Dari kisah ini sebenarnya kurang tepat kalo hanya si pencuri yang dikatakan bersikap satria, namun sang penjaga juga menampakkan sikap satrianya. Pencuri bersikap satria saat kembali ke medan pertarungan dan menghadapi “eksekusi” dari penjaga, meski tahu kesempatan kaburnya sangat tipis. Sang penjaga, dia tidak mau menikam pencuri itu dari belakang, karena sikap tersebut sangat tidak terhormat baginya.

Saling menghormati antara sang penjaga dan si pencuri berakhir dengan persahabatan. Apakah semua sikap di atas ada pada dunia nyata ini? Pencuri yang bersikap ksatria, ataukah ksatria yang bersikap pencuri?

Tulisan aslinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s